
Suasana diruang pribadi jenderal Chu mendadak tegang ketika Mo Yan berdiri berhadapan dengan sang jenderal.
Raut wajah keduanya terlihat tidak baik. Tangan Mo Yan mengeluarkan urat akibat cengkraman yang kuat. Meski masih dengan wajah datar namun aura dingin tetap memancar dari iris matanya.
"Saya tidak akan berubah pikiran. Bagaimanapun nona adalah majikan saya saat ini. Hanya perintahnya lah yang wajib saya dengarkan." Ucap Mo Yan dengan suara berat dan tegas.
Jenderal Chu melirik dengan tatapan tajam seolah ingin menghantam Mo Yan yang telah berkata lancang karena melupakan siapa yang sedang berbicara dengannya.
"Kau begitu setia. Sebagai ayah dari anak yang tengah kau jaga, aku sangat mengapresiasi loyalitas yang kau berikan. Hanya saja kau perlu tau batasan! Apa kau kira aku tidak tau hubungan kalian seperti apa? Aku memintamu untuk pergi menjauh dari Chu Yao tidak hanya demi keselamatanmu, tapi demi menjaga reputasi anak itu!"
"Apa kau tau seperti apa imbasnya jika kalian tetap bersama dengan perasaan yang kalian miliki? Kurasa kau telah tau siapa Chu Yao sebenarnya. Bukankah kau sudah berhasil mengikuti ku sampai kedalam ruang pribadi kaisar?!"
Ucapan jenderal terdengar seperti sambaran kilat. Alih-alih gemetar ketakutan, Mo Yan masih tetap berdiri tegap dengan ketenangan di atas rata-rata.
Bagi orang biasa, sikap dan ucapan jenderal barusan sudah cukup mengaduk emosi dan mengintimidasi lawan bicara. Tapi tidak untuk Mo Yan. Ia yang sudah lulus pelatihan keras yang dibimbing langsung oleh sang jenderal nampak bisa menguasai diri.
Tidak mudah bagi orang tua itu membuat emosi Mo Yan terpancing.
"Ya, saya tau nona adalah putri yang mulia kaisar. " Jawab Mo Yan singkat, "Tetapi, saya juga tau kaisar juga ingin melenyapkan nyawa nona dengan racun pelebur tulang. Maka dari itu saya menjaganya. Saya tidak akan pernah membiarkan seseorang menyakiti nona, meskipun itu yang mulia kaisar sendiri!"
"LANCANG!!!" Raung jenderal Chu dengan tarikan pedang yang menghunus tepat didepan Mo Yan. "Kau sudah berani memata-matai kami. Apa kau sudah tidak ingin kepalamu terpasang dilehermu?!"
"Saya hanya menjalankan perintah dan saya tidak menyesalinya. "
Pemuda itu tak bergeming. Ia tetap teguh dengan pendiriannya.
"Saya akan menjaga jarak. Jadi tolong tuan besar memberi ijin. Saya berada di sisinya hanya untuk melindungi nona." Jelas Mo Yan tau diri.
Wajar saja jenderal Chu menghalangi hubungan mereka, sebab status yang Mo Yan sandang saat ini tidaklah sepadan dengan status yang Chu Yao miliki.
Apa jadinya jika seorang putri bersama dengan pengawal pribadinya yang tidak memiliki masa depan yang pasti.
Bukankah itu akan menjadi suatu penghinaan terhadap wajah Kekaisaran.
Jenderal Chu tak bergerak. Ujung pedangnya tetap mengarah pada pria berwajah simetris didepannya. Sorot mata keduanya sama-sama menajam. Seolah-olah siap menguliti satu sama lain dalam sekali tarikan napas.
"Kau pikir aku tidak tau dari mana kau berasal? Apa kau pikir akan sama jika Chu Yao tau kau merupakan salah satu penduduk Alorra yang pernah dibantai oleh ayah kandungnya... "
"... Kau pikir aku membesarkanmu tanpa perhitungan? Membiarkanmu menjadi pengawal pribadi putri kandung kaisar itu memang menjadi salah satu rencanaku!"
Mo Yan refleks mundur ketika pedang sang jenderal maju dan hampir menusuk kulit dadanya.
"Angkat pedangmu! Bertarunglah denganku! Aku akan menilai seberapa pantas kau berdiri didepan gadis itu!"
Jenderal Chu berteriak hingga orang-orang disekitar paviliun pribadinya menoleh kearah mereka.
Mo Yan tidak mengikuti instruksi. Ia hanya bergerak cepat menghindari serangan yang dilakukan jenderal secara bertubi-tubi.
"Kau meremehkanku!"
"Tidak tuan!"
Mo Yan tidak ingin melawan orang yang telah berjasa dalam hidupnya. Terlebih orang itu adalah orang tua yang dihormati dan disayangi oleh perempuan yang ia cintai.
Amarah jenderal tak ingin ia tanggapi. Mo Yan menganggap, tindakan yang dilakukan pria tua itu semata-mata demi kebaikan mereka berdua. Hanya saja, ia tak rela harus berpisah dengan Chu Yao.
Meskipun harus mati, ia takkan pernah meninggalkan gadis itu seorang diri. Karena hanya dia yang tau seberapa rapuh pertahanan diri Chu Yao. Gadis itu hanya menitikkan air mata didepannya.
Gadis yang terkenal keras kepala dan tak berbelas kasih itu sebenarnya hanya gadis biasa yang bertopeng dengan sikap arogan.
"Nampaknya kau tidak mau menggunakan pedang. Baik! Aku akan menuruti kemauanmu!"
Jenderal Chu melemparkan pedang ke sembarang tempat dan kembali menghujani Mo Yan dengan tendangan serta tinjuan beladiri.
Pada awalnya, Mo Yan dapat menghindar. Namun lama kelamaan pukulan jenderal itu berhasil mendarat tepat di dada hingga Mo Yan tersungkur mundur dan memuntahkan darah segar.
__ADS_1
Suara ricuh yang diakibatkan pertarungan sengit dua orang terlatih itu telah menyita perhatian seluruh penghuni mansion.
Nyonya Xun dan Chu Ling berdiri lumayan jauh menyaksikannya perkelahian itu. Nampak seluruh pelayan mengitari tempat tersebut. Hiruk pikuk tak terelakkan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa kedua orang yang sangat akur itu tiba-tiba berselisih paham.
Hampir di setiap sisi dalam paviliun itu rusak parah. Tak ada yang berani melerai keduanya. Semua hanya menonton dari jarak jauh sambil terus mengawasi.
Tidak terkecuali Xier yang kebetulan lewat. Iris matanya menangkap sosok Mo Yan yang memuntahkan darah akibat pukulan yang dilancarkan oleh sang jenderal.
Pelayan itu mendadak panik dan bergegas menuju paviliun dingin. Ia ingin segera memberitahukan sang majikan perihal pertarungan yang dilakukan jenderal dan Mo Yan yang sudah menghebohkan seisi kediaman.
***
Begitu siuman, Chu Yao sudah berada di atas tempat tidur. Ekor matanya menangkap sosok flamboyan yang duduk bersedekap diujung dipan sambil memejamkan mata.
Ye Zuan telah berada cukup lama di sana.
Chu Yao mencoba bangun dengan sangat hati-hati. Ia duduk menyeimbangkan diri agar tidak kembali oleng karena rasa pusing yang masih kentara di kepalanya.
"Kau sudah sadar? Minum ini agar staminamu kembali dengan cepat. " Tanya Ye Zuan sembari memberikan beberapa butir obat dan segelas air.
Chu Yao mengambil obat itu dan meminumnya tanpa ragu.
"Apa yang terjadi hingga membuatmu terkejut hebat? Tidak biasanya kau sampai pingsan."
"Tidak ada. Aku hanya kelelahan." Jawab Chu Yao sambil memakai kembali sepatu yang tergeletak disamping dipan, " Apa yang membawamu kesini?"
Ye Zuan mengibaskan kipas kesayangannya dengan lirikan tak percaya. Namun pria itu memilih untuk tidak membahasnya. Meski gadis itu bungkam namun wajah pucatnya telah menampakkan beban berat yang sedang ditanggungnya.
Ye Zuan menyerahkan sebuah pot kecil berwarna hijau yang terbuat dari giok berkualitas rendah kepada Chu Yao.
"Ini barang yang kau minta. Efeknya seperti yang kau inginkan. Orang yang meminumnya akan tertidur lama. Sebaiknya kau hanya memberikannya setengah pot. Karena dosis itu sudah bisa menyebabkan seseorang tertidur tujuh hari berturut-turut. "
Ye Zuan mendelik, "manusia mana yang akan jadi korbanmu?"
"Bukan urusanmu!"
"Jika itu Mo Yan sebaiknya kau gunakan seluruh isi pot. Stamina pemuda itu di atas rata-rata. Untuk takaran setengah pot takkan berpengaruh terhadapnya." Jelas Ye Zuan sambil berkipas santai di atas tempat tidur Chu Yao.
"... "
Ye Zuan menutup kipas dengan satu kali hentakan. Ia bangkit dan menghampiri Chu Yao yang berdiri didekat jendela.
"Aku tidak akan mencampuri urusanmu perihal obat itu. Lakukanlah apa yang kau mau selama itu tidak bertentangan dengan rencana yang telah kita susun."
Pangeran kedelapan itu seketika menghilang bersama dengan hembusan angin di balik jendela.
Chu Yao menatap kepergian pria nyentrik itu. Otaknya membuat kilas balik pada beberapa waktu yang lalu saat ia memerintahkan A-Wei untuk menyampaikan pesan kepada salah satu pengawal Ye Zuan.
Ia meminta bantuan Ye Zuan untuk mencarikan nya obat yang bisa menyebabkan si peminumnya tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama.
Chu Yao kembali berjalan kearah meja rias dan mengambil pot giok kecil di sana. Ia terdiam sesaat kemudian memasukkan benda itu kedalam saku bajunya dengan gerakan cepat.
Dari jauh terdengar derap langkah kaki disertai panggilan kencang. Xier berjalan cepat menuju kamar tidur sang nona.
Begitu mendekati pintu, gadis itu tiba dengan penuh keringat dan hampir-hampir terhuyung jatuh. Seketika Chu Yao menangkapnya dengan cepat.
Gadis itu membungkuk dan berterima kasih. Namun masih menyisakan gerakan tubuh yang gemertar. Wajahnya nampak kusut. Seakan ada hal penting yang hendak ia sampaikan sesegera mungkin.
"Ada apa denganmu? Bernapaslah dengan baik. " Tanya Chu Yao sambil memberikan segelas air pada sang pelayan.
Xier segera meneguk air yang ia terima kemudian mengatakan, "Nona, cepat pergi ke paviliun tuan besar! Mo Yan dan tuan besar sedang berkelahi hebat!"
Chu Yao terperanjat kaget. Wajah pucatnya semakin memutih. Tanpa menunda waktu, ia segera pergi meninggalkan paviliun dingin di iringi Xier dibelakangnya.
__ADS_1
Langkah kakinya begitu cepat hingga membuat derap langkah yang cukup nyaring di koridor paviliun.
Dalam beberapa menit, Chu Yao dan Xier sudah berada di paviliun pribadi sang jenderal. Nampak orang-orang memenuhi tempat itu.
Para pelayan seketika membuat jalan ketika melihat nona pertama Chu bergerak mendekat ke pusat keramaian.
Chu Ling mendengus benci tatkala menyadari sang kakak tiri telah berada hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
Sedangkan sang ibu, hampir tidak menyadari kehadiran Chu Yao akibat rasa kekhawatiran nya terhadap sang suami yang saat ini hampir sama babak belur nya dengan pengawal pribadi Chu Yao.
"Lihatlah kelakuan pengawalmu! Berani-beraninya dia menyerang ayah yang telah memberinya kehidupan! Sungguh tidak tau diuntung!" Cerca Chu Ling dengan semburat merah diwajahnya karena marah.
Chu Yao membalas dengan mendelik kasar, "Mo Yan tidak akan sembarang menyerang dan dia laki-laki yang tau balas budi."
"Persetan dengan teori bantahanmu! Sebaiknya kau memberinya hukuman agar memberi contoh kepada para pelayan lainnya. Hanya budak rendahan tapi beraniĀ bertingkah! Nyawanya saja tidak sebanding dengan satu helai rambut ayah!"
Chu Yao mengatupkan bibir dengan rahang yang mengeras. Jemarinya tiba-tiba diluar kontrol hingga tanpa sadar telah berada di leher sang adik tiri. Para pelayan serta nyonya Xun yang ada di antara mereka beralih fokus kepada luapan amarah Chu Yao.
"Apa yang kau lakukan?! Chu Yao, lepaskan Ling'er!" Pekik nyonya Xun dengan sorot mata panik saat melihat wajah sang anak memucat dengan leher yang memerah akibat cengkraman tangan Chu Yao.
Chu Yao tidak bergeming. Ia hanya fokus memberikan gertakan pada adik tirinya yang mulai kelewat batas, "Kau boleh mengataiku tapi tidak dengan Mo Yan! Sekali lagi kau bersungut-sungut, kupastikan gaun merah pernikahanmu menjadi pengantar kedalam peti matimu!"
Jemari Chu Yao terlepas dengan sentakan napas Chu Ling. Sang adik tiri tersedak dan terbatuk kecil. Nyonya Xun mencerca Chu Yao dengan makian dan membopong anak kesayangannya kembali ke kamar pribadinya.
Chu Yao tidak ambil pusing.
Ia bahkan memerintahkan semua orang pergi ke tempat mereka masing-masing. Terkecuali Xier. Kedua gadis itu mematung melihat pergulatan sang jenderal dan pengawal pribadi Chu Yao dari kejauhan.
Nampak kedua pria itu sudah memiliki memar di beberapa bagian tubuh dan wajah.
Xier beberapa kali mengernyit ketika melihat darah segar keluar dari bibir Mo Yan. Tanpa sadar gadis muda itu membuka rahasia yang sudah lama mereka simpan tanpa sepengetahuan sang majikan.
"Jika terus seperti itu, apakah pengawal Mo bisa bertahan? Bukankah efek pemindahan racun sudah mulai timbul akhir-akhir ini?"
"Apa maksudmu dengan pemindahan racun?"
Xier seketika menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya terbelalak kaget seakan-akan telah menyesali ucapan yang ia katakan.
"Katakan!" Desak Chu Yao dengan tatapan intimidasi dan provokatif.
Xier terdesak. Ia menelan saliva dan berusaha mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan. Namun Chu Yao semakin tidak sabaran.
"KATAKAN!!!" Ulang Chu Yao dengan sedikit hardikan hingga Xier memejamkan mata dan bergetar ketakutan.
Xier bersujud dan meminta ampunan. Ia terpaksa membuka rahasia yang sudah ia jaga. Dengan berat hati ia bercerita. Dari awal hingga akhir.
Lutut Chu Yao jadi lemah. Hampir-hampir membuatnya jatuh di atas tanah. Namun Xier menangkap tubuh sang majikan dengan tangkas.
"Jadi racun laknat yang diberikan Shu Xian saat itu dipindahkan kepada Mo Yan?"
Xier mengangguk dengan genangan air mata, "benar nona. Pengawal Mo yang meminta kami merahasiakan semua ini dari nona. Semua ini kami lakukan demi kebaikan nona. Mohon nona tidak menghukum pengawal Mo dan yang lain. Saya bersedia menanggung semuanya."
Chu Yao menggigit bibir dan mengernyit. Pandangannya lurus menatap sosok Mo Yan yang tengah memasang kuda-kuda dengan napas yang terengah-engah.
"Kau bilang racunnya akhir-akhir ini mulai kumat?"
Lagi-lagi Xier menggangguk membenarkan.
"Pantas saja performa Mo Yan tidak begitu baik melawan ayah. Mungkin saja saat ini fisik Mo Yan tidak stabil. Nampaknya ia sedang menahan sakit akibat racun keparat itu."
Chu Yao mengepalkan tangan dan menoleh kearah sang pelayan, "Xier, perintahkan paman Tong berjaga di kamarku dengan kotak obatnya. "
Xier tak menunda waktu. Ia pun pamit dan segera menunaikan perintah sang majikan tanpa bantahan sedikitpun.
Sedangkan Chu Yao, ia melenggang dengan percaya diri kearah dua orang yang masih bertarung didepannya. Dengan satu tarikan napas, suara gadis itu menggema dan menyebabkan aktifitas kedua orang yang sedang bertarung itu terhenti sejenak.
__ADS_1