
Fabian mencari kontak bibi May, pengasuh Sabrina sejak kecil. Meski tidak akrab setidaknya ia tahu kalau Sabrina sering kali mengunjungi pengasuhnya itu.
"Halo, ini aku Fabian suaminya Sabrina," ucap Fabian saat panggilannya tersambung.
"Tu-tuan Muda, a-ada yang bisa saya bantu?" jawab bibi May di seberang sana sedikit gagap. Pasalnya ia belum pernah sekali pun bicara dengan suami dari anak yang ia asuh sejak kecil, lalu kenapa tiba-tiba Tuan Muda ini menelponnya.
"Aku ingin bicara dengan Sabrina sebentar."
"Maaf, Tuan. Nona Sabrina tidak ada di sini."
"Benarkah, kau tidak sedang berbohong, 'kan?"
"Tidak, Tuan. Saya berkata jujur."
"Kalau begitu, di mana dia sekarang?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Bukankah seharusnya dia di rumah Tuan."
"Kalau dia di sini aku tidak akan mungkin menelponmu!" Fabian menutup telponnya sepihak.
Bibi May yang berada jauh di sana, langsung mengusap-usap dadanya mendengar teriakan terakhir Fabian sebelum menutup panggilan.
Fabian bingung, ke mana dia harus mencari istrinya itu sekarang. Ponsel Sabrina bahkan tidak aktif lagi sejak terakhir ia menghubunginya dan tak dijawab. Ia mulai memikirkan cara untuk menemukan Sabrina.
Fabian menjentikkan jarinya, kala teringat florist milik Sabrina. Ia mengambil mobil dan membawanya ke toko bunga milik istrinya itu.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" teriak Caty saat ada yang masuk ke toko.
"Kami punya banyak bunga segar untuk Anda pi____" Caty tak melanjutkan ucapannya saat melihat siapa yang datang ke tokonya.
"Ma____" Baru juga Caty mau minta maaf, Fabian menyelanya lebih dulu.
"Di mana si gagu itu?!" potong Fabian.
"Saya tidak tahu, Tuan," jawab Caty takut.
"Aku tidak suka mengulang pertanyaan yang sama, katakan atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Fabian.
Caty menggeleng pelan, ia tidak bisa memberi tahu di mana bosnya berada saat ini.
"Apa kau mau aku membawa seluruh keluargamu berakhir di rumah sakit!" ancamnya lagi.
__ADS_1
"Ti-tidak Tuan, kumohon jangan lakukan itu." Bagaimanapun, Caty tetap takut dengan ancaman Fabian. Ia tahu persis seperti apa Fabian Ramos dibalik wajah tampannya.
"Katakan!"
"Nona Sabrina, saat ini sedang berada di ____"
"Berhenti!" teriak Paul yang baru saja memasuki toko. "Jangan bicara apa pun padanya, pria ini tidak pantas menemui bos kita," sambung Paul.
Fabian menoleh, melihat siapa yang berani menentangnya. "Siapa kau, yang telah berani menghalangiku!"
"Aku adalah pegawai Nona Sabrina, dan aku tidak akan pernah membiarkan kau menyakitinya lagi!" jawan Paul dengan berani.
"Oh ... apa kau mau jadi pahlawan?"
"Apa pun katamu, aku tidak akan pernah membiarkan kau menemukan Nona kami!"
Fabian menyeringai. "Begitu, ya. Baiklah aku akan pergi." Fabian melangkah ke pintu keluar, ia melewati Paul begitu saja. Baru dua langkah ia melewati pegawai setia Sabrina itu, Fabian langsung berbalik dan memukul tepat rahang Paul. Pukulan yang sangat kuat membuat Paul terhuyung, dan jatuh. Bibirnya langsung pecah, darah segar mengalir di sudut bibirnya.
Tak berhenti di situ, Fabian menarik Paul yang belum siap dan kembali memukuli Paul tanpa henti. Paul tak punya kesempatan membalas karena serangan Fabian yang bertubi-tubi, ia hanya bisa menahan serangan yang diberikan Fabian. Terakhir, Fabian melemparnya di antara kumpulan bunga yang tertata rapi.
Paul memekik kesakitan.
Rasanya belum puas kalau belum bisa membuat pria sok jagoan ini mengatakan yang sebenarnya tentang keberadaan Sabrina. Fabian kembali melayangkan tinjunya, tapi berhenti tepat di depan wajah Paul saat pria itu memohon ampun.
Fabian tersenyum menang.
"Nona Sabrina sedang berlibur ke Queensland," jawan Paul masih menahan perih di bibirnya.
Fabian menepuk pipi Paul. "Harusnya kau katakan sejak tadi."
Paul menatap kepergian Fabian dengan rasa marah, kalau bukan karena rencananya dengan sang bos, ia tak akan membiarkan pria sok kuasa itu memukulnya walau sekali.
Caty berlari menghampiri Paul, membantu pemuda itu untuk berdiri. "Kau tidak apa-apa, 'kan?" tanya Caty.
"Ini bukan apa-apa, gigitan nyamuk jauh lebih sakit dari pukulan Tuan Muda manja itu."
Caty ingin tertawa saat Paul bersikap sok kuat, tapi ditahannya demi rasa empati pada teman. "Ayo." Caty meraih lengan Paul dan membantunya berdiri.
Ia membawa Paul duduk di bangku kasir dan bergegas mengambil kotak obat untuk mengobati bibir Paul yang terlihat bengkak. Dengan telaten Caty mengoleskan antiseptik untuk membersihkan darah di bibir Paul.
"Cepat telpon bos, dia harus tahu apa yang dilakukan suaminya pada toko bunga ini," pinta Paul. Ia mengambil kapas di tangan Caty dan menggantikan Caty mengobati lukanya.
__ADS_1
Caty mengambil ponsel yang ia simpan di laci meja. Mencari nama Sabrina untuk mengabarkan apa yang baru saja terjadi.
"Halo, Caty. Bagaimana kabarmu?" sapa Sabrina saat panggilan terhubung.
"Halo, Nona. Kabarku baik, tapi tidak dengan toko kita," jawab Caty.
"Apa yang terjadi?" tanya Sabrina.
Caty belum sempat menjawab pertanyaan Sabrina saat Paul dengan cepat merebut ponselnya. "Suami Nona sudah mengacaukan toko ini," sahut Paul.
"Apa maksudmu, Paul?"
"Iya, Tuan Muda itu datang dan mengancam kami agar berbicara tentang keberadaanmu. Dia bahkan membuat keributan di toko dengan memukuliku." Layaknya anak kecil, Paul mengadukan Fabian.
"Apa kau memberitahunya?"
"Ya ... sesuai keinginanmu."
"Baiklah, terima kasih Paul dan juga Caty, kalian berdua sudah membantuku."
"Aku tidak mau tahu, kau harus membalaskan dendamku padanya. Suamimu itu harus mendapatkan balasan yang sama karena telah memukuliku."
Terdengar suara Sabrina menanggapi laporan Paul.
"Kenapa tertawa? aku sungguh tidak rela dipukuli seperti tadi, harusnya aku bisa melawan tapi karena aku mengingatmu, aku hanya bisa diam."
"Iya ... iya, nanti aku akan membalaskan dendammu," jawab Sabrina dengan menahan tawa.
"Aku tu____"
Caty menyahut ponsel di tangan Paul. "Bagaimana kabarmu, Nona?" tanya Caty.
"Aku baik," jawab Sabrina.
"Apa kau menikmati liburanmu?"
"Ehmm ...." Sabrina menggantung kalimatnya.
"Apa? atau jangan-jangan kau sudah menemukan pria Queensland yang membuatmu tak ingin kembali?" goda Caty.
Sabrina tertawa renyah di seberang sana. "Tunggu saja kabar baiknya. Terima kasih sudah membantuku. Jaga diri kalian baik-baik." Sabrina menutup panggilan lebih dulu.
__ADS_1
Fabian, aku menunggumu. Aku ingin lihat apa yang akan kau lakukan untuk membuatku kembali padamu.