Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.37 Pergilah!


__ADS_3

"Ayo masuk," ajak paman Andrew saat mereka tiba di depan rumah besar pria itu.


Paman Andrew membuka pintu rumahnya sembari berteriak, "Sayang, lihatlah siapa yang datang."


"Ayo!" Paman Andrew menoleh pada Sabrina.


Dari lantai atas turun seorang wanita yang begitu anggun, dialah Marlyn—istri paman Andrew.


"Lihatlah, Sayang, siapa yang datang kali ini."


Dari tangga, Marlyn menghampiri Sabrina. Ia menatap pangling pada wanita muda yang dibawa suaminya. "Sabrina, kau Sabrina, bukan?"


Sabrina mengangguk.


"Apa kau masih mengingat aku?" Ada alasan kenapa Marlyn bertanya seperti itu. Sabrina dan Marlyn jarang bertemu terlebih sejak William Alandro tiada. Dulu Marlyn sempat menawarkan diri untuk mengasuh Sabrina setelah kepergian William, tapi Bibi May—sang pengasuh—juga tidak ingin berpisah dari Sabrina. Selain mereka sudah sangat dekat, merawat Sabrina adalah bentuk dari rasa berterima kasihnya pada ayah Sabrina.


Sabrina mencoba tersenyum, dan kembali mengangguk.


Meski hanya senyum dan anggukan membuat Marlyn langsung memeluk Sabrina erat. "Kau sudah dewasa rupanya, aku dengar kau sudah menikah. Maafkan aku yang tidak bisa datang pada upacara pernikahanmu, saat itu aku sedang berada di Indonesia. Kau masih ingat dengan Sharon, yang dulu sering bermain denganmu saat kami berkunjung ke rumahmu?"


Sabrina sebenarnya ingin menanggapi keramah-tamahan Marlyn, tapi saat ini ia sungguh sedang tidak ingin banyak bicara. Kalau boleh, ia ingin sendiri dulu, tidur sejenak, dan melupakan segala luka yang mendera.


Sabrina pun memilih untuk kembali mengangguk dan memaksakan senyumnya, lagi.


"Saat itu, saat kau menikah, Sharon sedang melahirkan anak keduanya dan aku ke sana untuk menemani putriku itu." Marlyn terlihat bahagia dan antusias saat bercerita tentang putrinya.


"Nanti aku akan menghubunginya untukmu, agar kalian bisa kembali mengobrol seperti saat kecil dulu," sambung Marlyn.


Paman Andrew menyadari sikap Sabrina yang tidak nyaman. "Sayang, biarkan Sabrina istirahat sebentar. Nanti kita ajak dia untuk berbincang, dia lelah." Andrew menghentikan kesenangan istrinya begitu saja, kalau tidak, wanita itu pasti akan menghabiskan hari hanya untuk menceritakan anak dan cucunya.


"Siapkan kamar untuk Sabrina," suruh paman Andrew.


Marlyn sedikit kecewa karena ia harus menjeda cerita tentang anak dan cucunya yang tinggal di luar negeri. Namun, melihat raut lelah Sabrina membuat wanita itu jadi sadar diri. "Baiklah, ayo aku antar kau ke kamarmu," ajak Marlyn, wanita itu bahkan menggandeng tangan Sabrina.

__ADS_1


Marlyn membawa Sabrina ke atas. "Kau istirahat dulu saja, nanti aku akan membangunkanmu untuk makan malam," ujar Marlyn.


"Terima kasih," lirih Sabrina.


Marlyn mengusap lengan Sabrina sebelum meninggalkan wanita muda itu sendiri. Seperti keinginannya tadi, ia ingin sendiri. Sabrina berjalan mendekati sebuah cermin besar yang berada tak jauh dari ranjang. Ia melihat bayangannya sendiri dalam cermin.


"Menyedihkan." Suara dalam hatinya.


Air mata yang tadi sempat ia hapus saat tiba di depan rumah paman Andrew, kini kembali mengalir tanpa ijin. Hanya menatap bayangannya sendiri, membuat ia merasa begitu terlukai. Matanya menatap bibirnya dalam cermin, sekilas bayangan tentang bibir Fabian berkelebat di sana. Lalu, pandangannya turun, menatap tubuhnya yang terasa sakit. Ia jijik jika harus mengingat apa yang Fabian lakukan padanya, meski ini bukan kasus hilangnya keperawanan, tapi ulah Fabian telah mencabik harga dirinya. Rasa marah kembali menyeruak saat ia tak bisa menepis Fabian dalam ingatannya.


Sabrina berlari ke kamar mandi, Ia membuka keran air untuk mencuci jejak-jejak lelaki berengsek itu. Air mata tak henti-hentinya mengalir, justru menderas seiring air yang mengguyur tubuhnya.


Sabrina mengusap bibirnya dengan kasar, menggosok-gosok badannya agar tak lagi tersisa jejak Fabian di sana. Kakinya semakin melemah, tak mampu lagi bertahan untuk sekedar menopang tubuh rapuhnya. Sabrina tak lagi memaksa untuk tegak berdiri dalam derasnya air yang mengguyur, ia biarkan tubuhnya luruh ke lantai.


______________________


Begitu sampai di mansion ayahnya, Fabian segera berlari mencari Sergio. "Ayah!" teriaknya dari luar. "Ayah!" teriak Fabian lagi, ia terus membawa langkahnya menyusuri mansion besar itu untuk menemukan Sergio.


"Di mana, Ayah?" tanya Fabian saat berpapasan dengan Rosita.


Tanpa berucap terima kasih, Fabian langsung berlari ke halaman belakang. Benar saja, di sana Fabian melihat Sergio sedang bermain-main dengan Buddy, seekor anjing Border Collie, yang sebenarnya adalah peliharaan Fabian. Anjing pintar itu menggong-gong begitu melihat Fabian, dan berlari seolah menyambut tuannya.


"Di mana, Sabrina?" tanya Fabian seolah tak punya sopan santun.


Sergio hanya menatap sekilas Fabian, kemudian memanggil Buddy dan kembali mengajaknya bermain.


"Ayah, aku tanya di mana lagi Ayah menyembunyikan Sabrina?"


"Kau ini bicara, apa?" Sergio memicingkan matanya.


"Ayah pasti yang telah membawa Sabrina pergi dari apartemennya, bukan. Sekarang katakan di mana Sabrina."


Sergio tersentak, ia menatap marah pada Fabian.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Jangan berpura-pura lagi, Ayah. Aku tahu pasti kau yang telah membawa Sabrina pergi. Katakan di mana Ayah menyembunyikannya!"


Sergio langsung berdiri. "Apa yang kau lakukan hingga dia pergi!" sentaknya pada Fabian.


"Ini bukan saatnya membicarakan alasan dia pergi, sekarang katakan saja di mana Ayah menyembunyikan Sabrina."


"Aku tidak pernah menyembunyikannya!"


"Lalu ke mana Sabrina pergi?" Fabian menjambak rambutnya frustasi. Kalau Ayahnya tidak tahu, lalu pergi ke mana istrinya itu.


Sergio dengan cepat menghubungi Christ, dan meminta pria itu untuk mencari Sabrina.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Sergio setelah menelepon christ.


Fabian menatap Ayahnya malu.


"Aku tanya apa yang sudah kau lakukan hingga menantuku pergi, hah!"


"Aku telah melakukan rudapaksa padanya," jawab Fabian mengakui kesalahannya.


Mendengar pengakuan anak semata wayangnya, amarah Sergio langsung meledak. Ia meraih kerah baju Fabian, dan memukul rahang putranya itu dengan telak. Fabian terhuyung, tapi Sergio tak memberinya ampun. Serangan demi serangan ia arahkan pada wajah putranya itu.


"Bangun!" Sergio menarik Fabian untuk berdiri.


"Kurang ajar, apa aku mendidikmu jadi seorang penjahat, hah!" satu pukulan lagi mendarat di wajah putranya.


"Aku mendidikmu agar kau punya moral yang baik sebagai manusia, tapi apa yang kau lakukan!"


Fabian tak membalas sedikit pun pukulan ayahnya. Ia menerima setiap pukulan dengan pasrah. Wajahnya mungkin sudah penuh lebam akibat dari bogem mentah sang ayah, tapi ia tetap diam. Fabian mengaku salah, dan ia pantas mendapatkan semua ganjaran itu.


"Pergilah, pergi dari rumahku, dan jangan pernah kembali jika kau tidak membawa menantuku bersamamu. Aku tidak akan menganggapmu sebagai putraku sampai kau membawa Sabrina kembali!" usir Sergio.

__ADS_1


"Aku menikahkanmu dengan Sabrina agar kau belajar bertanggung jawab atas kesalahanmu, tapi kau justru membuat kesalahan baru!" geram Sergio.


"Sekarang pergilah, jangan kau tampakkan wajahmu di depanku!" Sergio melenggang pergi setelah menghempas tubuh Fabian hingga jatuh.


__ADS_2