
Cakrawala nampak gelap ketika Chu Yao dan A-Wei keluar dari sebuah rumah makan kecil. Jalan poros ibukota begitu ramai. Terlihat hiruk pikuk orang-orang yang berlalu-lalang.
Dari orang tua hingga anak-anak nampak sukacita menyambut pesta puncak di festival terakhir musim gugur.
Banyak pasangan muda yang saling mengabadikan momentumnya di malam yang meriah itu. Tak jarang Chu Yao menemukan beberapa pasangan yang sedang bermanja. Berpura-pura marah agar pasangannya mau membujuknya.
Chu Yao terkekeh geli namun juga merasa kosong tiba-tiba. Berada diantara orang banyak, entah mengapa tetap merasakan seperti orang asing yang sendirian.
"Nona, sebaiknya kita waspada. Sepertinya ada yang membuntuti kita sejak kita keluar dari rumah makan tadi." Ucap A-Wei setengah berbisik.
"Iya, aku sudah menyadarinya. Sebaiknya kita arahkan mereka ketempat yang lebih lengang." Balas Chu Yao yang melambatkan langkah kakinya.
A-Wei mengerti, akan berbahaya jika menimbulkan keributan ditengah orang banyak. Terlebih-lebih sampai membuat orang yang tidak bersalah terluka karena perkelahian mereka.
"Berapa orang?" Tanya Chu Yao lagi.
"Mungkin sekitar dua puluhan orang atau lebih."
"Berapa orang yang ahli?"
"Belasan orang. Itu jumlah yang terlihat. Kita harus waspada dengan jumlah yang tidak terlihat."
"Berarti ada kemungkinan penyerang tambahan yang tersembunyi." Timpal Chu Yao dengan wajah yang serius.
"Benar. Nampaknya mereka bukan sekedar penjahat biasa. Mereka seperti orang-orang yang sudah terorganisir dengan baik."
Chu Yao melonggarkan pergelangan pakaian dan mempersiapkan belati pemberian Mo Yan di ujung telapak tangannya.
Mereka melangkah semakin cepat menyusuri jalan yang cukup lebar dan sepi. Raut wajah mereka menegang ketika beberapa orang berpakaian hitam nampak memperlihatkan diri mengikuti mereka dari belakang.
Dalam sekejap Chu Yao dan A-Wei terkepung. Keduanya refleks saling membelakangi. Memposisikan diri masing-masing dengan pedang dan belati.
"Tangkap perempuan itu hidup-hidup!" Raung salah satu pria berpakaian hitam.
Seketika orang-orang itu maju dan menyerang secara bersamaan. Perkelahian pun tidak bisa dihindari. Sabetan pedang A-Wei telah mengoyak tubuh orang-orang itu.
Satu per satu tubuh manusia bergelimpangan dengan posisi tak teratur. Meski banyak yang telah tumbang, namun semangat orang-orang itu tak surut untuk menyerang.
Gerakan A-Wei cukup tangkas. Dia dengan mudah membunuh beberapa orang sekaligus. Chu Yao pun tak kalah gesit. Meski kemampuannya tidak sebaik A-Wei, setidaknya ia masih bisa berkelit dan melakukan beberapa gerakan beladiri untuk melindungi dirinya sendiri.
Suara pedang saling beradu. Jeritan dan cipratan darah yang menggenang di atas tanah telah membuat tempat itu terasa mencekam.
Chu Yao dan A-Wei memundurkan langkah perlahan. Napas keduanya naik turun dengan cepat. Orang-orang berpakaian hitam itu nampak tidak ada habisnya. Mereka kalah jumlah. Meski A-Wei terampil bertarung, namun mereka akan tetap kalah karena kehabisan tenaga.
"Kakak Yao!" Suara khas Lin Lin memanggil Chu Yao dengan lantang dari ujung jalan.
Chu Yao otomatis membalikkan badan. Pandangan semua orang langsung tertuju pada sebuah kereta. Nampak Zhao Ming De dan adik perempuan nya beserta dua orang pelayan disamping mereka.
"Kenapa mereka di sini?" Keluh Chu Yao dalam hati.
Kecemasan mulai terlihat di wajah Chu Yao yang pucat. Kehadiran dua orang itu justru membuat rencana pelarian yang Chu Yao susun jadi amburadul.
"Nona, sebaiknya nona mundur dan berjaga didekat mereka. Biar saya yang menghadang gerakan orang-orang ini dibarisan depan." Tutur A-Wei dengan tatapan tajam.
"Baik. Jaga dirimu. Jangan sampai terluka." Balas Chu Yao dengan anggukkan paham.
Chu Yao berjalan mundur dengan posisi siaga. Belatinya terarah tepat didepan dadanya.
__ADS_1
"Nona Chu Yao, apa kau terluka?" Tanya Zhao Ming De penuh kekhawatiran.
"Kenapa kalian ada disini? Cepatlah pergi! Situasi ini sangat berbahaya!" Tukas Chu Yao masih dalam posisi menyerang.
"Kami kebetulan lewat. Menghindari jalan yang padat oleh orang-orang. Dan, akhirnya melihat kakak Yao dan orang-orang berpakaian hitam itu disini." Jelas Lin Lin sedikit ketakutan.
"Sebaiknya nona pergi bersama kami." Ajak Zhao Ming De. Wajah tampannya nampak memucat seolah menggambarkan ketidakbiasaan berada di situasi penuh darah semacam ini.
"Pergilah tanpa diriku! Kalian tidak akan aman jika aku bersama kalian. Para penyerang ini menargetkan ku!" Ucap Chu Yao sambil melakukan gerakan memutar dan menyabet leher pria berpakaian hitam.
Darah orang itu menyembur dan menciprat tepat di wajah Chu Yao. Lin Lin terkesiap dan berteriak. Sang kakak memeluk adiknya tanpa melepaskan pandangan dari sosok Chu Yao.
Berkali-kali Chu Yao menikam para penyerang itu bergantian. Hingga akhirnya ia kelelahan. Tubuhnya jatuh, memuntahkan darah segar dengan posisi berlutut dengan satu kaki. Napasnya memburu begitu dahsyat. Hampir-hampir membuat ia tidak bisa mendengar suara disekelilingnya.
Keringat yang jatuh berwarna merah bersamaan dengan darah yang berada di sekujur tubuhnya.
Zhao Ming De bergidik melihat sosok cantik itu berubah menjadi seorang manusia dingin yang haus darah. Gadis itu tidak nampak seperti gadis yang ia kenal.
"Sudah kukatakan dari awal, bukan?! Sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini." Seringai Chu Yao sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
"Nona awas!" Suara A-Wei menggema memecah malam. Ia melemparkan pedangnya tepat menembus perut salah satu pria berpakaian hitam yang hendak menyerang Chu Yao dari belakang.
A-Wei berbalik dan menghindar ketika sabetan pedang lainnya hampir mengenai tubuhnya.
Namun beberapa saat kemudian seorang lainnya berhasil mengunci gerakan Chu Yao. A-Wei refleks mendekat. Pengawal itu melakukan gerakan melompat dan akhirnya terluka disalah satu lengan ketika membebaskan Chu Yao dari cengkraman penyerang itu.
Chu Yao bangkit dengan cepat dan menahan tubuh A-Wei yang terjatuh. Gadis itu menyadari bahwa mereka terdesak. A-Wei terluka. Tidak hanya pada lengannya tapi juga dibeberapa bagian tubuh lainnya.
Para penyerang itu masih tersisa cukup banyak. Chu Yao memaksa otaknya untuk berpikir cepat. Ia bahkan menggigit bibir secara tidak sadar saat melihat orang-orang yang tidak berdaya dibelakangnya.
"Kalian ingin membawaku, bukan?" Ucap Chu Yao mengulur waktu, "lepaskan orang-orang yang tidak bersalah ini maka aku akan mengikuti kemauan kalian!"
Chu Yao mengerutkan alis. Pria ini tidak bermaksud melindungi dirinya, kan?
Jika benar demikian, Zhao Ming De inilah yang justru gegabah. Pria terpelajar itu bahkan tidak tau cara menggunakan pedang atau beladiri dasar.
Bagaimana bisa dia pasang badan melindungi Chu Yao dan yang lainnya disini? Bukannya selamat malah nanti mereka mati konyol.
"Nona! Saya masih mampu melawan mereka." Gumam A-Wei yang mencoba berdiri sambil meringis menahan sakit.
Chu Yao tidak perduli dengan perkataan kedua pria itu. Ia mengumpulkan sisa tenaga dan menarik tubuh tuan muda Zhao dengan kuat. Tubuh pria muda itu terlempar kebelakang.
Tanpa tedeng aling-aling, gadis itu maju menerobos pertahanan para penyerang. Beberapa orang berhasil ia lumpuhkan namun tubuhnya pun tak lepas dari luka-luka.
Disaat ia mulai pasrah, terdengar suara seorang pria yang sangat ia kenal tengah memanggil namanya dengan keras.
"CHU YAO!!"
Mo Yan menangkap tubuh Chu Yao yang limbung dalam pelukannya. Pria itu mengayunkan sabetan pedangnya kearah para penyerang tanpa merasa kesulitan sedikitpun.
Beberapa orang tewas seketika. Gerakan Mo Yan yang membabi buta telah membuat penyerang yang tersisa mundur beberapa langkah. Mereka saling bertukar pandang seakan tengah melakukan sebuah diskusi dengan isyarat lirikan mata.
Mo Yan menatap wajah Chu Yao yang pucat. Ia meletakkan gadis itu di pinggir dengan sangat hati-hati.
"Tunggulah disini." Gumam Mo Yan lirih.
Pria itu berbalik dengan tatapan tajam. Raut wajahnya telah berubah. Dingin dan nampak buas. Ia menyerang tanpa ampun. Memotong tubuh para penjahat itu dengan mudah.
__ADS_1
Mo Yan menghunuskan pedang ke organ vital, kemudian mengoyaknya hingga darah menyembur lepas dari arteri orang-orang itu.
Zhao Ming De menutup mata adiknya dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin Lin Lin melihat pemandangan yang mengerikan itu.
Tangan Zhao Ming De gemetar tatkala menyaksikan Mo Yan membunuh para penyerang dengan wajah bengisnya. Tak ada rasa belas kasihan di sana.
Siapapun yang melihat pemandangan itu pasti akan syok tak terkira. Tak terkecuali tuan muda Zhao. Perut pria itu terasa bergolak. Bau amis darah yang menyengat telah membuatnya memuntahkan isi perutnya.
A-Wei yang sejak tadi memperhatikan pria itu, akhirnya terkekeh geli dalam rasa sakit. Wajah pucat Zhao Ming De tidak kalah mengerikan dengan wajah pucat A-Wei yang kehilangan banyak darah.
"Anda bereaksi dengan sangat wajar, tuan muda." Ucap A-Wei lemah dengan tepukan di punggung Zhao Ming De.
Pria terpelajar itu membatu. Pikiran nya bahkan sempat menghilang beberapa waktu. Meski gemetar ia tetap tidak berpaling dari dua sosok tangguh didepannya.
Chu Yao dan Mo Yan.
Zhao Ming De menelan saliva nya ketika Mo Yan berlari memutar dengan cepat dan menghabisi beberapa orang penyerang yang tersisa dengan sekali tebasan.
Meski salah seorang dari mereka yang masih bernapas nampak mundur ketakutan dengan luka yang cukup serius, Mo Yan tak juga memberi ampun.
Pemuda itu mencengkram leher penyerang yang tersisa dengan kuat.
"Siapa yang mengirim kalian?" Tanya Mo Yan dengan suara berat dan dalam.
"Ti, tidak tau.. Ugh!" Jawab orang itu dengan lenguhan sakit dilehernya.
"Aku tidak bertanya untuk kedua kalinya!"
Cekikan dileher itu makin erat. Nampak wajah orang itu begitu tersiksa. Zhao Ming De merasa kasihan. Ia sedikit tidak tega dengan bentuk penyiksaan yang Mo Yan berikan.
Tapi ia memilih diam. Rasa tak teganya kalah telak dengan ketakutan yang ia rasakan terhadap perangai Mo Yan yang seperti predator pemburu.
"KATAKAN!" Ulang Mo Yan dengan cekikan yang semakin kencang.
"Ugh! Ka.. Sim.. Han.. "
Suara orang itu seketika menghilang. Lehernya telah lunglai. Ia meregang nyawa dalam sekali hentakan tangan.
Akhirnya semua penyerang itu tewas tak bersisa. Mo Yan menyarungkan pedang dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik bajunya.
Tiga butir obat ia masukkan kedalam mulut Chu Yao. Perempuan itu menelan dengan patuh dan kembali tertidur di pelukan sang pengawal.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Mo Yan kepada A-Wei sambil melempar botol obat.
A-Wei menangkap benda itu dengan tangkas, "Hanya luka luar. Saya bisa mengatasinya setelah cukup beristirahat."
Pandangan Mo Yan beralih pada dua adik kakak yang masih nampak syok disamping A-Wei.
"Bawa majikan kalian kembali kekediaman Zhao!" Perintah Mo Yan kepada dua pelayan yang berada dibalik kereta.
Para pelayan itu mengangguk patuh dengan wajah yang masih ketakutan. Mereka memapah kedua majikan mereka dengan sedikit tertatih.
Wajar saja, lutut mereka pasti masih lemas akibat menyaksikan pembantaian hebat barusan.
Mo Yan tak perduli. Ia kembali memfokuskan diri pada sosok perempuan yang tertidur lelah di pelukannya.
"Beristirahatlah sampai luka-lukamu sembuh. Aku yang akan menjaga dia." Ucap Mo Yan kepada A-Wei.
__ADS_1
Dengan gerakan ringan, ia membawa Chu Yao pergi meninggalkan tempat berdarah itu.