Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 60


__ADS_3

Jendela kamar sedikit terbuka. Membiarkan langit senja meniupkan angin untuk sekedar memberikan kesejukan di ruangan yang luas itu.


Chu Yao menarik sudut bibirnya tatkala merasakan kedatangan pria yang selalu muncul secara diam-diam di sampingnya. Wajah pria itu datar seperti biasanya. Berdiri seakan menunggu untuk dipanggil olehnya.


"Yang mulia, Xu Xiao Yan.. Kau bukan lagi pengawal pribadiku. Kenapa hanya mematung disitu?"


Kening Mo Yan berkerut saat Chu Yao memanggilnya dengan nama aslinya. Entah kenapa panggilan itu terdengar seperti ejekan di telinganya.


"Kenapa? Kau tidak suka ku panggil dengan nama lengkap mu?" Goda Chu Yao sambil memiringkan kepala.


Mo Yan memalingkan wajah, "Aku lebih suka kau panggil dengan nama Mo Yan."


Chu Yao mengulum senyum dan mengulurkan tangannya. Mo Yan yang tak berekspresi apa-apa itu membalas dengan hal yang sama.


"Baiklah.. Aku akan memanggilmu dengan nama Mo Yan. Apa kau puas?"


Ucapan Chu Yao terdengar seperti bujukan namun Mo Yan menyukainya. Pemuda itu bahkan membiarkan perempuan itu memegangi telapak tangannya dalam waktu yang cukup lama.


Mo Yan membalikkan tangannya dan menjalinkan jari-jarinya yang besar disela jari-jari Chu Yao yang kecil dan ramping. Membuat pasangan itu saling mengagumi satu sama lain.


"Bagaimana pertemuan mu dengan utusan Airland tadi?" Celetuk Chu Yao sambil memberikan pijatan kecil di kening Mo Yan yang masih berkerut.


Pria itu kembali berwajah keruh. Ingatannya memanggil siluet Zhao Ming De yang tidak ia sukai secara otomatis.


"Semua berjalan dengan baik." Jawab Mo Yan singkat sambil menggenggam tangan wanitanya dengan perasaan manja.


Ia pun menambahkan dengan nada asam, "Kau mungkin tidak menyangka jika salah satu utusan itu adalah adik iparmu, Zhao Ming De."


"Tuan muda Zhao? Apakah dia cendikiawan yang kau maksud?"


Mo Yan berdeham pelan menjawab pertanyaan yang Chu Yao ajukan, "ingatanmu begitu terang tentang pria itu."


Chu Yao tidak memperdulikan senggolan tersirat yang Mo Yan berikan. Ia justru menyibukkan diri dengan pemikirannya yang subjektif.


"Kaisar tidak hanya mengangkat Ye Zuan sebagai putra mahkota, bahkan mengirim jauh para pejabat yang dulu bersekutu dengan pangeran kedelapan itu... Tapi mengapa malah memberikan jabatan khusus untuk Zhao Ming De. Apa maksudnya ini?"


Chu Yao memijat kecil keningnya yang berdenyut. Dirinya mungkin dalam pelarian dengan indentitas yang tak dikenal namun ia masih terhubung dengan berita-berita terbaru di ibukota Airland.


Ia tau bahwa manusia gila kekuasaan itu telah mengasingkan kakaknya, Chu Zhan, di kota Jiang. Membuat status pangeran pendamping itu tidak lagi bermakna dan tak dianggap di mana-mana.


Chu Yao mengatupkan gerahamnya dengan keras. Merasakan kemurkaan yang tiada habisnya. Setiap membahas perkara Long Jin Mao, semua emosi negatif dalam dirinya seketika tersulut secepat kilat.


Mo Yan menarik ujung baju Chu Yao. Seolah berusaha mengingatkan keberadaannya. Bagi Mo Yan, Chu Yao tidak perlu lagi memaksakan diri untuk menghadapi segalanya. Ia selalu menjadi garda depan untuk wanitanya.


"Jika dugaanku tidak salah, kemungkinan semua itu dilakukan untuk mengikat loyalitas pejabat netral untuk berpihak kepada pemerintahan Kaisar. " Gumam Mo Yan sambil menuntun langkah kaki Chu Yao kearah bufet panjang di ujung kamar.


"Berarti orang tua itu sudah melakukan pemaksaan. Dia bahkan acuh tak acuh dengan status Zhao Ming De. Apa dia benar-benar lupa bahwa pria itu adalah menantu mendiang jenderal yang pernah ia fitnah?!" Geram Chu Yao yang hampir-hampir mengeluarkan umpatan kasar.


Mo Yan menjawab ringan, "apa dia tipe orang yang memiliki keperdulian yang tinggi?"

__ADS_1


"Jika memang demikian, dia tidak akan membantai habis orang-orang yang tidak bersalah Di Alorra dua dekade yang lalu!"


Chu Yao seketika terdiam. Ucapan Mo Yan yang begitu dingin seolah tengah menghunuskan ujung pedangnya tepat di dada gadis itu.


Perempuan itu terperangah, menyadari bahwa pria itu masih menaruh dendam terhadap tindakan kejam Kaisar Airland. Wajar saja, sangat mustahil untuk meniadakan perasaan sakit kehilangan orang-orang yang dicintai.


Namun, Chu Yao pun tidak bisa menapik bahwa ia merasa tidak enak hati. Bagaimanapun darah manusia tak tau diri itu mengalir deras dalam tubuhnya. Hatinya terasa sedikit sesak, merasa ikut bertanggungjawab akan kepedihan dan luka yang ditorehkan oleh ayah kandungnya itu.


Gadis itu menelan saliva. Berusaha bersikap fleksibel dan tenang. Namun nampaknya Mo Yan menyadari perubahan raut wajah wanitanya.


Mo Yan menghela napas dalam-dalam kemudian menarik Chu Yao dalam dekapannya.


"Maafkan aku." Mo Yan mencium puncak kepala Chu Yao dengan perasaan bersalah. Seharusnya ia tidak mudah terbawa suasana.


Pemuda itu mengalihkan pembicaraan dengan mengeluarkan sebilah belati dari dalam kotak penyimpanan. Ia kemudian memberikannya pada Chu Yao. Gadis itu nampak mengenali benda tersebut.


"Kau menyimpannya? Aku kira benda ini sudah disita oleh Kekaisaran."


"A-Wei menemukan nya dikediaman Chu dan membawanya kepadaku." Tutur Mo Yan sambil menunjukkan lagi satu benda lainnya, "aku tidak hanya menyimpan belati itu, tapi juga kantong sachet yang kau buat waktu itu."


Chu Yao tersenyum sekaligus merasa geli. Bisa-bisanya benda buruk rupa itu masih Mo Yan simpan dengan baik.


Mo Yan mengambil kantong sachet itu dan menyimpannya didalam bajunya. Dengan gerakan lembut, Ia pun membawa Chu Yao mengiringi langkah kakinya kebelakang kamar.


"Besok lusa, kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh. Aku telah meminta A-Wei untuk memberitahukannya pada Fu Bai." Ucap Mo Yan sambil berbaring santai di atas dipan kecil di balkon kamar yang terhubung langsung dengan air terjun dibelakang.


Mo Yan memandang wajah putih berhidung mancung disampingnya dengan pandangan syahdu, "apakah itu indah?"


Chu Yao hanya menganggukkan kepala dengan pelan tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya. Membuat pria itu harus berusaha sedikit keras untuk mengunci perhatian sang gadis.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Chu Yao saat Mo Yan menarik tubuhnya. Mo Yan menyunggingkan senyum misterius ketika Chu Yao ikut terbaring bersamanya.


Jari Mo Yan yang kasar menggenggam halus dagu perempuan cantik itu. Ekspresi datar Mo Yan tidak berubah. Ia hanya melakukan elusan lembut di wajah Chu Yao yang telah dingin akibat hempasan angin dari air terjun di depannya.


Mo Yan menatap kecanggungan Chu Yao dari balik manik hitamnya. Wajah perempuan itu yang merona membuat gejolak batasnya meronta.


Alih-alih menahan diri, bibir pria itu justru telah menyatu dengan bibir Chu Yao yang kemerahan. Memberi tekanan lembut dan perlahan menjejal. Membuat ilusi memabukkan diantara keduanya.


Chu Yao terkesiap namun memilih untuk tidak memberi penolakan. Ia memejamkan mata. Menikmati sensasi asing yang aneh, yang semakin lama semakin membuncah diperutnya. Membuatnya menekankan diri lebih dalam di setiap pagutan yang Mo Yan berikan.


Tautan itu perlahan terlepas diiringi napas yang saling memburu. Tatapan Mo Yan mengunci fokus Chu Yao yang kini berada dibawahnya. Ia kembali menjajah perempuan yang telah menawan hatinya dengan perlakuan yang lebih agresif.


Ciuman Mo Yan yang dalam dan intens telah membuat Chu Yao mendesah tanpa sadar. Menyebabkan naluri kelaki-lakian Mo Yan mengerang.


Mo Yan melepaskan ketegangan itu dengan sekuat tenaga. Menahan diri semampunya hingga membuatnya sedikit terhuyung dengan pandangan gelap.


Pemuda itu masih membelenggu tubuh sang gadis dalam dekapannya. Membiarkan mereka saling merasakan degup jantung yang hampir keluar dari balik rongga pernapasan. Menikmati rasa sakit atas gejolak yang selalu menuntut lebih.


"Kau membuatku tersesat. Kau benar-benar harus bertanggungjawab jawab." Erang Mo Yan yang masih dimabukkan aroma manis dari puncak kepala Chu Yao. Suaranya menjadi sedikit berat dan serak.

__ADS_1


Perempuan itu terkekeh dengan wajah yang masih memerah, "tanggungjawab seperti apa yang kau inginkan?"


Mo Yan melenguh sambil menutup matanya dengan lengan kanannya. Ia nampak malu untuk menjawab. Ujung lidahnya mendadak menjadi kelu.


Chu Yao menunggu dengan senyum lebar. Ia kembali menggoda benteng pertahanan Mo Yan dengan jari jemarinya yang bermain nyaman dileher dan wajah tampan pria itu.


"Sudah cukup menggodaku. " Bisik Mo Yan parau. Ia menangkap jemari nakal Chu Yao dan meletakkannya di atas dada bidangnya.


"Kau membuatku gila. Kau harus memilikiku! Menikahlah denganku!"


Chu Yao tergelak mendengar lamaran Mo Yan yang rancu. Membuat pria itu semakin gelisah karena malu. Ia hanya tersenyum, tanpa memberikan penerimaan bahkan penolakan pada aksi Mo Yan yang berani saat itu.


Mo Yan merasa sedikit kecewa, namun ia tidak berkecil hati. Ia bertekad akan mengulang lamaran itu di lain waktu. Ia akan membuat perempuan itu menerimanya. Walau bagaimanapun caranya.


***


Di kediaman Shen..


Putri perdana menteri, Shen Xue Ying, berlutut memohon agar sang ayah memasukkan namanya kedalam daftar nama orang-orang yang akan pergi berkunjung ke Airland bersama Kaisar.


Perempuan itu bahkan membujuk Shen Ruo Nan untuk mendukungnya.


Ia berdalih bahwa ia berhak pergi menemani sang Kaisar karena status pertunangan yang telah mengikat mereka.


"Bukankah kelak aku akan jadi seorang permaisuri. Aku akan berada disisi Kaisar dimasa depan. Jadi bukan hal yang aneh jika aku ikut bersamanya dalam kunjungan negara kali ini." Ucap Shen Xue Ying setengah merajuk.


Perdana menteri memberang. Air mukanya terlihat merah seperti tomat, "Berkhayal lah sesukamu! Pria itu takkan pernah mau menjadikanmu sebagai pendampingnya! Apa kau lihat di seluruh tempat peristirahatan itu? Hanya ada pria bersenjata di mana-mana!"


Laki-laki tua itu menimpali lagi, "Bukankah kau tau sejak awal bahwa cerita pertunangan itu hanya sebuah rekayasa. Demi menguatkan wewenangku atas urusan istana dan negara! Itu hanya sebuah perjanjian. Hubungan saling menguntungkan yang biasa terjadi didunia perpolitikan. Jangan sampai membuatmu terlena!"


Rentetan penjelasan yang diutarakan perdana menteri nampaknya tidak juga menyurutkan semangat Shen Xue Ying. Ia tetap keras kepala. Bagaimanapun ia harus ikut bersama rombongan itu ke Airland.


"Tapi ayah, tabib perempuan itu juga di sana! Bahkan sekarang semua orang juga tau bahwa mereka tinggal di dalam kamar yang sama. Itu membuktikan bahwa yang mulia tertarik dengan wanita. "


"Nona Fu di sana hanya mengobati yang mulia! Kau jangan menyebar fitnah seperti itu!"


"Tapi ayah.. "


"CUKUP!"


Perdana menteri semakin marah. Orang tua itu akhirnya meninggalkan kedua anaknya.


"Kakak.. " Rengek Shen Xue Ying kepada Shen Ruo Nan, "Bantu aku membujuk ayah."


Shen Ruo Nan menghela napas, "ayah benar, Xue Ying. Perjalanan ini bukan sekedar kunjungan negara biasa. Ada misi khusus yang harus kami selesaikan dan itu tidak akan mudah jika harus membawa perempuan sepertimu."


"Jadi kalian menganggap ku beban?" Seru Shen Xue Ying kesal.


Ia menekuk bibir dan pergi begitu saja dari hadapan sang kakak. Emosi Shen Xue Ying memang sedikit membuatnya sebal. Alih-alih marah, putra tinggal perdana menteri itu justru menggelengkan kepala. Berharap perempuan itu tidak membuat ulah.

__ADS_1


__ADS_2