
" BERHENTI! "
Mo Yan tersungkur mundur dengan salah satu kaki menekuk ketanah dan kaki lainnya dalam posisi bertahan. Sekali lagi ia memuntahkan darah.
Chu Yao bergegas menghampirinya dan memapah tubuh Mo Yan yang lemah. Nampak kekhawatiran terpancar di wajah cantiknya.
"Saya tidak apa-apa." Ucap Mo Yan yang berbanding terbalik dengan kondisinya.
Chu Yao mengalihkan pandangan. Ia menatap sang ayah dengan berbagai pertanyaan. Namun jenderal hanya melengos. Berbalik begitu saja tanpa penjelasan.
"Perkataanku tetap sama. Aku ingin kalian saling menjauh!" Tegas jenderal Chu kepada kepada Chu Yao dan Mo Yan secara bersamaan.
"Saya.. Belum kalah.." Balas Mo Yan yang kembali bangkit.
Chu Yao menahan pemuda itu. Dan menggelengkan kepala. Sorot matanya seolah memerintahkan Mo Yan untuk mundur. Namun Mo Yan malah menggertakkan gigi. Ia tidak ingin berhenti begitu saja dari pertarungan itu.
"Saya tidak tau apa yang telah terjadi dengan kalian, tapi saya mohon ayah berbesar hati memaafkan Mo Yan kali ini.. " Tutur Chu Yao dengan penuh kesopanan, "keadaan Mo Yan saat ini sedang tidak baik. Sudilah kiranya ayah tidak memperpanjang pertengkaran. "
"Bagiku kau telah kalah! Sebagai pengawal yang mudah dilumpuhkan, kau tidak pantas berada disisi anakku!"
"Ayah!"
"DIAM!" Bentak jenderal Chu saat Chu Yao menyela, "kau pun harus tau diri! Jati dirimu dan pemuda itu saling bertentangan! Sampai matipun kalian tidak ditakdirkan bersama! Apa kau mengerti, Chu Yao?!"
Chu Yao tak bergeming. Namun napasnya naik turun menahan rasa kesal yang hampir meluap dari hatinya.
Tiba-tiba gerakan Mo Yan terhenti. Chu Yao menoleh dan mendapati wajah tampan itu seputih kapas. Napasnya memburu dengan denyut nadi yang tak beraturan.
Alis tebal pria itu saling bertaut. Tangan kanannya menahan dada seolah berusaha menekan rasa sakit yang hebat.
Akhirnya Mo Yan melenguh dan mengeluarkan darah koagulasi. Pria itu terkapar tak sadarkan diri dalam dekapan Chu Yao.
"Mo Yan... Kau terlalu memaksakan diri.. " Ucap Chu Yao dengan tatapan penuh iba.
Ia mengusap sudut bibir pria yang ia cintai dengan perasaan tak menentu. Rasa tak tega menyelimuti dirinya. Melihat keadaan Mo Yan yang seperti ini saja sudah membuat napasnya tercekat, apa lagi membayangkan jika pria itu meregang nyawa ketika ia membela Chu Yao untuk melawan permaisuri dan sekutunya kelak.
Chu Yao menelan ludah. Dengan cepat kembali menguasai diri dan memanggil beberapa pelayan untuk mengantarkan Mo Yan kembali ke paviliun pribadinya.
Dalam beberapa menit suasana menjadi senyap. Tinggal Chu Yao dan sang jenderal yang saling menatap dalam kekakuan.
Meski tak diminta secara langsung, perempuan dengan iris mata bening itu mengikuti langkah sang ayah. Ia masuk kedalam ruang pribadi sang jenderal dan berdiri menunggu pria tua itu berbicara.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya sang ayah.
"Kenapa ayah harus membuat Mo Yan seperti itu? Jika ayah ingin kami saling menjauh, ayah cukup berbicara padaku saja. Tidak perlu membuat Mo Yan terprovokasi." Jawab Chu Yao tanpa berbelit-belit.
Jenderal Chu terkekeh, "Kau mungkin akan setuju, tapi tidak dengan pria keras kepala itu."
__ADS_1
"Ayah seharusnya tidak bertindak melebihi batas. Bagaimanapun dia sekarang adalah milikku. Aku yang berhak memutuskan tentang keberadaan nya."
"Perhatikan pemilihan kata yang kau ucapkan. Bagaimanapun aku adalah orangtuamu. Meski hanya orang tua angkat, aku masih berhak mengatur hidupmu, " Tutur Jenderal tanpa memperdulikan perubahan wajah Chu Yao yang drastis.
"Bagaimana bisa kau tidak mempersoalkan dendam masa lalu antar negara. Kau pikir pihak Alorra akan berlapang dada begitu saja melihat Mo Yan bersama dengan anak seorang pembantai keji yang mereka benci sejak lama?"
"Apakah ayah sudah berniat buka mulut soal jati diriku sekarang?"
Jenderal Chu menarik napas dalam-dalam. Sambil berdiri dengan kedua tangan dibelakang dia menjawab, "bukankah kau sudah mengetahuinya dari Ah Tong. Apa yang kau dengar, itulah kenyataannya. Aku tak perlu memberikan penjelasan apapun perihal jati dirimu saat ini."
"Benarkah? Apakah ayah tidak bertanya bagaimana perasaanku? Apakah tidak ada sedikitpun rasa bersalah dari ayah karena telah membohongiku?"
Pertanyaan yang Chu Yao berikan tidak membuat pria tua itu tersentuh sedikitpun. Alih-alih berhenti, jenderal Chu justru semakin mencerca dengan perkataan pedas.
"Aku tidak menyesal melakukannya. Melaksanakan perintah Kaisar merupakan kewajibanku sebagai abdi negara. Apapun yang kau rasakan, selama kau selamat dan kaisar aman, itu sudah menjadi kepuasanku."
Tangan Chu Yao terkepal kuat hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit ari tangannya. Suaranya yang tenang tidak bisa menyembunyikan getaran sakit yang ia rasakan.
"Ayah dan keluarga Chu tidak pantas terlibat hanya karena keegoisan kaisar. Jika memang kaisar ingin melawan permaisuri, seharusnya kaisar tidak mengorbankan orang lain. Seharusnya kaisar lah yang bertanggungjawab atas tindakan yang ia lakukan. Bukan malah melempar tanggungjawab kepada ayah."
"Beliau adalah seorang kaisar. Penguasa tertinggi di Airland. Sangat wajar beliau memerintahkan bawahannya untuk maju."
Chu Yao semakin geram mendengar pembelaan yang diberikan jenderal terhadap sang kaisar. Agaknya rasa hormat Chu Yao kepada pemimpin nomor satu itu semakin berkurang.
"Dia adalah pemimpin paling tidak berguna. Dia masih hidup dibawah kendali permaisuri. Apa yang bisa dibanggakan dari orang yang seperti itu?"
Napas Chu Yao tercekat karena nada tinggi dari sang ayah. Jika bukan karena tempaan di kehidupan lalu, mungkin saat ini ia akan terduduk menangis dengan rasa ketakutan yang dahsyat.
Namun ia tetap berdiri tegak. Seolah-olah tidak terpengaruh dengan teriakan serta sikap intimidasi sang ayah.
"Justru aku tau apa yang kukatakan makanya aku berani bertindak hingga sejauh ini... " Timpal Chu Yao membalikkan badan.
"Bagiku, kaisar bukanlah siapa-siapa. Orang tuaku yang sebenarnya tetaplah ayah. Jadi, takkan kubiarkan siapapun menyakiti ayah. Perkara hubunganku dan Mo Yan, ayah jangan khawatir, aku tau diri. Cukup beri aku waktu, akan ku kirim Mo Yan sejauh-jauhnya... Jadi, tolong jangan lagi menyentuh orang-orang di paviliun dingin!"
Chu Yao berlalu tanpa mengucapkan salam sedikitpun. Ia menghilang begitu saja tanpa memperdulikan sanggahan yang akan dilontarkan jenderal Chu kepadanya.
Tanpa ia ketahui, mata tua sang jenderal berkaca-kaca akibat perkataan yang Chu Yao berikan. Perasaan laki-laki tua itu tersentuh. Sekasar apapun perkataan dan perlakuannya, tidak bisa menapik bahwa ia sangat menyayangi putri sulung nya itu.
Pria tua itu yakin, kelak Chu Yao akan memahami semua yang ia lakukan. Selama gadis itu bisa selamat, kematiannya pun merupakan hal yang sepadan dengan kesalahan yang pernah ia perbuat.
***
Di ruang bawah tanah yang tidak jauh dari pusat kota, Ye Zuan berkumpul beberapa pejabat Kekaisaran yang telah menjadi sekutunya sejak lama.
Ditempat rahasia itu, mereka sering bertemu untuk membahas rencana besar yang akan mereka laksanakan dalam kurun waktu dekat ini.
Meski sudah memasuki musim dingin, keadaan ruang pertemuan itu masih terasa hangat karena dikelilingi begitu banyak penerangan dari obor minyak yang menempel di setiap dinding.
__ADS_1
"Ini semua berkas informasi yang pangeran minta. Kami telah mengumpulkan keseluruhan informasi dari berbagai pihak. Dugaan yang mulia pangeran benar adanya. Pihak perdana menteri melakukan penggelapan pajak sejak lama dan dalam beberapa tahun terakhir, permaisuri juga ikut membantu. " Ucap salah seorang pria tua dengan janggut tipis.
"Selain itu harta kekayaan berupa tanah berhektar-hektar telah bertambah melebihi ekspektasi. Meskipun beberapa kali kaisar terdahulu memberikan hadiah tanah, namun jumlah yang seharusnya terhitung tidak melebihi jumlah yang saat ini kami peroleh." Lanjut pria tua lainnya yang bertubuh sedikit lebih gemuk di bagian perut.
Ye Zuan menyimak dengan wajah serius. Sesekali ia merespon dengan anggukan dan pertanyaan.
Satu persatu orang-orang yang berada di sana melaporkan hasil penyelidikan mereka masing-masing dengan penuh keyakinan. Sekitar enam belas orang termasuk sang pangeran kedelapan, menyerahkan tumpukan kertas yang merupakan bukti penyimpangan keluarga perdana menteri dan permaisuri.
Ye Zuan tersenyum sinis. Soroti matanya yang tajam seakan siap membantai musuh yang sudah menjadi targetnya sejak lama.
"Terima kasih atas kerjasama tuan-tuan. Dengan bukti yang ada ditangan kita. Serta para saksi dan beberapa hal yang mendukung lainnya, saya pastikan kita akan memenangkan perlawanan kali ini." Kata Ye Zuan dengan santun kepada para pejabat yang menjadi mitra seperjuangannya.
Semua pejabat yang berada di sana membungkukkan badan dengan penuh rasa hormat. Mereka memang telah lama menantikan hari dimana pengaruh permaisuri dan perdana menteri menghilang.
Semenjak klan permaisuri mendominasi pemerintahan, banyak hal yang tak mengenakkan terjadi.
Banyak urusan penting dari berbagai aspek diambil alih oleh mereka.
Yang lebih mengesalkan, kaisar seakan tutup mata.
Lama kelamaan 'penyakit' yang menjangkiti Kekaisaran Airland itu sudah tidak tertahankan. Akhirnya membuat para pejabat yang kontra melakukan aksi perlawanan secara diam-diam.
Untungnya pangeran kedelapan ikut menyelami keluhan mereka. Para pejabat itu sedikit banyak nya bisa menarik napas lega. Setidaknya bisul yang meradang sejak lama akan segera pecah.
"Kamilah yang seharusnya berterimakasih. Jika bukan karena pangeran, kami tidak mungkin terkumpul disini dan berani mengambil keputusan untuk menentang permaisuri dan para sekutunya."
"Benar, terima kasih untuk pangeran yang telah bersedia menjembatani. Kami bersumpah akan setia pada pangeran kedelapan."
Ye Zuan membalas sesuai suasana hati, "terimakasih atas dukungan tuan semua. Seperti rencana awal, saya akan menggunakan bukti terlampir ini untuk menyerang permaisuri dan perdana menteri di rapat rutin Kekaisaran minggu ini. Jika terjadi perlawanan, harap tuan-tuan menyiapkan diri!"
Semua orang yang berada di sana menganggukkan kepala. Mereka telah yakin dan menyetujui rencana yang sudah disusun Ye Zuan dengan matang.
"Jika sampai terjadi pergolakan di aula pertemuan, jenderal Chu akan maju dan saya harap tuan-tuan membantu saya menyelamatkan keluarga beliau dengan pembelaan."
Para pejabat saling melempar pandang. Nampak raut kebingungan menghiasi wajah tua mereka.
"Apakah harus jenderal yang berkorban?" Tanya salah satu pejabat.
Ye Zuan menjeda dan kemudian berkata pelan, "jika bisa dihindari, saya pun tidak ingin ada korban yang berjatuhan."
Seketika semua terdiam.
Dalam setiap pertikaian pasti ada yang harus dirugikan. Entah itu materi ataupun hal lainnya. Tidak terkecuali dalam ruang lingkup Kekaisaran. Sangat wajar jika ada nyawa yang akan melayang.
Demi sebuah reformasi. Sebuah nyawa tidaklah terlalu berharga dibanding jutaan nyawa lainnya.
Dan mereka sangat memahami teori timbal balik itu.
__ADS_1