
Paman Tong mengetuk pintu kamar Mo Yan dengan kotak obat-obatan yang cukup besar ditangan kirinya. Tak lama pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok pria yang tengah berusaha memakai kembali baju luarnya.
"Jangan bergerak! Lepaskan bajumu! Lihatlah luka-luka itu kembali meradang. Kau ceroboh sekali kali ini, Mo Yan."
Paman Tong mengomel panjang sambil membuka kotak obat di atas meja. Ia mendudukkan Mo Yan di atas dipan dan melihat seberapa parah luka-luka yang diderita laki-laki pendiam itu.
Nampak luka dipunggung Mo Yan kembali terbuka dan mulai bernanah. Kengerian dari wajah tua paman Tong tak bisa disembunyikan. Ia membayangkan rasa sakit yang telah lama ditahan pengawal itu.
" Sungguh ceroboh! Benar-benar ceroboh! Meskipun kau kuat tapi sebagai manusia kau mempunyai batasan. Apa kau memang ingin menyiksa dirimu sampai mati. Kalau kau mati siapa lagi yang melindungi perempuan itu. Kau pikir kami bisa menggantikan mu? Untuk menyelamatkan kepala kami saja kami tidak mampu! Dasar bodoh!"
Senyum simpul terulas dibibir Mo Yan, kekesalan pria tua itu telah membuat rasa geli dihatinya, "ini tidak sakit, paman. Tapi kali ini paman benar, saya melakukan hal yang ceroboh."
Paman Tong menatap lekat-lekat wajah Mo Yan yang terlihat sendu. Sembari membalutkan perban di setiap luka, pria dengan rambut hampir memutih itu kemudian menghela napas panjang, "kejadian apa lagi yang kalian alami kali ini?"
Mo Yan hanya diam seakan tak mendengar pertanyaan orang tua itu. Masih dengan rasa jengkel, paman Tong melanjutkan, "Entah apa yang sedang kalian selidiki, kalau itu berhubungan dengan wafatnya selir Meng, paman sarankan, berhentilah!"
Kotak obat tertutup dengan rapat. Raut wajah tua itu menampakkan keseriusannya, "ada beberapa hal yang seharusnya tidak perlu diketahui jika pada akhirnya akan melukai diri sendiri. Tapi, sebagai orang yang hanya memberi pelayanan dan kesetiaan, kita memang tidak akan pernah memiliki sebuah pilihan. Selain mengikuti apa yang diperintahkan tuan kita."
"Bukankah itu seperti bumerang." Kekeh Mo Yan.
"Disaat seperti ini kau masih bisa tertawa?" Paman Tong menggelengkan kepala.
"Saya tidak bermaksud meremehkan nasihat yang paman berikan, hanya saja jika saya berada diposisi nona, saya pasti akan melakukan hal yang sama. Bahkan lebih dari yang nona lakukan sekarang."
Roman muka pria tua itu perlahan menjadi ambigu. Di satu sisi ia memahami kesulitan Chu Yao dan di satu sisi ia tak ingin perempuan yang sudah dianggapnya seperti anak kandung sendiri itu terlibat urusan pelik. Yang akhirnya akan menyakiti mental dan fisik gadis itu sendiri.
"Apa paman mengkhawatirkan sesuatu?" Tanya Mo Yan penuh selidik.
"Tidak, hanya sedikit mengkhawatirkan kalian berdua." Jawab paman Tong pura-pura acuh.
"Benarkah? Apa karena paman tidak mau nona mengetahui hal yang sudah paman ketahui?"
Paman Tong menelan ludah. Jakun tuanya naik turun seperti sedang menelan kegelisahan. Ia tidak menjawab. Malah seakan ingin buru-buru pergi meninggalkan obrolan itu.
"Saya tau paman mengetahui sesuatu dan sengaja bungkam demi keselamatan nona. Namun, paman juga tau betapa keras kepalanya kami berdua. Saya akan melakukan apapun demi memuaskan rasa penasaran nya. Meski harus menjebol benteng Kekaisaran."
"Kau!"
Perkataan Mo Yan yang penuh penekanan ternyata miliki efek intimidasi yang kuat. Tangan tua paman Tong gemetar ketika menutup pintu kamar.
Ruangan itu seketika hening. Tanpa menunda waktu, Mo Yan merapikan pakaiannya dan mengambil pedang yang tergeletak diatas meja. Dengan gerak kilat, sosok tegap itu telah melompati tembok dan ke luar dari kediaman.
Ia menuju ke sebuah kedai tertutup yang berada di salah satu jalan sempit. Jalan itu hampir-hampir tidak pernah dilalui orang-orang.
Begitu sampai, Mo Yan segera disambut oleh jenderal Luo dan seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Jenderal Luo membimbing Mo Yan masuk ke ruangan paling dalam dari kedai itu dan segera menutup pintu. Tak lupa ia memastikan semua jendela telah tertutup rapat agar semua informasi tidak bocor kemana-mana.
"Kalian hanya berdua? Dimana menteri Chen?" Tanya Mo Yan sembari mempersilakan kedua orang didepannya duduk bersama. Namun pemuda asing itu tetap berdiri beberapa langkah darinya.
"Menteri Chen sudah kembali ke Alorra. Ada beberapa urusan yang harus beliau tangani secepatnya. Sebagai gantinya, saya membawa A-Wei. Kelak dia akan menjadi pengawal pribadi dan berjaga disekitar yang mulia." Jawab jenderal Luo dan disusul salam hormat A-Wei.
Mo Yan mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan A-Wei menyudahi sikap formalnya.
"Hmm, Berarti jenderal pun akan kembali ke Alorra dalam waktu dekat?" Tebak Mo Yan sambil menyeruput teh yang sudah dituangkan oleh A-Wei.
"Benar. Saya juga harus kembali secepatnya untuk memundurkan pasukan yang bertahan di perbatasan."
"Memundurkan pasukan?"
__ADS_1
"Benar yang mulia. Sebenarnya ada beberapa informasi yang memang akan saya sampaikan. Salah satunya alasan mengapa yang mulia harus segera pulang dan meninggalkan negara ini secepatnya."
Mo Yan diam tanpa memberi jeda, namun sudut matanya seketika menajam dengan fokus yang lebih meningkat.
"Meski negara kita telah melakukan perjanjian damai dengan Airland namun pada kenyataannya hubungan kedua negara ini tidak bisa dikatakan sedang baik-baik saja. Pihak Kekaisaran airland sepertinya masih ingin membuat negara kita tunduk dibawah kekuasaan mereka. Kabar tentang pencarian penerus terakhir Alorra yang masih hidup ternyata sudah sampai ditelinga Kaisar Airland. Dan itu membuat Kaisar saat ini merasa was-was.. "
"Maka dari itu pihak istana memburu kalian sampai ke kota Nian agar bisa menjadikan alasan untuk melakukan invasi ke Alorra. "
Jenderal Luo menganggukkan kepala ketika mendengar Mo Yan menyimpulkan informasi darinya.
"Benar. Sebelumnya perdana menteri memang telah menurunkan perintah siaga satu dan semua pasukan sudah disebar dititik-titik tertentu untuk mengantisipasi penyerangan dari Airland. Salah satunya di perbatasan."
Jenderal Luo menarik napas dan kembali melanjutkan, "tapi tiga minggu yang lalu kami mendapat kabar bahwa tak ada tanda-tanda penyerangan dari pihak Airland di perbatasan. Bahkan beberapa hari yang lalu ada dekret yang disampaikan langsung oleh utusan Airland dengan stempel resmi Kekaisaran. Isi dekrit itu mengatakan jikalau pihak Airland tidak akan melakukan bentuk penyerangan apapun kepada Alorra selama Kaisar Long menjabat. Pasukan mereka yang berada di perbatasan pun telah pergi meninggalkan tempat itu beberapa hari yang lalu."
'Perbatasan? Bukankah pasukan jenderal Chu yang berjaga di area itu. ' pikir Mo Yan.
"Maka dari itu menteri Chen buru-buru kembali membantu perdana menteri untuk mengatur kembali sistem keamanan kerajaan kita. Perdana menteri berpesan agar kami segera membawa yang mulia kembali. Jika sampai pihak Airland menemukan yang mulia, kami takutkan isi dekrit sebelumnya tidak akan berlaku lagi."
"Mereka tak akan menemukan jati diriku dengan mudah." Bantah Mo Yan dengan wajah dingin.
"Meskipun begitu, yang mulia memang harus segera meninggalkan negara ini!" Elak jenderal Luo dengan wajah tegas.
Mo Yan tak bergeming bahkan menutup kedua matanya beberapa waktu. Jenderal Luo kembali membujuk pria dingin itu.
"Saya tau alasan yang mulia bertahan di kediaman itu. Tapi itu sungguh merupakan penghinaan. Status yang mulia begitu tinggi namun hanya menjadi seorang pengawal pribadi putri jenderal Kekaisaran Airland. Bukankah itu sungguh keterlaluan!"
"Lihatlah tubuh yang mulia penuh luka hanya karena sifat ambisius dan kekanak-kanakan gadis itu. Sejak Yang mulia mengajak saya bertemu dibawah tebing dua hari yang lalu, saya merasa gadis itu hanya akan menyebabkan bencana di hidup Yang mulia.."
"Yang Mulia harus segera meninggalkan gadis itu. Entah mengapa saya merasakan adanya bahaya yang sedang mengintainya. Pokoknya Yang mulia bisa menemukan banyak perempuan yang lebih cantik darinya di Alorra. Jadi... Pulanglah bersama kami secepat mungkin."
"Lebih baik kau tutup mulutmu! Ada beberapa hal yang tidak kau tau tentang diri nya. Jangan sampai aku menghukum mu hanya karena penilaian singkat mu terhadapnya." Ancam Mo Yan dengan gertakan tajam.
Keberanian jenderal Luo pun menciut. Ia menundukkan badan dan meminta maaf atas sikap lancangnya barusan. Ia menyadari bahwa dirinya sudah terbawa emosi.
"Jika kau ingin aku kembali dengan cepat, aku harap kau bisa membantu ku memecahkan masalah yang sedang ku hadapi." Ucap Mo Yan dengan sebuah transaksi.
"Saya siap melaksanakan perintah!" Tegas jenderal Luo.
Mo Yan kembali tenang namun sorot matanya tetap setajam sebelumnya, "perintahku tetap sama seperti yang ku katakan dua hari yang lalu. Jika kau berhasil membantu ku menyelesaikan masalah ini, maka aku akan segera kembali ke Alorra."
"Baik. Saya akan melakukannya sesuai yang mulia perintahkan. Namun, saya harap yang mulia pun bisa menepati janji."
Meski nada bicara jenderal Luo terkesan berani, namun Mo Yan memaklumi nya. Sikap orang tua itu dikarenakan beban tanggungjawab yang ditanggung olehnya.
"Sebagai laki-laki dewasa dan juga penerus kerajaan Alorra, pantang bagiku melanggar janji. kau bisa memegang sumpahku padamu." Ucap Mo Yan menyakinkan jenderal Luo.
"Kalau begitu, mulai sekarang A-Wei akan berjaga-jaga disekitar yang mulia. Perintahkan dia untuk menghubungi kami jika yang mulia perlu berkomunikasi atau membutuh sesuatu dari kami."
Mo Yan mengangguk pelan dan kembali meminum teh nya. Jenderal Luo memberi hormat dan dengan sikap berwibawa ia pun pergi dari ruangan itu.
"A-Wei." Panggil Mo Yan pada pengawal barunya itu. Ada sedikit rasa geli ketika menyadari mereka memiliki status yang sama dalam kondisi yang berbeda.
Sang pengawal segera mendekat dan membungkukkan badan dengan sikap yang siap menerima perintah.
"Di kediaman jenderal akan ada banyak prajurit bayangan yang berkeliaran. Aku ingin kau menyesuaikan diri dan menyamar menjadi salah satu dari mereka. Selama berada di sana, kau wajib manggil ku dengan sebutan kakak. Aku akan mengenalkan mu sebagai juniorku agar kau lebih leluasa bergerak di sana." Jelas Mo Yan.
"Baik, yang mulia. " Jawab A-Wei dengan patuh.
__ADS_1
"Pergilah dan temui aku di kamarku."
A-Wei sekali lagi mengangguk dan kemudian berpamitan untuk berubah sesuai dengan penyamaran yang diperintahkan tuannya. Mo Yan pun beranjak dari tempat itu dan kembali menyusuri genteng-genteng rumah dengan lompatan ringannya. Ia kembali ke paviliun dingin, kediaman jenderal Chu.
***
Di paviliun dingin...
Setelah cukup lama berendam, Chu Yao segera memakai pakaian santainya dan duduk disamping jendela. Spot itu memang merupakan tempat kesukaannya ketika berada di dalam kamar.
Tak berapa lama pintu terketuk dan muncullah lelaki tua yang memang sudah ia tunggu kedatangannya.
"Masuklah paman." Ucap Chu Yao dengan suara ramah.
Paman Tong mengangguk pelan dan meletakkan kotak obat andalannya di samping Chu Yao. Alis pria tua itu mengernyit melihat luka ditangan dan dagu gadis itu. Pun pada bekas ikatan yang masih meninggalkan bekas kebiruan yang samar di kedua kakinya.
Chu Yao pura-pura tidak melihat perubahan raut wajah paman Tong. Ia sudah bisa menduga bahwa pria berjanggut tipis itu akan kembali mengomelinya.
Namun dugaan Chu Yao kali ini meleset. Kebungkaman justru dipraktekkan paman Tong kepadanya. Sampai selesai mengobati, tak ada pembicaraan apapun yang terjadi diantara mereka.
"Ada apa dengan paman?" tanya Chu Yao membuka pembicaraan. Ia sudah tidak tahan dengan kebisuan yang membatasi ruang lingkup mereka berdua.
"Saya baik-baik saja. Nona tidak perlu cemas." Jawab paman Tong dengan santun tanpa mengalihkan pandangan dari obat-obatan yang baru saja dibereskan nya.
"Jika tidak ada perintah lainnya, ijinkan saya undur diri." Tambah pria tua itu yang nampak tidak ingin memperpanjang pembicaraan.
Chu Yao menjadi sedikit canggung dan otomatis mengiyakan permintaan pria tua itu. Sepertinya ada suatu telah terjadi ketika paman berada di kamar Mo Yan. Meski ia sangat ingin bertanya, namun rasa hormat nya telah menghalangi niat tersebut.
Chu Yao akan bersabar, menunggu kesempatan itu datang dengan sendirinya.
Begitu paman Tong menghilang, pintu kamar kembali diketuk oleh seseorang. Kali ini Xier masuk membawa dua porsi makan malam dan dua mangkuk obat secara bersamaan.
"Kau tidak mengantarkannya langsung ke kamar Mo Yan?" Tanya Chu Yao ketika semua piring berisi makan telah siap di atas meja makan.
"Saya tadi sudah kesana, tapi kamar itu masih kosong. Saya kira pengawal Mo disuruh kesini oleh nona. Makanya saya bawa semua ini kesini." Jelas Xier.
Chu Yao mengetukkan jemarinya di atas meja disamping jendela. Perempuan cantik dengan rambut hitam panjang tergerai itu hanya diam mendengar penjelasan pelayan pribadinya.
"Apa saya bawa saja ini kembali ke kamar pengawal Mo?" Tanya Xier sedikit bingung menafsirkan ekspresi sang majikan.
"Tidak usah, biarkan saja disini. Oya, apa kau tau apa yang terjadi pada paman Tong?"
"Paman? Beliau baik-baik saja. Apa ada hal aneh yang nona temukan saat bersama paman barusan?" Xier malah balik bertanya.
Chu Yao memijit keningnya yang tidak sakit. Ia sedikit terkekeh, salah besar telah bertanya pada Xier yang polos. Gadis itu takkan bisa membaca raut wajah orang-orang yang memang pandai menjaga air muka mereka seperti Mo Yan atau paman Tong.
"Sudahlah, apa bibi Hui bertanya sesuatu ketika kami kembali?"
"Iya tapi juga tidak... " Xier berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "... Pada awalnya bibi begitu antusias ingin bertemu dengan nona. Beliau menanyakan keadaan nona. namun entah kenapa setelah saya bilang bahwa badan nona dan pengawal Mo banyak luka, entah mengapa beliau tidak jadi menemui nona."
"Apa kau tau alasannya?"
"Beliau hanya bilang tidak ingin mengganggu waktu istirahat nona. Bahkan makanan ini saya sendiri yang mengantar atas permintaan beliau. Seperti nya bibi sedang menunggu paman untuk menceritakan kondisi nona secara langsung."
"Baik lah. Kau boleh pergi. Bawa kembali makanan ini. Cukup tinggalkan dua mangkuk obat itu saja."
Perasaan Chu Yao semakin tidak enak. Rasa curiga semakin bermunculan di hatinya. Ia menyudahi pembicaraan dan kembali dalam lamunan ketika sang pelayan sudah hilang didepan mata.
__ADS_1