Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.12 Membalaskan Dendam


__ADS_3

Sabrina terus menatap pria yang mencekal tangannya. "Apa yang Anda lakukan, lepaskan!" Sabrina mengibaskan tangannya agar terlepas dari pria asing ini.


"Aku tidak mengenalmu, jadi lepaskan aku!" teriak Sabrina.


"Bagus, aku juga tidak mengenalmu. Dasar penculik!" tuduh pria itu.


Tentu saja Sabrina terkejut mendengar tuduhan yang dilayangkan untuknya. Penculik, yang benar saja ia dituduh menjadi penculik.


"Apa Anda bilang, aku penculik?" tanya Ivona dengan nada syok.


"Ya, siapa lagi kalau bukan kau!" tuduh pria itu lagi. "Ayo berikan anak itu sekarang padaku!"


Sabrina langsung memutar sedikit tubuhnya untuk melindungi Brandon. "Aku tidak akan memberikan anak ini padamu sampai kapan pun," teriak Sabrina.


"Dasar penculik keras kepala. Apa kau tidak lihat jika anak itu menangis terus, aku yakin kau punya niat yang jahat padanya, sebab itu ia terus menangis."


"Aku akan membawamu ke kantor polisi agar kau dihukum atas kejahatanmu." Pria yang masih mencengkeram tangan Sabrina itu berusaha menyeret Sabrina, tapi Sabrina tetap berusaha bertahan.


Mendengar kata polisi membuat Sabrina menjadi panik. "Bu-bukan ... aku bukan penculik!" Sabrina mencoba membela diri.


"Mana ada penjahat yang mau mengaku!" pria itu terus berusaha membawa Sabrina.


Sama seperti pria itu, Sabrina juga berusaha untuk bertahan karena merasa dirinya tidak bersalah. Situasi jadi semakin tak kondusif saat orang-orang mulai memperhatikannya, belum lagi dengan Brandon yang terus saja menangis.


"Tidak ... aku tidak mau, aku bukan penculik!" Sabrina terus meronta saat pria itu dengan paksa akan membawanya pergi.


"Pitt ... hentikan!" seru Rose, ibu Brandon.


Mendengar namanya dipanggil, pria itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke sumber suara. Seorang wanita berjalan ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rose pada pria yang tadi dipanggil Pitt itu.


"Aku menangkap penculik Brandon," jawab Pitt.


"Apa penculik!" pekik Rose.


Pria itu mengangkat tangannya yang mencengkeram Sabrina.


"Oh ... Astaga, kau sudah salah paham, Pitter Sayang," ujar Rose.


Pitter menautkan alisnya, bingung dengan situasinya sekarang.


Sebelum menjelaskan pada Pitter, Rose terlebih dahulu mengambil Brandon dari gendongan Sabrina. "Aku tadi sudah tidak tahan untuk ke toilet sementara kau lama sekali kembali, karena itu aku meminta bantuan Sabrina untuk menjaga Brandon sebentar," terang Rose.


Setelah mendengar penjelasan istrinya, pria itu langsung melepaskan tangan Sabrina. "Maafkan aku, sudah salah paham," ucap Pitter malu.

__ADS_1


"Tidak apa," jawab Sabrina antara marah dan malas karena sudah menjadi korban salah tangkap.


"Maafkan suamiku Sabrina, dia hanya khawatir dengan Brandon." Rose pun ikut meminta maaf atas kejadian tak menyenangkan ini.


"Sudahlah, aku mengerti," jawab Sabrina.


"Terima kasih atas bantuannya," ucap Rose sebelum pergi.


Sabrina masih merasa syok dengan ulah Pitter tadi, sebab itu ia putuskan untuk mencari bangku dan beristirahat sejenak untuk menormalkan kembali irama jantungnya. Sabrina mengeluarkan botol air dari tas ranselnya, ia teguk hampir setengahnya. Lalu mulai mengatur napas.


Cukup lama Sabrina beristirahat, ia hanya melihat pemandangan dari tempatnya duduk saat ini. Banyak pengunjung yang berlalu lalang di depannya.


Sabrina mulai mengeluarkan ponselnya untuk melihat adakah yang menghubunginya. Ternyata ada panggilan tak terjawab dari ayah mertuanya, karena itu ia sempatkan diri untuk memberi kabar pada Sergio melalui pesan singkat. Sabrina terlalu fokus mengetik pesan hingga tak sadar ada seseorang yang duduk di sampingnya.


"Apa kau menikmati liburanmu?" suara seseorang terdengar bertanya padanya.


Suara yang Sabrina sangat hapal. Untuk memastikannya Sabrina menoleh, betapa terkejutnya ia saat melihat pria di sampingnya.


"Fabian ...," lirihnya.


Sabrina tahu sejak dikabari oleh Caty jika Fabian akan mencarinya ke mari, tapi apa mungkin secepat ini. Kabar itu bahkan baru kemarin ia terima, dan kini suaminya ini sudah ada di depan matanya. Sabrina belum siap kalau seperti ini, ia bahkan masih ingin pergi ke tempat -tempat wisata yang lain.


Enyah kenapa reflek tubuhnya saat melihat Fabian justru ingin kabur. Sabrina sontak berdiri dan bersiap akan lari, tapi Fabian dengan cepat meraih tangan Sabrina hingga Sabrina meronta.


"Oh ... jadi kau mau kabur dariku? jangan pernah berharap!" Fabian menarik Sabrina mendekat, sangat dekat hingga tubuh mereka saling menyentuh.


"Kau hanya bisa pergi kalau aku yang melepaskanmu," bisik Fabian, tapi terdengar bagai ancaman untuk Sabrina.


Sabrina kembali meronta, ia tidak akan mau mengikuti pria ini jika sikap kasarnya tidak berubah. "Lepaskan." Sabrina mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Fabian lebih kuat di tangannya.


"Tidak usah membuang-buang tenaga untuk lari, karena aku akan tetap membawamu kembali ke rumahku!" ucap Fabian.


"Aku tidak mau ... aku bilang lepaskan aku!"


Bukannya melepaskan Fabian justru tersenyum menyeringai. Hal itu membuat Sabrina langsung berteriak, "Tolong ... tolong aku, ada pria mesum di sini!"


Teriakan Sabrina mengundang banyak orang yang berada di sekitarnya.


"Tolong lepaskan aku!" teriaknya lagi.


"Apa yang kau lakukan, bodoh!"


Sabrina tak menggubris. "To ____" Sabrina belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Fabian lebih dulu membekap mulutnya dengan tangan.


"Hummmp ...." Sabrina masih berusaha bersuara.

__ADS_1


Di saat yang sama banyak orang mulai berdatangan, dan melihat aksi Fabian. Karena panik, Fabian tidak fokus pada Sabrina. Kesempatan itu Sabrina gunakan untuk menggigit tangan Fabian, yang secara otomatis tangan Fabian terlepas diiringi jerit kesakitan dari pria itu. "Awwww ...."


Sabrina lepas dari Fabian ia lalu mencari perlindungan dari orang-orang yang datang. "Tolong aku, dia memaksaku," ucap Sabrina dengan air mata.


Tanpa pikir panjang, beberapa pria yang datang mulai memukuli Fabian yang tak siap. Ia hanya menahan setiap pukulan yang diarahkan kepadanya sembari berteriak, "Hentikan, kalian salah paham!"


Tak ada yang mau mendengar penjelasan Fabian, mereka terus memukuli Fabian. Melihat suaminya yang sudah babak belur, rasa kasihan muncul di hati Sabrina.


"Sudah ... sudah, tolong hentikan, kalian akan membunuhnya jika terus memukul," seru Sabrina.


Seketika semua berhenti. "Ayo kita bawa penjahat ini ke kantor polisi," ujar seseorang yang ikut memukuli Fabian.


"Apa yang akan kalian lakukan, aku bukan penjahat bagaimana kalian akan melaporkanku!" protes Fabian.


"Kau pikir kami percaya?" jawab orang tadi.


"Kalau tidak percaya tanya saja pada wanita itu, dia itu istriku, aku mencarinya dan akan mengajaknya pulang," jelas Fabian dengan menunjuk Sabrina.


Semua orang beralih menatap Sabrina dengan kesal karena telah mempermainkan mereka.


Sabrina hanya bisa nyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Maaf," ucapnya dengan rasa bersalah.


Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Sabrina dan Fabian berdua saja. Melihat Fabian dengan wajah yang menyedihkan membuat Sabrina berniat membantunya. Namun, ditepis oleh Fabian.


"Aku akan membantumu," ucap Sabrina.


Fabian justru mendelik marah pada Sabrina, dan ia berusaha bangkit sendiri. Biasanya Sabrina akan diam kalau Fabian sudah menolaknya, tapi kali ini Sabrina justru menarik Fabian ke bangku yang sebelumnya ia duduki.


"Ke marilah, aku akan mengobati lukamu." Sabrina mulai mengeluarkan pouch kecil berisi obat-obatan untuk pertolongan pertama dari ranselnya. Ia mengambil kapas dan anti septik untuk membersihkan luka di bibir Fabian terlebih dulu. Kembali, Fabian menepis tangan Sabrina yang akan menyentuh bibirnya.


Sabrina tersenyum, pertama kalinya ia melihat Fabian merajuk. Tak peduli jika Fabian marah dan kesal padanya, ia tetap meraih wajah Fabian dan ia bawa agar menghadap ke arahnya. Tanpa ijin ia membersihkan luka di bibir dan pelipis Fabian.


"Maaf," ucap Sabrina merasa sedikit bersalah.


Namun, Fabian hanya diam menanggapi.


Sabrina terus mengobati luka Fabian hingga selesai. "Selesai," ucapnya senang, tapi Fabian masih terlihat kesal padanya.


"Aku sudah minta maaf, apa kau tidak mau memaafkanku?" tanya Sabrina.


Fabian tak menjawab, ia berdiri dan berniat meninggalkan Sabrina. Urusannya dengan istrinya itu ia tunda dulu, yang pasti ia masih kesal dengan apa yang Sabrina lakukan.


"Hei ... kau mau ke mana?" seru Sabrina, tapi Fabian terus melangkah.


Sabrina tersenyum senang. "Aku sudah membalaskan dendammu, Paul," ucap Sabrina dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2