Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Sebuah Negoisasi


__ADS_3

\~Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, Tempat, waktu dan lain - lain itu murni ketidak sengajaan maupun khilaf dari penulis.


Aku pun mengantar Elana ke rumah nya, aku langsung membawa nya tanpa bertanya apa - apa . Elana hanya bingung kenapa aku tahu jalan menuju rumah nya padahal aku tak menanyai nya sama sekali.


Kami pun sampai di gang menuju rumah Elana dan berhenti tepat disitu.


“Dah sampe, cepat turun” ucap ku


“Lah kok kamu tahu jalan ke rumah ku? Kamu penguntit ya?” Ucap Elana merasa aneh dan memukul pundak ku.


“Aih, aku dari tadi kebablasan harus nya aku pura - pura tidak tahu saja” ucap ku dalam hari


“Aku tahu rumah mu dari temen SMP ku, namanya paijo dia tu penggemar rahasia kamu dari SMP, setiap kami lewat sini dia selalu bilang itu rumah Elana yang sering ku bicarakan sama mu, dia bilang gitu, makanya aku ngeh itu kamu sewaktu kita sekelas” aku pun ngeles demi memudarkan kecurigaan Elana.


“Banyak omong kamu, lagian jaman sekarang siapa juga orang yang namanya paijo” ucap nya seperti tau aku berbohong.


“Dah ahh aku mau pulang, ini hari pertama ku masuk les” ucap ku buru - buru pergi meninggalkan elana


“Btw makasih ya udah mau nganter”


“Iyaiya dahhh” aku pun menancapkan gas


Sesampainya di rumah aku makan siang, daging giling di panasi tanpa nasi adalah makanan ku sehari - hari. Kemudian aku bersiap untuk pergi bimbel.


Oh iya aku lupa menjelaskan aku mengikuti Bimbel terbaik di kota ku. Tapi aku tidak mengikuti kelas 10 melainkan kelas 11 satu tingkat di atas, aku yang meminta agar di masukkan ke kelas 11 supaya aku mendalami dasar lebih kuat. Itu adalah metode belajar terbaik menurut ku.


Sepulang dari Bimbel kira - kira jam 5 sore aku pun langsung pulang kerumah dan lanjut belajar mengulang materi - materi yang aku pelajari di saat les.


“Kamu ini belajar terus ya, mama senang sih kamu gitu. Memang nya kamu mau jadi apa sih nak? “ ucap mama menghampiri ku saat belajar di kamar.


Aku hanya diam dan fokus belajar


“Hmm ini kan fisika, kamu pasti mau jadi PNS, alhandulillah anak mama mau jadi PNS” ucap mama ku lagi


“Apa sih ma PNS mulu, Evan tak tertarik jadi PNS, kalau memang mau jadi PNS evan gak bakal serius belajar gini” ucap ku lagi


“Loh, bukan nya orang rajin belajar kan mau jadi PNS gimana sih kamu” ucap mama polos


“Aku tak tertarik ma, aku ingin sesuatu yang besar, lebih dari itu, lihat saja nanti ma” ucap ku


“Nak nak, sekarang kamu bisa ngomong gitu, suatu saat kamu pasti berubah fikiran” tegas mama


“Terserah deh ma, evan belajar dulu ya biar pintar” jawab ku


“Yaudah semangat ya belanar nya biar jadi PNS” mama mulai lagi gila - gila PNS nya kumat dari dulu.


Setelah memulai kegiatan rutin ku. Aku pun tidur di waktu yang tepat karena aku harus cukup tidur untuk bangun lebih fit dan kondusif besok pagi.


Keesokan pagi nya di sekolah


“Ehh Evan kamu belajar lagi? Rajin banget pagi - pagi. Bener - bener kutu buku ya haha” elisa menyapa seperti biasa


“Ohhh elisa, gimana kabar mu? Aku melihat hari ini itu senyuman palsu” ucap ku


“Apasih maksud mu sok tahu banget” jawab nya.


“Nih permen manis pengembali mood” sambil memberikan permen rasa jeruk ke Elisa


“Kok kamu tahu aku suka permen ini? Kamu penguntit ya?” Jawab nya lagi

__ADS_1


“Apa aku punya waktu menguntit orang seperti mu, padahal setiap hari mata ku hanya fokus belajar” jawab ku sambil membaca buku ku


Tak lama bu rani guru sejarah darang


“Selamat pagi anak - anak, kita mulai pelajaran ya”


Waktu pun berlalu tak terasa bel pulang berbunyi.


Aku masih menunggu tak belum pulang sampai sekolah mulai sunyi, kemudian aku pergi ke sesuatu tempat.


Aku pun sampai di tempat yang di namakan dengan WAGE kepanjangan dari warung gelap, tempat di mana anak - anak nakal merokok, berkelahi, berjudi dan berkumpul layak nya mafia. Di tempat ini tak ada hukum yang mengikat karena si penjual pun kenalan dari para preman SMA, memang memanfaatkan anak - anak nakal untuk mencari keuntungan.


Aku berjalan masuk ke tempat itu sendirian kemudian 2 orang siswa mendatangi ku.


“Hei siapa kamu? Aku tak pernah melihat mu” ucap nya


“Aku Evan, apa bang Tigor disini” ucap ku tenang


“Kau kenal dengan bang tigor ? “ ucap satu nya


Tak lama ada yang melaporkan ke dalam.


“Bang Gor ada yang nyari abang, katanya namanya Evan”


“Evan ya, hahaha berani banget bocah itu, langsung mendatangi ku setelah menghajar anak - anak ku” ucap tigor marah


“Sama siapa dia kesini?” Tanya tigor


“Dia sendiri bang”


“Hmm sendirian ya? Suruh dia masuk” tigor mulai merasa di remehkan oleh bocah kemarin sore.


“Kau tigor?” Ucap ku lantang yang padahal aku sudah tahu siapa dia


“Harus nya aku yang bertanya begitu. Tak kusangka ada anak gila yang berani datang sendiri kesini, seakan - akan kau tak takut pada ku” darah tigor mulai mendidih.


“Kau ngomong apa sih!! Aku kesini untuk mengingatkan mu , jangan ganggu aku dan teman sekelas ku, kalau kalian tak mau ku hajar seperti kacung mu kemarin” ucap ku sinis.


Mendengar itu tangan kanan tigor merasa marah dan menggampiri ku sembari mencekik kerah baju ku.


“Hei bocah!!! Kau tak tahu berbicara dengan siapa? Kau mau di hajar orang - orang disini ha?” Ancam nya


“Coba saja bajin***, kita lihat siapa yang mampus” aku langsung menodongkan pistol ke arah pria itu


Semua terkejut melihat aku yang membawa pistol, mereka panik bukan main.


“Hei hei santai kawan jangan gitu dong“ sambil melepas kerah baju ku


“Kalian fikir aku datang kesini tanpa perisapan apa - apa. Ku rasa kalian tak berfikir aku sepolos itu” ucap ku dengan mata yang sayu dan sinis


“Walaupun pistol ini hanya bisa menembak satu orang. Tapi kalau satu orang saja yang kena di pastikan akan menemui ajal nya, karena aku tak akan mengincar kaki, ini akan ku pakai jika keadaan ku terdesak” ucap ku lantang


Aku mendapat pistol dari om ku yang merupakan seorang polisi, aku pura - pura bertamu kerumah nya dan mencuri pistol nya untuk hari ini saja.


“Oiya, bang tigor bagaimana keputusan nya?” Tanya ku lagi.


“Jangan kau fikir aku bodoh bocah, aku tahu kau membawa pistol bukan untuk sembarangan menembak” ucap nya


“Aku bicara soal menggangu kelas ku, aku tahu kau butuh setoran rutin untuk kebutuhan gang mu, tapi kau tak bisa kecualikan kelas ku? Aku tak perduli dengan yang lain” aku mencoba bernegoisasi.

__ADS_1


“Kenapa aku harus mengiya kan omongan mu? Kau baru saja menghajar pasukan ku, itu saja sudah membuat mu menjadi incaran kami, kini kau malah mengancam ku sia*” ucap tigor


“Bagaimana cara kita bernegoisasi” tanya ku sambil menodongkan pistol ke jidat nya.


“Hei sia*** kau, berani nya kau” teriak anak - anak lain.


“Bagaimana jika kita bertarung saja 1 vs 1 secara adil siapa yang menang dia yang di ikutin omongan nya, aku tak akan memakai senjata jika pesuruh mu tak ikut campur” tantang ku


“Hahaha anak ini ya berani sekali, kau fikir aku siapa hah!!!” Tigor marah sejadi - jadi nya dia membuat wajah yang mengerikan sambil menggigit bibir nya.


“Oke gas, siapa takut” ucap tigor


“Oee kalian semua jangan ada yang berani ikut campur sampai ada salah satu di antara kami mati, siapa yang ikut campur akan ku hajar sampai mati, mengerti!!!” Teriak tigor


Selagi tigor berbicara aku langsung memukul wajah nya dengan sikutku, menonjok wajah nya berkali kali. Ketika aku ingin menusuk matanya dengan jari ku dia langsung menghindar dan melakukan counter dengan spinning back.


Aku pun terkejut dan pukulan itu telak mengenai wajahku. Mata ku mulai sempoyongan namun aku mencoba memfokuskan nya kembali.


Tigor tak berhenti di situ dia langsung melancarkan pukulan bertubi - tubi. Kemudian dia menendang kaki ku dengan teknik low kick milik nya.


Aku yang kewalahan mencoba mencari jarak dan menunggu momen untuk menyerang kembali.


Dengan cepat aku menerjangnya. Ketika aku menerjang, dia melancarkan pukulan namun aku sudah mengetahui itu dan menghindar ke arah perut nya kemudian memeluknya untuk membanting nya.


Tigor pun jatuh kebawah aku yang di posisi atas langsung mengarahkan pukulan ku secara bertubi - tubi. Beberapa pukulan masuk namun dia pun langsung nge block pukulan ku dengan kedua tangan nya kemudian menyingkirkan ku. Kami pun jual beli serangan.


10 menit berlalu wajah kami sudah bonyok dan sangat kelelahan.


Orang - orang yang melihatnya sangat sangat ketakutan dan merasakan ngeri bercampur kagum karena baru itu melihat pertarungan sesengit itu.


“Kau terlihat lelah, ayo tembak aku dengan pistol mu itu hahaha karena kau akan kalah jika tak melakukan itu” ucap nya mengejek ku.


“Cih, kau tak berkaca, dengan muka lebam seperti itu monyet betina pun tak akan mau padamu haha” ucap ku padanya


“Bocah ini” tigor menyerang ku dan kami kembali jual beli pukulan dan tendangan


Sampai dimana kami berdua sama - sama terjatuh.


“Serang aku lagi bo***” ucap tigor yang tak berdaya lagi


“Jika aku menyerang mu lagi kau akan mati” jawab ku pun yang sudah tak bisa bergerak lagi.


Pertarungan pun selesai tanpa ada pemenang alias seri.


Semua orang terdiam melihat keadaan itu,


“Bantu aku berdiri” ucap tigor ke bawahan nya


Mereka pun membantu nya berdiri.


“Kau menarik bocah!! ku akui kau kuat, baiklah aku akan menuruti omongan mu sebagai hadiah karena telah memuaskan ku bertarung hari ini” ucap nya menyetujui omongan ku


Aku pun tersenyum dan kagum akan ke gantle an pria ini, sembari berdiri dengan tertatah sempoyongan.


Aku pun mulai pergi meninggalkan tempat itu.


“Jangan sentuh dia, biar kan dia pergi” ucap tigor ke anak buah nya.


Next\~

__ADS_1


__ADS_2