Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 41


__ADS_3

Istana kaisar Airland..


Raut wajah kaisar terlihat tidak bersahabat saat kasim mengabarkan kalau permaisuri ingin bertemu dengannya.


Kaisar tidak ingin beradu argumen yang kesekian kalinya dengan wanita itu. Tapi, tidak ada alasan tepat untuk menolak kedatangan ular beracun Kekaisaran. Dengan sangat terpaksa kaisar mempersilakan sang permaisuri memasuki ruang pribadinya.


Dengan sikap angkuhnya, permaisuri tetap memberi salam sesuai tata krama yang berlaku. Kaisar nampak menyadari bahwa istri nya itu tidak benar-benar tunduk kepadanya. Semua yang wanita itu lakukan hanya sekedar formalitas agar dipandang sebagai seorang istri dan ibu Kekaisaran yang patut diteladani.


Pria nomor satu di Airland mengibaskan tangan guna mengusir para pelayan yang berada di sekitar.


Suasana dalam kamar itu mendadak senyap. Tanpa membuang waktu, kaisar mempersilakan permaisuri duduk berseberangan dengannya. Disalah satu kursi yang memang selalu di duduki beliau ketika menerima tamu yang memang tidak begitu ia sukai.


"Katakan, ada hal apa yang membawamu kesini?" Tanya kaisar tanpa tedeng aling-aling.


Sang permaisuri tersenyum anggun seraya ingin mendekat. Namun dengan satu gerakan dari Kaisar, langkah permaisuri terhenti dan berbalik duduk di tempatnya semula. Permaisuri tidak suka atas penolakan Kaisar, namun ia tetap tenang dengan senyum kepalsuan andalannya.


"Ku rasa kau menemuiku kesini tidak sekedar untuk berbasa-basi. Terus teranglah! Aku sudah cukup lelah hari ini!"


"Yang mulia begitu tidak sabaran, padahal saya ingin memberikan pijatan untuk meringankan beban yang ditanggung yang mulia."


"... Sejak kapan kau menurunkan standar keangkuhanmu dengan memberi pijatan pada orang lain?"


"Baginda bukanlah orang lain. Baginda adalah suami sekaligus penguasa negeri ini."


Kaisar terkekeh dengan nada sedikit mencela, "Benarkah demikian? Seumur hidup aku menikah denganmu, ini kali pertama kau membuat lelucon paling menggelikan ditelingaku. Permaisuri, berhentilah mengaduk isi perutku, aku rasa ingin memuntahkan semua yang kumakan mendengar perkataanmu barusan."


Wajah permaisuri berubah masam. Perkataan Kaisar telah menyinggung perasaannya. Ia tak lagi bersikap lemah lembut. Setelah meneguk teh kualitas nomor satu yang disuguhkan para pelayan sebelumnya, ia pun angkat bicara.


"Baiklah, karena yang mulia Kaisar memintanya maka saya akan dengan senang hati langsung ke inti masalah.. " Tutur permaisuri dengan sedikit menyeringai.


"Berhentilah melindungi anak haram itu!"


Kaisar pura-pura tidak perduli. Dengan santai menyeruput teh dan menimpali, "Lagi-lagi kau membuat lelucon. Anak mana dan sejak kapan aku melindungi anak yang kau maksud?"


"Bagindalah yang saat ini sedang mengajak saya bergurau. Tidak mungkin Baginda lupa anak mana yang saya maksudkan. Apa perlu saya sebutkan nama ibunya sekalian disini dengan lantang?"


"Permaisuri! "


"Saya tidak perduli baginda lupa atau berpura-pura lupa, namun satu hal yang harus saya tegaskan, saya akan melakukan apapun demi putra mahkota. Jangan sampai pangeran kedelapan yang disayangi baginda hancur dengan sia-sia hanya karena campur tangannya terhadap masalah yang satu ini!"


"Kau mengancamku?" Tanya Kaisar geram, "Aku penguasa negeri ini. Sangat mudah bagiku untuk menjatuhkan hukuman atas lelancanganmu!"


Ruangan besar itu seketika ramai dengan suara tawa permaisuri yang menggema.


"Jin Mao oh Jin Mao! Sejak kapan kau bisa menjatuhiku hukuman? Kau pikir kau mampu? Apa kau lupa siapa aku dan orang-orang dibelakang ku?"


"... "


"Dengar! Aku sudah memperingatkanmu! Jangan menyesal jika suatu saat hal buruk menimpa orang-orang yang kau sayangi karena sifatmu yang keras ini!"


Wanita nomor satu di Airland itu berlalu dengan tawa yang sangat keras. Ia meninggalkan sang suami dengan tatapan marah. Ia tidak perduli. Sejak dulu, laki-laki itu tidak bisa menjatuhkannya. Jika sampai itu terjadi, maka akan ada permasalah publik yang besar.


Airland akan goyah.


Permaisuri bahkan sudah sangat mengenal sifat ambisius sang suami. Saat masih menjadi putra mahkota saja, ia dengan tega melengserkan Kaisar terdahulu dengan cara yang kurang pantas hanya karena tidak sabar ingin duduk diatas takhta. Hanya dengan bantuan keluarga perdana menteri lah, pria itu berhasil duduk di kursi naga yang diagungkan seantero Airland.


Pun setelah menikah dengan permaisuri, janji manisnya hanya sekadar janji. Pria mata keranjang itu tidak segan untuk menikahi wanita yang tidak pantas untuk dinikahi. Bahkan wanita tawanan perang pun dijadikannya istri demi memuaskan hawa nafsunya.


Permaisuri meradang jika mengingat bagaimana dia dulu begitu memuja sang suami sebagai seorang pria yang begitu tampan dan berkharisma.


Pandangannya begitu buta karena rasa cinta dan gairah muda akibat rayuan mulut Jin Mao yang begitu terampil bersilat lidah.


Wanita mana yang ingin diduakan. Meski dalam Kekaisaran memperbolehkan untuk membuat harem, permaisuri hanya ingin sang suami menikahi para wanita itu hanya sekadar tuntutan kewajiban sebagai seorang kaisar.


Permaisuri hanya ingin cinta yang utuh sebagai pria dan wanita pada umumnya. Dan Long Jin Mao telah merusak semua ekspektasi indah yang terlah tertanam di otaknya.


'Ingin menghukumku? Jangan mimpi!' Bathin permaisuri.


Jika dulu ia dan para sekutu ayahnya dengan mudah mengkudeta Kaisar terdahulu, bukankah suatu hal yang mustahil pula melengserkan kekuasaan Long Jin Mao saat ini.


Permaisuri melenggang dengan tinggi hati. Arogansi nya telah membuat Kaisar memaki dalam hening. Memberikan sumpah serapah yang tidak baik pada wanita licik itu tanpa menyaring setiap perkataan sedikitpun.


Kaisar terduduk lemas ketika siluet permaisuri lenyap menjauh dari istana pribadinya.


Pria tua itu memukul meja dengan keras karena meluapkan rasa marah dan kekesalannya.


Permaisuri semakin merajalela.


Jika dulu ia tidak menikahi wanita bengis itu karena ingin menguasai takhta Kekaisaran, mungkin kehidupannya tidak akan penuh kemelut seperti ini.

__ADS_1


Penyesalan selalu datang terlambat. Kaisar sudah kepalang basah terjebak dalam skema yang ia ciptakan sendiri.


"Permaisuri, tunggu saja! Kelak kau akan lenyap beserta seluruh keluarga perdana menteri yang mendukung mu selama ini. Aku bersumpah!"


***


Dua minggu telah berlalu. Kediaman Chu lagi-lagi penuh dengan kesibukan baru. Semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing untuk mempersiapkan pernikahan Chu Ling dan tuan muda Zhao.


Seperti biasa, Chu Yao tidak ambil bagian. Ia malah mengurung diri dalam paviliun dingin sambil melakukan aktivitas kesukaannya. Sesekali Mo Yan menemani nya berlatih pedang. Namun durasinya tidak seketat biasanya.


Pemuda itu sering menghilang.


Awalnya Chu Yao tidak begitu perduli namun lama kelamaan ia merasa risih juga. Sampai suatu ketika ia bertanya pada A-Wei.


"Apa kau tau kemana saja Mo Yan akhir-akhir ini?"


"Tidak nona. Kakak hanya meminta saya menggantikan nya menjaga nona sampai dia kembali." Jawab A-Wei singkat.


Chu Yao ber'oh' pendek. Ia kembali melanjutkan aktivitas menjahit yang sempat ia tunda beberapa hari yang lalu.


A-Wei mencuri pandang sesaat pada hasil jahitan yang dibuat sang nona. Agaknya hasil buatan gadis itu memang dibawah standar. A-Wei berusaha tidak terpengaruh namun jauh dalam hatinya ingin tertawa lepas mengomentari kantong sachet berwarna biru turquoise itu.


"Jika ingin tertawa lebih baik tertawa saja. Sorot matamu telah menggambarkan apa yang ingin kau sampaikan. " Celetuk Chu Yao sembari meletakkan kain yang ia sulam.


"Saya tidak berani. Seburuk apapun itu pasti kakak akan menerimanya dengan senang hati." Jawab A-Wei dengan polosnya.


Chu Yao mengerutkan bibir, "Seburuk apapun katamu? Berarti kantong sachet ini memang benar-benar buruk."


"Ti, tidak! Benda itu bagus! Sangat bagus!" Timpal A-Wei gelagapan. Ia baru menyadari jika ucapannya barusan telah membuat semangat perempuan muda itu menciut drastis.


"Ck, kau tidak pandai berbohong A-Wei. Mulutmu mengatakan bagus tapi hatimu menertawakanku. "


"Ma'afkan saya. Saya pantas dihukum!"


Chu Yao terkekeh melihat A-Wei ketakutan dan nampak serba salah. Ada kepuasan tersendiri menggoda anak muda yang polos itu. Meski sama-sama pendiam, namun sifat aslinya sangat bertolak belakang dengan Mo Yan yang dingin.


Cukup lama Chu Yao menertawakan A-Wei yang berusaha menghibur hasil jahitannya. Hingga beberapa waktu kemudian pemuda itu mendadak senyap dengan insting pelindung yang aktif.


A-Wei melompat keluar jendela dan menghilang dalam beberapa menit. Kemudian kembali dengan wajah serius sambil membungkukkan badan dengan hormat.


"Ada apa?" Tanya Chu Yao ketika pandangan A-Wei terfokus keluar jendela.


"Siapa mereka?"


"Dua orang berpengaruh dari Alorra."


"Alorra?" Chu Yao terdiam sejenak sambil berpikir. Ia tidak pernah memiliki urusan dengan orang-orang dari Alorra. Kenapa tiba-tiba dua orang berpengaruh itu malah mencarinya.


Apa jangan-jangan ini berhubungan dengan yang Chu Zhan bisikkan waktu itu?


"Apa mereka mengatakan perihal yang ingin mereka bicarakan denganku?"


A-Wei mendadak kebingungan. Dengan ragu dia menganggukkan kepala dan menjawab, "nampaknya ini menyangkut kakak Mo."


Jantung Chu Yao berdegup dengan keras. Firasatnya ternyata benar. Dua orang itu ingin membahas tentang Mo Yan.


Sesuai dengan perkataan Chu Zhan. Ia harus menyelidiki identitas Mo Yan yang sebenarnya. Jika memang pria itu berkaitan dengan Alorra, apa yang sebaiknya Chu Yao lakukan?


Chu Yao menghela napas, "Persilakan mereka masuk."


A-Wei mengangguk dan menghilang dibalik jendela. Tidak lama ia kembali dengan dua orang tua berjubah hitam.


"Berjagalah didepan. Jangan biarkan siapapun mencuri dengar pembicaraan, apalagi itu Mo Yan!" Ucap Chu Yao dengan nada memerintah.


A-Wei menjawab dengan anggukkan kepala. Diapun memberi hormat sebelum pergi meninggalkan ketiga orang itu disana.


Chu Yao mempersilakan dua orang tua itu duduk bersama mengitari meja. Ia tidak segan menuangkan teh dan menyodorkan nya pada kedua tamu jauhnya itu.


Kedua orang tua tersebut memberi salam hormat kemudian duduk mengikuti arahan tuan rumah. Tanpa menunda-nunda, salah satu dari mereka membuka suara.


"Mohon maaf mengganggu nona Chu dengan kedatangan kami yang mendadak. Perkenalkan, saya Chen Feiyi, menteri Pertahanan kerajaan dan rekan saya Luo Xuan, jenderal perang tingkat satu. Kami perwakilan dari Kerajaan Alorra meminta bantuan dari nona." Ujar menteri Chen dengan sangat sopan sambil menyodorkan dua plakat Kekaisaran Alorra sebagai bukti keabsahan ucapannya.


Chu Yao mengambil dan meneliti benda tersebut kemudian kembali menyerahkannya kepada menteri Chen.


"Tuan datang dari jauh hanya untuk meminta bantuan saya, sedangkan saya bukan orang yang memiliki kepentingan. Bantuan seperti apa yang tuan-tuan harapkan dari saya?"


Menteri Chen memperbaiki posisinya kemudian berkata, "Kami harap nona bersedia melepaskan tuan muda untuk kembali bersama kami ke Alorra."


"Tuan muda?" Ulang Chu Yao kebingungan.

__ADS_1


"Tunggu sebentar. Saya masih tidak faham. Tuan muda mana yang tuan maksudkan?"


Menteri Chen mengubah posisi duduknya. Seakan tidak sabar untuk ke inti cerita.


"Tuan muda yang kami maksud adalah pengawal pribadi nona."


"Begini tuan, saya memiliki dua orang pengawal pribadi disisi saya. Mo Yan dan A-Wei. Tolong tuan-tuan memberikan gambaran yang spesifik kepada saya yang tidak berpengetahuan ini, siapakah yang tuan maksudkan?" Ucap Chu Yao dengan merendahkan diri.


Menteri Chen tersenyum. Nampak ia mulai merasakan rasa santai terhadap gadis didepannya. Sifat Chu Yao yang merendah telah membuat perspektif mereka berubah. Gadis itu cerdas. Ia pandai memposisikan diri ketika menghadapi orang lain. Chu Yao begitu hormat dan sopan menghadapi orang tua seperti mereka.


Perihal sifat keras kepala dan arogansinya yang telah beredar di seantero kota, nampaknya itu merupakan cermin pertahanan diri yang dibuat sang gadis untuk bertahan hidup.


"Maksud kami disini ingin menjemput tuan muda Mo yang saat ini masih menjadi pengawal pribadi nona." Jelas menteri Chen.


"Sebenarnya, kami sudah lama menyelidiki identitas tuan muda dan akhirnya menyadari kalau tuan muda benar-benar orang yang kami cari."


Chu Yao diam menyimak. Otaknya berputar cepat menyaring setiap perkataan yang disampaikan menteri Chen kepadanya.


Jenderal Luo memajukan diri. Ia mengambil alih pembicaraan, "Nona, dengan berat hati saya harus membawa pulang putra saya. Ibunya sudah menunggu kedatangannya. Kami harap nona bersedia membantu kami."


"Tunggu! Mo Yan adalah putra anda?"


"Benar nona. " Sela menteri Chen, "Mo Yan adalah tuan muda Luo, putra satu-satunya jenderal Luo. Dia menghilang ketika perang antara Airland dan Alorra belasan tahun yang lalu."


Menteri Chen sengaja mengatakan bahwa Mo Yan adalah anak satu-satunya jenderal Luo. Mereka tidak ingin identitas asli penerus Alorra itu diketahui oleh Chu Yao. Jika identitas asli itu terungkap akan menyebabkan banyak masalah baru yang bermunculan.


Hati Chu Yao mendadak sakit. Seakan ada lubang besar yang tiba menganga disana.


Memikirkan Mo Yan sebagai penduduk asli Alorra yang negerinya pernah ditindas oleh Kaisar Airland, juga posisinya yang sekarang sebagai putri dari Kaisar penindas merupakan suatu polemik baru yang tercipta dibenak gadis itu.


Chu Yao menggigit bibir. Dengan ragu ia bertanya, " Apakah Mo Yan sudah mengetahuinya?"


"Sudah tapi dia belum mau kembali karena suatu hal. " Jawab jenderal Luo dengan lirikan tipis kearah menteri Chen.


"Nampaknya anak itu dalam dilema karena memikirkan nona Chu. " Tegas menteri Chen.


Pantas saja akhir-akhir ini Mo Yan terlihat tidak biasa. Seolah ada suatu hal yang mengganggu pikiran nya dan pemuda itu justru memilih untuk merahasiakannya dari Chu Yao.


"Saya telah memberikan surat pelepasan kepada Mo Yan, hanya saja... Saya masih memerlukan dia untuk menemani saya melakukan sesuatu. "


"Apa itu berkaitan dengan perlawanan terhadap permaisuri Airland dan sekutunya?"


Chu Yao terkesiap dengan tebakan menteri Chen, "Apakah Mo Yan yang..?"


"Tidak!" Kilah menteri Chen sebelum Chu Yao benar-benar menyelesaikan pertanyaannya


"Anak muda itu tidak pernah membuka mulut tentang permasalahan nona. Kami tau karena kami telah menyelidikinya sendiri.."


"Waktu kami tidak banyak jadi kami akan berterus terang, sebaiknya nona tidak menyeret tuan muda dalam permasalahan internal Kekaisaran. Semua akan runyam jika identitas asli tuan muda sampai diketahui mereka. Akan ada alasan melakukan perang hanya karena kesalahpahaman. Tuan muda kami tidak memiliki kepentingan terhadap dendam yang ditanggung nona. Bukankan suatu keegoisan meletakkan orang yang tidak bersalah ditengah konflik? Apakah ada jaminan jika nyawa tuan muda akan terus aman jika bersama dengan nona?"


"... "


"Mohon maafkan saya sebelumnya. Saya hanya ingin mengingatkan suatu hal yang paling penting. Apakah nona merasa pantas berjalan bersama dengan orang yang pernah menjadi korban kekejian ayahanda nona sendiri?"


Chu Yao yang tadinya diam kini mendelik tajam kearah menteri Chen. Kali ini ucapan orang tua itu telah melukai harga dirinya. Namun ia masih bisa berpikir jernih. Meski masih terasa sakit, Chu Yao menyunggingkan senyum dingin membalas perkataan menteri Chen.


"Sepertinya informasi yang tuan peroleh telah melampaui batas dugaan saya. Sebelum saya menjawab pertanyaan tuan, apakah anda layak menanyakan pantas atau tidaknya hubungan kami berdua dengan kata-kata yang seolah menyudutkan saya. Apakah saya bersalah karena darah orang yang kalian benci mengalir dalam diri saya?"


Kedua orang tua itu terdiam seakan baru menyadari bahwa ucapan yang mereka lontarkan sedikit berlebihan dan terbawa emosi.


"Baik saya ataupun Mo Yan, bahkan anda berdua, tidak bisa memilih dimana dan siapa yang melahirkan anda. Kita sama-sama telah dipermainkan oleh skenario kehidupan.."


"Tuan berdua tidak perlu khawatir, sebelum tuan-tuan meminta, saya lebih dulu berniat ingin mengirim Mo Yan pergi sejauh mungkin. Beri saya waktu, saya akan memanggil kalian jika Mo Yan telah siap kalian jemput. Saya berjanji tak akan lama." Jelas Chu Yao dengan sikap dewasa.


Kedua orang tua itu saling melempar pandang. Nampak raut wajah lega menghiasi roman muka mereka. Alih-alih ikut bahagia, justru Chu Yao merasa menyesali janji yang telah diucapkan nya barusan.


Chu Yao tidak bisa membohongi perasaannya. Ada rasa tidak rela untuk melepaskan Mo Yan begitu saja. Namun kedua orang tua itu juga benar adanya. Bukankah sangat tidak tau diri jika masih menginginkan kebersamaan dengan Mo Yan.


Baik Chu Yao ataupun Mo Yan tidak ada yang bisa berpura-pura tidak tau masa lalu kelam akibat ulah sang kaisar.


Akan sangat menyiksa untuk mereka berdua jika harus tetap bersama dengan dendam yang masih belum padam.


"Baik, kami memegang janji nona. Silakan nona mengirim pesan lewat pengawal A-Wei." Balas menteri Chen mengakhiri pembicaraan.


Chu Yao menganggukkan kepala tanpa bicara sepatah katapun. Jenderal Luo dan menteri Chen membungkuk hormat dan berterimakasih kemudian menghilang dibalik jendela dalam beberapa detik.


"A-Wei, kemarilah!" Panggil Chu Yao.


A-Wei sudah berada di samping gadis itu ketika namanya dipanggil. Ia menerima perintah tutup mulut tentang pertemuan mereka barusan. Dengan patuh A-Wei menyanggupinya.

__ADS_1


Chu Yao beranjak pelan dari tempat duduknya dan tiba-tiba ambruk tepat saat pengawal itu pergi meninggalkan kamar pribadinya.


__ADS_2