
Beberapa hari kemudian..
Setelah ibu kota dilanda badai salju hebat, nampak setiap orang di kediaman masing-masing bergotong-royong membersihkan tumpukan salju yang menggunung di setiap sisi.
Pun dengan jalan kota, pemerintah mengerahkan ratusan prajurit di setiap daerah untuk membersihkan akses keluar masuk itu secara merata.
Tidak terkecuali kediaman Chu yang memang sedang mempersiapkan pesta pernikahan sang putri bungsu.
Semua pelayan dikerahkan untuk melenyapkan sisa-sisa badai di setiap paviliun. Kecuali paviliun dingin milik Chu Yao.
Bibi Hui dan Xier menggerutu dengan perilaku pilih kasih yang dilakukan nyonya Xun kepada mereka.
Kedua orang itu ingin mengadu pada sang majikan namun sepertinya sang majikan pun enggan membahas masalah tersebut kepada sang ayah.
"Biarlah, mari kita lakukan semampu kita saja. Yang penting bagian-bagian yang sering kita lewati sudah bersih dari sisa badai." Komentar Chu Yao menanggapi aduan Xier tentang sikap pilih kasih Nyonya Xun dan tumpukan salju yang menyelimuti paviliun mereka.
Mo Yan memasangkan mantel tebal berbulu putih kepada Chu Yao yang berdiri di pintu kamar.
"Kau nampak berbeda dengan pakaian musim dingin yang kau kenakan." Goda Chu Yao saat melihat pakaian baru yang ia belikan terpasang pas di badan tegap Mo Yan.
Pemuda itu tak bergeming. Masih tetap berdiri dengan wajah datar yang menjadi ciri khasnya.
Namun Chu Yao malah tersenyum. Meraih telapak tangan pria itu dan menggenggamnya dengan erat.
"Sudah minum tonikmu?" Pertanyaan Chu Yao diiringi anggukan pelan pria itu.
Chu Yao menengadah, memandang langit putih tanpa awan. Kemudian pandangannya beralih pada sosok Mo Yan disampingnya.
Sorot mata perempuan itu menatap dengan tatapan menyelidik.
Mo Yan berpura-pura tidak menyadarinya. Ia malah bertanya-tanya mengapa Chu Yao melayangkan pandangan seperti itu kepadanya.
"Apa kau tau apa yang dilakukan ayah akhir-akhir ini? Aku dengar beliau tidak keluar dari ruang pribadinya selama dua hari. "
Tangan Mo Yan mengepal tanpa sebab, "Jenderal nampaknya mengumpulkan informasi tentang jumlah kekayaan yang dimiliki perdana menteri dan permaisuri."
Chu Yao mengangkat alis, "benarkah?"
"Ya." Jawab Mo Yan pendek.
Bola mata Chu Yao bergulir dari wajah hingga gerakan Mo Yan yang tidak fokus, "Apakah ayah berencana menyerang kedua orang itu dengan bukti yang sudah ia kumpulkan di rapat rutin Kekaisaran hari ini?"
"Sepertinya tidak. Jenderal tidak pergi ke istana hari ini. Jika dugaan saya tidak salah, kemungkinan bukti informasi yang beliau kumpulkan telah beliau serahkan kepada pangeran kedelapan."
Chu Yao tidak lagi membahas tentang sang jenderal. Kini fokusnya teralih pada gerakan Mo Yan yang tidak seimbang dengan butiran keringat yang mengalir di wajah tampannya.
Pemuda itu mundur tanpa sengaja dengan tangan yang memegang kepala.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Chu Yao disertai gelengan kepala Mo Yan.
Mo Yan berpura-pura.
Sejak ia meneguk tonik yang Chu Yao sediakan, tubuhnya terasa semakin melemah. Kepalanya berdenyut diiringi rasa kantuk yang semakin berat.
'Ada yang aneh dengan komposisi tonik itu!' Mo Yan membatin.
__ADS_1
Chu Yao mengulum senyum misterius, "Sebaiknya kita masuk kedalam. Cuaca dingin memang tidak baik untuk pemulihan tubuhmu."
Dengan gerakan anggun, Chu Yao menarik Mo Yan untuk mengikutinya masuk kedalam kamar. Ia tidak segan meminta pria itu duduk di tepi dipan.
Mo Yan menaruh curiga dengan gelagat Chu Yao yang tidak biasa. Namun ia tak berani menyampaikan apa yang ia pikirkan.
Mungkin itu hanya merupakan dugaannya. Tidak mungkin gadis itu tega membuat dirinya tak berdaya.
Perlahan tapi pasti pandangan Mo Yan berkabut. Sesekali ia menggelengkan kepala menahan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang.
Jemarinya yang besar mencengkram erat ujung selimut. Berusaha mempertahankan kesadarannya.
Akan tetapi usahanya itu tidak membuahkan hasil. Tubuh terlatih nya tetap kalah dengan efek obat yang diberikan Ye Zuan kepada Chu Yao. Pemuda itu jatuh dengan napas yang memburu dikarenakan rencana yang telah disusun oleh perempuan yang ia cintai.
"A, apa... Apa yang telah kau berikan dalam tonik itu?" Tanya Mo Yan dengan kesadaran yang hampir hilang.
Chu Yao menghampiri Mo Yan dan mengelus wajah sang pria dengan perasaan campur aduk. Rasa sedih dan ngilu dihatinya tidak bisa ia sembunyikan.
"Maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini demi kebaikanmu. Kembalilah kepada keluargamu. Jalani hidup dengan baik. Lupakan semuanya! Lupakan hubungan kita! Kau berhak bahagia. " Ucap Chu Yao dengan mata yang merah dan berkaca-kaca.
Rahang Mo Yan mengeras dengan kerongkongan yang tercekat. Ia ingin memberontak. Raut wajahnya seolah ingin menyampaikan bahwa tindakan yang Chu Yao lakukan itu tidak benar. Namun suaranya tidak bisa keluar.
Perempuan itu bertindak terlalu ekstrem. Tanpa memperdulikan perasaan Mo Yan sedikitpun. Tatapan frustasi dan tak berdaya pria itu telah membuat luka baru di hati Chu Yao.
Patutlah Chu Yao dipanggil dengan gadis arogan yang tak punya hati. Selain mudah membunuh orang tanpa rasa takut, ia pun dengan mudah melakukan hal yang diluar nalar seperti itu kepada orang yang ia kasihi.
Alih-alih orang lain, Chu Yao sendiri telah merutuki dirinya.
"Maafkan aku.. Maafkan..."
Chu Yao meraih tangan yang gemetar itu dan menempatkannya tepat di pipinya yang telah basah oleh air mata.
"Aku masih disini. Tidurlah dengan nyenyak. Kelak kau akan melihat pemandangan baru ketika kau membuka mata.. " Bisik Chu Yao dengan pelukan erat.
Mo Yan tak memberi respon. Matanya perlahan terpejam dan tubuhnya lunglai. Pemuda itu sudah tak sadarkan diri. Ia akan tertidur dalam waktu yang cukup lama.
Chu Yao menggigit bibir. Mengecup puncak kepala Mo Yan begitu dalam. Bendungan air mata tak lagi bisa ia tahan. Seolah-olah baru menyadari rasa tidak rela untuk melepaskan.
"A-Wei.. "
Pria muda yang sejak tadi bersembunyi dengan sekejap muncul ketika namanya dipanggil.
"Apa kau sudah menyampaikan pesanku?"
"Sudah, nona. Mereka telah bersiap menunggu saya membawa kakak."
"Bagus... " Ucap Chu Yao dengan nada datar, ".. Bawalah Mo Yan pergi sekarang juga! Pastikan ia tidak sadar sampai kalian tiba di Alorra dengan selamat!"
A-Wei mematuhi perintah. Dengan satu gerakan ia telah membawa Mo Yan dalam gendongannya.
Chu Yao membalikkan badan ketika A-Wei hendak keluar kamar. Namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti dengan keragu-raguan.
"Tapi, bagaimana dengan nona?"
Tanpa membalikkan badan, Chu Yao menjawab, "Jangan khawatirkan aku. Kau cukup temani Mo Yan. Gantikan posisiku untuk memantau pemulihannya. Pastikan dia sehat. Bagaimanapun caranya!"
__ADS_1
Pemuda itu memandang punggung Chu Yao dengan tatapan ironis. Sebenarnya ia pun tidak tega meninggalkan sang nona yang sudah lama ia jaga dengan cara yang memprihatinkan.
Apa lagi jika tuan yang sesungguhnya membuka mata dan kelak menyadari ia meninggalkan Chu Yao berjuang sendirian. Mungkin saja nyawanya tidak akan selamat.
Namun sebagai seorang bawahan, ia tidak memiliki pilihan. Ia harus menjalankan perintah tanpa melakukan negosiasi apapun terhadap majikannya.
Dan ini adalah keputusan terakhir yang paling baik untuk semuanya. Ia tidak akan menyesal jika kepalanya kelak melayang karena luapan amarah sang penerus terakhir Alorra.
"Baik. Tolong jaga diri nona."
A-Wei seketika menghilang. Menyisakan suasana dingin menusuk di rongga pernapasan Chu Yao.
Di tikungan jalan, kereta jenderal Luo dan menteri Chen menunggu dengan rasa tidak sabar.
Sesekali mereka menyibak tirai jendela hanya untuk memastikan kedatangan A-Wei bersama Mo Yan.
Tidak lama, siluet A-Wei nampak dari kejauhan.
Kedua orang tua itu membuka tirai pintu selebar mungkin untuk membantu A-Wei memasukkan tubuh Mo Yan kedalam kereta dengan mudah.
Dalam sekejap, rombongan itu melesat laju meninggalkan ibu kota.
Ditempat lain, Xier membawa dua porsi makan malam seperti biasa ke kamar Chu Yao.
Belum sempat ia meletakkannya di atas meja, sang majikan malah memintanya membawa kembali semua makanan itu tanpa perlu menyisakan satupun.
"Mulai sekarang, cukup sediakan satu porsi makanan saja." Perintah Chu Yao yang tidak bergerak sedikitpun dari tumpukan buku yang ia baca.
"Baik. Makanan pengawal Mo akan saya antarkan ke kamar nya langsung."
"Tidak perlu!" Cegah Chu Yao dengan tatapan sendu, "Mo Yan sudah pergi." Tambahnya dengan suara serak. Seolah-olah sedang berpura-pura tegar menahan rasa sakit yang hampir membuncah di dadanya.
"Dia tidak akan kembali, jadi kau tidak perlu lagi menyiapkan apapun untuknya. Mulai besok tolong bereskan semua barang milik Mo Yan dan simpan di tempat penyimpanan. Aku ingin kamar itu segera kosong."
Senyum pura-pura Chu Yao membuat gerak Xier mendadak menjadi serba salah.
Pelayan itu memang tidak mengetahui penyebab kepergian Mo Yan, namun satu hal yang membuatnya tak habis pikir, bagaimana bisa pria itu pergi begitu saja padahal hubungan antara Mo Yan dan sang majikan sudah sebegitu dalamnya.
Bahkan, sudah menjadi rahasia umum di paviliun dingin bahwa keduanya sering menghabiskan waktu bersama. Tidak hanya pada siang hari. Pun, malam hari keduanya kerap berdua.
Siapapun tidak akan mengira jika pria itu akan pergi meninggalkan perempuan berparas cantik itu sendirian.
Benar-benar sesuatu hal yang diluar dugaan.
Namun Xier tak berani bertanya. Ia hanya mengangguk patuh dan pergi meninggalkan sang majikan dalam genggaman sang malam.
Cuaca dingin akibat salju yang kembali turun hampir tidak ada bedanya dengan suasana kamar saat itu.
Begitu menusuk hingga ke tulang sum-sum.
Chu Yao bergetar. Merengkuh tubuhnya dengan jemarinya yang mungil sembari kembali menyibak selimut tebal dan berbaring nyaman di atas tempat tidurnya yang cukup luas.
Meski di sudut ruangan terdapat beberapa perapian kecil sebagai penghangat, namun tak bisa mengurangi rasa beku dalam hatinya.
Pelan, mata bening itu terpejam. Bukan pengaruh dari rasa kantuk. Namun lebih pada rasa lelah yang di melebihi batas.
__ADS_1
Bagaimanapun perasaannya, setidaknya, kondisi tubuh harus sehat untuk sekedar ikut meramaikan pesta pernikahan sang adik tiri esok hari.