Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 62


__ADS_3

Mo Yan melenguh ketika Chu Yao mencabut ujung anak panah di punggungnya. Suara renyah akibat gesekan paksa dari benda runcing dan tajam itu membuat sobekan daging yang cukup dalam.


Chu Yao segera membalut luka tersebut setelah menaburkan obat dengan penuh ketelitian. Kemudian membantu Mo Yan duduk dengan nyaman dibalik bebatuan besar di semak-semak.


Namun belum sempat mereka bernapas tenang, dua orang berpakaian hitam kembali menemukan mereka.


"Mereka ada disini!" Teriak salah satu pria penyerang dengan lantang.


Chu Yao tidak menunggu aba-aba. Ia maju dan membunuh kedua orang berpakaian hitam itu dalam sekali serangan. Akan tetapi beberapa orang rekan lawan semakin berdatangan.


Keadaan jadi tidak seimbang. Chu Yao dan Mo Yan tersudut dengan kondisi yang tidak menguntungkan.


Meski fisik Mo Yan tak sepenuhnya sehat, ia berusaha bangkit dan berdiri disisi Chu Yao.


"Jangan memaksakan diri! Jika kau mati disini, takkan ada yang bisa membantuku menuntaskan dendam. " Desis Chu Yao dengan pandangan awas.


"Kau tetap tidak mau rugi, ya. " Balas Mo Yan sedikit bercanda.


"Aku memang perhitungan terhadap hal-hal yang menguntungkan ku." Cengir Chu Yao yang kemudian berlari menyerbu kearah para penyerang.


Mo Yan menjadi geli, "kalau begitu, manfaatkan terus diriku!"


Pria itu mencungkil sebuah pedang yang jatuh di samping salah satu mayat dengan ujung kaki kemudian menangkapnya dengan satu tangan. Kibasan pedang yang hampir tidak terlihat membuat beberapa pria asing itu tersungkur tak bernyawa.


"Sialan! Mereka ini sebenarnya manusia atau sekelompok lebah?" Umpat Chu Yao yang semakin kesal dengan kedatangan penyerang lainnya.


Ia melompat dan beralih kearah Mo Yan, "Mereka menargetkan mu?!"


Mo Yan jatuh dengan satu kaki di tanah. Pedang ditangannya tertancap kebawah seolah memberi topangan pada tubuh yang hampir limbung.


"Nampaknya rencana yang ku susun telah bocor ke telinga musuh."


Mo Yan berspekulasi. Seharusnya perjalanan mereka aman dari gangguan apapun. Mo Yan sengaja membagi dua rombongan dengan dua arah yang berbeda.


Rombongan menteri Chen melalui rute jalan dua arah yang selalu menjadi prasarana utama lalu lintas kerajaan. Dan rombongan Mo Yan melewati jalan rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang kepercayaannya.


Pun jika sampai terjadi penyerangan, seharusnya rombongan menteri Chen lah yang akan menjadi target awal. Bukan malah dirinya dan para pengikutnya.


"Salah satu dari dua orang utusan itu adalah mata-mata." Ucapan Mo Yan membuat Chu Yao cukup terkejut.


Namun keterkejutan itu hanya sekejap mata. Para pria berpakaian hitam itu kembali melakukan serangan secara bersamaan.


"TANGKAP PRIA ITU HIDUP ATAUPUN MATI!!" raung salah seorang penyerang yang berdiri dibelakang para penyerang lainnya.


Chu Yao berdecih kemudian memutar ke arah yang berlawanan. Semburan merah dari tubuh lawannya membuat sederet bercak pada gaun putih perempuan itu. Salah satu dari penyerang itu menarik cadar yang masih menutupi sebagian wajah Chu Yao.


"KAU?! MASIH HIDUP?" Pria asing itu berseru dengan mata yang terbelalak.


"Memangnya kenapa kalau aku masih hidup?" Ujar Chu Yao yang memberikan tendangan memutar kearah pria berpakaian hitam itu.


Pria itu, penyerang berpakaian hitam, tersungkur mundur dan meludahkan darah segar. Alih-alih marah, dia malah tertawa kencang, "bagus! Sangat bagus! Aku akan meminta hal lebih jika aku bisa membawa dua kepala kalian kehadapan ayahanda!"


Mo Yan menarik lengan Chu Yao bersamaan dengan hunusan pedang dari arah depan. Tangkisan gesit yang Mo Yan lakukan telah membelah penutup wajah pria asing itu dan membuat goresan yang cukup dalam.


Mo Yan dan Chu Yao terkesiap tatkala menyadari pria didepan mereka adalah putra mahkota Airland empat tahun yang lalu, Long Ye Lang.

__ADS_1


"KAU!" Ye Lang histeris kesakitan memegang wajahnya yang berdarah.


Amarah Chu Yao seketika memuncak. Kenangan pahit kembali menyeruak di kilatan iris matanya yang tajam. Bayangan sang ayah yang buta telah menggelapkan hatinya.


Tanpa pikir panjang, ia berlari dan menyerang Ye Lang dari berbagai arah. Pria angkuh itu tidak tinggal diam. Ia pun membalas dengan gerakan lincah hingga memberikan beberapa luka di tubuh gadis itu.


Rasa sakit tidak membuat Chu Yao mundur. Ia semakin bernafsu untuk melumpuhkan musuhnya. Dengan dua langkah memutar, ia  berhasil menyabet lengan Ye Lang dengan belatinya. Tidak hanya itu, Chu Yao pun membungkukkan badan dan kembali melukai kedua kaki pria kejam itu hingga terguling ke tanah.


"CHU YAO!" Mo Yan melemparkan pedang kearah penyerang lain yang berniat menikam perempuan itu dari belaka.


Chu Yao hampir tidak mendengar panggilan Mo Yan. Emosinya sudah diambang batas. Sikap Ye Lang yang sombong membuat Chu Yao merasa diremehkan. Pria itu tetap tertawa kencang meski kedua kakinya sudah tidak berfungsi dengan normal.


"MARAHLAH! BUNUH SAJA AKU! LAMPIASKAN SEMUA DENDAMMU!" Tantang Ye Lang dengan tawanya yang menggelegar.


Chu Yao menancapkan belati nya di tulang paha Ye Lang hingga pria itu berteriak kesakitan. Tak sampai di situ, Chu Yao kembali memutar belatinya dan memajumundurkan benda tajam tersebut hingga membuat daging disekitarnya tercacah membentuk suwiran-suwiran kecil berwarna merah.


Ye Lang meraung penuh kemalangan. Matanya berair dan wajahnya memucat. Ia nampak begitu menyedihkan. Namun Chu Yao seperti tidak perduli. Wajahnya berubah kejam dengan pandangan penuh dendam.


"Bu, bunuh saja aku.. Ugh!" Bisik Ye Lang dengan suara yang gemetar dan terdengar menantang.


Sudut bibir Chu Yao naik mencemooh, "ingin cepat mati? Terlalu mudah untukmu."


"Apa kau lupa bagaimana congkaknya dirimu menyiksa ayahku saat itu?!"


Ye Lang kembali berteriak ketika Chu Yao melakukan hal yang sama di paha lainnya.


"Bukankah kau begitu percaya diri melukaiku di tempat itu?! Kau bahkan menghinaku didepan teman-temanmu!"


"Kau bahkan membuat mata ayahku buta! APA KAU LUPA?!" geram Chu Yao dengan senyum iblisnya.


Chu Yao mengorek bola mata kiri Ye Lang tanpa rasa belas kasihan. Darah menyembur diiringi tubuh Ye Lang yang terkapar, meringkuk dengan tangan yang menutup ke sisi kiri wajahnya.


"Apakah itu sakit?" Tanya Chu Yao dengan tawa yang mengejek, "kurasa tidak! Kau kan sangat kuat. Akan ku biarkan kau merasakan nikmatnya rasa sakit secara perlahan-lahan."


Chu Yao semakin bergerak agresif. Ia menindih tubuh Ye Lang dengan salah satu kakinya kemudian kembali mengoyak bola mata bagian kanan pria itu.


Tanpa memperdulikan cipratan darah yang menyembur dari rongga mata yang telah berlubang, Chu Yao kembali menghantamkan belatinya tepat di jantung Ye Lang.


Mantan putra mahkota Airland itu pun meregang nyawa dengan kondisi yang mengenaskan.


"Sudah cukup! Dia sudah tewas!" Ucap Mo Yan dengan sedikit menggoncang tubuh Chu Yao. Perempuan itu nampaknya ingin kembali menikam jasad yang sudah tak bernyawa di depannya.


Chu Yao hampir tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia tertegun sejenak tatkala Mo Yan memeluknya dengan erat. Raut wajahnya seperti orang yang kebingungan.


"Mo Yan.." Suara Chu Yao sedikit parau ketika menyebut nama pria yang mendekapnya. Pandangannya tiba-tiba menggelap di ikuti genggaman tangan yang semakin melemah.


Belati ditangannya terlepas begitu saja. Raga cantik yang diselimuti cairan merah pekat itu perlahan lunglai. Terbaring tak sadarkan diri dalam rengkuhan penguasa nomor satu Alorra.


Di tempat lain, A-Wei dan jenderal Luo beserta puluhan prajurit menyebar melakukan pencarian. Mereka segera kembali begitu mengamankan orang-orang yang mereka bawa.


Mereka menyisir setiap sudut jalan dan menemukan jejak yang mengarah pada ujung tebing yang curam.


Jenderal Luo dan A-Wei menyadari bahwa kedua orang itu telah terpojok dan akhirnya melompat kedalam sungai yang cukup deras. Jenderal Luo bersegera memerintahkan semua prajurit untuk melakukan pencarian dibawa tebing serta sepanjang aliran sungai.


Kurang lebih dua jam mencari, akhirnya salah satu prajurit berseru gembira ketika melihat siluet sang kaisar nampak di ujung mata. Pria tangguh berambut putih keperakan itu menggendong raga seorang wanita yang sama-sama memiliki luka ditubuhnya.

__ADS_1


Jendera Luo dan A-Wei nampak syok begitu melihat sosok yang berada dalam pelukan sang kaisar. Mereka mengenalinya. Perempuan itu yang selalu dielu-elukan pimpinan tertinggi Alorra. Perempuan itu jugalah yang membuat banyak permasalahan terjadi di Airland empat tahun yang lalu.


"Nona Chu?!" Ucap A-Wei dan jenderal Luo bersamaan.


Mo Yan hanya memberi lirikan tajam seolah menyuruh kedua orang itu tidak menghalangi jalan. Ia bahkan semakin mengeratkan rengkuhannya pada tubuh gadis yang tengah tak sadarkan diri di dadanya.


Tak ada yang berani menawarkan diri untuk sekedar menggantikan posisi pemuda itu. Mereka tau, bahwa Mo Yan tak akan pernah membiarkan satu orang pun menyentuh tubuh wanitanya. Selama dirinya masih bernapas, ia akan berusaha melakukannya sendirian.


"A-Wei." Seru Mo Yan yang disusul gerak tangkas A-Wei yang menunggu perintah dibelakangnya.


"Kembali ke paviliun!" Timpal Mo Yan secara singkat. Kemudian masuk kedalam kereta yang sudah dibawa jenderal Luo sebelumnya.


A-Wei menganggukkan kepala. Ia menyeru kearah sang jenderal untuk mengikuti instruksi yang diberikan baginda kaisar. Dalam beberapa menit, kereta dan para pasukan sudah bergerak menyusuri jalan menuju tempat peristirahatan pribadi kaisar.


Mo Yan menyingkirkan anak rambut di pipi Chu Yao yang pucat. Manik hitamnya menyapu wajah lemah di pangkuannya. Rahangnya mengeras dengan alis yang saling bertaut. Membentuk ukiran rumit di tengah-tengah keningnya yang sedikit membiru.


'Chu Yao, sekejam apa yang telah mereka lakukan padamu dan orang-orang dikediaman Chu, sehingga kau begitu hilang kendali seperti ini?'


Pertanyaan itu melanglang buana di otak Mo Yan. Ia masih belum bisa memantulkan bayangan penyiksaan yang Chu Yao terima empat tahun yang lalu.


"Seandainya kau tidak mengirim ku pergi. Kau tidak perlu merasakan rasa trauma itu seorang diri." Bisik Mo Yan dengan tatapan bersalah yang sukar dilukiskan.


Pemuda itu masih bergelut dalam perasaannya yang kompleks dan tidak menyadari jemari Chu Yao telah terkepal erat disamping tubuhnya.


Chu Yao tiba-tiba terbangun, membuka mata dan mendorong Mo Yan hingga terpental keluar dari kereta. Membuat A-Wei, jenderal Luo dan pasukan yang bersama mereka menghentikan perjalanan seketika.


Perempuan itu melompat dan menendang kereta sampai-sampai kereta itu terbelah menjadi beberapa bagian.


Refleks semua orang menjauhinya. Intuisi mereka berkata bahwa gadis itu dalam mode berbahaya. Seakan-akan sedang menunggu untuk menghabisi mereka di sana.


"Apa yang terjadi?" Tanya jenderal Luo kepada A-Wei yang sudah berdiri di samping sang kaisar.


"Kondisi nona Fu nampak aneh." Celetuk A-Wei yang menyadari pandangan Chu Yao tajam dan nampak kosong bersamaan.


Kedua orang itu melempar pandang kearah Mo Yan. Namun nampaknya pria itu pun sama bingungnya.


"Yang mulia, energi nona Chu maksud saya nona Fu, begitu besar. Para prajurit nampaknya kewalahan menghentikannya." Tutur A-Wei menjelaskan.


Sebenarnya tak perlu penjelasan panjang, Mo Yan sudah bisa melihat sepak terjang wanitanya yang membuat para prajurit itu kesulitan didepannya.


Hanya saja, sikap diam Mo Yan merupakan suatu ekspresi keterkejutan dan kekhawatiran terhadap perubahan sikap Chu Yao yang begitu drastis.


Mo Yan teringat pesan Fu Bai sebelum mereka berangkat. Fu Bai mengatakan untuk menekan syaraf gerak gadis itu jikalau terjadi hal-hal yang tidak biasa pada dirinya.


Mungkinkah hal yang tidak biasa maksud Fu Bai itu adalah seperti saat ini?


Mo Yan tidak menunggu ada tidaknya jawaban atas pertanyaan dibenaknya. Ia langsung melompat dan bergumul dengan perempuan itu di atas tanah.


Tak mudah melumpuhkan gerakan Chu Yao. Kekuatan yang ia miliki saat itu dua kali lipat dari jumlah kekuatan yang biasanya ia miliki. Mo Yan cukup kesulitan. Ia tidak bisa melukai perempuan yang ia cintai. Mau tidak mau ia harus melakukan berbagai pertahanan ketika gadis itu memberikan banyak perlawanan terhadapnya.


"JANGAN ADA YANG MENDEKAT!" Seru Mo Yan dengan tegas saat jenderal Luo ingin maju membantunya.


Orang tua itu menahan langkah kemudian menarik mundur tubuhnya kebelakang. Dengan berat hati, pria paruh baya itu hanya diam menonton atraksi dua orang ahli dihadapannya.


Disaat semua orang menyaksikan pertikaian mereka, Mo Yan yang hampir kehabisan tenaga itu akhirnya bisa mengunci gerakan Chu Yao. Ia pun menekan titik syaraf gerak perempuan itu dan seketika menghentikan segala aktifitas yang Chu Yao lakukan.

__ADS_1


Mo Yan refleks mengulurkan tangan, menangkap tubuh Chu Yao yang hampir terjerembab ketanah. Perempuan itu kembali pingsan setelah berhasil memuntahkan darah yang berwarna kecoklatan.


__ADS_2