
Setelah keluar dari toko milik Sabrina, Fabian memikirkan cara untuk segera bertemu dan menyeret wanita itu ke hadapan ayahnya. Maka dari itu ia harus menemukan di mana lokasi Sabrina berada saat ini.
Ia tidak ingin membuang-buang waktu dengan menjelajahi Queensland hanya untuk menemukan istrinya, yang ia anggap telah mengacaukan hidupnya. Fabian berjanji akan menghukum Sabrina atas semua tindakannya kali ini.
Cara tercepat yang terpikirkan oleh Fabian adalah bertanya pada Caty—pegawai toko. Fabian pun kembali masuk ke toko, yang membuat Paul dan Caty kaget.
Baru saja Fabian membuka pintu kaca, tapi ekspresi Caty dan Paul terlihat takut. "Tidak usah takut, aku hanya ingin bertanya," ucap Fabian pada kedua pegawai istrinya.
"Di mana tepatnya Sabrina berada saat ini?" lanjut Fabian.
"Kami tidak tahu, Tuan," jawab Caty semakin takut.
"Aku tidak akan merobohkan toko ini jika kau bersikap dengan baik," ancam Fabian lagi.
"Tuan, saya berkata jujur. Saya tidak tahu di mana tepatnya Nona berada saat ini. Kalau Tuan mau Tuan bisa melihat di sosial media milik Nona."
Fabian memikirkan saran Caty. Ia pun meminta nama akun media sosial Sabrina. Tanpa berterima kasih Fabian pergi begitu saja, tentu saja hal itu membuat Paul dan Caty menghujatnya dengan sumpah serapah.
Fabian kembali ke dalam mobil lalu membuka akun media sosial milik Sabrina. Setelah dua tahun menikah, ia baru tahu kalau istrinya itu punya akun media sosial. Tidak ada gambar Sabrina sama sekali, yang di-posting Sabrina kebanyakan tentang jenis bunga dan promo di tokonya.
"Orang yang membosankan," gumamnya.
Fabian terus men-scroll layar ponselnya untuk mencari tahu postingan terbaru Sabrina. Ketemu!
Postingan terbaru Sabrina adalah gambar Maleny Botanical Gardens and Bird World dengan caption 'Wait for me'.
"Aku akan datang!" lirih Fabian dengan seringai di bibirnya.
Tak lagi menunggu, Fabian langsung membawa mobilnya untuk segera mencari Sabrina. Ia tak sabar untuk memberi pelajaran pada istrinya.
_________________
__ADS_1
Sunshine Coast, Queensland
Kemarin Sabrina mendapatkan kabar lagi dari Caty kalau pegawainya itu telah memberitahukan akun media sosial milik Sabrina pada Fabian. Sabrina yang paham dengan situasi Caty, tidak mempermasalahkan hal itu. Lagi pula, ini memang sudah menjadi bagian dari rencananya agar Fabian menemukannya.
Sudah satu minggu Sabrina pergi dari rumah keluarga Ramos untuk berlibur. Tadinya ia ingin menyerah setelah semua yang Fabian lakukan, tapi permintaan mertuanya juga tak bisa ia abaikan. Akhirnya ia menyusun rencana untuk membuat Fabian menyadari kesalahan yang dilakukannya pada Sabrina, dan membuatnya berbalik untuk jatuh cinta.
Sabrina sudah menyiapkan semuanya, ini adalah usahanya untuk membalas sikap baik Sergio yang telah memohon padanya untuk menjauhkan Fabian dari kekasihnya—Vannesa. Sergio bercerita tentang alasannya tidak bisa menerima Vannesa. Kekasih Fabian itu adalah gadis yang hanya memanfaatkan kekayaan Fabian saja, dan telah menipu Fabian dengan berselingkuh di belakang Fabian.
Sampai saat ini, Fabian tidak percaya jika ayahnya mengungkapkan kebenaran tentang Vannesa, karena Vannesa begitu pandai bermain kata dan membuat Fabian cinta buta. Sebab itu, tugas Sabrina adalah membuat Fabian berbalik jatuh cinta padanya.
Awalnya ragu, melihat sikap Fabian selama ini. Namun, Sergio terus memberinya semangat.
Sabrina bersiap untuk pergi ke kebun raya sesuai jadwalnya kemarin. Lagi pula ia tidak tahu kapan Fabian akan datang untuk menjemputnya, jadi ia pikir ia harus menikmati dulu liburannya sebelum berjuang keras menghadapi Fabian.
Waktu masih cukup pagi saat Sabrina meninggalkan penginapan dan menuju ke kebun raya. Ia sengaja berangkat pagi supaya bisa puas berkeliling melihat indahnya ragam flora dan juga burung di sana.
Sabrina berjalan masuk setelah membeli tiket. Belum terlalu banyak pengunjung yang datang dan Sabrina adalah salah satu pengunjung pertama selain satu keluarga yang terdiri dari tiga orang. Sabrina menghirup napas dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen yang ia yakini sangat sehat karena dihasilkan dari ratusan pohon di kebun raya ini.
Hari semakin siang, dan pengunjung kebun raya ini mulai ramai. Kebanyakan dari mereka yang datang adalah rombongan keluarga, ada juga anak-anak sekolah yang mungkin sedang melakukan kegiatan outing class. Karena memang ada banyak hal yang bisa pelajari dari mendatangi kebun raya ini, mulai dari mencintai dan menjaga alam juga bisa untuk menambah wawasan tentang ragam flora.
"Hai ...." Seseorang memanggil Sabrina.
Sabrina berhenti, dan mengernyitkan dahi karena tidak mengenal orang ini.
"Aku melihatmu saat baru masuk tadi," jawab wanita yang mengendong bayi.
"Ya ...," jawab Sabrina.
"Bolehkah aku minta tolong?" tanya wanita itu.
Sabrina menatap ragu pada wanita yang tak ia kenal ini, tapi akhirnya menjawab juga, "Apa?"
__ADS_1
"Tolong jaga anakku sebentar, aku ingin ke toilet," terang wanita itu.
"A-apa?" Sabrina semakin ragu, ia belum pernah menggendong bayi walau sekali pun apalagi menggendongnya.
Melihat keraguan di wajah Sabrina, wanita itu meyakinkan. "Kau sedang tidak sibuk, 'kan, dari tadi aku lihat kau berjalan sendiri saja. Kumohon jaga anakku sebentar, dan aku akan segera kembali. Aku janji."
"Bu-bukan begitu, hanya saja aku belum pernah menggendong bayi, aku takut anakmu akan tidak nyaman," jawab Sabrina jujur.
"Oh ... soal itu, tidak masalah. Aku akan mengajarimu cara menggendong, lagi pula Brandon anak yang manis dan tidak mudah rewel, jadi tenang saja," ucap wanita itu semakin meyakinkan.
Sabrina mengangguk. "Baiklah."
"Namaku Rose," ucap wanita itu memperkenalkan diri.
"Aku Sabrina," jawab Sabrina.
Rose tersenyum, lalu mengajari Sabrina untuk menggendong putranya. "Nah, begitu," ucap Rose saat Sabrina berhasil menggendong anaknya.
Setelahnya Rose meminta Sabrina mengikutinya ke toilet dan meminta Sabrina menunggu di tempat yang dekat dengan toilet.
Namun, apa yang dikatakan Ross sungguh berbeda. Setelah Rose pergi ke toilet, anak yang berusia sekitar satu tahun itu tiba-tiba menangis. Ibunya baru saja masuk ke toilet, bisa dipastikan masih cukup lama untuk menyelesaikan urusannya.
Sabrina yang tidak tahu cara menenangkan bayi, mencoba menepuk-nepuk pantat anak itu. Bukannya tenang, Brandon semakin kuat menangis. Membuat Sabrina panik, dia hanya menepuk pelan, tapi kenapa anak kecil itu menangis. Saking paniknya Sabrina membawa Brandon untuk berjalan sembari terus menenangkan.
"Stttt ... diamlah Sayang, sebentar lagi mommy mu akan datang," ucap Sabrina.
Namun, Brandon terus saja menangis. Tak terasa langkah Sabrina sudah cukup jauh dari toilet.
"Tenanglah, Sayang ...."
Tak sedikit yang memperhatikan Sabrina yang gagal menenangkan bayi dalam gendongannya. Sabrina tak peduli dengan tatapan orang-orang padanya, ia hanya fokus pada bayi itu.
__ADS_1
Langkahnya terhenti saat ada yang tiba-tiba mencekal tangannya. Matanya membelalak saat ia menoleh dan melihat pria yang masih mencekal tangannya.