
Dan benar saja, perempuan manja itu nekat menunggu rombongan di suatu tikungan di area hutan.
Kemunculan Shen Xue Ying yang diluar rencana itu membuat semua orang terheran-heran.
Shen Ruo Nan mengusap wajahnya dan nampak kehilangan kata-kata. Sedangkan Guo Wang, hampir jatuh dari atas kuda karena tergelak melihat ekspresi teman masa kecilnya itu.
"Xue Ying! Apa yang kau lakukan disini?! Pulanglah!" Tanya Shen Ruo Nan sambil menarik lengan sang adik ke tepi jalan.
Xue Ying mengatupkan bibir dan menatap tajam wajah Shen Ruo Nan tanpa rasa takut, "Tidak mau! Aku harus ikut!"
"Ini bukan liburan, Xue Ying. Kembalilah ke rumah. Ibu pasti sangat panik jika tau kau ada disini." Bujuk Shen Ruo Nan.
"Kakak tidak perlu mencemaskan hal itu. Aku sudah meninggalkan surat untuk mereka." Balas Xue Ying acuh, "Bagaimanapun aku harus tetap ikut. Aku tidak mau tau!"
"SHEN XUE YING!" Bentak Shen Ruo Nan tanpa sadar.
Vokal putra perdana menteri yang tinggi itu telah membuat orang-orang yang berada di dalam kereta di belakang barisan terjaga.
Jenderal Luo yang berkuda tepat didepan kereta utusan Airland menjadi penasaran. Perkara apakah yang sedang terjadi hingga membuat bangsawan tertinggi Shen sampai berteriak.
Pun, dengan kapten Lu Feng. Ia sampai-sampai harus menjengukkan kepalanya keluar jendela kereta hanya demi melihat kekacauan yang ada didepannya.
"Tuan muda Shen, ada masalah apa sehingga kau berteriak seperti itu?" Tanya jenderal Luo sambil berseru dari beberapa barisan prajurit di bagian belakang.
Belum sempat Shen Ruo Nan menjawab, sang adik telah lebih dulu berlari kearah jenderal Luo. Shen Ruo Nan kewalahan menghadapi 'belut' kesayangan perdana menteri. Perempuan itu dengan congkak berdiri dihadapan jenderal Luo.
"Jenderal, ijinkan saya ikut dalam rombongan ini. Saya akan menemani yang mulia sebagai calon permaisuri masa depan. Saya tidak akan menyulitkan kalian semua."
Ucapan percaya diri Shen Xue Ying membuat dua orang utusan Airland menyibak tirai kereta. Mereka tergelitik ingin melihat seperti apa rupa calon istri penguasa Alorra yang terkenal tidak menyukai perempuan.
Shen Ruo Nan menelan saliva melihat raut wajah jenderal Luo yang seolah melempar pertanyaan. Pemuda itu hanya mengerutkan alis seakan nampak kesulitan untuk menjelaskan.
"Apakah perdana menteri tau kepergian nona Shen kesini?" Tanya jenderal Luo.
"Tentu saja!" Jawab Shen Xue Ying bersemangat, "semua orang dikediaman Shen sudah tau saya kesini. "
Shen Xue Ying tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang sudah memberikan pesan di selembar kertas. Sudah pasti orang-orang di kediamannya mengetahui kepergiaannya saat ini.
"Jadi, bolehkah saya ikut?" Tanya Shen Xue Ying tidak sabar.
Jenderal Luo mengecilkan iris matanya. Ia nampak meragukan pernyataan yang Xue Ying katakan.
Xue Ying semakin tidak sabar, ia malah berseru kearah kereta paling belakang dengan lantang. Membuat semua orang mendadak menjadi batu karena ulahnya.
"Yang mulia, saya telah datang. Saya akan menemani yang mulia melakukan kunjungan. Saya tidak akan membiarkan yang mulia sendirian. Mereka tidak akan berani mengata-ngatai yang mulia seperti rumor yang mereka dengar. Saya akan memasang badan, karena saya adalah calon istri yang mulia."
Chu Yao yang masih diliputi rasa kantuk tiba-tiba terkekeh mendengar keberanian putri perdana menteri tersebut. Ia yang semula bersandar nyaman didalam kereta, kini melipat tangan di dada dengan sebuah gumaman, "calon istri yang sungguh frontal."
"Dia bukan calon istriku!" Sanggah Mo Yan secara langsung.
Chu Yao menaikkan sebelah alis kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" Seru Mo Yan ketika Chu Yao menyibak tirai penutup kereta. Nampaknya perempuan bercadar itu berinisiatif untuk duduk didepan bersama A-Wei.
Namun Mo Yan tak mengijinkannya, "Kau tidak perlu melakukan hal itu."
"Apa kau akan membiarkan 'calon'mu itu terus berteriak diluar? Sementara kau malah berduaan dengan seorang tabib kelas rendah." Tutur Chu Yao yang sudah duduk di samping A-Wei yang keheranan.
Pengawal itu menggaruk kepala yang tak gatal. Ia sedikit mengagumi pribadi nona Fu disampingnya yang begitu berani membuat majikannya terdiam.
__ADS_1
"A-Wei!" Panggil Mo Yan dengan suara berat dan spontan dijawab 'iya' oleh sang pengawal pribadi.
"Carikan aku kuda!" Tambahnya.
A-Wei segera bergegas menjalankan perintah. Dalam beberapa menit kuda berwarna hitam yang terlihat sehat sudah berada disamping kereta. Mo Yan keluar dan refleks melompat di atas punggung kuda tersebut sambil menghampiri Shen Xue Ying.
"Kau.. " Ucap Mo Yan dengan tatapan dingin, ".. Apa kau tau yang telah kau lakukan?! Aku bisa saja menebas kepalamu dan melemparkan nya kedalam hutan sebagai makanan binatang."
Shen Xue Ying menelan saliva dengan tubuh yang gemetar. Ia sepenuhnya sadar bahwa pria itu memang tidak pernah menyukainya. Pria itu menyeramkan dengan sifatnya yang suka mengintimidasi tanpa kenal bulu sedikitpun.
Tapi akal sehat Xue Ying seakan sudah hilang. Di Otaknya tak lagi ada logika yang bisa diajak kerjasama. Ketampanan diluar nalar yang Mo Yan miliki telah membuatnya meleleh sedemikian rupa. Sudah terlanjur basah jika mundur sekarang.
"Yang mulia tidak akan melakukan hal keji itu kepada saya." Ucap Shen Xue Ying dengan senyum tersirat.
Mo Yan menanggapi dengan tatapan dingin nan tajam. Membuat Guo Wang melempar isyarat lirikan kepada Shen Ruo Nan. Seakan paham makna isyarat yang diberikan, pria itu
segera berlutut meminta pengampunan.
"Tolong ampuni kelancangan adik hamba, yang mulia! Dia tidak tau apa yang telah dia perbuat."
Mo Yan memberikan tatapan sengit kepada perempuan manja didepannya, "sekali lagi kau bertindak eksesif, aku akan membiarkanmu disini tanpa pengawalan satu orangpun!"
Shen Xue Ying mengangguk dengan keringat yang mengucur. Perempuan itu kemudian masuk dengan gugup kedalam kereta atas instruksi sang kaisar.
Chu Yao kembali terkekeh pelan. Ia nampak menikmati rasa jengkel yang Mo Yan rasakan. A-Wei yang sejak tadi mengamatinya semakin kebingungan. Pengawal itu memutar otak karena sikap tabib perempuan yang begitu santai.
A-Wei menggelengkan kepala dengan senyum tertahan kemudian menghentakkan tali kekang. Kereta pun kembali berjalan mengikuti alur yang telah ditetapkan.
Beberapa tikungan telah terlewat. Suasana sunyi dan lengang itu nampak tidak biasa.
Chu Yao bisa merasakan adanya bahaya yang mengintai mereka. Namun ia hanya diam.
Suara Shen Xue Ying kembali terdengar, "Nona Fu.. Apakah nona menaruh rasa terhadap yang mulia?"
"Yang mulia, beliau tidak pernah memperlakukan perempuan manapun seperti yang dilakukan nya terhadap nona.. " Tutur Shen Xue Ying dengan perasaan iri, ".. Asal nona Fu tau, aku yang lebih dulu melihatnya. Kami sudah terikat pertunangan. Jadi, tolong nona membatasi diri."
Chu Yao menghela napas dalam-dalam. Alih-alih membantah, ia justru bersikap biasa. Ia lebih memilih untuk memejamkan mata dan bersedekap dari pada harus mendebat rasa cemburu yang dirasakan Xue Ying kepadanya.
"Yang mulia hanya penasaran dengan nona yang selalu mengenakan cadar. Sebagai seorang wanita yang akan menikahi seorang penguasa, aku sangat memahami perasaan pria yang selalu menginginkan banyak wanita di sisinya.."
".. Tapi aku tidak berharap yang mulia akan menjadikan nona Fu sebagai salah satu selirnya kelak.. "
".. Status nona begitu jauh. Dan nona terbiasa hidup bebas. Sifat nona yang seperti itu kelak akan menimbulkan masalah untuk yang mulia.."
"Nona Fu, apakah kau mendengar perkataanku?!"
Shen Xue Ying menyibak tirai kereta dan mendapati perempuan bercadar itu acuh tak acuh. Xue Ying merasa diabaikan. Wajahnya langsung berubah masam. A-Wei yang sejak tadi menyimak kini menelan ludah. Ia terjebak dalam perkelahian dua pengagum kaisar.
"Nona Fu!"
"BERISIK! Lebih baik kau duduk didalam dengan tenang! Kau membuat konsentrasi ku buyar!" Bentak Chu Yao dengan posisi siaga.
"kau!"
"A-Wei, jaga nona Shen. Jangan biarkan dia makin memperkeruh situasi!" Potong Chu Yao dengan tatapan tajam kearah Xue Ying.
A-Wei nampaknya sepaham dengan sikap Chu Yao yang preventif. Ia pun merasakan apa yang dirasakan gadis itu. Instingnya mengatakan ada bahaya yang sedang menunggu kelengahan mereka.
Hanya beberapa menit setelah Chu Yao berucap, situasi pun berubah. Pria asing berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup rapat menyerang rombongan mereka. Bentrokan pun tak bisa dihindarkan.
__ADS_1
Mereka saling menyerang. Chu Yao tak bisa diam. Ia mengambil bagian dengan cepat. Memukul dan menendang para penyerang itu bergantian.
Shen Xue Ying mencicit ketakutan. Pemandangan penuh darah tidak biasa ia saksikan. Ia gemetar dibalik tubuh A-Wei yang melindunginya. Sekali lagi ia berteriak tanpa sadar, saat pengawal pribadi kaisar itu membelah perut lawannya dengan sekali tebasan.
"Nona Shen, bisakah anda tidak berteriak didekat telinga saya?!" Ucap A-Wei dengan dengungan di telinganya dan kembali menghunuskan pedang ke tubuh penyerang lainnya.
"A, aku takut! AAARRRGGHH!!!!" jawab Xue Ying yang kembali berteriak disamping A-Wei sambil terus meremas lengan pemuda itu.
A-Wei hampir limbung. Gerakan nya benar-benar tidak bisa sebebas biasanya. Perempuan itu selalu berteriak sambil menarik-narik bajunya. Benar-benar telah membuat kesabaran A-Wei hampir hilang.
"Mereka semakin banyak!" Seru Guo Wang.
"Lindungi yang mulia, utusan Airland dan para wanita!" Perintah jenderal Luo dengan kilatan pedang yang merobek punggung pria asing di depannya.
Para prajurit segera merapatkan diri kearah orang-orang yang harus dilindungi.
Mo Yan dan Chu Yao saling memposisikan diri. Mereka bersiap sambil saling membelakangi. Napas mereka naik turun dengan cepat.
"Mereka prajurit bayangan yang ahli. Berhati-hatilah!" Bisik Mo Yan pada Chu Yao.
Pemuda itu memutar badan dan seketika mengoyak isi perut lawannya. Chu Yao pun demikian. Ia bergerak lincah dengan sabetan belati ditangannya.
Shen Ruo Nan terduduk dengan anak panah yang menancap tepat di lengan dan kaki kanannya. Guo Wang dengan cepat memapah sahabat karibnya itu dan membawanya ke pinggir jalan.
"Penyerang tambahan ada lagi! Mereka membawa panah dari arah barat daya!" Raung kapten Lu kepada para rombongan yang tersisa.
"Jenderal! Bawa pergi utusan dan yang lainnya! Aku dan nona Fu akan mencegat mereka!" Perintah Mo Yan kepada jenderal Luo.
"Tapi keselamatan yang mulia?!"
"Jangan khawatirkan aku!" Balas Mo Yan dengan suara tegas, "ini perintah!"
Jenderal Luo mengeraskan rahang kemudian berbalik menyelamatkan utusan Airland dan Shen bersaudara ditemani Guo Wang dan A-Wei disisinya.
Dalam sekejap, dua kereta yang ditumpangi merekapun lenyap. Sedangkan Chu Yao dan Mo Yan tetap bergelut dengan pertikaian berdarah ditempat itu.
"Mo Yan, kita kalah jumlah! Sebaiknya kita lari kearah yang berbeda." Bisikan Chu Yao sambil tetap memberikan jejak ditubuh pria asing yang terus menyerangnya.
Mo Yan mengangguk dan menarik tangan Chu Yao. Mereka berlari dengan cepat menghindari para penyerang yang terus mengejar mereka.
Langkah mereka terhenti tatkala menyadari ujung jalan yang mereka ambil adalah tebing curam dengan air sungai yang dalam dibawahnya.
"Aku merasa kembali mengulang kejadian yang sama." Gurau Chu Yao yang ingatannya berakhir di penculikan kota Nian beberapa tahun yang lalu.
"Jika aku melompat, apakah kau akan mengikuti ku?" Tanya Chu Yao yang menghindari anak panah dari arah depan.
Mo Yan yang sejak tadi menangkis serangan, menimpali, "kemana pun, aku akan tetap terus mengikuti mu."
"Baik, kalau begitu kita lompat.. SEKARANG!!"
Chu Yao menarik Mo Yan bersamanya. Mereka langsung terjatuh kedalam air sungai yang deras. Tubuh mereka hanyut dan terpisah.
Cukup lama Chu Yao menahan napas dan bertahan didalam luapan air hingga ia mencapai pinggiran sungai. Dengan tubuh yang basah kuyup dan lelah, ia memaksa diri mencari sosok pria yang tadi melompat bersama dengannya.
Sesekali ia memanggil nama Mo Yan. Berharap pria itu memberikan respon kepadanya. Namun, bukannya balasan suara yang ia dapatkan, justru tubuh Mo Yan yang terkapar dengan panah yang masih menancap di punggungnya yang ia temukan.
Chu Yao bergegas menghampiri dengan langkah yang hampir lunglai.
"Mo Yan! Apa kau mendengar ku?" Ucap Chu Yao dengan suara yang hampir hilang.
__ADS_1
Mo Yan memberikan respon lemah dengan gerakan tangan. Chu Yao sedikit merasa lega. Ia melihat ke sekitar dan bersegera memapah pria itu.
Mereka harus segera pergi sebelum para penyerang kembali menemukan keberadaan mereka.