
Posisi tubuh Chu Yao telah berubah. Ia duduk dengan tangan saling terkepal di atas meja. Sorot matanya menunjukkan keseriusan. Tak nampak emosi seorang gadis tujuh belas tahun di sana.
Hanya aura kedewasaan yang dibungkus oleh fisik seorang gadis muda.
Perempuan itu mempersilakan paman Tong dan bibi Hui duduk bersama mengelilingi meja taman. Kedua orang tua itu dengan ragu mengikuti instruksi sang majikan.
Paman Tong menarik napas dan kemudian memulai pembicaraan, "Sebelum saya ke fokus masalah, saya akan memberitahu nona bahwa kami berdua adalah penduduk asli Merva. Kami hanya salah satu rakyat sipil yang pernah ditolong oleh Yang mulia putri, Meng Shixun, disalah satu desa terpencil di perbatasan negara Merva-Airland.. "
"Sebelum terjadi penyerang besar-besaran yang dilakukan Airland, negara kita merupakan negara yang cukup makmur. Raja dan ratu begitu dihormati masyarakat. Pun dengan keturunan mereka. Diantara empat bersaudara, putri Meng menjadi salah satu kesayangan baginda raja. Selain paling cantik, putri juga memiliki wawasan yang tidak kalah dari para pangeran di istana.."
"Putri merupakan anak ketiga. Kedua kakak beliau adalah para laki-laki yang disegani seluruh pejabat pemerintahan. Putri tipikal gadis yang senang belajar dan beliau selalu mengikuti pangeran kedua untuk turun langsung kelapangan apabila terjadi musibah atau bencana.."
"Salah satunya di daerah kami. Saat itu bencana longsor akibat hujan berkepanjangan telah memutus akses jalan untuk pengiriman bantuan. Kami terjebak bersama tuan putri selama lima hari berturut-turut. Beliau menenangkan kegundahan kami dengan mengajari kami membaca dan melakukan banyak hal baru.. "
"Dari sanalah kami akrab dengan beliau. Meski beliau kembali ke istana setelah bencana tertangani dengan baik, namun beliau selalu mengirimkan surat, menanyakan kabar serta perkembangan desa kami. Beliau juga mengirimkan buku-buku baru di perpustakaan desa. Semua penduduk mengenang kebaikan beliau.."
"Ketika Airland berhasil menaklukkan Merva, semua anggota keluarga kerajaan dibawa ke Airland. Kami mendengar bahwa semua dieksekusi mati kecuali putri.. "
"Tidak berapa lama ada kabar bahwa jenderal Chu mencari dua orang warga sipil Merva untuk menjadi pelayan pribadi istrinya. Pada awalnya kami tidak tau siapa istri beliau, namun alangkah terkejutnya jika perempuan itu adalah putri Meng. Kami beserta beberapa puluh orang mendaftarkan diri untuk menjadi pelayan beliau sebagai wujud balas budi kami.. "
Paman Tong terbatuk kecil dan kembali melanjutkan, "Kami tidak mengerti mengapa putri diperbolehkan menikah dengan jenderal. Padahal status beliau saat itu adalah tawanan perang. Tapi kami tidak perduli, selama beliau masih hidup, harapan kami untuk bertahan pun akan tetap ada.."
"Singkat cerita, kami berdua terpilih menjadi pelayan pribadi putri dari sekian puluh kandidat. Bertahun-tahun kami melayani beliau, dari beliau mengijinkan jenderal menikah lagi hingga sifat beliau yang seakan tidak terpengaruh ketika putra pertama jenderal Chu lahir ke dunia. Kami tidak pernah curiga gelagat aneh beliau ataupun sang Jenderal. Sampai suatu ketika kami secara tidak sengaja memergoki Yang mulia kaisar Airland berada di kamar pribadi putri. Dan itu tidak hanya sekali dua kali, namun berkali-kali.. "
Paman Tong menelan saliva. Sedangkan Chu Yao tetap diam mendengarkan dengan tangan terkepal.
"Putri tidak berkomentar apapun meskipun tau kalau kami melemparkan berbagai pertanyaan yang tersirat di wajah kami. Beliau akhirnya buka suara ketika tau kalau beliau telah mengandung nona.."
"Beliau menjelaskan jika selama ini yang menjadi suaminya bukanlah jenderal Chu, melainkan Yang mulia kaisar Airland."
"Apa?" Sela Chu Yao tidak percaya.
"Benar nona, nona adalah putri kandung kaisar Airland yang di rahasiakan dari publik. Ternyata pernikahan putri dan jenderal itu hanya kedok untuk mengamankan posisi putri dari hukuman. Jenderal menjadi tameng atas permintaan pribadi kaisar Airland yang ingin menikahi putri secara diam-diam. Nampaknya kaisar telah terpikat dengan kecantikan putri sehingga rela melanggar ketentuan hukum yang sudah berlaku di Airland." Jelas paman Tong sambil menengadahkan pandangan ke langit malam yang hitam.
Chu Yao tersentak. Ia sangat terkejut dengan apa yang barusan ia dengar. Wajahnya sedikit memucat dengan detak jantung yang semakin kencang.
"Dan seperti yang nona tau, permaisuri tidak menyukai tindakan yang dilakukan oleh kaisar. Disamping karena perasaan cemburu, diapun merasa posisinya akan goyah jika sampai putri Meng melahirkan anak dari yang mulia Kaisar."
"Pantas saja permaisuri nampak antusias ingin melenyapkan ku. Ternyata..." Kekeh Chu Yao dengan perasaan tak menentu.
Paman Tong tersenyum miris. Ia kembali melanjutkan setelah menjeda beberapa saat, "Kami tidak tau sejak kapan permaisuri berhasil menjadikan beberapa pelayan kediaman sebagai pengikut setianya. Salah satunya Ah Zheng yang memang melayani putri atas perintah jenderal.. "
"Meski kesehatan beliau mulai menurun sejak melahirkan nona, namun tidak seorangpun yang tau bahwa putri telah diracun. Putri begitu pintar menyembunyikan rasa sakitnya. Saya begitu bodoh tidak bisa membaca gejala awal racun tersebut pada diri putri. Sehingga putri harus meregang nyawa dengan cara demikian. " Geram paman Tong dengan rasa bersalah yang nyata di iris matanya.
__ADS_1
"... "
"Saya tidak tau informasi apa saja yang telah nona ketahui, namun satu hal yang harus nona tau, kami telah terikat sumpah pada yang mulia kaisar untuk tetap menjaga rahasia ini sampai kami mati. Tidak hanya kami, jenderal Chu pun demikian." Jelas paman Tong dengan penuh keseriusan.
Chu Yao memijat kening nya yang mulai berdenyut, "Racun itu, apakah kaisar dan ayah tau tentang racun tanpa harapan itu lah yang menyebabkan kematian ibu?"
Kedua orang tua didepan Chu Yao menganggukkan kepala tanpa ragu.
"Benarkah? Mereka benar-benar tau? Tapi mengapa justru membiarkan rumor, ibu bunuh diri gara-gara malu ketahuan berselingkuh, merebak di seluruh penjuru Airland?" Tanya Chu Yao tanpa jeda sedikitpun.
Paman Tong dan bibi Hui hanya berbicara lewat pandangan mata yang serba salah. Akhirnya bibi Hui angkat bicara meski masih dengan rasa gugup yang kentara di setiap tutur katanya.
"Kami tidak tau pasti, yang jelas perselingkuhan itu hanya sebuah fitnah yang dibuat permaisuri. Nampaknya nyonya Xun telah terperdaya hasutan orang-orang permaisuri makanya beliau ikut menyuarakan hukuman putri dengan suara lantang."
"Perihal diamnya yang mulia kaisar dan jenderal, kami memang tidak mengerti. Kata Ah Tong, mungkin saja ini berkaitan dengan stabilitas Airland. Entahlah nona! Sampai saat ini pun kami masih bingung." Pupus bibi Hui dengan kedua alis yang bertaut.
Chu Yao menangkupkan kedua tangannya dan membiarkan kepalanya bersandar nyaman di sana. Semua orang membisu. Menunggu respon yang Chu Yao berikan.
Paman Tong dan bibi Hui malah mempersiapkan diri untuk menerima luapan amarah dari sang majikan.
Alih-alih mengamuk, gadis itu hanya menarik napas panjang beberapa kali dan berdiri dari tempat duduknya semula. Sesekali ia berjalan bolak-balik sambil bersedekap.
"Apakah ada yang ingin nona ketahui lagi dari kami? Kami akan menjawab semampu kami. " Tutur paman Tong sesopan mungkin.
"Baik."
Kedua orang tua itu perlahan bangkit dan berjalan meninggalkan Chu Yao yang menatap kompleks di punggung mereka.
"Tunggu paman!" Panggil Chu Yao sembari menghampiri paman Tong, "Apakah paman tau racun pelebur tulang?"
Mo Yan terkesiap. Ia hampir bergerak maju mendengar Chu Yao menyebutkan racun pelebur tulang. Ingatannya otomatis kembali pada pertemuan jenderal dan kaisar. Racun tersebut lah yang hendak kaisar berikan pada perempuan itu.
Bagaimana bisa Chu Yao mengetahui benda jahanam itu?
Paman Tong mengingat sejenak kemudian memberikan tanggapan, "saya belum pernah melihat langsung tapi saya pernah membaca disalah satu buku medis Kekaisaran yang dibawa selir Meng. Dikatakan bahwa racun tersebut merupakan racun yang tidak diketahui siapa pembuatnya. Namun, hanya Kaisar Airland atau penerusnya lah yang memiliki racun tersebut."
"Racun pelebur tulang merupakan racun yang langka. Tidak sembarang orang yang bisa memilikinya. Nona tau dari mana perihal racun ini?" Tanya paman Tong dengan wajah kebingungan.
Bukannya menjawab, Chu Yao justru berkata, "Racun tersebut sangat ganas. Tidak hanya mencabik-cabik organ dalam namun juga mematikan persendian dengan cepat. Seluruh bagian tubuh terasa sakit yang tidak terkira. Penderita akan memuntahkan, oh tidak, menyemburkan banyak darah segar tanpa jeda hingga seluruh darah ditubuhnya habis tak tersisa. Pada akhirnya, penderita akan memuntahkan darah hitam sebelum benar-benar tewas meregang nyawa."
"Nona, dari mana nona tau ciri-ciri racun itu dengan detil? Dibuku medis Kekaisaran saja hanya dijelaskan secara garis besar. Apakah nona pernah melihat korban racun itu?" Tanya paman Tong dengan rasa penasaran.
Chu Yao tertawa pelan. Ia merasa geli sekaligus miris dengan pertanyaan yang dilontarkan paman Tong.
__ADS_1
Melihat korban?
Bukan!
Justru Chu Yao lah yang menjadi korbannya!
Perempuan itu yang sudah merasakan langsung dahsyatnya rasa sakit akibat racun pelebur tulang tersebut. Bahkan hingga detik ini, sensasi mengerikan itu masih terekam jelas di setiap sentakan napasnya.
Paman Tong terlihat bingung dengan respon yang diberikan sang majikan. Ia tak berani bertanya untuk kedua kalinya. Dengan sopan, ia pamit undur diri dan menghilang dibalik koridor taman dalam beberapa menit.
A-Wei pun demikian. Ia bahkan sudah pergi sebelum paman Tong dan bibi Hui melangkah keluar taman. Menyisakan Mo Yan yang mematung memandangi Chu Yao.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Tanya Chu Yao ketika mendapati Mo Yan menatapnya seolah ingin menginterogasi dirinya.
Mo Yan tetap diam dengan wajah datar. Ia masih mengunci hasratnya untuk bertanya perihal racun pelebur tulang yang sudah diketahui Chu Yao.
Chu Yao pun memilih untuk bungkam meski ia tau pemuda itu tengah menahan rasa keingintahuannya terhadap racun laknat tersebut.
Chu Yao berdiri didepan Mo Yan. Tanpa ragu memeluk pria dingin itu dengan erat. Gadis itu sudah menebak bahwa Mo Yan sudah mengetahui jati dirinya sebelum paman Tong berbicara. Chu Yao memahami tindakan yang diambil sang pengawal. Pemuda itu pasti tidak ingin melihat Chu Yao syok dengan kenyataan diluar nalar itu.
Gadis itu tersenyum. Ia tidak sepenuhnya tenang. Kalau boleh jujur, yang membuat ia sangat syok bukan kenyataan bahwa ia anak dari sang kaisar melainkan kepemilikan racun pelebur tulang yang diluar dugaannya.
Berarti di kehidupan sebelumnya, ada peran kaisar dibalik kematiannya. Bisa jadi kaisar lah yang memberikan racun tersebut kepada nyonya Xun lewat tangan orang lain.
"Nampaknya kaisar memang ingin melenyapkan nyawaku sejak dulu." Gumam Chu Yao diiringi ******* napas panjang.
"Kenapa nona berpikir demikian?" Tanya Mo Yan yang berusaha memancing Chu Yao untuk membuka rahasianya.
Gadis itu mengulum senyum dan mengalungkan kedua tangannya ke leher sang pengawal, "Jika kau memilih untuk merahasiakan beberapa hal yang kau tau maka aku pun melakukan hal yang sama. Aku memilih untuk mempercayaimu dan kuharap kau pun bisa mempercayaiku."
"Saya tidak bermaksud merahasiakan informasi yang saya dapatkan. Saya hanya.."
"Aku tau. Semua yang kau lakukan demi aku. Maka dari itu aku tidak akan memaksamu untuk jujur kepadaku.. " Potong Chu Yao ketika Mo Yan berusaha ingin menjelaskan, ".. Namun kau harus tau, cepat atau lambat aku akan mengetahui kebenarannya. Meski usiaku masih sangat muda, kau bisa lihat bahwa pemikiranku tidak sebelia usia yang kusandang."
Mo Yan tau bahkan sangat tau bahwa gadis itu telah dewasa dari usianya. Dari dulu Mo Yan selalu memperhatikan Chu Yao, hanya saja ada beberapa perangai sang gadis yang masih diluar pemahamannya. Salah satunya respon yang sangat tenang menghadapi hal-hal yang mengejutkan seperti informasi yang paman Tong berikan.
Itu sangat tidak wajar. Ketenangan itu benar-benar tidak wajar.
Mo Yan membalas pelukan Chu Yao. Rengkuhannya begitu erat hingga gadis itu melenguh sesak. Pria itu mengendurkan dekapannya namun tetap mengunci gadis yang ia cintai dengan pautan tangannya.
Chu Yao menepuk lembut punggung pria itu seakan-akan rasa cemas yang dirasakan Mo Yan telah sampai pada hati kecilnya.
"Aku akan selalu berada di sisimu. Pergunakan aku kapanpun yang kau mau. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan." Gumam Mo Yan yang hampir berbisik. Ia benar-benar tidak tau apalagi yang bisa ia perbuat untuk meringankan beban sang pujaan hati.
__ADS_1
"Iya, iya. Aku tau." Balas Chu Yao dengan senyum ringan, "Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir."