Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 69


__ADS_3

"Kau seharusnya tidak bertindak gegabah seperti itu." Ucap Mo Yan dengan pijatan kecil di keningnya.


"Jika situasi tidak terkendali dan kau tewas disitu, tumbuhan sialan itu pun takkan mampu menebus rasa bersalahku!"


Chu Yao membatu. Ia hanya mendengarkan perkataan Mo Yan tanpa bergeming sedikitpun.


Mo Yan menoleh dan menatap netra cinnamon Chu Yao yang memantulkan siluetnya dengan jelas.


"Aku tidak perduli penyakit itu sembuh atau tidak, yang penting kau tidak berada di situasi berbahaya. Apa sekarang kau mengerti?"


"Aku mengerti.." Jawab Chu Yao tegas, "namun jika kau tidak perduli maka akulah yang akan perduli!"


Chu Yao membalas tatapan Mo Yan tanpa rasa takut. Ia tidak gentar sedikitpun meski yang dihadapinya saat itu adalah kaisar Alorra dan sekaligus suaminya.


Mo Yan malas berdebat. Ia sangat mengenal temperamen Chu Yao. Begitu perempuan itu merasa benar, ia tidak akan pernah mau mengalah meski alasan apapun yang Mo Yan berikan.


Pria itu menghela napas lelah. Ia melepaskan pelukan erat yang Chu Yao berikan dan berniat pergi meninggalkan perempuan itu. Ia berharap Chu Yao bisa menginstrokpeksi dirinya, namun alih-alih berjalan maju, Mo Yan justru tersungkur keatas dipan.


Chu Yao telah menarik pria itu dengan sekuat tenaga. Membiarkan Mo Yan terkapar dengan raut wajah kagetnya.


"Chu.." Ucapan Mo Yan seketika dibungkam Chu Yao dengan sapuan lembut dibibirnya.


Pemuda itu terbelalak. Tercengang dalam kebingungan. Meski demikian, ia tetap membiarkan perempuan itu menjajahnya. Menguasai semua yang ada pada dirinya.


Chu Yao menarik diri dengan semburat merah dan bibir yang bengkak. Ia berkata, "apa kau sudah memaafkan aku?"


"Jika kau belum juga bisa memaafkan aku maka aku akan terus menahanmu seperti ini."


"Kau mau seperti ini terus-terusan..?"


"Iya!"


"Sampai kapan?"


"Sampai kau mau memaafkanku!"


Perempuan dengan rambut sedikit acak itu mengunci fokus Mo Yan dan membuat pria itu tidak bisa berkata-kata. Raut malu-malu Chu Yao justru membangunkan hasrat terpendam Mo Yan.


Dengan gesit Mo Yan bangun dan membalik keadaan. Ia kini berada diatas Chu Yao.


"A,apa yang akan kau lakukan?" Tanya Chu Yao dengan kikuk.


Mo Yan menelan saliva. Ia mencondongkan tubuhnya. Memberi tekanan pada sosok kecil yang terbaring malu dibawahnya.


"Menghukummu.."


Mo Yan memberikan sentuhan intim dibibir Chu Yao. Membungkam niat perempuan itu untuk menolaknya. Perlahan tapi pasti. Penerimaan itu ia rasakan.


Mo Yan tidak perduli. Bahkan mungkin telah melupakan kesalahan Chu Yao dan rasa kesalnya. Ia terhanyut dalam nikmat yang perempuan itu ciptakan.


Dan kali ini, kedua orang itu menyatu dalam romantisme pernikahan yang sesungguhnya.


Beberapa jam kemudian..


Mo Yan menarik selimut dan menyelubungi istrinya yang tengah tertidur pulas. Mengelus surai hitam nan panjang Chu Yao dengan perasaan rancu.


Ia mengecup kening sang istri dan memandangi wajah cantik itu beberapa saat. Kemudian memasang wajah dinginnya. Pemuda itu meraih perlengkapan perangnya yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya.


Dalam sekejap, baju zirah sudah terpasang beserta pedang yang bertengger di sabuk besinya.


Dengan langkah ringan dan hati-hati, ia keluar dari tenda dan memberikan instruksi kepada prajurit yang berjaga didepan tenda.

__ADS_1


"Jangan biarkan ada keributan apapun yang mengganggu tidurnya!"


Dua prajurit itu pun berseru siap. Mereka tidak bertanya ataupun memberikan sanggahan. Aura membunuh Mo Yan begitu kuat hingga membungkam kedua orang itu bersamaan.


Mo Yan meneruskan langkah dan mendapati jenderal Luo dan beberapa bawahannya sudah berdiri di gerbang barak. Mereka sudah berpakaian lengkap dengan atribut perang yang tak kalah rumit dari yang Mo Yan kenakan.


Orang-orang tersebut memberi hormat dan bersiap diri menerima perintah.


"Semua telah siap yang mulia!" Ucap jenderal Luo kepada Mo Yan.


Mo Yan mengelilingkan pandangan kemudian mengangguk tegas. Ia melompat ke atas kuda putih miliknya dan berseru kencang.


"Berangkat sekarang!"


***


Pasukan Alorra telah berbaris rapi dengan struktur yang terorganisir. Mo Yan, duduk dengan tegak diatas kuda putih miliknya di temani oleh jenderal Luo dan beberapa orang penting disetiap sisinya.


Diseberang matanya sudah berderet kalaveri Airland dengan sosok angkuh dibarisan paling depan.


Long Jin Mao!


Mo Yan menyipitkan mata, memfokuskan semua panca inderanya pada satu arah.


"Akhirnya kita bertatap muka langsung! Meski aku sudah mendengar rumor tentangmu, tapi aku masih cukup terkejut karena kau benar-benar masih sangat muda." Ucap Long Jin Mao dengan seringainya.


Mo Yan tak menggubris. Ia masih menatap tajam kearah Long Jin Mao dan Ye Zuan secara bergantian.


Ye Zuan, putra mahkota Airland, tidak bergeming. Ia statis diatas kudanya yang gagah. Sesekali memutar bola mata dan mengangguk tidak jelas.


"Meski kau lebih muda dariku, tapi pengalaman dan kemampuan yang kumiliki jelas jauh darimu! Oh ya, ku dengar baru-baru ini kau telah menikah! Aku ucapkan selamat! Semoga keturunanmu kelak bisa mengkaji ulang tentang kehebatan pasukanku ini di sejarah kerajaan kalian!"


"Dan itupun jika kau sempat memiliki keturunan.. Ahahahhahaaaa..."


Alih-alih terprovokasi, Mo Yan justru tetap tenang dan melarang para bawahannya itu melakukan tindakan gegabah.


"Tidak perlu tersulut. Biarkan dia menyelesaikan kesembongannya." Bisik Mo Yan pada jenderal Luo. Jenderal itupun menarik diri dan kembali tenang.


"Aku tidak tau jika kaisar Airland memiliki kegemaran bergunjing seperti perempuan!" Sindir Mo Yan dengan wajah datarnya.


"Kau!"


"Sayang sekali dugaan anda salah besar. Saya yakin saya telah berhasil meninggalkan jejak kehidupan pada istri saya! Dan saya pun yakin kelak anak-anak saya akan bangga bahwa ayahnya bisa mengalahkan Airland dan membunuh anda dengan mudah!"


Sorot mata Mo Yan tidak kalah tajam dari mata Long Jin Mao yang penuh emosi. Kedua pimpinan itu memasang posisi dan dalam sekejap menderap maju tanpa basa-basi lagi.


Gemuruh teriakan serta ringkikan kuda dikedua pasukan itu saling beradu dan menciptakan suasana yang menegangkan.


Dentingan pedang yang saling bertubrukan menghasilkan melodi dramatis yang selaras dengan situasi mencekam saat itu. Raungan kesakitan serta cipratan darah yang menyembur tiada henti dari satu orang ke orang selanjutnya menjadikan medan pertempuran itu seperti simulasi neraka.


Mo Yan memacu kudanya dan menghalau gerakan Long Jin Mao. Kaisar tua itu menyeringai dan melayangkan pedangnya kearah Mo Yan.


Dengan gesit, Mo Yan menghindar dan membalas dengan tendangan kearah kuda milik kaisar Airland itu. Long Jin Mao terjerembab, jatuh dari atas kudanya dengan sangat tidak nyaman. Ia merasakan bahwa satu tulang rusuknya patah.


Mo Yan tidak tinggal diam, ia pun turun dari kudanya dan kembali melakukan serangan. Kecepatan pemuda itu membuat kaisar Airland kesulitan. Namun Long Jin Mao tetap masih bisa bertahan. Ia bahkan berhasil mendorong mundur Mo Yan dengan sebuah tendangan memutar.


Mo Yan tersungkur dengan satu kaki yang berlutut ketanah. Pria itu meludahkan darah dan kembali bangkit dengan kuda-kuda. Ia siap untuk memberi serangan lagi.


"Staminamu kuat juga anak muda! Tapi tetap tidak bisa mengalahkanku!!!"


Long Jin Mao berlari dan melayangkan pedang kearah Mo Yan. Kaisar Alorra pun menghindar namun tetap tidak bisa menyelamatkan lengan kirinya yang terluka.

__ADS_1


Mo Yan meleguh. Napasnya memburu. Ia mengernyit dan refleks meraba dadanya yang terasa sakit.


'Nampaknya penyakit lama ini kembali lagi. Kenapa harus disaat seperti ini?' keluh Mo Yan dalam hati.


Long Jin Mao kembali menyeringai. Ia nampak senang dengan perubahan raut wajah Mo Yan yang diluar dugaan.


"Kau terlihat kesakitan." Seru Kaisar Airland itu dengan cibiran, "bagaimana jika ku percepat rasa sakit itu sekarang juga?!"


Refleks Mo Yan begitu baik. Ia menangkis sabetan pedang Long Jin Mao dan melompat kebelakang pria tua itu.


Meski dengan rasa sakit yang semakin hebat, Mo Yan berhasil memberi sobekan besar pada punggung Long Jin Mao.


Keduanya dalam kondisi tidak baik!


Sama-sama menderita luka dan rasa sakit, namun kedua pria itu semakin bernafsu untuk saling membunuh.


Tidak perduli bagaimana kondisi fisik mereka saat itu. Bagi Mo Yan dan Long Jin Mao, semakin cepat lawannya tewas semakin besar pula harapan hidup mereka.


Pertarungan itu sangat sengit, membuat para prajurit yang saling berperang mengambil jarak tanpa sadar.


Long Jin Mao dan Mo Yan kembali tersungkur dengan memuntahkan darah segar. Membuat pendengaran mereka tersekat beberapa waktu.


Mo Yan bertahan dengan pedang yang tertancap ketanah. Tubuhnya gemetar dan tertunduk tanpa bisa ia kendalikan. Ia mengerang tanpa sadar. Membuat Long Jin Mao merasakan sebuah keberuntungan.


"Sepertinya langit memang memihakku kali ini!" Seringai Long jin Mao.


Tanpa ragu kaisar tua itu melemparkan pedangnya kearah Mo Yan yang masih kesakitan. Dan dalam sekejap, benda tajam itu menancap tepat di dada kiri Mo Yan.


Pemuda itu tercengang dengan wajah yang pucat. Perlahan tapi pasti, sosok gagah itu lunglai dan terjatuh ketanah dengan darah yang mengalir didadanya.


"AHAHAHHAAAAA... KAU MATI! KAISAR ALORRA TELAH MATI!" tawa Long Jin Mao dengan penuh kepuasan.


***


Di barak Alorra..


Chu Yao membuka mata dengan susah payah. Ia menggelengkan kepala dan mengumpulkan seluruh kesadarannya. Pandangan nya menyapu kesekeliling, namun dalam tenda itu hanya ada dirinya seorang.


Perempuan itu berjalan keluar dan mendapati dua orang prajurit masih berdiri tegak didepan tenda sang kaisar.


"Dimana yang mulia?" Tanya Chu Yao pada salah satu prajurit itu. Firasatnya jadi tidak menentu melihat situasi dan kondisi barak yang lengang.


Tidak ada gerak prajurit sehat yang berlalu lalang ataupun teriakan para jenderal yang menyemangati para bawahannya.


Prajurit yang berjaga itu nampak kebingungan. Ia bahkan menggaruk lehernya yang sama sekali tidak gatal.


"Katakan!" Perintah Chu Yao dengan sedikit penekanan.


Belum sempat prajurit itu menjawab, suara Fu Bai telah terdengar di balik tenda yang ada disamping kiri Chu Yao.


"Mereka sudah berangkat. " Jawab Fu Bai sambil menguap dan menggeliat. Pria itu menyodorkan tangannya yang kosong kearah Chu Yao.


"Kemana?" Tanya Chu Yao sambil mengeluarkan kotak berisi daun cahaya abadi di balik pakaiannya.


Fu Bai membuka kotak tersebut dan kembali menutupnya, "memangnya kemana lagi kalau bukan berperang langsung dengan Airland."


"Kemungkinan perang hari ini merupakan perang penentuan jadi kita akan tau siapakah pemenangnya. Aku berharap tidak ada yang terluka. Yaaahh.. meski itu cuma harapan kosong." Gumam Fu Bai sambil lalu.


Pria itu tidak menyadari perubahan raut wajah adik angkatnya. Ia terus mengoceh panjang lebar hingga tidak tau bahwa Chu Yao sudah berganti pakaian. Perempuan itu memakai baju Zirah yang sudah tersedia didalam tenda dan menaiki seekor kuda dengan sebuah pedang ditangannya.


"Hei! Kau tidak boleh kesana! Yang mulia melarangmu!!" Teriak Fu Bai sekuat tenaga.

__ADS_1


Chu Yao menoleh sesaat dan membalas dengan teriakan, "aku tau! Kau buat saja obat itu! Aku akan kembali membawa Mo Yan bersamaku! Kami pasti akan menang!"


__ADS_2