
Setelah menempuh jarak yang tidak dekat, sampailah Lucas di Victor Harbour. Tempat di mana Fabian menyembunyikan kekasihnya, Vannesa. Sejujurnya ia sangat kesal mendapatkan tugas ini dari Sergio, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menolak perintah ayah tirinya itu.
Lucas sangat hafal jalanan kota ini, tanpa bertanya pun dengan mudah ia bisa menemukan apartemen kekasih saudara tirinya itu. Lucas mengetuk pintu apartemen Vannesa, setelah menunggu beberapa saat pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Vannesa melihat Lucas yang berdiri di depan pintu apartemennya.
"Lu-Lucas," sapanya pada saudara tiri kekasihnya itu.
Pria itu menatap dingin pada Vannesa, tapi tidak dengan Vannesa, wajahnya berbinar setelah sekian lama tidak bertemu pria yang menjadi selingkuhannya ini.
"Lucas," seru Vannesa yang langsung menghambur ke pelukan pria tampan itu. Hanya sebentar, karena Vannesa tidak sabar untuk menyeret Lucas masuk ke apartemennya. Vannesa mendudukkan Lucas di sofa ruang tamu dan ia sendiri langsung duduk dipangkuan pria itu.
"Lama sekali kau tidak mengunjungiku, aku sangat merindukanmu, Sayang," ucap Vannesa yang tidak tahan untuk tidak mengecup bibir Lucas.
"Kenapa kau tidak membalas pesanku akhir-akhir ini, kau bahkan mengabaikan teleponku." Vannesa menampakkan raut merajuknya, tapi itu hanya sebentar.
"Baiklah aku akan memaafkanmu karena kau sudah datang kemari." Vannesa kembali menciumi Lucas, menampakkan betapa besar perasaannya pada kakak tiri Fabian itu.
"Turunlah," suruh Lucas.
Vannesa kaget mendengar apa yang diminta Lucas, biasanya prianya ini sangat suka ia bermain di pangkuannya, tapi kali ini sikap Lucas begitu dingin.
"Kenapa, apa yang terjadi?" tanya Vannesa.
"Aku bilang turun!" titahnya dengan sedikit menyentak tubuh Vannesa.
Melihat sorot marah Lucas, Vannesa akhirnya turun dari pangkuan pria yang ia sebut sebagai kekasih gelap itu. Lucas menatap lekat Vannesa, hingga wanita itu sedikit merasa ketakutan. Ia takut jika Lucas marah, dan berbuat di luar kendali.
"Apa yang terjadi, kenapa kau marah?" tanya Vannesa hati-hati.
Lucas masih terdiam, tak sedikit pun mengalihkan tatapannya yang tajam pada Vannesa. Tiba-tiba, Lucas menarik tubuh Vannesa dan membawanya ke kamar wanita itu. Lucas melempar Vannesa ke atas ranjang, dan mengambil benda yang terselip dibalik jasnya.
"Apa yang akan kau lakukan, Lucas?" Vannesa terkesiap melihat benda tajam mengkilat yang kini ada di tangan Lucas. Wanita itu berusaha bangkit, tapi kalah cepat dengan Lucas yang kini sudah berada di atas tubuhnya.
"Jangan Lucas, jangan kau lakukan ini padaku," mohon Vannesa dengan suara ketakutan saat Lucas mulai menempelkan benda tajam itu di wajah cantiknya.
"Lucas, kau tidak akan melakukannya bukan. Aku sudah melakukan apa pun untukmu, aku mohon jangan lukai aku," ucap Vannesa dengan bibir bergetar.
"Kau pernah berjanji akan membuatku bahagia dengan kehidupan yang kau berikan, kau tidak lupa itu, bukan?" Vannesa berusaha mengembalikan ingatan tentang masa-masa yang indah bersama Lucas, agar pria itu menghentikan tindakannya saat ini.
"Lucas," lirih Vannesa lembut. "Kau ingat semuanya, bukan?"
Vannesa terus berusaha agar Lucas tidak berbuat nekat, ia menatap manik biru Lucas untuk meluluhkan pria itu. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Lucas membuka suara, "Bukan aku yang lupa, tapi kau yang sudah terlena dan begitu menikmati kehidupan yang diberikan Fabian hingga lupa dengan kehidupan yang aku janjikan. Bukankah begitu!" bentaknya tepat di depan wajah Vannesa.
"A-apa maksudmu?" tanya Vannesa takut.
__ADS_1
"Apa?" pekik Lucas. "Kau terlalu menikmati peranmu menjadi kekasih Fabian dan itu membuatmu lupa akan tujuan awalmu bersamanya."
"Itu tidak benar, aku masih milikmu dan akan terus jadi milikmu." Tangan Vannesa mencoba meraih pipi Lucas dan ingin mengusapnya, namun Lucas segera menyingkirkan tangan itu sebelum mencapai wajahnya. Vannesa semakin takut dengan penolakan Lucas.
"Benarkah? lalu kenapa kau belum juga membuat Fabian pergi dan lari denganmu, dan sekarang justru aku yang harus menyingkirkanmu!" teriak Lucas.
"Apa kau benar-benar ingin aku melakukannya sendiri, bukan anak buah Sergio tapi aku yang akan menyingkirkanmu dari kehidupan Fabian!" sambungnya.
Mata Vannesa terbelalak, mendengar kalimat Lucas. Ia tidak mengerti maksud Lucas tapi ia bisa meraba arti dari kata menyingkirkan.
"A-apa maksudmu, Lucas. Kau bercanda, 'kan?"
"Bercanda, apakah perintah dari Sergio Ramos itu sebuah lelucon?"
Vannesa semakin tidak mengerti.
"Harusnya kau bujuk Fabian untuk kabur dan pergi jauh dari kehidupan Sergio, dan aku bisa segera menyingkirkannya. Tapi apa? kau bahkan lupa dengan tujuanmu, sekarang harus aku sendiri yang menyingkirkanmu!"
"Tunggu ... tunggu, Lucas. Kau harus jelaskan dulu semua maksud ucapanmu agar aku mengerti," pinta Vannesa dengan sorot memohon. Tentu saja semua demi hidupnya yang tidak ingin berakhir sia-sia.
"Kau ingin penjelasan, baiklah. Ini penjelasannya!" Lucas mengalihkan pisau itu ke leher Vannesa, dan menggoreskannya di sana. Vannesa memekik seiring rasa sakit yang mendera. Ia bisa merasakan jika kini luka itu telah mengalirkan darah.
"Lucas," lirihnya tidak berani melawan, karena ia tahu seperti apa seorang Lucas. Semakin ia memberontak, pria itu akan semakin kejam. Vannesa memilih untuk menutup matanya. Menahan perih dari luka sayatan di lehernya, air matanya mengalir begitu saja, bukan hanya karena luka di lehernya, tapi sikap Lucas yang lebih menyakitinya.
Tatapan Lucas pada Vannesa semakin dingin. Perintah Sergio terus saja membayang di otaknya.
"Pesanlah, apapun yang kalian inginkan," ucap Mark pada Caty dan Paul.
Pria itu begitu bersemangat dengan undangannya, pukul tujuh tepat Mark sudah berada di depan toko menunggu Sabrina dan teman-temannya. Sama semangatnya dengan Mark, Paul pun sangat tidak sabar untuk makan malam di restoran mewah yang dijanjikan oleh Mark. Benar saja, Mark membawa mereka ke Japanese Restaurant seperti keinginan Caty.
Setelah memesan segala menu yang ingin mereka cicipi di restoran ini, mereka mengisi waktu menunggu dengan obrolan. Dimulai dari Paul yang menanyakan apa pekerjaan Mark hingga bisa mentraktir mereka di restoran semewah ini.
"Aku seorang akuntan di perusahaan yang bergerak di bidang logistik," jawab Mark.
"Apakah gaji akuntan itu sangat besar, sampai kau bisa mentraktir kami di tempat ini?" tanya Paul penasaran.
Mark tertawa dengan pertanyaan Paul. "Sebenarnya tidak begitu besar saat aku masih berada di kantor cabang, tapi karena sekarang aku sudah berada di pusat mungkin akan lebih besar," jawab Mark malu.
"Kau tidak menggunakan uang korupsi bukan untuk mentraktir kami?" tanya Paul, yang membuat ketiga orang yang duduk bersamanya serentak membuka matanya lebar-lebar.
"Apa?" tanya Paul saat Caty mendelik padanya.
"Aku hanya sekedar bertanya," elak Paul yang menyadari arti tatapan Caty.
__ADS_1
"Permisi, silahkan pesanan Anda." Ada dua waiters yang datang membawakan pesanan mereka, dan menatanya di meja.
"Sudah-sudah, ayo kita makan," ajak Sabrina untuk menghentikan perang mata antara Paul dan Caty.
"Maafkan dia Tuan, dia memang kampungan jadi tidak tahu sebesar apa gaji seorang pekerja kantoran," ucap Caty pada Mark.
"Apa?" delik Paul. "Kau bi_____" Paul akan protes karena Caty mengatainya kampungan tapi kaki Caty lebih dulu menginjak kaki Paul dan memintanya diam dengan gerakan bibir yang tak bersuara.
Mark kembali tertawa menanggapi Caty. "Tidak apa, sangat wajar bagi Paul menanyakan hal itu."
"Terima kasih atas pengertiannya, Tuan."
"Tidak perlu memanggil Tuan, panggil saja aku Mark. Aku lebih suka itu," ucap Mark pada Caty.
"Baiklah, Mark."
Tak ingin lagi menunggu, Mark segera mempersilakan tamu undangannya untuk segera makan. Caty dan Paul tak sabar untuk menikmati makanan khas jepang yang mereka pesan. Paul bahkan mengambil sushi dalam jumlah banyak ke piringnya, sebelum Caty menghabiskannya. Ia tahu Caty sangat menyukai sushi.
"Hei ... apa kau bisa lebih sopan?" delik Caty.
"Tidak, aku harus mengambilnya dulu sebelum kau menghabiskannya dan tidak menyisakan satu pun untukku." Paul kembali mengambil satu sushi untuk dipindahkan, tapi tangan Caty segera memukulnya dengan sumpit.
"Hentikan, jangan seperti anak kecil." Sabrina tidak tahan dengan sikap kedua pegawainya.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir. Kalau habis, kalian bisa pesan lagi sebanyak yang kalian inginkan," ucap Mark.
"Maaf," ucap Sabrina mewakili teman-temannya.
Akhirnya Paul pun segera meminta mereka untuk makan. Paul dan Caty terlihat menikmati hidangan ala jepang itu, sementara Sabrina makan dengan sangat halus. Mark bisa melihat jika Sabrina pasti berasal dari keluarga terhormat, semua bisa Mark lihat dari attitude yang ditunjukkan oleh Sabrina.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Sabrina, yang membuat Mark tergeragap. Sejak tadi Mark terus menatap Sabrina yang sedang makan.
"I-iya, aku makan," jawab Mark canggung.
Sebelum Mark mengambil sushi untuknya, ia melihat shoyu yang keluar dari bibir Sabrina, dengan cepat Mark mengusap shoyu itu dengan jarinya. Hal itu membuat Sabrina tersentak, dan menepis tangan Mark dengan sopan.
Sadar akan kelakuannya yang lancang, Mark meminta maaf. "Maafkan aku."
"Tidak apa, tapi aku bisa melakukannya sendiri." Sabrina mengambil tisu dari dalam tasnya dan mengusap bekas shoyu itu.
Paul dan Caty benar-benar menghabiskan hidangan yang tersaji tanpa sisa. Setelahnya Mark mengantarkan mereka pulang satu per satu termasuk Sabrina.
"Terima kasih," ucap Sabrina setelah turun dari mobil Mark.
__ADS_1
Ia berjalan sendirian menuju kamar apartemennya. Sabrina menoleh saat berada di depan pintu lift, ia pun mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang. Berusaha mengabaikan segala perasaan aneh sejak di restoran tadi Sabrina terus melangkah. Ia segera membuka pintu apartemennya untuk mencari tempat aman.
Sabrina terperanjat saat tiba-tiba seseorang menarik tangannya bersamaan dengan pintu apartemen yang terbuka.