Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 53


__ADS_3

Pintu paviliun terbuka ketika menteri Chen tiba. Dua orang penjaga dengan keahlian beladiri yang cukup tinggi mempersilakan mereka masuk ke dalam. Menteri Chen dan Fu Bai melangkah tanpa hambatan.


Sedangkan Chu Yao harus menahan diri untuk tidak pingsan di tempat. Entah mengapa rasa sesak menyerang rongga pernapasannya. Membuat ia harus menarik napas yang dalam. Berkali-kali. Hanya untuk menenangkan diri.


Semenjak bangun dari 'tidur' yang menyakitkan empat tahun yang lalu, tubuh Chu Yao tak lagi normal seperti sedia kala. Ia mudah gugup tanpa sebab. Terkadang sampai panik hingga menyebabkan tremor di sekujur tangan. Bahkan untuk waktu tertentu, ia bisa pingsan atau muntah darah tanpa sebab. Belum lagi kejanggalan lainnya yang sering terjadi serta sikapnya yang mudah meledak hanya karena hal-hal yang sepele.


Semua itu membuatnya menarik diri dan semakin tidak dimengerti. Tak mudah untuknya bangkit dari keterpurukan panjang. Rasa traumatis masih membekas. Memberikan efek yang sangat buruk, bukan hanya pada mental namun juga pada fisik yang tak lagi sama.


Chu Yao harus berusaha keras untuk bertahan hidup dengan identitas baru dan harus merelakan sebagian wajahnya tertutup seumur hidup.


Perempuan itu menelan saliva. Mengatupkan bibir tanpa melepaskan cengkraman tangan. Ia terus diam mengikuti langkah kedua orang di depannya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di ujung koridor. Terdapat sebuah pintu yang tertutup rapat di sana. Menteri Chen berdeham sebelum benar-benar mengeluarkan perkataan.


“Saya, Chen Fei Yi, datang bersama tabib Fu bersaudara.”


Dengan satu sentakan yang berbunyi 'Klak!' pintu itupun terbuka dengan lebar. Sebuah bidak catur berwarna hitam tergeletak di bawah kaki Menteri Chen.


Pria itu acuh tak acuh dan segera masuk di iringi Fu Bai dan Chu Yao yang berjalan menunduk di belakangnya.


Kamar itu sunyi senyap. Seolah tidak ada yang menghuni sama sekali di sana. Namun, perlahan tapi pasti, langkah ringan seorang laki-laki mulai terdengar. Menteri Chen membungkukkan badan dan Fu Bai serta Chu Yao langsung bersujud memberikan penghormatan kepada sang kaisar.


“Kenapa mereka tidak di suruh istirahat terlebih dulu?”


Chu Yao tersentak mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Hatinya menduga-duga namun ia tidak berani memastikan.


Wajah seorang pria berkeliaran di benaknya. Mungkinkah?


Tidak!


Chu Yao tidak berani mendongakkan wajah. Selain melanggar kesopanan serta tata krama, ia pun memang tidak ingin sang kaisar muda melihat sebagian wajahnya. Chu Yao merasa ia sedikit berlebihan. Ia harus fokus dan menepis semua dugaan di hatinya.


“Anda pikir perjalanan yang mereka lakukan sekejap mata dan mereka tidak kelelahan?”


“Maafkan kecerobohan saya, yang mulia. Saya tidak berpikir jauh. Dalam otak saya hanya ada kesembuhan yang mulia semata.”


Suasana kembali hening. Walaupun posisi Chu Yao masih bersujud, namun ia bisa merasakan aura mengintimidasi menyelubungi mereka.


“Lakukan secepat mungkin!” Perintah Kaisar muda tersebut kepada menteri Chen dengan tegas.


Pria tua itu bangkit dan mempersilakan Fu Bai memeriksa denyut nadi sang kaisar. Fu Bai berdiri dan berjalan dengan tubuh yang masih sedikit membungkuk.


Kaisar mengulurkan tangan dan Fu Bai memeriksanya dengan penuh keseriusan.


Beberapa menit kemudian Fu Bai mundur dan membungkuk hormat, “Jika perkenankan, saya harap yang mulia bersedia di periksa oleh adik saya juga. Ada beberapa hal yang harus saya pastikan bersama dengannya.”


Kaisar muda itu menganggukkan kepala kepada menteri Chen. Pria tua itu langsung mengerti dan meminta Chu Yao maju.


Chu Yao bangkit dan berdiri dengan pandangan kelantai. Lututnya yang sudah lemas hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. Untungnya Fu Bai bergerak cepat. Ia menahan tubuh Chu Yao yang hampir oleng karena gugup.


Chu Yao kembali stabil dengan cepat. Ia tidak menunda waktu untuk segera menuntaskan tugas yang di berikan. Dengan pelan ia menekan pergelangan tangan yang besar itu.


Tangan ini!

__ADS_1


Tidak! Ini hanya delusi. Perasaan familiar ini hanya karena rasa rindu yang menumpuk. Tidak mungkin pria itu di sini.


Kaisar bukan dia!


Sadarlah Chu Yao!!!


Chu Yao membatin. Matanya otomatis terpejam ketika membaca ritme denyut nadi sang kaisar yang tidak beraturan.


“Tanganmu berdarah.” Suara dingin sang kaisar membuat konsentrasi Chu Yao buyar.


Perempuan itu otomatis menarik tangan dan melihatnya.


“Iya, ternyata berdarah.” Suara kaget Chu Yao menggema di seluruh ruangan.


Tanpa sadar dia mendongakkan wajah dan melihat wajah sang kaisar. Betapa terkejutnya Chu Yao. Seketika ia kembali menundukkan wajah dan meminta ampunan karena telah berlaku lancang.


Tubuh Chu Yao gemetaran dengan detak jantung yang sangat cepat. Wajahnya seketika memucat. Bukan karena takut mendapat hukuman, tapi pada penglihatannya yang di luar dugaan. Ia mengenali sang kaisar.


Kaisar muda itu adalah pria yang telah bersama dengannya dalam waktu yang lama. Pria itu jugalah yang melindungi dan selalu ada untuknya. Dan pria itu jugalah yang telah Chu Yao bohongi dengan obat tidur dosis tinggi pemberian Ye Zuan.


Ya, pria itu adalah Mo Yan.


Kaisar Alorra, Xu Xiao Yan adalah mantan pengawal pribadi Chu Yao.


Chu Yao menggigit bibir. Berusaha untuk menahan butiran bening yang hampir menjebol dinding pertahanannya. Dengan perlahan, ia berjalan mundur. Mengikuti instruksi yang di berikan menteri Chen kepada mereka.


“Tunggu!” Cegat Mo Yan saat Chu Yao membalikkan badan meninggalkan kamar pribadinya.


Tanpa berkata-kata, pria berwajah dingin itu memberikan sebuah pot poselen kecil ke tangan Chu Yao. Kemudian menghilang dari pandangan mereka. Chu Yao tertegun sejenak. Ia kehabisan kata. Matanya hanya tertuju pada ruang kosong dan beralih pada pot kecil di tangannya. Hatinya menghangat.


Chu Yao merindukannya!


Sangat, sangat merindukannya!


Tetapi mereka tidak bisa bersama. Tidak! Lebih tepatnya Chu Yao tidak boleh mendambakan seseorang yang tidak pantas untuknya.


Chu Yao harus mengaca! Dirinya bukan siapa-siapa! Bukan lagi seorang nona bangsawan yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Lagi pula belum tentu pemuda itu ingat dengannya. Belum tentu pula masih mempunyai rasa yang sama seperti dulu terhadapnya.


Chu Yao oh Chu Yao..


Kau terlalu percaya diri.. Seolah kau masih seperti empat tahun yang lalu..


Chu Yao terkekeh pelan. Membuat Fu Bai dan menteri Chen yang sedang bercakap-cakap di depannya terheran-heran. Namun hanya sesaat. Kedua orang itu kembali fokus pada pembicaraan mereka.


“Kalau begitu mohon kerjasamanya. Saya akan mengabari tabib kerajaan untuk membantu tabib Fu sesegera mungkin..” Ucap menteri Chen dengan sopan.


Ia pun menambahkan, “Kami sudah menyiapkan tempat peristirahatan sesuai persyaratan yang kalian berikan. Anda berdua bisa segera beristirahat di dalamnya.”


Sebelum undur diri, menteri Chen memanggil seorang pelayan laki-laki untuk mengantar Fu Bai dan Chu Yao. Dengan santun, pelayan itu menuntun jalan menuju tempat peristirahatan yang sudah disiapkan untuk mereka.


Tempat tersebut tidak terlalu besar. Namun tidak bisa di sebut kecil juga. Satu paviliun bertuliskan 'alam' dengan pekarangan tertutup. Terdiri tiga kamar yang saling terpisah. Di tengah-tengah pekarangan itu terdapat sebuah gazebo besar dengan perlengkapan medis yang lengkap sekaligus merangkap sebagai dapur utama.


“Di sisi kanan merupakan kamar milik tuan muda Fu, ditengah miliki nona Fu Rong sedangkan yang sebelah kiri milik nona Fu Hua.” Tutur sang pelayan sambil menunjukkan setiap kamar dari seberang gazebo.

__ADS_1


“Tuan dan nona bisa memanggil para pelayan dengan menekan tuas kecil ini dan kami akan segera datang. Tuas ini tidak hanya ada di sini namun juga tersedia di setiap kamar. Setiap kamar memiliki sistem yang berbeda, jadi tuan dan nona tidak perlu khawatir, kami tidak akan salah masuk kamar.”


Chu Yao mengangguk paham dengan penjelasan yang di berikan pelayan tersebut. Hanya dengan satu isyarat, pelayan itu undur diri dan meninggalkan Chu Yao dan Fu Bai di tempat itu.


***


Keesokan harinya, seorang tabib kerajaan datang berkunjung ke paviliun alam. Fu Bai menyambutnya dengan hangat. Mempersilakannya duduk dan minum teh bersama.


Mereka saling berkenalan dan membahas kondisi kaisar muda dengan penuh keseriusan. Chu Yao dan Fu Rong yang sejak tadi meramu herbal hanya diam menyimak.


“Saya sependapat dengan hipotesis tabib Qin,” Ucap Fu Bai setelah tabib kerajaan itu selesai memberikan penjelasan.


“Denyut nadi yang mulia memang tidak beraturan. Seolah saling memakan. Saling memberi tekanan. Ini kali pertama saya menemui denyut nadi yang aneh semacam itu.” Tambah Fu Bai ketika membaca tulisan dikertas yang tabib Qin berikan.


Tabib Qin mengelus janggut putihnya. Keningnya yang sudah sepuh semakin berkerut memikirkan jalan keluar.


“Nampaknya yang mulia memiliki beberapa racun di tubuhnya. Racun-racun tersebut mengendap dan menyatu dengan sendirinya. Kemudian menciptakan jenis racun baru. Menurut pendapat saya, racun itu sudah cukup lama berada di tubuhnya dan saling mengikat sehingga susah untuk di obati dengan obat-obatan biasa.” Balas tabib Qin menimpali perkataan tabib muda di depannya.


“Tuan benar. Hanya saja yang menurut saya aneh di sini, bagaimana bisa racun-racun yang semula berbeda tiba-tiba menyatu menciptakan racun baru yang sangat berbahaya dengan sendirinya dan menyebabkan perubahan yang signifikan pada rambut dan beberapa organ dalam yang mulia. “


Tabib Qin terkesiap, “Maksud tabib Fu?”


“Sebagai seseorang yang sudah lama bergelut dengan dunia racun, saya merasa tidak mungkin terjadi penyatuan racun yang memiliki sifat bertolak belakang satu sama lain. Lebih mustahil jika racun-racun tersebut menyatu dengan tiba-tiba dan menjadi sebuah variasi baru. Apa lagi itu terjadi begitu saja di dalam tubuh tanpa di rangsang oleh sesuatu. Itu sangat tidak masuk akal.”


“Apakah yang mulia tidak sengaja melakukan sebuah metode yang justru membantu penyempurnaan racun tersebut?!” Ucap tabib Qin menduga-duga.


“Entahlah, saya juga tidak yakin.” Jawab Fu Bai skeptis, “Saya harus melakukan pemeriksaan lanjutan sembari mencari penawar racun yang mulia.”


Keduanya terdiam. Memijat pelipis yang mulai berdenyut sakit karena tak juga menemukan jawaban yang memuaskan.


Akhirnya tabib Qin pamit. Orang tua itu pergi dengan banyak pertanyaan di benaknya. Tak hanya tabib Qin, Fu Bai pun demikian. Pria itu menarik napas panjang dan menyandarkan tubuhnya disalah satu pilar. Pandangan lelahnya kini beralih kepada Chu Yao.


“Xiao Hua, apakah kau mengenal yang mulia kaisar sebelumya?” Celetuk Fu Bai dengan rasa penasaran.


Sejak memasuki ruang pribadi penguasa Alorra, Fu Bai menyadari sikap Chu Yao telah berubah. Perempuan itu nampak berpura-pura tenang dan semakin tidak banyak bicara. Seolah sedang memberi tekanan pada dirinya sendiri untuk tidak terlihat mencurigakan.


“Aku tidak mengenal yang mulia.” Jawab Chu Yao singkat tanpa menghentikan aktifitasnya.


“Dan aku tidak akan pergi ke tempat itu lagi untuk menemanimu melakukan pemeriksaan lanjutan.” Tambah Chu Yao dengan suara tegas.


Fu Bai mengernyit kebingungan, “Alasannya?”


Chu Yao memberikan herbal di tangannya kepada Fu Rong dan menghampiri Fu Bai, “Keahlian medisku tak seberapa. Kehadiranku di sana takkan memberikanmu pertolongan. Aku hanya sedikit mampu melakukan akupuntur. Selebihnya kau semua yang menanganinya..”


“..Jadi lebih baik aku di sini saja, membantu Xiao Rong membuat obat.” Jelas Chu Yao sedetil mungkin.


Fu Bai berdecak, “Kau hanya menghindari kaisar, bukan?!”


Chu Yao tak bergeming. Ia bahkan membuang wajah dan melanjutkan aktivitasnya menyortir herbal.


“Sangat wajar kau ingin menghindar. Tatapan dan aura yang mulia memang begitu mengerikan. Berhadapan dengannya sama halnya seperti berhadapan dengan serigala putih yang ganas.” Tutur Fu Bai yang bergidik ngeri.


Fu Rong yang sejak tadi menyimak akhirnya angkat bicara, “Jaga mulutmu! Jika ingin mati sebaiknya tidak mengajak kami berdua!”

__ADS_1


Fu Bai segera menutup mulut dengan cepat. Pandangannya beralih dari sisi satu ke sisi lainnya. Ia kembali menghembuskan napas lega ketika menyadari hanya mereka bertiga di sana. Herbal di tangan Chu Yao kini berpindah tempat di atas rak. Seolah tidak memperdulikan kedua saudara angkatnya, perempuan itu berjalan apatis ke arah kamar dengan perasaan campur aduk yang tak kunjung berkurang.


__ADS_2