Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 72


__ADS_3

“Kaisar Airland tewas?” Tanya Zhao Ming De saat beberapa prajurit membawanya dan kapten Lu ke barak. Kapten Lu mengangguk pelan.


“Berarti negara kita kalah?!” Tebak Zhao Ming De dengan raut wajah masam.


Kapten Lu menghela napas, “Tidak sepenuhnya demikian. Ku dengar kaisar Alorra pun terluka parah dan kini terbaring tak sadarkan diri. Beliau nampaknya masih koma.”


Raut wajah Zhao Ming De yang semula terlihat buruk langsung berubah drastis. Ia nampak senang dengan sudut bibir yang melengkung keatas. Zhao Ming De tidak perduli dengan peperangan itu, baginya selama Mo Yan tak berdaya, ia bisa membawa Chu Yao pergi dengan mudah. Lepas dari kungkungan pria kejam itu selamanya.


Kapten Lu melirik perubahan suasana hati rekannya. Tanpa sadar, pria itu bergidik dan kembali menatap ke depan. Kereta yang mereka gunakan hampir mencapai tujuan. Para prajurit yang menjaga mereka dengan sopan mempersilakan keduanya untuk turun begitu tiba di dalam barak.


“Peperangan telah berakhir, kami akan mengantarkan tuan-tuan untuk melewati perbatasan dengan aman besok pagi.” Tutur jenderal Luo tatkala kedua utusan itu sudah berdiri tegak di depannya.


“Terima kasih tuan. Kalau begitu kami akan langsung beristirahat malam ini.” Sahut kapten Lu sembari membungkukkan tubuh dengan hormat.


Jenderal Luo menganggukkan kepala dan memerintahkan salah seorang prajurit untuk mengantarkan kedua orang itu ke tenda mereka.


Kapten Lu dan Zhao Ming De undur diri kemudian mengikuti arahan sang prajurit. Mereka berjalan ke arah barat tanpa membuat percakapan sedikitpun. Gerakan Zhao Ming De tiba-tiba terhenti begitu melihat sosok perempuan yang ia kenal.


“Chu Yao..” Gumamnya dengan senyum sumbringah. Tanpa berpikir panjang, cendikiawan itu berlari menghampiri Chu Yao yang sedang berdialog dengan beberapa orang pejabat Alorra.


Kapten Lu memanggil Zhao Ming De berulang kali namun pemuda itu tetap acuh tak acuh. Ia tidak perduli dengan seruan rekannya itu, malahan sengaja menulikan dirinya.


Zhao Ming De berhenti beberapa meter dari Chu Yao. Ia menatap perempuan itu dengan pandangan rindu. Chu Yao yang tidak menyadari kehadiran tuan muda Zhao, masih terlihat sibuk dengan urusannya. Pembicaraannya bersama pejabat negara Alorra telah menyedot seluruh perhatiannya.


“Kami akan melaksanakan sesuai instruksi yang nyonya berikan.” Ucap salah seorang pejabat.


“Jika tidak ada instruksi tambahan maka kami akan kembali ke istana sekarang juga.” Tambahnya dengan hormat.


Chu Yao mempersilakan himpunan itu untuk membubarkan diri dan pergi dari barak itu sesegera mungkin. Ketika siluet mereka hampir menghilang, Chu Yao membalikkan badan dan tatapannya bertemu dengan sosok Zhao Ming De. Tanpa memperdulikan raut wajah Chu Yao yang heran, pemuda itu bergerak mendekat dan menyapanya.


“Nona Chu, akhirnya kita bertemu. Bagaimana kabarmu?” Tanya tuan muda Zhao dengan senyum yang lebar.


Chu Yao tidak menjawab. Matanya bergulir mengamati sekitar. Ia menangkap figur kapten Lu dari kejauhan. Nampaknya pria itu sedang menunggu Zhao Ming De.


“Apa yang anda lakukan di sini tuan muda Zhao?” Tanya Chu Yao dengan nada datar, “bukankah seharusnya anda sudah beristirahat di dalam tenda bersama kapten Lu. Besok pagi kalian akan kembali ke Airland, kan?”


“Bukan hanya saya dan kapten Lu, tapi nona Chu juga bisa kembali bersama kami. Ayo kita pulang bersama-sama!” Jawab Zhao Ming De tanpa ragu.


Chu Yao mengernyitkan alis. Ia nampak kebingungan, “Saya? Pulang? Kemana?”


“Tentu saja ke Airland! Di sini bukan tempat tinggal kita!”


“...”


“Nona tidak perlu takut, saya akan melindungi nona jika para ajudan kaisar menghalangi kepergian nona!”


Chu Yao memandang Zhao Ming De dengan tatapan pelik. Ia bahkan menggeleng-gelengkan kepala seraya memberikan pijitan kecil di keningnya yang semakin berkerut, “Nampaknya tuan muda belum memahami situasi. Saya tidak mungkin kembali ke Airland. Perempuan dengan identitas yang tuan sebutkan sudah lama mati sebagai anak pengkhianat negara. Lagi pula status saya sekarang ini sudah menjadi istri dari pemimpin tertinggi Alorra. Jadi, sangat tidak mungkin saya ikut bersama tuan muda.”


Senyum sumbringah Zhao Ming De seketika menghilang, “Apanya yang tidak bisa?! Saya akan menyembunyikan anda! Saya bisa memberikan identitas baru untuk nona! Kaisar Alorra takkan bisa menghalangi saya untuk membawa nona, bukankah dia masih tak sadarkan diri?! Pria kejam itu takkan bisa menghalangi kita lagi!”


“Apa maksudmu dengan 'kita'?!” Seru Chu Yao dengan intonasi tinggi, “Kau dan aku tidak pernah ada hubungan apapun! Atas dasar apa kau bisa mengatakan hal konyol seperti itu?!”

__ADS_1


“Ini tidak konyol. Perasaanku padamu tidak berubah. Aku masih mencintaimu! Akupun tau kau memiliki perasaan yang sama denganku! Kau tidak tau betapa terpuruknya aku ketika mendapat berita kematianmu!” Sanggah Zhao Ming De dengan penuh keberanian. Ia mencengkram tulang humerus Chu Yao dan seketika di lepaskan perempuan itu dengan sekali tarikan.


“Jangan menyentuhku!” Ucap Chu Yao dengan tatapan dingin dan tajam.


Alih-alih mengundurkan diri, Zhao Ming De justru semakin mendekat dan mendesis kasar ke arah Chu Yao, “Dia Mo Yan, kan?! Kaisar Alorra itu adalah pengawal pribadimu yang waktu itu, bukan?!”


“Dia menekanmu dengan kuasanya!”


“Apa maksudmu? Dia tidak menekanku sama sekali! Justru dia sudah banyak berkorban untukku!” Bantah Chu Yao.


“Itu tidak benar!” Potong tuan muda Zhao dengan lantang.


“Jika kau berpikir hanya dia yang berkorban, kau salah! Aku juga telah banyak berkorban untukmu!” Desis Zhao Ming De dengan menajamkan tatapan matanya.


“Aku sudah berjuang untuk mengembalikan nama baik keluarga Chu demi dirimu! Aku bahkan rela menjadi bawahan Long Ye Lang hanya untuk mencari celah untuk menghapus semua tuduhan itu!”


“...”


Zhao Ming De terkekeh melihat respon Chu Yao yang tak lagi membangkang, “Apa kau tau selama empat tahun ini, aku telah menundukkan diriku di bawah kontrolnya. Demi tujuan yang harus kuraih, aku harus menahan semua penghinaan dan sikap hipokritnya..”


Chu Yao berdecih acuh tak acuh. Ia membuang muka dan berniat meninggalkan Zhao Ming De yang masih berceloteh tidak karuan. Alih-alih berhenti, pemuda itu justru menarik tangan Chu Yao dengan kuat hingga tubuh perempuan itu mundur tanpa bisa ia kendalikan.


“Kau..!”


“Dengar.. Kau harus mendengar semuanya!”


Zhao Ming De mendekatkan wajah dan berbisik cukup lama di telinga Chu Yao. Hanya berselang detik, mata Chu Yao bergulir dengan cepat. Ia refleks menarik baju Zhao Ming De dan membenamkan tubuh pemuda itu di atas tanah.


“KAU GILA!” Raung Chu Yao sembari memberikan penekanan pada leher pria kharismatik itu. Suara Chu Yao yang keras telah menyita perhatian kapten Lu dan beberapa prajurit yang melintas di dekat mereka.


Zhao Ming De menyeringai, “Itu bukan menghasut tapi memberi saran. Jika dia berhasil, bukankah kaisar Airland akan dengan senang hati mengembalikan status putra mahkota padanya..”


“Dan jika Ye Lang menjadi putra mahkota lagi, kau akan leluasa meminta imbalan? Begitu?” Sambung Chu Yao dengan suara membengis.


Zhao Ming De terkekeh dan berusaha mengusap wajah Chu Yao, “Gadisku yang pintar..”


“Aku memang berniat meminta imbalan dengan memanfaatkan situasi itu. Aku ingin dia memohon kepada yang mulia untuk mengembalikan kehormatan keluargamu. Apa kau tidak tersentuh sedikitpun dengan semua perjuanganku ini?”


“SINTING!” Balas Chu Yao dengan wajah yang semakin menghitam, “Seharusnya kau hidup dengan tenang bersama Chu Ling!”


“JANGAN PERNAH KAU SEBUT NAMA PEREMPUAN ITU!!!” Bentak Zhao Ming De. Tubuhnya bergetar hebat dengan netra yang membara penuh dengan emosi yang meradang.


Chu Yao menampar wajah pemuda itu dan menghentakkannya berkali-kali ke tanah, “bagaimanapun dia adalah adikku, dia juga istri sah mu, sialan! Jika aku tau kau telah menyia-nyiakannya maka aku tidak akan mengampunimu!”


Zhao Ming De tertawa terbahak-bahak, membuat orang-orang di sekitar mengarahkan tatapan curiga kepada mereka. Perlahan tapi pasti, satu per satu orang-orang mulai melihat percekcokkan itu dari jarak yang semakin dekat.


Chu Yao tidak perduli, ia semakin memberang, “Otakmu sudah tidak waras!”


“Itu gara-gara dirimu.” Kekeh tuan muda Zhao dengan tatapan yang berbinar.


Chu Yao menelan saliva. Mendadak ia menjadi jijik memandang pria itu. Dengan sekali renggutan, Chu Yao menarik tangannya dan melompat dengan anggun menjauhi sosok Zhao Ming De. Perempuan itu berseru kepada beberapa prajurit untuk menyeret pemuda itu kembali ke tempatnya.

__ADS_1


Zhao Ming De berteriak dengan keras, “KAU HARUS KEMBALI BERSAMAKU! AKU TIDAK PERDULI BAGAIMANAPUN CARANYA KAU HARUS IKUT DENGANKU!”


“APA KAU DENGAR ITU?!”


“CHU YAO!!”


Kapten Lu terdiam melihat para prajurit menarik paksa rekan sejawatnya itu. Zhao Ming De nampak memberikan perlawanan. Namun resistensi yang di berikannya tak bisa melepaskannya dari tarikan prajurit Alorra.


Para prajurit itu bahkan tidak segan memberikan pukulan untuk membungkam tingkah Zhao Ming De yang impulsif. Dengan satu tinjuan diperut, sang cendikiawan itu seketika tak berdaya. Ia tak memiliki kekuatan dan pingsan.


Sebagai seorang rekan yang sudah melewati suka dan duka dalam perjalanan mereka yang panjang, kali ini kapten Lu terpaksa menutup mata. Berpura-pura tidak melihat permintaan tolong tuan muda Zhao dari kejauhan.


Kapten Lu tak ingin terlibat. Sudah cukup peperangan telah mengunci geraknya di negara asing yang tak ia kenal. Jika sampai ia kembali berurusan dengan orang-orang itu gara-gara ulah Zhao Ming De, bukankah itu suatu kebodohan.


Kapten Lu menyeka keringat yang mengalir di pipinya. Ia hendak berbaik namun tiba-tiba Ia bereaksi. Ia mendadak kaku dan menahan napas saat sosok Chu Yao yang penuh emosi melayangkan tatapan tajam ke arahnya.


Dengan santun, kapten Lu membungkukkan tubuh dan berjalan kembali ke arah tenda. Meski terlihat tenang, ia cukup terkejut dengan kejadian barusan. Ia tidak menyangka, cendikiawan yang terkenal penuh wibawa dan berbudi luhur, bisa bertindak senekat itu.


Dilain tempat, Fu Bai dan A- Wei sudah berdiri dengan wajah yang gusar. Mereka bergegas mendekat begitu melihat sosok Chu Yao masuk ke dalam tenda.


“Ada apa?” Tanya Chu Yao kebingungan.


“Apa yang terjadi? Aku mendengar kau terlibat keributan tadi?” Fu Bai melayangkan pertanyaan tanpa memberikan jawaban kepada Chu Yao.


Manik Cinnamon Chu Yao tertuju pada sosok Mo Yan yang masih terbaring di atas dipan. Ia tersenyum sesaat dan kembali memasang wajah sendu.


“Zhao Ming De membuatku naik pitam.” Tukas Chu Yao. Perempuan itu menceritakan semua hal yang terjadi barusan kepada Fu Bai dan A-Wei.


“Memang manusia abnormal! Obsesinya benar-benar membahayakan semua orang.” Omel Fu Bai dengan perasaan kesal.


Chu Yao tidak memperdulikan umpatan Fu Bai, ia menatap Mo Yan dan bergumam, “Dia belum membuka mata juga.”


Sebulan sudah Mo Yan tidak sadarkan diri dan itu membuat Chu Yao semakin khawatir.


“Tabib Fu berencana membawa yang mulia kembali ke paviliun bersamaan dengan kepulangan seluruh prajurit Alorra di sini.” Celetuk A-Wei.


“Semakin cepat semakin baik, udara di sini tidak begitu baik untuk penyembuhan tubuhnya, “ Jelas Fu Bai dengan wajah serius.


Chu Yao tak mengalihkan pandangannya dari Mo Yan. Ia mengelus rambut pria itu dengan lembut, “Selama itu demi kesembuhan Mo Yan, apapun itu, aku tidak akan keberatan.”


“Kalau begitu saya akan mempersiapkan semuanya.” A-Wei undur diri dan meninggalkan Chu Yao dan Fu Bai di tempat itu tanpa ragu.


Chu Yao menghela napas. Menjeda sejenak dan berjalan ke arah meja di samping Fu Bai. Tenggorokannya terasa serak. Tubuhnya pun sudah mulai terasa tidak nyaman. Ia menggeleng-gelengkan kepala dan memberikan sedikit tekanan pada keningnya yang terasa berdenyut.


“Fu Bai.. Dimana teko airnya? Aku sangat haus..” Tanya Chu Yao dengan suara yang lirih. Ia meraba-raba sekitar namun pandangannya sudah mulai tidak memiliki fokus yang tetap.


Pemuda yang berdiri itu menggengam lengan Chu Yao dan terlihat khawatir, “Wajahmu pucat. Apa kau sakit?”


“Aku tidak apa-apa. Kepalaku hanya sedikit pusing...” Kilah Chu Yao sembari menetralkan degup jantungnya yang semakin tidak teratur. Tatapan Chu Yao menjadi nanar dan tidak jelas. Sosok Fu Bai sudah nampak semakin buram.


Dengan bibir yang kelu, Chu Yao menggumam, “Fu Bai.. Aku... “

__ADS_1


Perkataan Chu Yao tak lagi terdengar. Tubuh perempuan itu lunglai dengan mata yang terpejam. Membuat Fu Bai linglung sesaat. Pemuda itu membopong tubuh Chu Yao keatas dipan di samping Mo Yan dan dengan cepat memeriksa denyut nadi perempuan itu. Fu Bai nampak bimbang. Ia memandang wajah Chu Yao dan menarik napas panjang.


“Ya Tuhan... Kalian berdua ini benar-benar..”


__ADS_2