
Sudah kesekian kalinya air di siramkan ke wajah Chu Yao. Para pengawal yang menjaga ruang penyiksaan di penjara bawah tanah Kekaisaran nampaknya menikmati setiap hal yang mereka lakukan.
Kesadaran Chu Yao kembali setelah pingsan ke dua kalinya hari ini. Tubuhnya hampir-hampir mati rasa akibat luka cambukan dan siksaan yang dilakukan para bawahan permaisuri yang datang secara bergantian. Mereka menginterogasi. Mengintimidasi dan memberikan ketakutan demi menurunkan semangatnya untuk bertahan.
Chu Yao tidak mengeluh ataupun memohon belas kasihan meskipun kondisinya sudah tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Meski dengan kesadaran yang timbul tenggelam, ia masih bisa mendengar suara teriakan sang ayah yang menggema di seluruh ruang penyiksaan.
“Aku tidak habis pikir, mengapa gadis ini disiksa begitu hebat seperti pria tua itu? Bukankah seharusnya dia juga dimasukkan ke dalam penjara seperti perempuan lainnya?” Celetuk seorang penjaga yang baru bertukar pembagian jam kerja.
“Ssttt! Pelankan suaramu! Jangan sampai orang-orang permaisuri atau putra mahkota mendengar ucapanmu barusan!” Balas seorang teman jaganya yang refleks melihat ke sekitar.
“Ku dengar, gadis ini telah membuat putra mahkota marah besar. Dia juga berani membunuh para pelayan kiriman permaisuri tanpa sebab.”
“Benarkah? Gadis secantik dia berani membunuh orang?”
“Jika kau tidak percaya, tanya saja penjaga lainnya! Jangan pernah tertipu dengan rupa indahnya! Dia perempuan yang mengerikan!”
“Oooh, pantas saja..” Ucap penjaga baru itu, “..Ternyata perempuan ini ular yang berbisa.”
“Atau mungkin dia jelmaan siluman rubah.. Wajahnya begitu cantik tapi perilakunya seperti iblis.. Ahahhaa..”
Chu Yao mendengar semua ucapan dan tawa para penjaga yang sedang menghinanya. Ada rasa kesal, namun itu tidak sebanding dengan dendam yang semakin membatu di hatinya kepada putra mahkota dan permaisuri.
Tiba-tiba suara tawa itu menjadi senyap. Para penjaga membungkuk dan memberi salam hormat kepada calon penerus Airland. Chu Yao tersenyum mengejek. Kedatangan putra mahkota bersama beberapa pejabat telah ia tunggu-tunggu.
“Jadi.. Gadis ini yang telah membuat pertikaian antara keluarga kerajaan?”
Dagu Chu Yao terangkat paksa oleh jari telunjuk wakil menteri perekonomian di iringi pembenaran dari putra mahkota.
“Ku dengar sepak terjangmu begitu di luar batas. Membunuh para pelayan yang dikirimkan permaisuri hingga berkoalisi bersama pangeran ke delapan untuk menjatuhkan putra mahkota. Sungguh besar nyalimu. Apa kau tidak takut hukuman yang kau terima karena berurusan dengan permaisuri dan putra mahkota?”
Chu Yao terkekeh pelan, “Apa yang perlu di takutkan? ayah telah mengajarkan untuk tidak takut pada serangga-serangga yang hanya mengandalkan suara nyaring untuk menakuti manusia.”
Wakil menteri perekonomian tergelak, “Sungguh wanita berlidah tajam! Apa kau menyamakan kami dengan seekor serangga?”
“Itu hanya perumpamaan. Saya tidak keberatan jika tuan tersinggung karenanya. Mungkin saja tuan memang salah satu dari serangga-serangga itu.”
“KAU!”
Refleks Chu Yao meleguh saat tangan wakil menteri perekonomian menancap tepat di lehernya. Wajah orang tua itu nampak kesal karena balasan sarkastis yang dilontarkan Chu Yao.
“Lepaskan, paman!” Perintah putra mahkota.
“Tak perlu mengotori tangan paman hanya karena perkataan ular betina ini. Pada akhirnya, dia akan meregang nyawa di tiang gantungan. Menyusul jenderal Chu dan yang lainnya esok lusa.”
Senyum arogan putra mahkota membuat rahang Chu Yao mengeras. Mata Chu Yao berkilat seolah siap membunuh pria itu dengan sekali terkam. Tanpa sadar putra mahkota bergidik. Nyalinya sedikit menciut melihat tatapan tajam perempuan di hadapannya yang penuh dengan luka dan darah.
Ia tertawa keras. Menyembunyikan keringat dingin yang tiba-tiba mengalir di sekujur tubuhnya, “Apakah kau tidak terima? Hei.. Itu fakta! Besok lusa kalian akan dieksekusi mati. Para pria akan dihukum penggal dan kalian para wanita akan di gantung di tiang gantungan. Bukankah itu hukuman yang pantas untuk seluruh keluarga pemberontak!”
Chu Yao ingin melawan. Memberikan tendangan atau pukulan keras kepada putra mahkota. Namun ia tidak bisa. Kedua tangan dan kakinya terikat di tiang penyiksaan dengan rantai besi yang sangat berat. Tapi Chu Yao tidak kehabisan akal. Perempuan itu dengan sengaja, terkekeh sampai terbatuk-batuk demi memprovokasi putra mahkota.
“Apa yang kau tertawakan?”
“Tidak, aku hanya merasa senang. Setidaknya kematian kami membuahkan hasil yang memuaskan. Bukankah yang mulia permaisuri juga sedang menjalani hukuman?”
Wajah putra mahkota menghitam. Nampaknya tebakan Chu Yao benar. Sejak penangkapan hingga saat dia masuk ke dalam ruang penyiksaan, tak ada kemunculan dari batang hidung wanita nomor satu itu di sana.
__ADS_1
Menilik sifat permaisuri yang sombong dan suka mengintimidasi, seharusnya wanita itu telah jauh-jauh hari 'mengunjungi' dirinya. Memberikan tekanan yang biasa di berikan oleh orang-orang berkuasa pada umumnya. Tapi sampai detik ini, kecantikan nomor satu di Airland itu tak kunjung tiba. Hanya ada satu kemungkinan, kaisar telah memberi wanita itu hukuman. Dan hukuman itu pastilah tidak ringan.
Pikiran Chu Yao tiba-tiba tercerahkan.
Mungkin saja ada hal lain yang terjadi tanpa sepengetahuannya saat rapat rutin Kekaisaran berlangsung beberapa hari yang lalu.
Bisa jadi!
Chu Yao semakin sumbringah dengan spekulasi yang bermunculan di otaknya.
Berbeda dengan putra mahkota, ia semakin berang melihat tingkah laku perempuan yang terikat itu. Tanpa banyak berpikir, calon penerus kekaisaran itu melayangkan pukulan di wajah Chu Yao hingga memar dan berdarah.
“Dasar perempuan jal*ng! Gara-gara kalian, ibunda terpaksa menerima hukuman pengasingan!” Desis putra mahkota dengan jambakan keras di rambut Chu Yao yang berantakan.
“Gara-gara kalian, kakek meninggal terkena serangan jantung. Seluruh harta dan properti yang beratasnamakan perdana menteri raib disita pihak Kekaisaran! Keluarga kakek ikut diasingkan ke utara dengan status lebih rendah dari seorang budak!”
Chu Yao mengernyit menahan sakit. Namun sorot matanya tetap teguh menantang. Dan itu semakin menyulut emosi pria bersumbu pendek di depannya.
“Ini berita bagus! Apakah aku harus bernyanyi atau menari demi merayakan peristiwa langka ini?” Ejek Chu Yao dengan senyum yang lebar.
“CHU YAO!” Raung putra mahkota.
“JANGAN MENTANG-MENTANG DARAH AYAHANDA MENGALIR DALAM TUBUHMU LANTAS KAU SEENAKNYA MENGATA-NGATAI KELUARGA KEKAISARAN! KAU TIDAK AKAN LEPAS DARI HUKUMAN MESKI KAU ANAK DARI YANG MULIA KAISAR!”
Suara nyaring dari putra mahkota membuat semua orang yang berada di sana terkejut. Tidak terkecuali para pejabat yang datang bersama dengan pria itu.
Nampaknya mereka tidak tau sama sekali perihal status Chu Yao yang sebenarnya. Chu Yao semakin terkekeh. Emosi si sumbu pendek benar-benar di luar kontrol.
“Aku anak dari Meng Shixun dan jenderal Chu. Putra mahkota jangan bermimpi ingin bersaudara denganku. Aku tidak ingin memiliki kakak seperti dirimu!”
“BERHENTI!” Ucap suara khas yang tidak asing di telinga Chu Yao.
Kegeraman putra mahkota terhenti saat menyadari kehadiran Ye Zuan yang tiba-tiba. Ia tak jadi mendaratkan pukulan yang kedua kalinya kepada Chu Yao.
Semua membungkuk. Memberi salam hormat kepada pangeran ke delapan. Tapi Ye Zuan tidak mengacuhkannya. Tatapannya tetap tertuju pada gerak tubuh putra mahkota yang mendadak kaku.
“Apa yang putra mahkota lakukan di tempat ini? Bukankah yang mulia kaisar memerintah putra mahkota untuk berdiam diri di istana sampai suasana kembali kondusif?”
Putra mahkota menggertakkan gigi. Berusaha menahan rasa marah karena ucapan Ye Zuan. Ia mengibaskan jubah kebesarannya dengan angkuh dan pergi meninggalkan ruang penyiksaan itu bersama orang-orang yang sejak tadi mengikutinya.
Ye Zuan memasang tampang masa bodoh. Ia memang tidak perduli dengan tatapan penuh permusuhan orang-orang itu. Ia sudah terbiasa. Sikap meremehkan kerap kali ia rasakan sejak dahulu kala.
“Maaf aku datang terlambat. Aku akan memindahkan mu.” Ucap Ye Zuan dengan wajah yang miris ketika melihat kondisi Chu Yao.
Pemuda itu berteriak kepada para penjaga untuk melepaskan semua ikatan di tubuh sang gadis.
Dengan tergopoh-gopoh, Ye Zuan memapah Chu Yao ke penjara khusus perempuan. Di tikungan lorong, mata bening itu menangkap sosok sang ayah yang masih terikat di tiang penyiksaan. Langkah gontainya otomatis terhenti.
Ye Zuan pun tidak mencegahnya untuk melihat kondisi sang Jenderal. Ia tetap berdiri di samping Chu Yao. Keadaan pria tua itu sama tidak baiknya. Tubuhnya pun penuh dengan luka. Hanya saja luka-luka yang dideritanya lebih hebat dari pada Chu Yao.
“Ayah...” Panggil Chu Yao. Tangannya menggenggam erat jeruji besi yang mengurung ruang penyiksaan itu.
Mata sepuh jenderal Chu perlahan terbuka. Namun kondisinya sangat aneh. Ia mencari-cari sumber suara. Seolah-olah tidak melihat wujud Chu Yao yang berdiri di seberang pandangannya.
“Ayah... Mata ayah...” Suara Chu Yao tercekat dan gemetar. Ia menyadari bahwa ayahnya telah buta.
__ADS_1
Jenderal Chu tersenyum, “Ayah baik-baik saja. Apakah kau bersama pangeran ke delapan?”
“Ya, saya di sini. Anda tidak perlu mencemaskan Chu Yao.” Jawab Ye Zuan dengan penuh hormat.
“Bagus! Sangat bagus! Semua akan baik-baik saja. Ikutilah pangeran ke delapan!”
“Ayah.. Bertahanlah! Aku akan membebaskan ayah! Aku berjanji!” Tutur Chu Yao yang terus menerus menggoncang jeruji besi sekuat tenaga.
“Yao'er.. Putriku yang paling cerdas.. Jangan membuang tenagamu untuk hal yang sia-sia..” Balas Jenderal Chu selembut mungkin, “Ayah sangat menyayangimu.. Maafkan semua yang telah ayah lakukan.. Jika kau bersedia, ayah ingin menjadi ayah kandungmu di kehidupan selanjutnya..”
“Ayah...” Chu Yao terisak. Padahal ia sudah menahan rasa sedihnya. Namun dinding pertahanan itu malah jebol. Membuat suaranya bergetar hebat.
“Ayah tetap orang tuaku yang sesungguhnya... Ayah tetap ayah satu-satunya.. Meski kau tidak mau... Saya akan tetap memaksa untuk menjadi anakmu di setiap kehidupan..”
Chu Yao semakin tersedu-sedan, “Ayah akan bebas.. Kita semua akan kembali ke rumah.. Saya akan membuatkan sup akar teratai kesukaan ayah...”
Jenderal Chu menengadah ke langit-langit. Senyumnya begitu tulus namun cenderung pasrah. Seolah-olah mengetahui akhir yang akan di perolehnya.
“Benar.. Kau harus membuatkan sup itu.. Jangan terlalu banyak.. Ayah tidak bisa menghabiskannya..”
“Iya.. Apapun itu.. Selama ayah ada, saya akan melakukannya.. Saya akan menyuapi ayah.. Seperti yang ayah lakukan saat saya masih kecil... Maka dari itu.. Bertahanlah..”
Hati Jenderal Chu mendadak ngilu. Alih-alih membalas perkataan sang anak, ia malah membuang wajah seolah tidak memperdulikan, “Tolong pangeran membawa pergi Yao'er sekarang juga!”
Tanpa menunda waktu, Ye Zuan memenuhi keinginan sang Jenderal. Ia bahkan tidak segan menarik tubuh gadis itu secara paksa.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kau bilang keluarga Chu tidak akan terlibat?” Bisik Chu Yao dengan napas tersengal.
“Aku teledor. Aku tak menyangka sekutu wanita itu begitu banyak dan menyebar di mana-mana. Aku sempat terpojok dirapat rutin Kekaisaran. Untungnya bukti-bukti yang sudah terkumpul bisa membuat situasi membaik.” Balas Ye Zuan dengan suara hampir mendesis.
“Membaik seperti apa yang kau maksud?”
Ye Zuan mengerti arah pembicaraan Chu Yao. Ia berusaha kembali menjelaskan, “Aku sempat memberikan bukti-bukti yang sudah terkumpul tapi pihak perdana menteri tiba-tiba menyerang kembali dengan dalih pemberontakan jenderal..”
“Tapi itu tidak benar!”
“Ya, aku tau. Kaisar pun demikian. Hanya saja kau tau kan bagaimana permainan permaisuri yang licin. Entah bagaimana mereka memiliki giok naga jenderal Chu. Mereka berkata jika giok itu mereka temukan di salah satu penyusup Alorra yang telah mereka bunuh. Secara tidak langsung, penemuan giok itu telah mengaitkan jenderal Chu dengan pihak Alorra. Ada juga bukti yang mengatakan bahwa jenderallah yang membunuh Rong Li dan Ah Zheng, saksi kunci kematian selir Meng..”
“Jenderal Chu jugalah yang bekerjasama dengan pihak Alorra dalam menyembunyikan pangeran bungsu. Jenderal Chu jugalah yang memberi suap untuk perdamaian antar kedua negara..”
“Kaisar memberi hukuman pengasingan untuk permaisuri di istana mortalitas seumur hidup. Sedangkan keluarga perdana menteri di asingkan ke utara. Gelar kebangsawanan mereka di cabut dan setara dengan budak tawanan perang. Perdana menteri meregang nyawa karena serangan jantung saat keputusan itu di bacakan.”
“Perihal penangkapan kalian, itu di luar perhitunganku. Saat ini aku sedang berusaha bernegosiasi dengan yang mulia kaisar dan para pejabat untuk meringankan hukuman jenderal.”
Chu Yao diam menyimak penjelasan yang Ye Zuan berikan. Ia tidak memiliki alasan untuk menyalahkan pria nyentrik itu. Ye Zuan sudah cukup berusaha.
Dengan berat hati, Ye Zuan menempatkan Chu Yao di penjara bersama dengan Xier dan bibi Hui. Kedua wanita itu menyambut kehadiran Chu Yao dengan wajah pucat dan linangan air mata.
“Ya Tuhan nona...” Ucap Xier panik. Pelayan muda itu bergidik ngeri melihat kondisi sang majikan yang hampir tidak bisa berjalan tegak. Ia menangis.
“Taburkan obat ini di luka-lukanya dan oleskan salep ini di setiap lebam di wajahnya.”
Bibi Hui menerima dua pot obat dari pangeran ke delapan, “Terima kasih yang mulia.”
Ye Zuan memandang tubuh Chu Yao yang terbaring tak berdaya. Raut wajahnya wajahnya seketika menjadi kuyu dan terlihat menyedihkan.
__ADS_1
Pemuda itu berbalik dan pergi tanpa berkata-kata. Namun tangannya mengepal kuat dengan bibir yang terkatup rapat. Menandakan amarah yang hampir memuncak.