
Ponsel Fabian berdering, bukan hanya sekali tapi sudah lebih dari tiga kali. Ia masih memeluk Sabrina dalam dekapannya saat meraih ponsel dari saku celananya. Tanpa melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, Fabian sudah bisa menebak siapa yang sedari tadi tidak sabar menghubunginya.
Fabian melepaskan Sabrina perlahan, lalu membawa Sabrina berdiri, dan menuntunnya untuk duduk di atas ranjang. "Jangan pergi ke mana pun, aku akan segera kembali," ujarnya sembari mengecup kepala Sabrina kemudian pergi.
Fabian keluar menuju koridor untuk menjawab panggilan yang sejak semalam ia abaikan. Tentu saja telepon itu dari Vannesa, yang kehilangan dirinya saat makan malam.
Fabian bahkan belum menyapa, saat Vannesa langsung nyerocos dengan segala pertanyaannya "Kau di mana, kenapa tidak menjawab teleponku dari semalam, apa kau menemui wanita itu?" tanya Vannesa di ujung sana, dengan tidak sabar.
"Aku mencoba menghubungimu sejak semalam, tapi kenapa kau abaikan. Kau membuatku kesal!" ungkapnya mencuruhkan perasaan yang sejak semalam ia pendam.
"Sekarang aku ingin kau kembali ke sini, aku tidak suka kau bersama wanita itu. Kau tahu, aku sangat takut jika wanita itu merebutmu dari ku." Vannesa terus saja bicara tanpa jeda.
"Fabian, aku mencintaimu. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku."
Fabian memegangi kepalanya yang mulai berdenyut, biasanya yang membuat ia pusing adalah urusan pekerjaan, tapi kali ini ia merasakan pusing karena wanita.
"Fabian, kau masih di sana, bukan. Kau masih mendengarku?"
"Diamlah," sentak Fabian. "Aku dengar semua yang kau katakan, aku melakukan semua untuk mu, untuk kita. Kalau Sabrina sampai meninggalkan aku, dan aku kehilangan semua hakku atas harta ayahku aku tidak akan bisa menjadikanmu milikku. Apa kau mau hidup susah denganku?"
Di ujung sana, Vannesa terdiam. Cukup lama, hingga Fabian jadi merasa bersalah telah membentak kekasihnya. "Maafkan aku, aku akan datang menemuimu. Tunggu aku." Fabian mematikan panggilan Vannesa, lalu kembali masuk menemui Sabrina.
Di sana, Sabrina masih mematung seperti saat Fabian membawanya untuk duduk. Pandangannya terlihat kosong, seolah tidak ada jiwa dalam raganya.
Fabian berjongkok di depan Sabrina, menatap mata sayu istrinya. Sedikit tersenyum saat pandangannya terarah pada bibir Sabrina yang membengkak karena ulahnya. Dengan lembut, pria itu mengusap bibir Sabrina, menyusurinya dari sudut ke sudut dengan jarinya.
__ADS_1
Sabrina bergeming. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang akan Fabian lakukan. Ia sudah mati rasa.
"Maafkan, aku. Aku tahu aku egois, tapi aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja," lirihnya sembari mengusap pipi Sabrina, lalu menyelipkan rambut berantakan istrinya ke belakang telinga.
"Kau pasti belum makan, aku akan siapkan makanan untukmu," ucap Fabian yang mendekatkan wajahnya pada Sabrina, dan mengecup singkat bibir wanita itu sebelum pergi.
Sabrina kembali menangis saat pintu kamarnya sudah tertutup. Ia ingin sekali menjerit, meluapkan semua kemarahannya pada pria berengs*k seperti Fabian. Kalau memang harus terluka karena berpisah, akan ia tanggung saat ini juga. Ia tidak lagi peduli dengan permintaan ayah mertuanya, persetan dengan kalimat menaklukkan suami yang dulu menjadi motivasinya agar bisa membuat pria itu memilihnya.
Sekarang ia sadar, tidak ada harapan untuknya bisa bersama pria yang tidak pernah mencintainya. Fabian tidak akan berubah, pria itu akan tetap memilih Vannesa dari pada dirinya.
Sabrina bergegas menghapus air matanya saat handle pintu itu bergerak dan Fabian membuka pintu kamar. Pria itu masuk dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Sabrina. Ada dua potong sandwich dan juga segelas susu di sana.
"Aku hanya bisa membuat ini untukmu, makanlah, kau pasti lapar."
Sabrina membuang muka, rasanya muak sekali melihat pria ini.
Sabrina tak ingin menjawab, ia justru menatap tajam pada Fabian. Sangat jelas di matanya api amarah yang tengah berkobar.
"Kalau begitu minumlah susu ini terlebih dulu."
Sabrina menatap susu di tangan Fabian, lalu menampiknya saat pria itu hendak menyorong gelas itu ke mulutnya. Saking kagetnya, bukan hanya gelas susu itu yang terjatuh, tapi juga nampan di tangan kiri Fabian. Sarapan yang ia buat untuk istrinya kini berserakan di lantai bersamaan dengan pecahnya piring dan gelas yang menjadi wadahnya.
Fabian menatap murka pada apa yang dilakukan Sabrina. Emosinya kembali naik saat wanita itu melukai harga dirinya, ia sudah berusaha bersikap baik sampai rela membuatkan makanan tapi dibuang begitu saja, seolah Sabrina tidak menghargai usahanya.
"Apa yang kau lakukan, hah!" sentaknya dengan keras pada Sabrina.
__ADS_1
"Aku ingin berpisah," lirih Sabrina.
Fabian semakin marah mendengar permintaan istrinya. "Kau bilang apa?"
"Aku ingin kita bercerai, aku ingin berpisah denganmu!" jawab Sabrina lantang.
Melihat keberanian Sabrina membuat Fabian semakin naik darah. Ia mengcengkeram rahang Sabrina, dan berkata, "Katakan sekali lagi!"
Dengan kasar, Sabrina menepis tangan Fabian. Ia memberanikan diri untuk melawan, ia tidak mau selamanya jadi pihak yang tertindas. "Pergi, dan ceraikan aku sekarang juga!" tantangnya.
Fabian tertawa, seolah permintaan Sabrina adalah lelucon. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapan pun!"
Sabrina marah mendengar jawaban Fabian. "Kau pria berengs*k, aku tidak sudi lagi bersamamu!" Sabrina memukul dada Fabian dan berusaha mendorongnya pergi.
Fabian bahkan belum bergeser dari tempatnya, tapi rasanya tenaga Sabrina sudah habis. Pria itu langsung menahan kedua tangan Sabrina yang masih berusaha membuat Fabian enyah dari hadapannya. Dengan satu dorongan saja, Fabian sudah membuat Sabrina terjerembab ke atas ranjang.
Sabrina langsung berusaha untuk bangkit, tapi Fabian lebih dulu mengungkungnya. "Kau tidak akan pernah ke mana pun, selama aku menginginkanmu," ujar Fabian sinis.
Emosi dan ego yang meninggi, membuat pria itu hilang kendali. Ia bersikap seperti binatang dan melupakan moral yang ia miliki, hanya untuk menunjukkan pada wanita ini, siapa dirinya, dan apa yang bisa ia lakukan agar wanita ini tetap tunduk padanya. Dengan kasar Fabian menggagahi Sabrina. Mencederai maruah Sabrina sebagai seorang wanita dan istri.
Usai melakukan hal bejat itu, Fabian memungut semua baju yang tadi ia lempar secara asal. Memakainya kembali dan pergi begitu saja dari tempat itu. Sabrina tak henti-hentinya menangis sejak pria itu memaksanya hingga sekarang menelantarkannya.
Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terbuka, meratapi nasibnya yang bersuamikan pria seperti Fabian. Kini ia tak lagi menahan tangis itu, Sabrina berteriak sekeras-kerasnya, meluapkan emosi yang sedari tadi tertahan.
Dalam tangis yang berderai, ia mengingat pesan seseorang yang tadi pagi mengantarnya ke apartemen. Sabrina mencoba bangkit dengan menahan sakit di tubuh dan juga hatinya.
__ADS_1
Sabrina mencari ponselnya, dan menghubungi seseorang. "Jemput aku."