Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 59


__ADS_3

Selama beberapa hari kemudian, Fu Bai sering keluar masuk paviliun pribadi kaisar hanya untuk menguji coba beberapa obat yang sudah ia racik sebagai penawar sementara.


Pada awalnya pria itu terheran-heran melihat ketidakcanggungan yang terjadi antara adik angkatnya dan sang penguasa Alorra.


Baik Chu Yao ataupun kaisar tak ada yang membuka mulut untuk menjelaskan. Fu Bai hanya bisa berspekulasi dalam benaknya. Ia terlalu takut kemarahan Mo Yan akan kembali tersulut jika ia berani untuk bertanya-tanya.


Sudah cukup hukuman yang ia terima beberapa hari yang lalu. Gara-gara kecerobohannya, kaisar kejam itu telah berhasil memaksanya mengatakan siapa yang telah memberitahunya soal metode pemindahan racun yang pernah Mo Yan lakukan.


Fu Bai mengelus pantatnya yang masih terasa ngilu. Lima belas pukulan memang terdengar ringan, namun cukup membuat bokongnya bengkak seperti balon yang sangat besar.


"Apa kau tidak bisa membujuk yang mulia untuk melakukan pemindahan racun lagi?" Bisik Fu Bai kepada Chu Yao yang saat ini membantunya mempersiapkan obat di belakang kamar.


"Jika aku bisa, aku takkan memintamu berbicara padanya hari itu." Jawab Chu Yao seadanya.


Chu Yao berpikir, jika pemindahan racun tidak bisa mereka lakukan, maka mau tidak mau Chu Yao harus berkelana ke sembarang tempat untuk mencari daun cahaya abadi.


Sudah pasti ia akan meninggalkan Mo Yan untuk sementara waktu. Mungkin sebulan, dua bulan, setahun bahkan bertahun-tahun hanya untuk mencari tumbuhan yang tidak kasat mata itu.


Dan jika itu sampai terjadi, bisa dipastikan bahwa Mo Yan akan meradang dan murka.


"Nih!" Secawan tonik telah mendarat ditangan Chu Yao. Perempuan itu berkerut melihat wajah Fu Bai yang masam.


"Aku tidak ingin berurusan dengannya. Emosi orang itu tidak bisa ditebak."


Fu Bai bergidik mengingat tatapan mata Mo Yan yang tajam. Pria itu benar-benar membuat Fu Bai menjaga jarak. Ia tidak ingin melihat sifat predator Mo Yan yang mengerikan untuk kedua kalinya.


Chu Yao terkekeh pelan dengan impresi Fu Bai yang terlukis nyata di wajahnya.


Ia kemudian membawa cawan tonik itu kearah kamar. Dari tikungan lorong, percakapan Mo Yan dan dua orang pejabat kerajaan terdengar jelas olehnya.


"Aku tidak meminta pendapat kalian tentang keputusan yang ku ambil. " Tutur Mo Yan dengan suara yang tegas, "aku tidak akan melepas begitu saja tanggung jawabku. Aku akan tetap mengawasi semuanya dari jauh."


"Bukankah kalian sudah menyetujui semua persyaratan yang ku minta saat itu? Apa kalian berniat menikam ku dari belakang?!"


"Kami tidak berani!" Bantah menteri Chen.


"Yang mulia, kami hanya mengkhawatirkan keselamatan yang mulia. Tidak bisakah kita menggunakan orang lain dalam rencana ini?" Tambah perdana menteri menimpali.


"Justru jika menggunakan orang lain sebagai pengganti maka akan mudah ketahuan. Biar aku sendiri yang kesana bersama beberapa orang ahli."


Mo Yan berdiri kemudian mengambil selembar kertas dari balik lengan jubahnya, " Ini adalah daftar nama orang-orang yang akan ku bawa ke Airland."


Perdana menteri menerima kertas tersebut dan membacanya bersama dengan menteri Chen. Keduanya saling melempar pandang kemudian mengangguk bersamaan. Nampaknya sanggahan yang mereka berikan tetap tidak bisa menggoyahkan ketetapan hati sang penguasa Alorra.


"Baik. Kami akan melaksanakan perintah yang mulia. " Ucap perdana menteri mengakhiri pembicaraan. Dengan gerak santun, kedua orang penting itu pun undur diri.

__ADS_1


Chu Yao yang sejak tadi menyimak dibalik dinding, kini muncul dengan secawan tonik ditangannya.


"Apakah kau akan melakukan kunjungan ke Airland?" Tanya Chu Yao sambil meletakkan tonik itu di atas meja di samping sang kaisar.


Pria itu menoleh. Meraih lengan gadis itu untuk duduk bersamanya.


"Kaisar Airland beberapa kali mengirimiku undangan. Dan beberapa kali juga aku menolaknya. Kali ini nampaknya mereka begitu kukuh, hingga mengirimkan beberapa pejabat penting dan cendikiawan nomor satu yang mereka miliki untuk menjemput ku.."


"Saat ini orang-orang itu sudah berada di luar. Menunggu keputusan dariku."


"Lalu?"


Mo Yan mengelus lembut pipi Chu Yao sebelum kembali menjelaskan, "seperti yang kau dengar, aku akan memenuhi undangan mereka kali ini. Mungkin saja aku akan bertemu dengan ayah kandungmu di sana."


Chu Yao tak mengeluarkan perkataan apapun, namun wajah tidak sukanya nampak begitu jelas. Tak hanya menyiratkan dendam yang begitu dalam, iris matanya juga mengimplikasikan luka batin yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Berhati-hatilah dengan orang tua bejat itu! Dia manusia yang sangat licik!" Seru Chu Yao sambil menyerahkan tonik ke tangan Mo Yan, "pasti ada hal yang di inginkannya padamu."


Mo Yan meminum tonik tersebut dengan santai dan menjawab, "aku tau."


Chu Yao menatap pria dingin itu dengan tatapan kompleks, "Apa kau akan mengajakku?"


Mo Yan membalas tatapan perempuan itu. Wajah datar Mo Yan tidak bisa memberikan Chu Yao petunjuk apapun. Pemuda itu selalu membuat rasa penasaran Chu Yao naik turun.


Chu Yao berdiri, merasa diremehkan oleh pria berkuasa didepannya, "aku memiliki kemampuan yang bisa kau manfaatkan. Selain itu aku memiliki kepentingan yang sama-sama krusial denganmu. Apa alasan itu tidak cukup?"


Mo Yan tidak bisa memberikan bantahan apapun. Perempuan di depannya selalu memiliki argumentasi yang mendasar dan masuk akal.


Sebenarnya ia tak ingin perempuan itu kembali mengoyak luka lama. Baginya, Chu Yao cukup hidup seperti ini, bahagia, tanpa harus merisaukan dendam lama yang selalu menghantui.


Perempuan itu bisa mengandalkan dirinya untuk sekadar balas dendam. Tapi bukanlah seorang Chu Yao jika tidak bersifat naif dan arogan. Dari dulu bukankah sifat keras kepalanya itu yang membuat Mo Yan menaruh hati padanya.


"Baik. Ikutlah bersamaku. Tapi berjanjilah untuk selalu mendiskusikan hal apapun yang akan kau lakukan!" Seru Mo Yan dengan sentilan diujung hidung Chu Yao.


Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya semula, "tinggallah di sini sementara aku menemui utusan Airland diluar. Aku tidak ingin melihat kau berkeliaran dengan kemampuanmu itu."


Chu Yao mengerutkan alis, "kau mengekang ku dengan kuasamu?"


"Aku mencemaskan mu, patuh lah." Ucap Mo Yan memberikan kecupan singkat dibibir Chu Yao sebelum memotong dialog yang mereka lakukan.


Pria itu berlalu tanpa memperdulikan raut wajah Chu Yao yang memerah. Alih-alih meradang, Chu Yao justru dibuat tak berkutik oleh sikap Mo Yan yang diluar dugaan.


Para penjaga berseru siap tatkala pemuda berambut indah itu memerintah untuk selalu bersiaga. Seluruhnya. Dari batas pintu kamar hingga keluar paviliun. Tak ada yang boleh lengah sedikitpun.


Mo Yan berubah posesif? Mungkin saja. Sudah cukup baginya di buat tak sadarkan diri sekian hari tanpa persetujuan nya sedikitpun.

__ADS_1


Sudah cukup lama pula ia merasakan kekosongan yang hampir membuatnya seperti mayat hidup. Dan itu semua adalah hasil dari kelincahan dan kelicikan yang dimiliki perempuan itu.


Apakah Mo Yan mendendam? Itu mustahil!


Meski kali ini terkesan ingin menguasai, ia hanya tak ingin mengulangi keteledorannya dahulu. Mo Yan tak perduli. Asal Chu Yao selalu bersamanya dan berada disisinya, apapun akan ia lakukan.


"Mereka sudah menunggu anda, yang mulia." Ucap jenderal Luo yang sudah berdiri didepan pintu aula yang menjadi tempat pertemuan kedua belah pihak.


Begitu masuk, Mo Yan sudah di sambut oleh dua orang utusan Airland. Salah satu dari mereka merupakan seorang pria yang Mo Yan kenal. Rupa dan gelagat yang mencerminkan seorang cendikiawan yang karismatik. Pria paling populer seibu kota Airland, tak lain dan tak bukan adalah Zhao Ming De.


Mo Yan cukup terkejut, namun air mukanya sama sekali tidak menampakkan perasaan itu. Justru Zhao Ming De lah yang memiliki ekspresi terperangah tatkala menyaksikan fitur wajah yang tak asing di ingatannya.


Meski warna rambut dan sikap Sang kaisar Alorra begitu berbeda, namun bentuk wajah hingga postur tubuh yang atletis itu sama persis dengan Mo Yan, pengawal pribadi putri sulung mendiang jenderal Chu.


Zhao Ming De tidak berani berspekulasi. Ia tetap statis di tempat duduknya setelah melakukan salam penghormatan atas kedatangan sang kaisar.


"Alorra sudah menerima surat undangan yang dikirim oleh kaisar Airland. Hanya saja nampaknya pihak Airland sedikit menganggap remeh kerajaan kami. Bisa-bisanya kaisar Airland hanya mengirimkan seorang cendikiawan dan seorang pejabat kemiliteran yang baru dilantik beberapa waktu untuk menjemput pimpinan tertinggi kami." Tutur jenderal Luo tanpa tedeng aling-aling dihadapan utusan Airland.


"Kami mohon maaf jika telah menyinggung yang mulia dan Kerajaan Alorra." Ucap rekan Zhao Ming De setenang mungkin, "kami disini mewakili seluruh utusan yang menunggu diperbatasan. Ada beberapa kendala yang sulit kami jelaskan di sini. Sudilah kiranya yang mulia bisa memaklumi."


Mata Mo Yan menyipit layaknya sebuah pisau yang siap menguliti kedua utusan itu, "Kalian meminta pengampunan ku sedangkan sikap kalian tidak mencerminkan hal itu. Seakan kalian sedang mengujiku. Apakah itu memang suatu kesengajaan agar aku terlihat kejam pada utusan negara tetangga?"


"Mohon maafkan kelancangan kami, yang mulia!" Potong Zhao Ming De, "Keadaan Airland yang belum stabil menyebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan sehingga beberapa prajurit yang ikut dalam rombongan jatuh sakit akibat kurangnya asupan makanan yang memadai, dan kami tidak mungkin memaksakan mereka mengikuti kami dengan kondisi mereka saat ini."


"Cendikiawan Zhao!" Sela rekan Zhao Ming De. Ia nampak malu mengakui alasan yang dikemukakan oleh pemuda terpelajar itu.


"Kau begitu lantang bersuara, katakan! Siapa nama kalian?" Seru Mo Yan berpura-pura.


"Saya adalah Zhao Ming De dan rekan saya adalah kapten Lu Feng." Jawab Zhao Ming De sambil membungkukkan badan penuh rasa hormat.


"Baik, aku akan pergi bersama kalian." Ucap Mo Yan dengan nada datar.


Ia berdiri dari kursinya dan menoleh kearah jenderal Luo, "saya serahkan mereka kepada anda."


"Baik, yang mulia!" Jawab jenderal Luo dengan patuh.


Mo Yan berlalu hanya dengan sebuah anggukkan. Tingkah lakunya yang seperti itu telah membuat kedua utusan Airland membenarkan rumor yang beredar diluar sana.


Penguasa Alorra memang berhati dingin dan terkenal tidak suka bertele-tele.


Zhao Ming De menatap punggung penguasa Alorra itu dari jauh. Layaknya sedang berdebat dengan opini pribadinya, cendikiawan muda itu masih meragukan apa yang telah ditangkap oleh matanya barusan.


Xu Xiao Yan dan Mo Yan, merupakan pria yang memiliki kesamaan dan perbedaan yang saling beriringan.


Sesuai dengan peribahasa, serupa tapi tak sama.

__ADS_1


__ADS_2