
Para pelayan berlalu-lalang. Nampak begitu sibuk beberapa hari terakhir. Membuat dua utusan Airland yang menjadi tawanan sementara sedikit terlupakan.
Meski status kapten Lu dan Zhao Ming De merupakan tahanan, namun hakikatnya mereka tetaplah tamu kerajaan. Mereka diperlakukan dengan baik layaknya pendatang yang sedang melakukan suatu kunjungan di negara Alorra yang makmur.
Kapten Lu bersidekap dan mencondongkan tubuhnya kearah rekan cendikiawan nya yang cerdas.
"Suasana disini tidak mencerminkan akan adanya insiden penting yang akan terjadi, " Gumam kapten Lu seraya berdecak heran, "mereka tidak seperti sedang mempersiapkan diri untuk peperangan nanti."
"Apa kau tau apa yang sedang dilakukan para pelayan itu?" Bisik kapten Lu sambil terus mengamati kesibukan para pelayan.
Zhao Ming De menggeleng pelan, "entahlah, namun jika saya tidak salah dengar, kaisar akan menikah dalam beberapa hari ke depan."
"Hah? Menikah? Pria dingin itu?"
Zhao Ming De segera menangkup mulut rekannya yang tengah terperanjat dengan desisan, "sssttt! Pelankan suaramu!"
Kapten Lu mengangguk dengan cepat dan menyadari kecerobohannya barusan. Untung saja tak ada yang mendengar respon ganjil yang ia berikan.
"Disituasi genting seperti ini? Dengan siapa?" Tanya kapten Lu sekali lagi dengan berbisik.
Zhao Ming De menghela napas. Ia merasa cukup jengah dengan sifat kapten Lu yang suka ikut campur urusan orang lain.
"Saya tidak tau. Jika tuan penasaran bagaimana kalau tuan tanya pada pelayan yang berlalu-lalang itu!" Saran Zhao Ming De asal.
Dan benar saja, rekan Zhao Ming De itu benar-benar menghampiri salah satu pelayan dan menanyakan apa yang ingin ia ketahui.
Sang pelayan dengan sopan menjawab, "kami diperintahkan untuk memindahkan persiapan pernikahan yang mulia dengan nona Fu di paviliun pribadi beliau."
"Nona Fu? Maksudmu tabib perempuan yang memakai kain penutup wajah yang pintar berkelahi itu?" Runtut kapten Lu se-spesifik mungkin.
Sang pelayan membenarkan tebakan pria energik itu kemudian berlalu.
Kapten Lu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia cukup takjub dengan selera pimpinan kerajaan Alorra yang sedikit nyeleneh. Bisa-bisanya pria tampan dan berkuasa itu justru menikah dengan perempuan biasa dan tak terlihat jelas rupanya.
Zhao Ming De yang masih duduk dengan santai di tepi balkon koridor, tidak sengaja mendengar percakapan lanjutan dari sekelompok pelayan perempuan yang membersihkan kamar mereka.
"Apa kalian sudah dengar jika calon istri baginda itu adalah kekasihnya dulu?"
"Benarkah? Bagaimana bisa? Bukannya asal usul perempuan itu dari Airland, berarti sebelumnya yang mulia juga hidup dan besar di negara musuh?"
"Sstt, menurut rumor yang ku dengar, perempuan itu adalah tawanan eksekusi mati yang kabur. Keluarga nya adalah pemberontak."
"Astaga! Bagaimana bisa yang mulia menikahi perempuan dengan latar belakang seperti itu?!"
"Entahlah, namanya juga cinta buta."
Para pelayan itu terkekeh dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Zhao Ming De meletakkan buku yang sejak tadi dibacanya, ia berjalan kearah para pelayan itu dan membulatkan hati untuk bertanya.
"Apakah nona-nona tau nama lain dari nona Fu?"
Para pelayan itu terdiam dan saling melempar pandangan.
"Nona-nona tidak perlu takut. Saya berjanji tidak akan memberitahu siapapun soal ini." Pikat Zhao Ming De dengan senyum manisnya.
Beberapa pelayan nampak merona. Dengan sedikit malu-malu, salah satu dari mereka menjawab dengan pelan, "kalau tidak salah nama nona itu adalah Chu."
"Chu?" Ulang Zhao Ming De dengan degup jantung yang tidak teratur, "maksud nona, nona Fu adalah Chu Yao?!"
"Sepertinya begitu." Jawab mereka ragu-ragu. Kemudian pamit undur diri dari hadapan dua laki-laki asing itu.
__ADS_1
Zhao Ming De tersentak. Lututnya seketika lemas. Telinganya mendadak tidak bisa mendengar sekitarnya. Bahkan panggilan kapten Lu yang tengah menahan berat tubuhnya tak juga ia hiraukan.
Chu Yao? Dia masih hidup?
Benarkah itu?
Otak Zhao Ming De seketika berputar cepat. Ia berpikir dan memanggil kembali memori penyerangan beberapa waktu yang lalu.
Ia mengingat dan saling menghubungkan. Hanya berselang menit, wajah syok itu berubah menjadi seringai aneh yang membingungkan.
"Pantas saja!" Cibir Zhao Ming De.
"Pantas saja wajah kaisar begitu familiar dibenakku! Ternyata dia memang Mo Yan!"
"Mereka menipuku! Bukan! Akulah yang terjebak dalam skema mereka!"
Zhao Ming De menggeram. Tatapan gelisahnya selaras dengan raut wajahnya yang penuh rasa kekecewaan.
Kapten Lu tidak mengerti alterasi suasana hati rekannya itu. Ia ingin bertanya namun urung. Melihat betapa kacaunya Zhao Ming De saat itu, kapten Lu hanya mengunci bibirnya. Ia bahkan menjaga jarak agar tidak semakin menyulut emosi cendikiawan yang terkenal dengan ketenangannya itu.
Sedangkan Zhao Ming De tetap meracau. Ia bahkan mengumpat. Seolah hanya ia sendiri yang berada di ruangan yang besar itu. Membuat kapten Lu terperangah tak percaya dengan yang ia dengar.
"sialan!" Maki Zhao Ming De, "aku sudah berjuang sejauh ini tapi mereka malah menikah! Bangs*t!!!"
"Jika aku tau kau masih hidup, akan ku bawa pergi dirimu saat itu juga! Kau patut tau apa yang telah ku upayakan untukmu selama ini!"
"Chu Yao... Chu Yao..."
"Kau membuatku masuk ke lubang hitam. Terbenam ke dasarnya. Hingga saat ini pun kau tidak menoleh ke arahku. Padahal saat itu, kau melihatku!"
"Tidak! Itu bukan salahmu, itu salah Mo Yan! Ya, pasti begitu! Pria itu telah menekan dirimu! Tunggulah, aku akan segera membebaskanmu!"
Ia bahkan tidak sadar telah meremukkan cawan dan melukai telapak tangannya hingga berdarah.
Perubahan yang ekstrem itu telah membuat kapten Lu mengundurkan langkah tanpa sadar. Ia bergidik dengan bulu kuduk yang meremang. Seolah tengah mewaspadai seekor binatang buas yang setiap saat bisa menerkam mangsanya.
Sadar atau tidak, ia harus berhati-hati terhadap pria dengan dua kepribadian didepannya itu.
***
Chu Yao mencoba memejamkan mata dengan membuka seluruh jendela di dalam kamar yang luas itu. Membiarkan angin malam membiusnya agar terlelap dengan nyaman tanpa ada rasa kekhawatiran sedikitpun.
Alih-alih tertidur, Chu Yao justru menggeliat gelisah tiada henti.
Ia membuka selimut sutra berwarna kuning keemasan yang membalut tubuhnya dan berjalan kearah balkon. Cuaca saat itu tidaklah dingin, namun entah mengapa Chu Yao merasakan seluruh tulangnya mengkerut dalam kebekuan.
Semenjak Mo Yan berpamitan ke istana tiga hari yang lalu, Chu Yao merasakan perasaan aneh yang tak nyaman.
"Apa malam ini dia juga tidak pulang?" Tanya Chu Yao pada dirinya sendiri.
'Tidak! Aku tidak bisa terus menunggu. Aku harus memeriksanya sendiri.' Tekad Chu Yao yang kemudian disertai langkah kecil kearah pintu.
"Apa kau berniat pergi tengah malam begini dengan pakaian tipis seperti itu?"
Langkah Chu Yao langsung terhenti begitu mendengar suara berat Mo Yan di belakangnya. Perempuan itu seketika membalikkan badan dan tiba-tiba sudah berada dalam gendongan pria bersurai putih keperakan.
Mo Yan membawanya kembali ketempat tidur. Tak ada perkataan apapun yang keluar dari bibir pemuda itu.
Chu Yao ingin bertanya namun ia menahan niatnya. Wajah Mo Yan nampak sedikit pucat dan lelah.
"Semua sudah beres." Senyum Mo Yan yang sudah masuk kedalam selimut yang sama dengan sang kekasih.
__ADS_1
"Kau tidak perlu mencemaskan hal-hal sepele yang ada dikepalamu itu." Tambahnya seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Chu Yao saat itu.
"Salahmu yang tidak memberiku kabar sedikitpun." Ucap Chu Yao dengan alis yang bertaut.
Mo Yan merengkuh Chu Yao dalam dekapannya. Ia memejamkan mata dan mengirup aroma yang ia rindukan.
"Maafkan aku. Aku tidak sempat memerintahkan seseorang untuk menyampaikan kabar kepadamu. Semua ini gara-gara A-Wei dan Shen Xue Ying."
"A-Wei dan nona Shen?"
"Iya. Aku harus mengurus banyak hal untuk menikahkan mereka berdua."
"Benarkah?" Seru Chu Yao yang hampir melompat di atas tubuh Mo Yan yang masih terbaring santai disampingnya.
Mo Yan membenarkan ucapannya dan menceritakan bagaimana Shen Xue Ying melamar A-Wei dimuka umum. Seakan tak percaya, mata Chu Yao hampir terbelalak karena rasa kaget dan takjub akan keberanian putri perdana menteri itu.
Chu Yao terkekeh hingga menciptakan semburat merah dikedua pipinya. Membuat Mo Yan semakin teduh memandang keindahan didepannya.
"Kau nampak kurang tidur. Apa kau menungguku terus tiga hari ini?"
Chu Yao menganggukkan kepala sambil memainkan jemarinya di pipi dan rambut Mo Yan tanpa henti.
Pria itu mengamankan jari-jari nakal Chu Yao dengan tangannya yang besar dan mengalihkannya pada dada bidang yang bersembunyi dibalik pakaian berwarna hitam yang ia kenakan.
"Dua hari lagi kita akan menikah." Ucap Mo Yan dengan suara yang lembut, "jika suatu saat nanti, aku sudah tidak menjadi penguasa Alorra, maukah kau tetap hidup bersamaku?"
Chu Yao menengadah. Menatap manik hitam Mo Yan yang semakin gelap ketika malam, "kenapa kau mempertanyakan hal itu? Bukankah kau sudah tau jawabannya."
"Aku hanya berusaha meyakinkan diriku. " Senyum Mo Yan sambil mencium kening Chu Yao dengan perasaan yang kompleks.
Pemuda itu menelan saliva dan menjeda sejenak, "jika.. Suatu saat nanti aku tidak ada, maukah berjanji untuk terus melanjutkan hidup untukku?"
Kali ini Chu Yao tidak hanya terkesiap, namun ia langsung bangkit dan duduk seketika.
"Apa maksudmu?" Tanya Chu Yao dengan nada keberatan.
"Apa kau berniat pergi, menghilang begitu saja setelah berhasil menikahiku?" Tambah perempuan itu dengan wajah yang muram.
Mo Yan bangkit dan mengelus rambut Chu Yao yang tergerai halus. Ia merasa bersalah telah mengatakan hal yang membuat gadis itu bersedih hati.
"Tidak akan. Aku tidak akan meninggalkanmu. Lupakanlah! Aku hanya sembarang berbicara. Aku minta maaf telah membuatmu tidak nyaman."
Chu Yao menundukkan wajah dan menggenggam erat jemari Mo Yan, "Aku tidak tau apa yang kau rencanakan. Dan akupun tidak tau apa yang akan terjadi dimasa depan. Bagiku saat ini adalah saat-saat paling berharga yang mungkin tidak akan lagi bisa kita rasakan.."
".. Aku tidak ingin berpikir hal buruk. Meski aku tau tak ada hal yang baik dalam sebuah peperangan. Aku hanya ingin menikmati sisa-sisa kebersamaan kita. Maka dari itu..."
".. Jangan lagi berkata seperti itu.."
Air mata Chu Yao tak lagi bisa terbendung. Meski ia berusaha untuk menahan emosinya, akan tetapi bulir-bulir bening itu tetap mengalir deras hingga membuat tubuhnya bergetar.
".. Berjanjilah bahwa semuanya akan baik-baik saja.. Tolong.. Berjanjilah..."
Mo Yan tidak bisa berkata-kata. Ia dengan sigap memeluk Chu Yao dengan erat. Membenamkan wajahnya di ceruk leher perempuan yang masih senggugukan itu.
Dengan wajah frustasi, Mo Yan memejamkan mata dan berbisik, "aku berjanji."
Meskipun kelak itu hanya sebuah janji yang kosong, setidaknya Mo Yan sudah berusaha melakukan yang terbaik yang ia bisa.
Semoga saja takdir memihak mereka.
Hanya itu harapan terakhir yang bisa Mo Yan dan Chu Yao genggam dalam hati mereka masing-masing.
__ADS_1