
"Sabrina ...." Suara teriakan terdengar keras dari luar kamarnya. Sabrina yang sejak mengalami mual subuh tadi memilih untuk kembali ke ranjang dan membungkus dirinya dengan selimut, berharap bisa tidur. Benar saja, tak lama setelah ia merasakan lemas karena berusaha memuntahkan isi perutnya ia bisa tertidur.
Namun baru juga satu jam ia terlelap, suara panggilan yang menyebut namanya tak sabar untuk dibukakan pintu. Masih sangat malas Sabrina menyingkap selimutnya dan berjalan membuka pintu. "Sharon, ada apa?"
"Kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Sharon panik.
"Aku?" Sabrina sedikit bingung.
"Hemm." Sharon mengangguk.
"Tentu saja memangnya kenapa?"
"Kukira kau sakit, soalnya ini sudah jam sembilan tapi kau belum bangun juga."
Sabrina terpekik kaget, "Apa, jam sembilan?"
Sharon mengangguk.
"Astaga." Ternyata Sabrina kesiangan, tadinya ia pikir ia baru saja terpejam, kira-kira baru satu jam tapi nyatanya ia tertidur sampai hampir empat jam.
"Maafkan aku." Sabrina jadi panik, ia langsung menutup kembali pintunya tanpa pamit. Segara bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk bekerja.
Sabrina memilih cara cepat. Ia mandi ala kadarnya. Segera ganti baju dan menyiram tubuhnya dengan minyak wangi.
Oh ... sial, perutnya tak bisa diajak kompromi. Setelah semua siap, aroma wangi yang menusuk hidung membuat ia merasa mual. Alhasil, ia kembali lagi ke kamar mandi. Memuntahkan sesuatu yang tidak ada karena perutnya memang kosong belum terisi. Rasa ini jauh lebih menyiksa dibandingkan subuh tadi.
Sabrina kembali membuka bajunya, mengguyur seluruh tubuhnya agar aroma parfum di tubuhnya menghilang. Setelah usaha kerasnya akhirnya bau parfum itu bisa berkurang meski tak bisa menghilang sepenuhnya.
Ia kembali berganti baju. Kali ini ia langsung saja berangkat tanpa make up atau pun wewangian.
"Di mana, Sharon?" tanya Sabrina pada Kardi, supir keluarga Sharon. Meski logatnya masih belum benar, tapi supir itu memahami apa yang Sabrina katakan.
"Nyonya Sharon sudah berangkat bersama Tuan Matt."
"Oh ...." Sabrina langsung masuk ke mobil, tanpa diperintah Kardi sudah paham ke mana ia harus mengantar Nona muda yang katanya saudara Nyonya Sharon.
Sampai di restoran, Sabrina terlihat pucat dan lesu. Sharon yang menyadari hal itu langsung bertanya, "Sabrina, apa kau sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja." Sabrina sedikit heran, bukankah pagi tadi Sharon sudah menanyakan hal yang sama dengannya kenapa ia bertanya lagi. "Memangnya kenapa, apa ada yang aneh menurutmu?"
"Ya, jujur saja kau terlihat pucat dan ____" Sharon tidak melanjutkan kalimatnya.
Sabrina sadar sekarang dengan alasan pertanyaan Sharon. "Semalam aku bermimpi buruk, sejak itu aku tidak bisa tidur. Subuh tadi aku malah muntah-muntah, dan tadi pagi sebelum berangkat kemari setelah selesai mandi aku mual-mual lagi," jelas Sabrina.
"Oh ... mungkin kau masuk angin," tebak Lucas.
"Masuk angin? apa itu?" Sabrina bingung karena belum pernah mendengar istilah itu.
"Kata orang indonesia, orang yang kurang tidur bisa terserang masuk angin, gelajalanya adalah mual-mual seperti yang kau rasakan. Biasanya, orang Indonesia akan memilih mengobatinya dengan kerokan. Aku pernah mencobanya, dan sembuh. kau mau coba?"
__ADS_1
Sabrina semakin bingung. masuk angin, kerokan. Apa itu?
"Nanti kalau pulang aku akan meminta Sari untuk melakukannya untukmu. Aku jamin masuk anginmu langsung sembuh."
Sabrina mengangguk saja karena tidak tahu soal apa yang Sharon katakan. Ia hanya percaya jika Sharon tidak akan menjerumuskannya.
__________________
Sydney
Fabian masih belum sadarkan diri. Namun, saat ini ia sudah berada di sebuah gudang tua.
"Lucas, maafkan aku," mohon Vannesa. Sampai-sampai wanita itu berlutut di kaki Lucas.
"Aku mengaku salah, tapi aku punya alasan untuk semua ini," ujarnya berusaha menjelaskan.
"Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari Sergio Ramos. Kau tahu, dia tidak akan memaafkanmu jika tahu kau menghabisi putranya."
Lucas bergeming, ia hanya menatap remeh pada wanita yang telah mengkhianatinya.
"Lucas, aku mencintaimu. Aku tidak ingin kau terluka apa lagi jika harus kehilangan nyawa. Sudahi saja semuanya Lucas, kita tinggalkan tempat ini. Kubur saja keinginanmu untuk mengambil alih kekayaan Sergio Ramos, karena itu mustahil," Vannesa terus saja bicara.
"Berdiri!" titah Lucas.
Vannesa menggeleng. "Tidak, aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkan aku dan menuruti apa yang kukatakan."
Vannesa tetap bergeming. Ia takut melihat kemurkaan di wajah Lucas.
"Suruh dia berdiri," ucap Lucas pada anak buahnya.
Dua anak buah Lucas langsung memaksa Vannesa berdiri meski wanita itu enggan. Dua pria bertubuh kekar itu memegangi kanan dan kiri lengan Vannesa agar wanita itu bisa sejajar dengan Lucas.
"Apa kau jatuh cinta padanya?" Lucas menunjuk Fabian yang tak berdaya.
Vannesa menggeleng cepat. Ia tidak mungkin mengaku karena ia masih sangat sayang dengan nyawanya.
"Apa kau jujur?"
Vannesa mengangguk.
Seringai di bibir Lucas terlihat begitu menyeramkan. "Siapa yang kau cintai?"
"K-kau," jawab Vannesa dengan bibir bergetar.
Lucas tertawa mendengar jawaban kekasihnya. "Bagus. Kalau begitu aku akan memberimu kesempatan untuk membuktikan cintamu padaku. Apa kau bersedia?"
"Te-tentu saja."
"Bunuh dia di depanku."
__ADS_1
Mata Vannesa membulat sempurna. Bagaimana bisa Lucas menyuruhnya untuk membunuh Fabian hanya demi membuktikan cintanya.
"Kenapa, apa kau tidak tega?" cibir Lucas. "Atau kau memang sudah jatuh cinta pada saudara tiriku?"
"B-bukan begitu, Lucas. Aku belum pernah membunuh orang sebelumnya, aku tidak berani." Vannesa mencoba mencari cara untuk menghindar.
"Justru karena kau belum pernah melakukannya, aku ingin kau melakukan hal ini satu kali dalam hidupmu untuk membuktikan jika kau masih setia padaku."
"Tapi, Lucas. A-aku ____"
"Kau boleh memilih sendiri senjatamu," potong Lucas cepat.
Seorang anak buah Lucas langsung memperlihatkan berbagai macam senjata yang tertata rapi di atas meja.
"Pilihlah!" ujar Lucas.
Vannesa menatap seram pada senjata yang berjejer rapi itu. Mulai dari pisau kecil hingga samurai tersedia di sana, begitu juga dengan senjata api. Demi menghilangkan kecurigaan Lucas, Vannesa berjalan menghampiri meja di mana banyak senjata tersedia.
"Ambil salah satu yang kau suka!" titah Lucas.
Vannesa sempat menoleh pada Lucas, dilihatnya aura kemarahan Lucas belum padam jua.
Ia pun menatap sebuah pistol, kemudian mengambilnya.
"Pilihan yang bijak. Setidaknya kau tidak perlu melihat Fabian tersiksa semakin lama."
Dengan ragu, Vannesa mengangkat senjata itu dan membawanya mendekati Fabian. Tangannya bergetar hebat saat membawa senjata itu ke hadapan Fabian.
"Lakukan sekarang!"
Vannesa menoleh ke arah Lucas yang terus memantaunya. Kemudian kembali berjalan mendekati Fabian. Sampai pada jarak yang sangat dekat dengan Fabian, Vannesa mengarahkan senjatanya pada pria tak berdaya itu. Matanya terpejam saat ia bersiap menarik pelatuk tersebut.
"Buka matamu, aku ingin kau melihat bukti cinta dan kesetiaanmu padaku!" ujar Lucas.
Vannesa sangat takut, dalam hatinya ia sedang memikirkan nasib dirinya. Haruskah ia menjadi seorang pembunuh demi omong kosong yang disebut cinta ini?
"Jangan gugup! buka saja matamu, dan arahkan senjatamu tepat di kepala atau dada Fabian. Tarik pelatuknya pelan-pelan dan nikmati pemandangan indah yang terjadi." Lucas tertawa dengan ucapannya sendiri.
Seperti keinginan Lucas, Vannesa membuka matanya lebar-lebar dan menarik pelatuknya dengan cepat. "Maafkan aku Fabian, aku memang mencintaimu, tapi aku juga tidak bisa kehilangan nyawaku sendiri."
Dorrr ....
________________
Indonesia
Sabrina memegangi dada sebelah kirinya. Jantungnya berdebar dengan ritme tak beraturan. Perasaan aneh yang membuatnya gelisah kembali muncul. Ia memiliki firasat yang buruk, tapi tak bisa menerjemahkannya dalam kata.
Hanya gelisah tak tentu arah yang ia rasa melanda jiwa.
__ADS_1