Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 28


__ADS_3

Pipi Chu Yao yang bengkak perlahan mengempis berkat kompres air dingin yang diberikan Xier kepadanya. Perempuan berparas elok itu tidak mengeluh ataupun menangis.


Mentalnya benar-benar sudah teruji. Kesakitan akibat tamparan itu tidak sebanding dengan rasa sakit akibat racun pelebur tulang yang pernah merenggut jiwanya.


"Ye Zuan ini benar-benar memiliki ide yang nyeleneh. Bisa-bisanya dia menyuruhku memprovokasi ayah hanya untuk menguji keakuratan dugaannya." Gumam Chu Yao kesal. Ia bertekad akan menendang tulang kering pria itu jika mereka bertemu kembali.


Meski diam menyimak, namun otak Mo Yan justru berpikir cepat. Ia telah memiliki beberapa spekulasi namun ia tidak akan memberitahukannya pada gadis itu. Ia perlu membuktikannya dengan caranya sendiri.


"Apa kau juga berpikir seperti yang saat ini aku pikirkan?" Chu Yao melempar pandang ke arah Mo Yan yang berdiri tepat disampingnya.


Ia menarik tangan pria itu untuk duduk bersama dengannya. Tindakan Chu Yao yang tiba-tiba itu tak membuat Mo Yan terusik. Seolah ia terbiasa dan justru menyukai perlakuan intim perempuan itu.


"Saya tidak berani mendahului dugaan tanpa bukti yang jelas." jawab Mo Yan skeptis.


"Tapi dugaan yang nona pikirkan saat ini sudah lebih dari cukup untuk mengurai permasalahan yang nona hadapi."


Perkataan Mo Yan ada benarnya. Meski polemik ini belum memiliki kesimpulan akhir, paling tidak ada beberapa poin yang sudah bisa Chu Yao pegang dengan keyakinan yang kuat.


Ya, tidak hanya Permaisuri. Sepertinya Kaisar pun ada andil dalam kematian ibunya dulu. Tapi apa hubungan mereka dengan ibunya?


Apa yang mati-matian jenderal Chu tutupi dari semua orang?


"Mo Yan, aku akan memberimu tugas khusus. Aku harap kau sendiri yang menyelidiki nya."


Mo Yan mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat ketika Chu Yao membisikkan sesuatu padanya.


"Selidiki gerak gerik ayah. Lapor kan semua hal yang kau ketahui secara berkala. Biarkan A-Wei yang menjagaku disini. Aku membutuhkannya untuk mengawasi orang-orang kiriman permaisuri. Aku yakin, kejadian di koridor tadi pasti sudah sampai ditelinga permaisuri."


"Baik, nona!"


"Satu hal lagi, pergilah menyelamatkan diri jika kau rasa situasi dan kondisi sudah tidak kondusif!"


"Saya mengerti."


Mo Yan bergegas pergi setelah ia menginstruksikan sesuatu kepada A-Wei. Pria muda itu menundukkan kepala tanda kepatuhannya dan Mo Yan menghilang dalam sekejap mata.


Setelah beberapa saat A-Wei pun telah berdiri persis dibelakang Chu Yao. Pengawal itu tak berbicara. Ia hanya diam menunggu instruksi. Kekakuannya telah menyadarkan Chu Yao bahwa seorang pengawal memang seharusnya memiliki batas dengan majikannya.


Tidak seperti hubungannya dengan Mo Yan.


Apa dia telah terlalu memanjakan pria tampan itu sehingga akhir-akhir ini jarak diantara mereka hampir-hampir tidak nampak seperti pelayan dan majikan.


Tapi, dibanding keberatan, justru Chu Yao pun menikmatinya.


"Mungkin otakku memang sudah bermasalah sejak kembali ke kehidupan ini. " Kekeh Chu Yao dengan kompres di pipinya yang sedikit memar.


A-Wei statis dalam posisinya. Ia sudah tidak kaget lagi dengan sifat perempuan itu. Sejak ia berpura-pura menjadi junior majikannya, ia sudah melihat bagaimana sifat dan sikap Chu Yao terhadap orang lain bahkan ketika ia sedang sendiri.


Perempuan itu hanya menampakkan karakter aslinya pada tuannya. Tidak pada orang tua atau keluarga terdekatnya. Putri sulung jenderal Chu selalu memasang benteng terhadap orang-orang disekitarnya.


Meski sedikit tidak lazim namun A-Wei tidak berani berkomentar. Selama tuannya tidak mempermasalahkan perempuan itu maka ia pun tidak akan pernah mengubrisnya.


Beberapa jam telah berlalu..

__ADS_1


Siluet pria yang sudah ditunggu Chu Yao muncul tepat di depannya. Pria itu duduk dengan tenang meninggalkan derit kecil di jendela kamar. Sembari mengibaskan kipas andalannya dengan senyum yang menggoda, ia terkekeh melihat wajah kesal yang tengah menatapnya.


"Yao Yao, kau menungguku? Aku merasa sangat tersanjung sekali." Ye Zuan memamerkan tawanya seakan tau bahwa ia akan kembali di omeli oleh perempuan cantik itu.


"Semaumu sajalah. Meskipun aku bilang kau yang memintaku untuk menunggumu disini, satu duniapun takkan ada yang percaya. "


"Aiyooo jangan galak begitu. Ayo tuangkan air minum untukku. Aku sangat haus. Apa kah kalian tidak berencana mengurangi penjagaan di kediaman kalian? Aku merasa sangat kesulitan untuk masuk diam-diam ke sini." Bujuk Ye Zuan yang malah terdengar seperti rentetan keluhan ditelinga Chu Yao.


"Kau memang jenaka, bisa-bisanya kau menyuruhku menuangkan segelas air. Padahal kau yang masuk ke kamar pribadiku dengan cara yang sangat tidak sopan. Sungguh kelakuan pangeran yang bermartabat. "


Chu Yao menyindir Ye Zuan dengan telunjuk yang mengarah langsung ke jendela. Pangeran ke delapan itu hanya terkikik menanggapi sindiran kasar itu.


Pemuda karismatik itu melirik kearah A-Wei, "Pria baru? Yang lebih muda? Yao Yao, kau berselingkuh? Meski aku tidak seatletis Mo Yan, tapi aku lebih baik dari pada orang-orangan salju ini. Aku cukup tampan. Kenapa kau tidak berselingkuh denganku saja?"


Kepala Chu Yao mulai berdenyut. Dengan malas Chu Yao menjawab, "Dia junior Mo Yan. Namanya A-Wei. Dia bukan selingkuhanku dan harus ku tekankan bahwa aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun!"


"Heheheee..."


"Sekali lagi kau mengatakan hal-hal konyol seperti itu akan ku tendang kau keluar dari sini secepatnya."


Ye Zuan kembali tertawa. Pemuda itu selalu merasa bebas ketika bersama dengan Chu Yao. Hanya gadis lugas itu saja yang tidak berpura-pura didepannya, dan itu sangat membuatnya nyaman.


"Baiklah. Baiklah. Aku akan berhenti bercanda. Mari sekarang kita berbicara hal yang lebih serius." Ucap Ye Zuan dengan raut wajah yang berbeda.


Pria flamboyan itu mendelik kearah A-Wei. Chu Yao yang faham langsung meminta pengawal itu berjaga diluar. A-Wei tidak membantah, ia membungkuk hormat kemudian keluar dengan pintu yang tertutup rapat. Seketika atmosfer kamar itu berubah pekat.


Ye Zuan memandang lekat kearah Chu Yao. Pipi gadis itu yang masih sedikit bengkak telah menyita perhatiannya. Ia mengeluarkan sebuah pot kecil dari balik lengan bajunya.


"Bukan salahmu. Setidaknya berkat respon ayah yang seperti itu kau bisa memiliki dugaan yang kuat, bukan?" Chu Yao mengambil pot salep itu dan mengoleskan tepat di pipinya yang bengkak.


"Benar... Aku mulai yakin... "


"Lalu?"


"Kematian ibumu bukan suatu kebetulan." Ye Zuan menjeda sejenak.


Pikiran nya kembali melayang pada suatu malam setelah ia kembali dari kota Nian. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang saat mencari beberapa petunjuk tentang riwayat penahanan selir Meng di perpustakaan istana.


Saat itu suasana di perpustakaan begitu sunyi dan gelap. Ye Zuan yang mengendap-endap memilah beberapa buku dan gulungan perkamen. Dari satu rak ke rak lainnya secara bergantian.


Tidak lama suara rusuh datang dari luar. Dengan gesit Ye Zuan melompat ke atas balok dan bersembunyi dibaliknya. Dua orang yang ia kenal masuk ke dalam beriringan.


"Kau sudah lihat, kan?! Ibunda permaisuri benar-benar memberiku tekanan! Hanya karena aku gagal menangkap penyusup Alorra, ibunda memarahi ku secara brutal!" Suara khas putra mahkota memecah kesunyian. Intonasi suaranya telah menyatakan rasa marah yang sudah ia rasakan sebelumnya.


"Yang mulia, permaisuri hanya ingin mengamankan posisi yang mulia." Hibur kasim Han.


"Untuk apa ibunda ketakutan. Posisi ini tidak akan di ambil oleh Ye Zuan apalagi saudaraku yang lain. Tidak akan ada yang memberinya dukungan sebanyak diriku."


"Benar. Tapi yang mulia perlu mewaspadai pangeran kedelapan. Dia sudah mulai bergerak secara diam-diam. Akan sangat berbahaya jika dia bersekutu dengan jenderal Chu. Jika kedua orang itu bekerjasama dengan dukungan baginda Kaisar maka posisi anda pasti tidak akan aman!"


Ye Zuan tak bergeming. Ia semakin mempertajam pendengarannya. Percakapan antara putra mahkota dan kasim Han benar-benar sudah di nanti olehnya.


"Jenderal Chu hanyalah seorang jenderal tua. Dia tidak memiliki fraksi yang tengah bersekutu dengannya. Selama ini dia hanya sibuk berperang dan menjaga perbatasan. Aku tak pernah melihat dia ikut membicarakan urusan politik seperti pejabat lainnya. "

__ADS_1


"Yang mulia putra mahkota terlalu meremehkan. Jenderal Chu adalah tangan kanan Baginda kaisar dibalik layar. Beliau telah memberikan banyak pengaruh pada keputusan kaisar di setiap rapat Kekaisaran..." Kasim Han berhenti sejenak dan menarik napas.


"... Mengapa permaisuri bersikukuh menyuruh yang mulia menangkap penyusup Alorra? Sebab itu akan menjadi batu loncatan untuk dua rencana besar kita. Pertama, melakukan invasi yang dipimpin langsung oleh putra mahkota. Kedua, merusak popularitas jenderal Chu. Jika yang mulia membawa kemenangan maka secara langsung akan membawa dampak pada beberapa aspek. Diantaranya meningkatnya dukungan dari para pejabat dan sekaligus menurunkan kepercayaan terhadap kredibilitas dan integritas jenderal Chu selama ini."


Kasim Han tak berhenti disitu. Ia kembali melanjutkan, "Yang mulia pasti sudah tau bahwa yang mulia kaisar telah menurunkan dekret perdamaian dengan Alorra secara tiba-tiba. Juga, kepulangan jenderal Chu dan pasukan yang akan disambut langsung oleh kaisar di aula pertemuan. Apakah yang mulia putra mahkota tidak mencurigai andil jenderal Chu dalam perubahan rencana yang mulia kaisar itu?"


"Hanya jenderal Chu yang bisa menekan baginda kaisar! Karena yang mulia kaisar telah berhutang budi yang sangat banyak pada pria tua itu!" Jelas kasim Han.


"Saya masih belum mengerti mengapa ayahanda berhutang budi pada jenderal Chu?" Tanya putra mahkota seraya membalikkan badan menghadap kasim Han.


"Apakah yang mulia permaisuri belum menceritakan peristiwa sembilan tahun yang lalu?"


Pandangan kasim Han menajam seketika. Bibirnya mengerucut seakan sedang menahan perkataan yang keluar. Nampak ia sedang memilih kata yang tepat untuk menjelaskan.


"Tampaknya yang mulia belum mengetahui secara detil. Jika yang mulia sudah tau pasti yang mulia memahami keresahan permaisuri saat ini." Ucap kasim Han melihat raut wajah putra mahkota yang penuh tanda tanya.


"Apakah ibunda, hutang budi ayahanda serta kematian selir Meng saling berkaitan?"


"Bukan hanya berkaitan. Jika putri pertama jenderal Chu berhasil menguak kembali peristiwa itu, jangankan posisi putra mahkota, nyawa permaisuri pun bisa dalam bahaya!"


Tidak hanya putra mahkota, Ye Zuan yang sejak tadi menyimak tidak bisa menahan rasa keterkejutan nya. Mereka menjeda sejenak. Tenggelam dalam ritme pikiran yang beraneka ragam.


"Apa penyebab ibunda sampai melenyapkan wanita itu?" Tanya putra mahkota penuh selidik.


Kasim Han berpikir panjang sebelum menjawab, "Karena wanita itu telah melahirkan seorang anak baginda Kaisar."


Ye Zuan mengakhiri ceritanya. Ia menceritakan semua yang ia dengar kepada Chu Yao, namun tidak pada bagian akhir. Ia sengaja tidak menyampaikannya sebelum mendapat penjelasan langsung dari ayahanda Kaisar.


Perasaannya agak kompleks ketika memandang wajah perempuan yang saat ini bersamanya.


Jika Chu Yao bukan merupakan adik lain ibu, lalu siapa lagi yang dimaksud anak oleh kasim Han?


Ye Zuan dan Chu Yao saling diam. Mereka sibuk berpikir dengan pemikiran nya masing-masing. Ye Zuan yang saat ini tengah berdiri disamping jendela hanya mengibaskan kipas kesayangannya sambil mematung menatap langit yang mulai kehitaman.


Sedangkan Chu Yao, perempuan itu tetap duduk dengan mengetuk-ngetukkan jemarinya diatas meja.


"Yao Yao, apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Ye Zuan tanpa beranjak dari tempatnya.


Chu Yao menarik napas panjang, "Entahlah.. "


Sejujurnya Chu Yao masih belum memiliki rencana lanjutan. Apa yang harus dilakukan nya meski sudah tau bahwa kematian ibunya memang disengaja.


Namun, ia masih belum memiliki bukti kuat. Pun, ia tidak memiliki dukungan untuk menuntut keadilan karena orang yang saat ini menjadi musuhnya adalah orang-orang Kekaisaran.


"Mungkin aku akan bertanya tentang hutang budi itu kepada ayah." Jawab Chu Yao dengan berbagai pertimbangan.


Ye Zuan mengatupkan kipas dan tersenyum simpul. Ia mendekat dan mengelus rambut Chu Yao dengan lembut. Sikap Ye Zuan yang seperti itu justru membuat tanda tanya besar di otak Chu Yao.


"Berhati-hatilah pada putra mahkota dan orang-orang nya! Mereka saat ini juga mengincarmu."


"Juga, Suruh Mo Yan atau A-Wei menghubungi dua pengawalku jika kau memerlukan bantuanku."


Tambah pria kharismatik itu sebelum benar-benar menghilang dibalik gelapnya malam. Chu Yao hanya mematung melihat jendela yang menganga tanpa seorangpun disana.

__ADS_1


__ADS_2