
Ya, Fu Hua adalah Chu Yao.
Seorang tahanan yang di eksekusi mati dengan racun pelebur tulang oleh kekaisaran Airland.
Empat tahun yang lalu, sebelum eksekusi dilaksanakan, menteri Kehakiman bertemu Lu Jin secara diam-diam dan menukar racun pemberian kaisar dengan racun yang di buat oleh Fu Bai atas perintah pangeran ke delapan.
Sekilas, gejala yang di rasakan penderita hampir sama. Hanya saja racun yang di buat oleh Fu Bai tidak memiliki efek mematikan. Racun tersebut hanya akan membuat organ penderita berhenti sementara waktu. Tidak lama. Asal segera di berikan penawar yang tepat sesuai waktunya.
Fu Bai yang waktu itu diperintahkan untuk menunggu di dalam kereta, tidak menyangka akan diminta Ye Zuan secara langsung untuk membawa pergi Chu Yao bersamanya.
Awalnya ia tidak begitu paham, namun selang beberapa waktu, saat Ye Zuan menemuinya dan memberikan penjelasan. Ia pun seketika mengerti dan membawa tubuh Chu Yao yang masih terbaring sakit sejauh mungkin dari jangkauan kekaisaran Airland.
Hingga saat ini, meski tidak rutin, dia masih berkomunikasi dengan pangeran ke delapan itu tanpa sepengetahuan Chu Yao.
Fu Hua, atau lebih tepatnya Chu Yao membuang wajah. Air mukanya tak lagi menunjukkan rasa damai. Fu Bai menelan saliva. Menyadari bahwa apa yang telah ia perbuat akan memicu pertengkaran baru terhadap perempuan keras kepala di sampingnya.
“Kenapa? Kau tidak suka jika aku menyebut nama aslimu?” Goda Fu Bai saat melihat respon Chu Yao yang detensif.
“Menurutmu?”
Pemuda itu terdiam sesaat. Keseriusan terpancar jelas dimatanya, “Sudah sekian lama itu terjadi. Apakah kau tidak bahagia hidup seperti ini bersama kami? Mengapa kau harus selalu menekan perasaanmu dengan kenangan masa lalu? Kau berhak bahagia.”
Chu Yao menggertakkan gigi. Nampak kedua alisnya berkerut menahan diri terhadap sikap Fu Bai yang suka berkata seenaknya sendiri.
“Kau!”
Chu Yao hampir-hampir memberi pria itu pukulan, namun ia menahan niatnya. Napasnya naik turun karena marah.
“Xiao Hua..”
“Baik, kau ingin aku membuka diri, bukan? Aku akan memenuhi keinginanmu!”
Chu Yao berbalik dan melompat menuruni bukit. Ia berlari meninggalkan Fu Bai yang terus memanggilnya. Chu Yao tidak perduli. Rasa kesal memenuhi rongga pernapasannya.
Chu Yao terus berlari tanpa henti hingga tiba di depan pintu rumah. Napasnya memburu di balik cadar. Ia melemparkan keranjang herbal ke sembarang tempat. Mencari sosok Sheng Xin di sekeliling rumah.
“Sheng Xin!” Panggil Chu Yao dengan suara keras berkali-kali.
Napasnya memburu. Menyebabkan dengung di kedua telinganya. Perempuan bangsawan itu akhirnya menunjukkan wajahnya yang polos bersama Fu Rong dan Ming Ming dari balik dapur.
“Ada apa kak? Kenapa kau mencari nona Sheng seperti ini?” Tanya Fu Rong yang menangkap keanehan dengan raut wajah Chu Yao yang tidak biasa.
“Kau ingin kami menolong kakakmu bukan?”
Sheng Xin menganggukkan kepala merespon pertanyaan yang diajukan Chu Yao.
“Baik! Kami akan ikut denganmu! Kita akan berangkat besok! Asal kau memenuhi semua syarat yang ku berikan!” Tutur Chu Yao dengan sedikit ancaman.
Sheng Xin mengiyakan sebelum Fu Bai datang. Laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu berteriak memanggil Chu Yao.
“Xiao Hua! Aku tidak bermaksud seperti itu!” Lengan Chu Yao di tarik kasar oleh Fu Bai.
“Terlambat!” Balas Chu Yao dingin.
Ia menarik kembali lengannya secara paksa tanpa memperdulikan raut wajah serba salah Fu Bai, “Jika kau tidak mau, maka aku akan tetap pergi bersama dengannya!”
Chu Yao menarik tangan Sheng Xin dan membawanya masuk ke dalam kamar.
“JANGAN ADA SEORANGPUN YANG BERANI MASUK!” Raung Chu Yao dari balik pintu.
Kedua pengawal pribadi Sheng Xin bergerak maju, namun Fu Bai dan Fu Rong menahan mereka dengan gelengan kepala. Keduanya seketika menurut. Membiarkan sang majikan bersama perempuan yang sikapnya tidak mudah di baca orang lain.
Cukup lama Sheng Xin berada di dalam hingga akhirnya dia keluar dengan wajah tenang. Ming Ming segera mendekat. Menanyakan keadaannya dengan perasaan cemas. Namun Sheng Xin menjawab dengan baik-baik saja.
Sheng Xin memanggil kedua pengawal pribadinya untuk mendekat. Ia membisikkan sesuatu di telinga salah satu pengawal dan beralih dengan bisikan lainnya pada pengawal selanjutnya. Kedua pengawal itu mengangguk siap dan segera pergi menunaikan perintah sang majikan tanpa bantahan.
Perempuan anggun itu memandang Fu Bai dan Fu Rong bersamaan, “Nona Fu Hua dan saya sudah sepakat. Besok kita akan pergi ke ibukota. Tuan muda Fu boleh memilih, ikut bersama kami atau tetap tinggal sendiri di sini?”
“Apa itu ucapan Xiao Hua?” Tebak Fu Bai di iringi senyum lebar Sheng Xin.
__ADS_1
Fu Bai menekan alis. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri. Ia bergumam pelan namun terdengar kesal, “Gadis itu! Lama-lama membuatku mati kena serangan jantung!”
Fu Rong menepuk pundak sang kakak dengan acuh, “Sumbu bom itu telah terbakar, apa kau berharap ia tidak akan meledak? Dasar bodoh.”
“Kau!”
Fu Rong menghilang ke dalam kamar sambil bersenandung meninggalkan Fu Bai yang semakin nampak kesal karena ejekan yang di lontarkan sang adik kepadanya.
“Tuan muda Fu tidak perlu cemas. Persyaratan yang nona Fu Hua berikan tidaklah sulit..” Ucap Sheng Xin dengan nada santai.
“Semoga ini bukan menjadi pertanda buruk.” Fu Bai lelah. Ia menghela napas panjang kemudian beranjak dari tempat itu tanpa memperdulikan raut wajah Sheng Xin yang tidak mengerti.
***
Perjalanan menuju ibukota Alorra cukup membuat mereka lelah. Terlebih untuk fisik Fu Rong yang sedikit lemah. Goncangan air laut yang cukup besar telah membuat gadis muda itu mabuk di sepanjang perantauan.
Fu Bai dan Chu Yao cukup tangguh bertahan untuk kategori orang yang pertama kali melakukan perjalanan laut. Meski ada rasa pusing, namun tidak membuat mereka memuntahkan isi perut layaknya sang adik.
Bagaimana dengan Sheng Xin dan para bawahannya?
Tidak perlu ditanya, orang-orang asli Alorra memang terkenal anti mabuk perjalanan laut. Mereka bahkan bersukacita menikmati rutinitas seperti biasa tanpa harus merasa linglung karena rasa pusing dikepala.
Setelah melakukan perjalanan menggunakan kereta kuda selama dua hari berturut-turut, kemudian beralih menggunakan kapal laut yang cukup besar selama tiga hari. Mereka pula harus kembali berkereta selama satu setengah hari untuk benar-benar sampai di tempat tujuan.
“Sungguh perjalanan panjang yang melelahkan, HUEEEEKK!” Tutur Fu Rong yang kembali memuntahkan isi perut untuk kesekian kalinya di jendela kereta.
“Jangan muntah sembarangan, Xiao Rong! Kau bisa membuat kita bermasalah dengan orang yang lewat!” Ucap Fu Bai mengingatkan.
Belum sempat Fu Rong membalas, kereta mereka telah di hentikan oleh seseorang di luar sana. Suara seorang perempuan berteriak meminta mereka turun dari kereta.
Fu Bai menepuk jidat, “Celaka, musibah datang.”
“Sebaiknya kau turun. Bukankah kau sangat ahli berdebat dengan wanita.” Sindir Chu Yao yang memberikan akunpuntur pada Fu Rong yang terkulai tak berdaya.
Fu Bai menelan saliva. Dia tidak membalas sindiran yang Chu Yao berikan, seakan-akan membenarkan apa yang adik angkatnya katakan.
Fu Bai berdecak sesaat kemudian memutuskan untuk keluar dari kereta.
Di luar sana, telah berdiri seorang perempuan muda dengan seorang wanita paruh baya. Perempuan muda itu nampak berang tatkala mendengar permintaan maaf dari Fu Bai. Seolah tak terima, ia kembali mencerca Fu Bai dengan bermacam perkataan.
“APA TUAN MUDA PIKIR DENGAN MEMINTA MAAF MAKA SEMUA AKAN BERAKHIR? LIHATLAH IBUKU! MUNTAHAN ITU HAMPIR SAJA MENGENAI WAJAHNYA! BAWA PEREMPUAN ITU KE SINI! DIA HARUS BERTANGGUNGJAWAB SENDIRI!”
“Saya benar-benar meminta maaf atas ulah adik saya. Saat ini kondisinya sedang tidak sehat. Jika nona tidak percaya, nona bisa melihatnya secara langsung di dalam kereta.”
“BANYAK ALASAN! CEPAT BAWA DIA KE SINI JIKA TIDAK AKAN KU PERKARAKAN INI PADA PIHAK YANG BERWENANG!”
Sang ibu mengelus punggung anak perempuannya itu dengan lembut, “Ibu baik-baik saja. Kau tidak perlu memperpanjangnya. Bukankah tuan muda ini sudah mengakui kesalahan dan meminta maaf atas nama adiknya.”
“Ibu jangan melunak, nanti orang-orang seperti mereka akan melunjak.” Bisik perempuan itu tanpa mengalihkan pandangan marah dari sosok Fu Bai.
Dari kejauhan kereta yang di tumpangi Sheng Xin terlihat. Semua orang yang tadi berkumpul dengan cepat membuka jalan. Nona Sheng keluar dari kereta di bantu sang pengawal. Seketika raut wajah perempuan yang sedang marah tadi berubah pucat. Tidak hanya dia, bahkan semua orang di sana pun demikian.
“Tuan muda Fu, kami tadi tidak melihat kereta yang kalian tumpangi jadi kami berinisiatif untuk kembali lagi ke sini. Apa yang terjadi?” Tanya Sheng Xin kepada Fu Bai sambil melirik perempuan di depannya.
Fu Bai menceritakan kronologi kejadian. Dengan gerak anggun, Sheng Xin menghampiri kedua wanita itu.
“Benarkah yang dia katakan?”
Perempuan muda tadi membenarkan dengan sedikit gerak canggung. Sheng Xin memanggil Ming Ming dan membisikkan sesuatu kepadanya. Ming Ming menganggukkan kepala kemudian masuk ke dalam kereta. Tidak berapa lama, pelayan muda itu kembali dengan sekantong uang perak di tangan. Dia memberikan uang tersebut kepada perempuan yang marah tadi.
“Ambillah uang ganti rugi itu. Saya mewakili para tamu agung kerajaan memohon maaf karena telah membuat kericuhan di jalan raya.”
Perempuan pemarah itu seketika berlutut ketakutan mendengar ucapan Sheng Xin, “Ma, maafkan saya karena telah lancang terhadap tamu agung kerajaan. Kami tidak berhak mengambil uang ini! Maafkan kami!”
Sheng Xin tidak perduli dan memerintahkan kedua rombongan kereta untuk kembali melanjutkan perjalanan. Fu Bai yang merasa sedikit kebingungan, memilih untuk diam dan mengikuti instruksi yang di berikan. Perjalananpun di lanjutkan. Meski Fu Bai berlagak acuh, pemuda itu tetap memikirkan perkataan Sheng Xin kepada perempuan tadi.
“Apakah kau juga berpikir bahwa nona Sheng itu utusan kerajaaan Alorra?” Celetuk Fu Bai yang tidak tahan untuk berdialog dengan Chu Yao.
“Kenapa? Kau merasa di jebak?” Chu Yao balik bertanya.
__ADS_1
“Apa kau tidak merasa demikian?”
Chu Yao menarik napas panjang dan menatap pria itu dengan seksama, “Tidak! Aku sudah mencurigainya sejak awal..”
“..Bukankah sudah kubilang lebih baik kita tidak berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Kau justru mengatakan padaku untuk membuka diri. Jangan bilang sekarang kau kaget dan menyesal.”
Fu Bai tersenyum malu menanggapi rentetan kata yang keluar dari bibir perempuan bercadar itu, “Jadi kita harus bagaimana?”
“Selesaikan saja sampai akhir. Setelahnya seperti biasa, kita harus menghilang secepat dan sejauh mungkin.”
Jawaban Chu Yao membungkam pertanyaan lain yang hendak keluar dari mulut Fu Bai. Pria itu kembali diam dan mengikuti jejak Chu Yao untuk memejamkan mata. Merekapun beristirahat sepanjang jalan.
Beberapa jam kemudian, kereta mereka memasuki sebuah gerbang yang sangat besar. Di setiap sisinya dijaga ketat oleh prajurit bersenjata lengkap. Sesekali kereta mereka berhenti untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.
Entah demi tujuan apa, yang jelas sistem keamanan yang tak biasa itu membuat Chu Yao tidak nyaman. Sesampainya di tempat tujuan, kereta itupun berhenti. Fu Bai turun di ikuti langkah gontai Chu Yao yang memapah Fu Rong di sampingnya.
“Apa kita telah sampai?” Bisik Fu Rong dengan suara lemah.
Chu Yao meng'iya'kan sambil mengobservasi keadaan, “Apa kau bisa berjalan?”
“Iya, aku sudah lebih baik. Hanya saja rasa pusing masih terasa di kepalaku.”
“Kalau begitu berpeganganlah denganku.”
Fu Rong tidak membantah. Ia memeluk lengan Chu Yao dengan patuh. Mereka berjalan pelan mengikuti langkah Fu Bai dan Sheng Xin di depan mereka.
Rombongan itu berjalan melewati koridor panjang dengan taman besar di sisi kanan dan kirinya. Di ujung koridor, mereka harus melewati jembatan yang cukup panjang. Di bawah jembatan itu terdapat kolam ikan yang berwarna-warni. Tak jauh dari jembatan itu, terdapat beberapa gazebo yang cukup luas dengan tatanan bunga-bunga di pinggirnya. Dan yang lebih mempesona, sebuah air terjun yang indah berada tepat di belakang paviliun besar yang mewah.
Bola mata Chu Yao tidak bisa diam. Silih berganti mengamati keadaan sekitar. Tebing-tebing curam namun indah seakan di rancang sedemikian rupa untuk melingkupi paviliun megah di bawahnya.
“Tuan dan nona Fu, silakan duduk dulu di sini. Sebelum kalian beristirahat, saya akan memperkenalkan seseorang yang nanti akan membawa kalian untuk bertemu secara langsung dengan orang yang akan kalian periksa.” Tutur Sheng Xin dengan penuh keanggunan.
Entah kenapa jantung Chu Yao berdetak dengan cepat. Ia tiba-tiba menjadi gugup dan berkeringat.
Akhirnya Chu Yao buka suara. Ia memberanikan diri bertanya, “Nona Sheng, tolong jawab dengan jujur, apakah orang yang harus kami obati itu benar-benar kakak nona?”
Sheng Xin nampak ragu dan serba salah, “Sebenarnya beliau bukan kakak saya. Hanya saja saya sudah menganggap beliau seperti kakak kandung saya sendiri. Beliau telah menyelamatkan keluarga saya. Maka dari itu saya harus membalas budi.”
“Jika boleh tau, siapa dia?” Tanya Fu Bai yang kemudian di jawab langsung oleh seorang pria paruh baya berbadan tegap yang tiba-tiba datang entah dari arah mana.
“Beliau adalah kaisar termuda, penerus terakhir kerajaan Alorra, Xu Xiao Yan.”
“Paman! Akhirnya paman datang!” Sheng Xin hampir melompat senang ketika menyadari kedatangan pria tua itu.
Namun tidak dengan Chu Yao. Tubuh perempuan itu mendadak kaku. Tanpa ia sadari wajahnya menjadi pucat pasi. Untungnya saat ini ia masih menggunakan kain cadar untuk menutupi sebagian wajahnya. Jika tidak, semua orang yang ada di sana akan menyadari perubahan wajahnya.
“Perkenalkan, mereka adalah tabib Fu bersaudara. Beliau adalah Fu Bai, Fu Hua dan Fu Rong.” Ucap Sheng Xin kepada pria tua itu di iringi salam hormat dari ketiga orang di depannya.
Pria tua itu mengepalkan kedua tangan ke depan dada dan membalas salam, “Senang berkenalan dengan tuan muda Fu dan nona Fu. Saya adalah Chen Fei Yi. Menteri Pertahanan kerajaan Alorra. Mulai sekarang, sayalah yang akan mengantarkan tuan dan nona untuk bertemu langsung dengan yang mulia.”
Chu Yao menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha untuk bersikap tenang. Saat ini, ia bukanlah nona muda Chu. Dia bukan seorang anak jenderal.
Dia adalah Fu Hua, adik seorang tabib sekaligus ahli racun yang tersohor. Bagaimanapun menteri Chen tidak akan mengenali dirinya. Terlebih saat ini ia masih mengenakan kain pembatas di wajahnya.
Ya, siapapun tak akan mengenali dirinya jika dia membawa diri dengan hati-hati.
“Kalau begitu, saya akan undur diri. Tuan muda Fu Bai dan nona Fu Hua bisa langsung mengikuti paman. Biar saya yang membawa Fu Rong beristirahat di kamarnya. Kita akan bertemu lagi nanti.” Jelas Sheng Xin dengan nada sukacita.
Fu Bai dan Chu Yao tidak memberi penolakan. Keduanya mengikuti langkah menteri Chen tanpa bersuara.
Tangan Chu Yao saling mencengkram kuat. Bibirnya terkatup rapat dengan detak jantung yang semakin kencang. Bulir keringatnya mengalir bergantian. Seolah menegaskan perasaan tegang dan gugup yang sedang ia rasakan. Otak Chu Yao berputar cepat. Mengingat-ingat informasi yang pernah ia dengar tentang sang penerus tahta Alorra.
Pemuda itu di temukan setelah hampir dua puluh tahun menghilang. Tak ada yang tau secara pasti rupa manusia itu. Menurut rumor yang beredar, pria itu tampan dan cerdas, hanya saja memiliki penyakit yang langka hingga menyebabkan seluruh rambutnya berwarna putih keperakan. Dan lagi, pria itu tidak menyukai keramaian. Sifatnya dingin dan kejam.
Selama kurun waktu empat tahun pemerintahannya, sudah banyak negara kecil yang berhasil ia taklukkan. Alorra semakin maju dan makmur. Namun, Pria itu tidak menyukai wanita. Tidak jelas apa alasannya. Hanya saja sampai saat ini dirinya tetap menyendiri tanpa seorang pendamping.
Chu Yao bergidik. Bukan karena riwayat hidup sang kaisar muda. Lebih pada dirinya sendiri yang sial karena selalu berurusan dengan orang-orang berkuasa.
‘Mungkinkah aku memang bernasib sial?’ Batin Chu Yao. Ia menelan saliva dan mengepalkan kedua tangannya dengan keras hingga tanpa sadar kuku-kukunya melukai kulit tangan dan berdarah.
__ADS_1