Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.59 Membalasmu


__ADS_3

Merasa tak dianggap, Fabian langsung bangkit dan meninggalkan Sabrina. Ia pergi untuk menyegarkan tubuh juga otaknya yang mulai memanas. Dari atas ranjang, mata Sabrina melirik ke arah Fabian menghilang, sekadar ingin tahu ke mana pria itu meninggalkannya.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk Fabian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sengaja. Ia mau pamer body goals-nya pada sang istri. Tidak mungkin ada wanita yang menolak tampilan sempurna dari tubuh atletisnya.


Fabian mengambil kopernya dan berniat membawanya naik ke atas ranjang. "Bisa geser sedikit?" ujarnya pada Sabrina yang belum tidur.


Sabrina yang tadinya tak mau ambil peduli dengan terpaksa harus memberi perhatian pada suaminya itu. Matanya membelalak seketika, melihat tampilan shirtless Fabian. Ia memindai Fabian dari atas sampai pada jajaran enam potong roti sobek di perut Fabian, lalu kembali pada rambut Fabian yang basah.


Darahnya berdesir saat itu juga. Tubuh sempurna suaminya mendadak begitu menggoda imajinasinya. Ia sampai bergeming menatap Fabian yang berdiri tepat di depannya.


"Hei, kau bisa menggeser tubuhmu sedikit?" Suara Fabian membuatnya malu karena raut wajahnya begitu kentara memperlihatkan ketertarikan pada obyek di depannya.


"I-iya," jawab Sabrina lugas. Mati sudah gengsinya! Pasti saat ini pipinya sudah semerah apel.


"Terima kasih." Fabian meletakkan kopernya di atas ranjang, tepat di samping Sabrina.


Wanita yang tadi sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan Fabian itu, kini memilih untuk menggenggam benda pipih tersebut di tangannya. Memperhatikan Fabian yang sedang membolak-balik isi kopernya. Entah apa yang pria itu cari. Tanpa sadar pandangannya turun ke bawah, tepat ke handuk putih yang menutupi bagian bawah perut pria itu.


Mulutnya terbuka saat otaknya menyadari sesuatu yang tak boleh ia pikirkan. Untung saja Fabian tak melihatnya karena pria itu langsung pergi setelah mengambil sesuatu yang tak Sabrina perhatikan.

__ADS_1


Kepergian Fabian yang masuk kembali ke kamar mandi membuat Sabrina seolah tersadar dengan ketidakwarasannya. Ia menepuk kepalanya sendiri. "Come on Sabrina, wake up!" ujarnya pada diri sendiri. Ia terus saja menepuk-nepuk kepalanya agar tak memikirkan hal yang tak boleh ia pikirkan untuk saat ini.


Di saat yang sama Fabian melihatnya, saat Sabrina terus menepuk kepalanya. "Apa yang kau lakukan?"


Sabrina berhenti seketika, ia menjawab pertanyaan Fabian dengan gagap, "Y-ya?"


Fabian kembali bertanya, "Kenapa kau memukul kepalamu. Apa kau pusing?"


Sabrina tersenyum canggung. "Ah ... ini ya, tidak ada apa-apa, tapi ya ... aku memang sedikit pusing. Mungkin karena kelelahan." Sabrina semakin tak bisa menyembunyikan kegugupannya.


"Istirahatlah, aku juga akan istirahat." Fabian mengambil bantal dan membawanya ke sofa.


Detak jam mengiringi setiap detik Sabrina. Ia belum juga bisa memejamkan mata. "Fabian," panggil Sabrina.


"Hmmm," sahut Fabian dari sofa.


"Apa kau sudah tidur?"


"Kenapa, apa kau tidak bisa tidur?"

__ADS_1


"Hmmm."


Sontak Fabian terduduk. "Mau aku temani?" tanyanya antusias.


Sabrina yang masih dengan posisi rebahan menatap tajam ke arah sofa. Ia bisa melihat senyum menyebalkan Fabian dengan jelas.


"Aku bis membantumu untuk tertidur dengan cepat. Kau mau?" tawar Fabian masih belum beranjak dari sofa.


Sabrina menatap curiga pada sikap Fabian. Memangnya apa yang bisa pria itu lakukan untuk bisa membuatnya terlelap lebih cepat?


________________________________________________


Kira-kira, apa nih yang akan Fabian lakukan biar Sabrina bisa cepet tidur? 🤭


Apakah ....


a. Dibikin capek


b. Dinyanyikan lagu Nina Bobo

__ADS_1


__ADS_2