Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 46


__ADS_3

Matahari bersinar cukup cerah dengan hembusan angin musim dingin yang menembus kedalam kulit.


Meski bisa membekukan, nyatanya tidak membuat pesta besar hari ini terhenti begitu saja.


Atribut serba merah memenuhi kediaman Chu. Sorak sorai kegembiraan terdengar hingga diluar jalan. Seakan ikut merayakan kebahagiaan yang Chu Ling rasakan.


Gadis muda itu telah siap dengan gaun pengantin berwarna merah dengan perhiasan yang mewah terpasang di tubuhnya.


Nyonya Xun begitu antusias menyambut sang putri tercinta yang melenggang gemulai ke aula pesta.


Senyum bahagia tidak hanya terukir di wajah jenderal, juga sepasang suami-istri baru, Chu Zhan dan putri Chang Le, yang memang sejak subuh hari sudah tiba di kediaman.


Satu per satu memberi selamat. Mendoakan. Dengan harapan bahwa pernikahan itu akan langgeng sampai maut memisahkan.


Tak terkecuali Chu Yao. Ia bahkan dengan tulus berharap tuan muda Zhao akan memperlakukan Chu Ling dengan penuh cinta.


Alih-alih bergabung dengan keluarga yang begitu bahagia, Chu Yao justru mengambil jarak. Ia berdiri tidak jauh di belakang putri Chang Le tanpa perkataan sedikitpun.


Sang putri nampaknya menyadari sikap Chu Yao yang menarik diri. Dengan penuh keanggunan, dia mendekat dan berbicara dengan Chu Yao.


"Apakah gerangan yang membuat adik begitu tidak bersemangat? Bukankah hari ini merupakan hari spesial yang tidak akan terulang."


Chu Yao tersenyum, "saya jadi malu. Tuan putri menyadari ketidaknyamanan saya hari ini. "


Putri Chang Le terkekeh dengan saputangan dibibir merahnya, "kau ini, kenapa kau jadi sungkan begitu? panggil saja aku kakak ipar. Aku kan sudah menjadi bagian dari keluarga kalian."


"Baiklah. Kakak ipar sungguh berhati luas. Kalau begitu, saya tidak akan membuat batas." Balas Chu Yao dengan gerakan hormat sesuai tata krama.


Putri Chang Le berdeham. Kali ini wajah ovalnya menampilkan sebuah keseriusan. Chu Yao menegakkan badan. Menyeimbangkan postur tubuh untuk menerima sesuatu hal yang mungkin saja diluar dugaan.


"Ku dengar kau cukup dekat dengan pangeran kedelapan. Apakah itu benar?"


Chu Yao tidak menjawab. Ia hanya bermain dengan sebuah isyarat kedipan mata. Putri Chang Le tidak mempermasalahkan. Ia bahkan kembali melanjutkan pembicaraan dengan cukup tenang.


"Apa kau sudah mendengar kericuhan yang terjadi saat rapat rutin Kekaisaran kemarin?"


Raut wajah Chu Yao berubah. Ia nampak terkesiap. Ada rasa curiga menyeruak dalam pikirannya.


Bukan suatu hal yang lumrah jika seorang putri Kekaisaran membicarakan masalah politik ditempat umum seperti yang dilakukan kakak iparnya itu.


Meskipun Ye Zuan merupakan adik kandung putri Chang Le, tetap saja Chu Yao merasa ada sekat yang membuatnya tidak bisa membahas polemik Kekaisaran dengan ringan seperti yang dilakukannya bersama pangeran kedelapan.


Mungkinkah Chu Zhan telah berbagi rahasia dengan istrinya?


Ataukah Ye Zuan yang membuka diri perihal permasalahan yang sedang mereka hadapi?


Entahlah!


Chu Yao hanya bisa mengikuti arus pembicaraan sembari menganalisis semua kemungkinan.


"kericuhan?"


"Iya.." Wanita anggun itu menjeda beberapa saat dan kembali melanjutkan, "..Ye Zuan memberikan bukti baru perihal penggelapan pajak yang dilakukan perdana menteri. Disamping itu ada beberapa bukti lainnya tentang keterlibatan permaisuri dalam penambahan tanah dan harta kekayaan keluarga perdana menteri yang diluar batas.."


Chu Yao menahan diri untuk tidak memberi komentar berlebihan. Bagaimanapun putri Chang Le tetaplah seorang anggota Kekaisaran dan rata-rata anggota Kekaisaran itu seperti sebuah mata silet. Tajam dikedua sisi.


"Bagaimana respon para pejabat?"


Putri Chang Le menarik napas, "Ada yang pro, ada juga yang kontra. Kurasa kau tau siapa saja mereka. Hanya saja yang ku khawatirkan bukan sepak terjang Ye Zuan.. "


Wanita itu menatap kumpulan orang yang sedang berbahagia didepannya dengan sorot mata yang kompleks.


Chu Yao menyadari maksud perkataan sang putri. Namun ia lebih memilih untuk tidak memperpanjang pembicaraan. Ia kembali bungkam.

__ADS_1


Dari jauh, deretan peti besar yang memuat mas kawin Chu Ling berjejer rapi.


Nyonya Xun tidak bisa menahan tangis harunya ketika sang putri bungsu menaiki kereta dan pergi meninggalkan kediaman dengan iring-iringan pernikahan yang meriah.


Hanya berselang menit, kebahagiaan itu berubah menjadi sebuah musibah.


Ratusan prajurit bersenjata lengkap dibawah pimpinan putra mahkota mengepung kediaman Chu.


"Ada apa ini?" Tanya nyonya Xun dengan penuh kepanikan kepada sang suami.


Jenderal Chu tak menjawab. Ia mendelik kearah Chu Zhan dan dengan sigap pria itu mengamankan posisi sang ibu beserta Chu Yao dibelakangnya.


"Atas perintah yang mulia Kaisar, jenderal Chu beserta seluruh keluarga serta seluruh pelayan yang melayani akan ditangkap dengan tuduhan pemberontakan!" Raung putra mahkota dengan mengacungkan plakat resmi milik kaisar ke udara.


Seketika semua orang diciduk dan dipaksa untuk berlutut dengan tangan terikat. Para pelayan ketakutan bahkan ada yang menangis dengan tubuh yang gemetaran.


"Yang mulia, ayah saya tidak pernah memberontak. Itu hanya fitnah yang tidak berdasar!" Ucap Chu Zhan dengan sanggahan sesantun mungkin. Wajahnya nampak tidak  menerima perlakuan semena-mena sang putra mahkota.


Putra mahkota tersenyum sinis, "Pangeran pendamping tidak berhak berkomentar apapun disini! Apakah pangeran pendamping meragukan keputusan yang diambil yang mulia kaisar?!"


Putri Chang Le menarik lengan Chu Zhan ketika pria itu hendak mendebat. Kali ini, wanita itu maju menggantikan sang suami untuk berbicara.


"Suami saya tidak bermaksud demikian. Hanya saja penangkapan ini begitu mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Bukankah hari ini merupakan hari bahagia untuk salah satu putri jenderal. Apakah yang mulia tidak bisa menundanya sampai esok hari mengingat jasa-jasa jenderal Chu terdahulu."


"LANCANG! beraninya kau mengatur sistem yang sudah berlaku!" Bentak putra mahkota dengan sikap arogan.


Jenderal Chu menahan Chu Zhan dan Putri Chang Le dengan satu gerakan tangan.


Pria tua itu menunduk hormat, memberi salam dengan sikap berwibawa kepada putra mahkota.


"Tolong maafkan perkataan pangeran pendamping dan putri barusan. Saya akan mematuhi semua perintah. Tolong putra mahkota bisa berbesar hati karenanya. "


"AYAH!!!" Raung Chu Zhan dan Chu Yao bersamaan.


"SILAKAN PUTRI DAN PANGERAN PENDAMPING KEMBALI KE KEDIAMAN!" Tegas jenderal Chu tanpa memberikan kesempatan untuk Chu Zhan menolak.


"Apa kalian tuli? Bukankah kalian sudah diusir dari sini? Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran dan memasukkan nama kalian berdua dalam penangkapan besar ini!"


Jika saja para prajurit tidak menahan geraknya, Chu Zhan hampir-hampir bisa melayangkan pukulan ke wajah putra mahkota saat itu.


"Ayah hanya dijebak! Keluarga Chu bukan keluarga pemberontak!" Teriak Chu Zhan dengan wajah menghitam karena marah.


Butuh lima orang prajurit bertubuh besar menahan amukan sang letnan jenderal. Mereka hampir kewalahan karenanya.


"Benarkah? Tapi semua bukti sudah kami terima. Kau tidak bisa membantah!" Cerca putra mahkota.


"Sebaiknya kau bersujud syukur karena kau bukan lagi keluarga Chu! Kau tidak perlu mendekam dipenjara untuk menebus kesalahan ayahmu seperti yang lainnya! Kau selamat berkat menikahi adik tiriku yang tidak berguna itu!" Bisik putra mahkota yang cekikikan di telinga Chu Zhan.


"KAU!"


"BAWA PUTRI DAN PANGERAN PENDAMPING KELUAR! CEPAT!!!"


Chu Zhan mengamuk. Para prajurit terlihat kesulitan menyeret pemuda itu keluar. Akhirnya gerakan pria itu berhasil dilumpuhkan dengan pukulan tepat dibelakang punggungnya.


Putra mahkota nampak puas. Sikap sombongnya semakin merajalela. Ia tak segan menarik dan memukul para pelayan yang memohon belas kasihannya.


Chu Yao semakin meradang ketika para prajurit menggiring bibi Hui, paman Tong dan Xier dengan sangat kasar. Ketiga orang itu tersungkur dengan lutut berdarah akibat tarikan paksa.


Chu Yao tidak perduli. Ia berlari menghampiri ketiga orang itu tanpa memperdulikan pandangan putra mahkota sedikitpun.


"Kalian terluka?" Tanya Chu Yao cemas sembari membantu bibi Hui menstabilkan diri.


"Kami tidak apa-apa, nona. Jangan cemaskan kami!" Jawab paman Tong diiringi anggukan Xier dan bibi Hui.

__ADS_1


Meski demikian, Chu Yao tidak buta, keadaan semua orang di sana memang sedang tidak baik-baik saja. Wajah semua orang memucat dengan rasa ketakutan yang dahsyat.


"Tuan.. Apakah kita akan selamat?" Tanya nyonya Xun dengan isakan tangis yang tak berkesudahan.


Jenderal Chu hanya diam. Namun sikap bungkam sang suami justru semakin mengecilkan akal pikirannya.


"Dia.. Bukankah dia yang menyebabkan semua musibah ini terjadi?!" Hujat nyonya Xun kepada Chu Yao dengan menunjukkan jari kearah perempuan bergaun putih itu.


"Yang mulia, bukankah permaisuri menginginkan gadis itu?! Bawalah dia! Kami tidak memiliki keterkaitan dengannya! Dialah yang membunuh para pelayan kiriman permaisuri!! Tangkap dia! BUNUH DIA SAJA!"


"TUTUP MULUTMU!" hardik jenderal Chu dengan tamparan keras di wajah tua nyonya Xun.


Putra mahkota tertawa lebar sambil bertepuk tangan, "berani sekali nyonya menuding ibunda permaisuri. Apakah nyonya sudah tidak sabar meninggalkan dunia ini?"


Wajah nyonya Xun semakin memutih. Tanpa memperdulikan martabat dan harga diri, wanita paruh baya itu memohon ampunan, merangkak tepat dibawah kaki putra mahkota.


Rahang jenderal Chu mengeras. Wajahnya menghitam karena malu dan marah.


"Untuk apa nyonya merendahkan diri sedemikian rupa? Kita tidak bersalah! Keluarga Chu adalah keluarga terhormat, tak pernah melanggar perintah Kekaisaran apalagi sampai melakukan pemberontakan! Ini hanya permainan orang-orang yang tidak sepaham dengan ayah!" Raung Chu Yao dengan lantang.


Ia kembali menambahkan, "jika harus memilih, aku lebih baik mati dari pada harus tunduk pada seseorang yang buta akan kebenaran!"


"CHU YAO!" Bentak sang ayah ketika melihat raut wajah putra mahkota mulai tidak bersahabat.


Namun Chu Yao tidak perduli, "pemerintah mungkin menutup mata akan semua jasa yang ayah berikan, tapi tidak dengan rakyat Airland! Orang-orang berkuasa itu takkan bisa membungkam warga sipil seperti yang mereka lakukan terhadap kita!"


Dua orang prajurit bergerak, seolah ingin memberikan pelajaran pada keberanian Chu Yao barusan. Tapi, dengan gesit Chu Yao menghindar. Ia bahkan menyabut pedang yang bertengger di pinggang salah satu prajurit dan menodongkannya tepat di leher pria malang itu.


"KETERLALUAN!" Putra mahkota semakin tersulut, "BAWA SEMUA ORANG KE PENJARA KEKAISARAN SEKARANG JUGA! KECUALI PEREMPUAN LANCANG ITU!"


Seluruh prajurit mematuhi perintah. Jenderal Chu nampak tidak tenang. Ia meminta Chu Yao untuk tidak lagi memprovokasi putra mahkota. Tapi gadis itu tidak bergeming. Ia tidak melepaskan pandangan sedikitpun kearah pria muda yang sok berkuasa itu.


Semua orang berjalan keluar dengan tangan dan kaki yang terikat dengan rantai besi. Tidak terkecuali jenderal dan nyonya Xun. Para prajurit itu membuat parade disepanjang jalan kota hingga penjara Kekaisaran atas ijin putra mahkota.


Chu Yao semakin berang. Ia tidak mengendurkan kewaspadaan nya sedikitpun ketika seluruh kediaman kosong melompong.


Kini hanya tertinggal dirinya, putra mahkota dan beberapa prajurit yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Putra mahkota berdiri dengan angkuh, "Rupa-rupanya kamu yang menjadi sumber masalah ibunda.. "


"Sebenarnya aku ingin sekali membunuhmu saat ini, tapi ibunda meminta aku membawamu hidup-hidup ke penjara bawah tanah. Nampaknya ibunda akan menyiksamu di sana sebelum benar-benar mengirim mu ke tiang gantungan." Ejek putra mahkota.


Chu Yao tak terusik. Ia masih berdiri dengan sorot mata yang tajam.


"Kalian takkan bisa berbuat sejauh itu! Yang mulia Kaisar takkan tinggal diam!"


Putra mahkota tertawa terpingkal-pingkal. Seakan-akan perkataan Chu Yao tadi hanya sebuah lelucon yang menggelitik perutnya.


"Kau pikir Kaisar akan memihak kalian? Atau mungkin kau berharap pada adik tiriku yang tak memiliki kekuasaan itu? Ahahaaaa... Kau begitu naif! Ye Zuan tak berdaya! Apa lagi ayahanda!"


"Asal kau tau, ayahanda terlalu menyayangi kursi naganya! Ia tidak segan melenyapkan ayahnya sendiri untuk segera menguasai Airland. Apa lagi hanya sekedar keluarga jenderal. Ia rela membeli dukungan para pejabat dengan nyawa kalian!"


Putra mahkota semakin mencerca ketika menyadari raut wajah Chu Yao telah berubah.


"Kau mungkin tidak percaya, perselisihan saat rapat rutin di aula pertemuan kemarin begitu hebat. Ye Zuan dan sekutunya terpojok. Mau tidak mau harus mengorbankan jenderal Chu sebagai jaminan perdamaian Airland.."


"Berbicaralah sesukamu! Aku tidak akan terpengaruh." Sanggah Chu Yao dengan raut wajah yang sukar dilukiskan.


Putra mahkota tersenyum sinis, "Baiklah. Terserah padamu saja! Aku pun terlalu lelah untuk meladeni seorang gadis keras kepala sepertimu."


Tangan kanan pria itu terangkat keatas, "BERESKAN" perintah putra mahkota diiringi gerakan cepat para prajurit yang tersisa. Mereka mengelilingi Chu Yao dan menyerang perempuan itu bersamaan.


Chu Yao mengeluarkan belati pemberian Mo Yan yang tersimpan didalam lengan bajunya. Ia berusaha melawan sekuat tenaga. Beberapa prajurit terkapar dengan darah yang bersimbah di mana-mana.

__ADS_1


Namun, jumlah prajurit itu lebih banyak. Tenaga mereka lebih dominan sehingga dengan mudah melumpuhkan Chu Yao.


Belati ditangan gadis itu terpental dan dalam sekejap tangan dan kaki Chu Yao telah terikat rantai besi seperti kedua orang tua angkatnya.


__ADS_2