
Rombongan yang telah ditunggu akhirnya menampakkan diri didepan pintu gerbang kediaman. Nyonya Xun dan Chu Ling menyambut dengan antusiasme yang tinggi. Jenderal Chu membalas pelukan kedua wanita yang disayanginya dengan penuh kasih sayang. Pun dengan Chu Zhan.
Pemuda itu melepas rindu sewajarnya. Mata teduhnya menyisir sekeliling seakan sedang mencari sesuatu.
Chu Zhan tersenyum ketika tatapannya telah bertemu dengan sosok yang ia cari. Chu Yao membalas dengan senyum tipis dari kejauhan. Ia masih tidak berniat untuk bergabung dengan gerombolan orang-orang yang mengelilingi ayah dan kakak laki-laki nya saat itu.
"Yao Yao! "
Siluet pria nyentrik yang lekat di otak Chu Yao tengah melambaikan kipasnya dibalik tubuh Chu Zhan yang cukup besar.
Fokus semua orang seketika teralih kepada Chu Yao dan Ye Zuan.
"Yang mulia mengenal putri saya?"
Jenderal Chu mengalihkan perhatiannya dan mendekat kearah Ye Zuan. Semua orang memberi hormat saat Ye Zuan menampakkan diri sepenuhnya. Ye Zuan yang flamboyan memang tidak menyukai formalitas. Ia dengan santai mengibaskan kipasnya, menyuruh semua orang untuk berdiri kembali ditempatnya.
"Kami sudah saling mengenal untuk waktu yang cukup lama. Bukan begitu Yao Yao?" Jawab Ye Zuan ketika Chu Yao sudah berada beberapa langkah darinya.
Sapaan akrab itu tentu saja membuat keluarga Chu terkaget-kaget. Tak terkecuali para pelayan kiriman permaisuri.
Chu Yao hanya membalas dengan sebuah salam hormat. Ia tak berniat untuk membuat percakapan apa lagi memamerkan koneksinya dengan pangeran kedelapan.
"Selamat datang ayah, kakak. " Ucap Chu Yao dengan hormat ketika kedua orang itu menatapnya.
Chu Zhan tertegun melihat adik tirinya itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis kecil yang selalu tampak malu itu telah berubah begitu jauh. Tak ada lagi sikap malu-malu dengan tubuh yang kikuk. Chu Yao saat ini nampak begitu tangguh dan berani. Sorot matanya tak lagi menampakkan ketakutan yang tidak beralasan.
Tangan Chu Zhan yang besar mendarat lembut membelai rambut Chu Yao. Pria itu tersenyum dan berkata, "lama tidak berjumpa ternyata Yao'er telah dewasa."
Chu Yao hanya tersenyum menanggapi. Berbeda dengan Chu Zhan yang masih takjub dengan perubahan adik tirinya itu, jenderal Chu justru tidak menampakkan ekspresi apapun. Seolah-olah ia telah mengetahui perubahan itu lebih dulu.
"Bagaimana kalau kita semua masuk kedalam. Kami sudah menyiapkan berbagai makanan. " Ucap nyonya Xun mengalihkan perhatian.
"Silakan masuk, yang mulia." Ajak jenderal Chu dengan sopan. Namun Ye Zuan justru menolak dengan halus.
"Terima kasih tapi saya hanya mengantarkan kepulangan jenderal. Silakan kalian lanjutkan! Lain waktu saya akan main kesini lagi."
Ye Zuan mengedipkan mata kearah Chu Yao dan pergi begitu saja. Lu Jin membisikkan sesuatu kepada Mo Yan sebelum menyusul kepergian tuannya. Kemudian mereka menghilang dari pandangan semua orang.
Mo Yan membisikkan apa yang ia dengar dari Lu Jin kepada Chu Yao. Gadis itu mengedipkan mata pertanda memahami informasi yang Mo Yan sampaikan.
Chu Yao menyela rombongan. Dengan dalih tidak enak badan, perempuan itu pergi meninggalkan keluarganya yang masih berkumpul di aula keluarga.
"Memang kebiasaan kakak Yao semakin hari semakin diluar batas. Kakak Zhan tidak perlu mengkhawatirkan dia. " Ucap Chu Ling ketika kakak laki-laki nya yang berusaha mengejar Chu Yao.
"Tunggu!!" Suara jenderal Chu menyentak langkah Chu Yao. Gerak tubuh nya otomatis terhenti dan mematung seakan menunggu untuk di interogasi.
Baju zirah jenderal Chu menimbulkan suara yang cukup keras ketika ia berjalan menghampiri putri sulungnya. Raut wajahnya menampakkan keseriusan. Jika di kehidupan yang lalu, Chu Yao akan menggigil ketakutan melihatnya, untuk saat ini tidaklah demikian. Sedikit banyaknya ia telah menduga apa yang akan ayahnya tanyakan padanya.
"Ada apa ayah?" Tanya Chu Yao ketika jenderal Chu telah berada tepat di depannya.
"Apa yang sudah kau lakukan selama aku tidak ada?"
__ADS_1
Bukannya memberi jawaban, jenderal Chu justru malah balik bertanya. Chu Yao berpikir sejenak. Pandangannya beralih kepada sosok nyonya Xun dan Chu Ling yang berdiri lumayan jauh dari mereka.
Sudut bibir Chu Yao langsung naik ketika memahami maksud pertanyaan sang ayah kepadanya. Pasti ibu tirinya telah melaporkan semua perilakunya akhir-akhir ini.
"Seperti yang ayah sudah ketahui. Saya tidak akan mengelak. " Jawab Chu Yao dengan penuh kelembutan.
"Apa kau tau konsekuensi dari tindakanmu?!" Pertanyaan jenderal yang kedua ini telah mengaktifkan kewaspadaan Chu Yao. Ia membalas pertanyaan itu dengan raut wajah yang tenang namun memiliki intensitas keseriusan yang sama dengan lawan bicaranya.
"Saya akan menerima hukuman jika ayah merasa saya memang bersalah. Tapi patut ayah ketahui, saya tidak akan melakukannya jika mereka tidak lebih dulu memojokkan saya. "
Perkataan Chu Yao yang begitu tegas dan lugas telah menimbulkan kerutan diantara alis tua jenderal.
"Aku akan mengesampingkan hal itu, " Ucap jenderal Chu dengan wajah yang masih serius, " Yang ingin kupastikan hanya satu, apakah kau benar-benar telah mencari tau penyebab kematian ibumu?"
Chu Yao tanpa ragu menganggukkan kepala, "benar."
Tangan kapalan milik jenderal mengepal kuat ketika mendengar jawaban gadis itu. Air mukanya seketika menghitam.
"Kau! Apa lagi yang harus kau cari tau? Bukankah semua sudah selesai. Kau hanya cukup menjadi putri sulung keluarga Chu yang bahagia seperti gadis remaja pada umumnya. Kenapa kau harus menggali luka lama yang sudah semua orang kubur dalam-dalam?!"
Jenderal Chu menahan emosi nya dengan desisan. Mata nya memerah dan benar-benar merepresentasikan amarah yang di pendamnya. Chu Yao tidak gentar. Perempuan itu justru maju selangkah kedepan. Postur tubuhnya tegak dengan dagu yang sedikit terangkat.
"Mungkin bagi orang lain itu sudah selesai, tapi tidak dengan saya. Pada awalnya saya hanya mengikuti intuisi. Makin saya cari ternyata kasus ibu tidak sesederhana seperti berita yang telah beredar.. "
"Apa ayah tau informasi apa saja yang telah saya peroleh?" Chu Yao semakin mendekat dan berbisik, " Ini adalah pembunuhan terencana dari seseorang yang berkuasa di istana."
"Chu Yao!!!" Bentak jenderal Chu dengan suara keras hingga orang-orang yang berdiri jauh dari mereka ikut terkesiap.
"Saya tidak akan berhenti sebelum mengetahui semua kebenarannya. Jika memang ibu tidak bersalah, saya akan membersihkan nama baiknya dan akan membalas dendam pada orang-orang yang menyebabkan ibu mati secara tidak wajar!"
"Ibumu memang meninggal bunuh diri! Dia merasa bersalah telah menodai pernikahan kami! Apa kau puas?! "
"Ibu memang bunuh diri tapi dia sama sekali tidak bersalah! Dia dipaksa! Ada yang telah menyudutkannya! Dan aku yakin ayah pun tau itu! Ayah lebih memilih diam, melindungi orang itu! Tidak, ayah bukan melindungi mereka tapi justru mengamankan posisi ayah sendiri!"
PLAAAKK!
suara tamparan mendarat tepat diwajah Chu Yao. Telinga gadis itu seketika berdenging. Wajahnya seketika memucat. Tubuhnya mundur secara tidak sadar dan ditopang oleh Mo Yan.
Seketika suasana menjadi mencekam. Tidak hanya Chu Yao, semua orang sangat terkejut melihat pria paruh baya itu melayangkan tangannya ke wajah Chu Yao. Semua orang pun tau jenderal Chu tak pernah kasar kepada putri-putrinya. Pun, putri-putrinya telah melanggar peraturan dan membuat nya cukup marah, mereka hanya akan diminta berdiam diri di kamar masing-masing dalam beberapa waktu yang ia tentukan.
Kali ini, emosi sang jenderal telah Chu Yao sulut sedemikian rupa. Wajar saja tamparan kasar itu melayang bebas hambatan diwajah mulusnya yang putih.
Chu Yao menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Ia menepuk-nepuk tangan Mo Yan yang menahan tubuhnya. Seolah-olah mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Tubuhnya kembali tegak tatkala tangan Mo Yan yang besar melepaskan genggaman nya, "Aku awalnya hanya ingin mengetes dugaan, ternyata respon yang ayah berikan justru menguatkan dugaan itu."
"Ayah memang mengetahui kebenarannya. Tapi... Saya tidak akan memaksa ayah untuk mengatakan nya kepada saya. Itu adalah hak ayah. Pun, sebagai seorang anak, saya berhak mengetahui kenyataan itu. Baik atau tidak kebenaran itu. Siap atau tidak saya menerima semua konsekuensinya. Cukup diri saya pribadi yang menanggungnya.. "
Chu Yao membungkuk kan badan dengan hormat sebelum beranjak pergi meninggalkan pria tua itu.
"Kau benar-benar keras kepala! Kau akan menyesal sudah mencari tau!" Raung jenderal Chu.
__ADS_1
"Aku akan lebih menyesal jika hidup dalam warna abu-abu yang tak memiliki kebenaran yang sesungguhnya." Balas Chu Yao sembari membalikkan badan dengan sikap menantang.
"Sampai kapan ayah akan merahasiakan nya dari ku? Apa salah ibuku hingga dia di fitnah sedemikian rupa? Memangnya siapa ibuku hingga harus masuk dalam problematika istana yang tak berujung? Apa ini merupakan konspirasi terselubung dari gelapnya kehidupan orang-orang di istana Kekaisaran?!"
"Cukup!" potong jenderal Chu dengan intonasi tinggi namun justru semakin membuat Chu Yao terprovokasi.
"Apa jangan-jangan memang permaisuri lah yang telah membunuh ibu??"
"CHU YAO!!!"
Hampir saja tangan jenderal kembali melayang di pipi Chu Yao yang mulai bengkak. Mo Yan dengan refleks menahan lengan kekar itu dengan tangan kirinya. Tubuh atletis nya melindungi badan Chu Yao secara sempurna.
"Tuan, tolong hentikan." Ucap Mo Yan dengan pandangan tajam.
Jenderal Chu menarik tangannya dengan keras. Tepisan itu membuatnya tidak bisa berkata-kata. Ia membuang wajah penuh amarah. Mo Yan sangat memahami bahwa jenderal saat itu benar-benar sedang menahan diri.
"Terima kasih, tuan."
"Jika kau ingin berterimakasih, hentikanlah rencana bodoh majikanmu itu! Otaknya sudah tidak bisa berpikir dengan logis. Tindakan tololnya ini telah membahayakan orang lain."
Jenderal Chu meninggalkan Mo Yan dan Chu Yao ditempat itu. Pria tua itu pergi menuju paviliun pribadinya tanpa memperdulikan orang-orang yang masih berdiri menunggunya.
Chu Zhan tidak berkomentar. Tatapannya begitu kompleks kearah adik tirinya. Ia merapatkan bibirnya dan mengikuti jejak sang ayah. Ia lebih memilih untuk beristirahat di tempat pribadinya dari pada harus berada di tengah-tengah dua orang yang sedang berdebat itu.
Ia tidak menyalahkan sikap sang ayah yang terkesan sangat kasar. Pun, tindakan Chu Yao yang sedang mencari kebenaran seakan sedang memprovokasi orang-orang disekelilingnya.
Tindakan kedua orang itu sangat wajar dalam situasi berbeda yang tengah mereka hadapi. Seandainya Chu Yao mengerti mengapa ayah bertindak agresif seperti itu. Dan, seandainya ayah bisa terbuka tentang permasalahan yang beliau hadapi saat itu, mungkin kesalahpahaman ini takkan berlarut-larut.
Tidak!
Permasalahan itu sangat kompleks. Bukan hanya kesalahpahaman antara Chu Yao dan jenderal semata. Namun lebih melebar pada dua sosok paling berpengaruh di Kekaisaran.
Kaisar Long Jin Mao dan permaisuri nya!
Dua manusia itu yang seharusnya bertanggungjawab. Bukan mereka!
Dilain sisi, suasana keos itu telah membuat syok Chu Ling.
Tubuhnya gemetar hebat melihat kemarahan sang ayah yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Matanya berkaca-kaca dengan raut wajah seputih kapas. Ia kembali ke paviliun dengan lunglai, hampir-hampir lututnya lemas dan terjerembab ditanah jika tidak dibantu oleh dua orang pelayan pribadinya.
Ia takut. Sangat ketakutan. Mungkin untuk beberapa waktu ia akan benar-benar menghindari ayah dan kakak tirinya. Ia berjanji, tidak akan mencampuri urusan kedua orang itu.
Lain halnya dengan putri bungsunya, nyonya Xun justru puas melihat adegan itu. Chu Yao yang sudah membuatnya kewalahan beberapa waktu ini akhirnya terdiam dengan tamparan ayahnya sendiri.
Senyum arogan wanita itu terukir nyata di wajah paruh bayanya. Dengan gerakan yang anggun ia menyusul kepergian suaminya sembari melempar cibiran kearah Chu Yao yang masih berdiri ditempatnya.
"Rasakan! Emang enak di hajar. Kau kira ayahmu akan terus mendukung tingkah burukmu itu? Dasar dungu!"
Sindiran nyonya Xun tidak membuat Chu Yao tersulut. Ia malah mengajak Mo Yan pergi meninggalkan wanita cerewet itu sebelum semua perkataan nyonya Xun selesai di ucapkan.
Dan lagi-lagi, sikap Chu Yao yang tidak sopan itu membuat rasa kesal di hati nyonya Xun membatu. Kebenciannya semakin menggunung.
__ADS_1