Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.49 Taksi


__ADS_3

Fabian mengatur ulang strateginya. Satu bulan kemarin ia lalui tanpa hasil. Sabrina bahkan tak pernah mengeluarkan satu kata pun untuk menanggapinya, bahkan sekadar melirik pun enggan.


Suami Sabrina itu sudah merencanakan semuanya setelah mendapatkan bantuan dari Sharon. Kala itu, hari ke tiga puluh Fabian berdiri di depan rumah milik Sharon. Ia terus berdiri setelah sebelumnya ia sudah mencoba ingin bicara dengan Sabrina. Namun, istrinya itu sama sekali tak menggubris. Terpaksa Fabian mengambil langkah nekad. Ia tetap bertahan di sana, dalam derasnya guyuran hujan dengan harapan Sabrina melihat perjuangannya dan mau memberinya waktu untuk bicara.


Sayangnya sampai tengah malam, dan hujan belum juga reda Sabrina sama sekali tak memperlihatkan bayangannya. Justru Sharon lah yang keluar dengan membawa payung untuk menemui Fabian.


"Pulanglah, kau akan sakit jika terus-terusan seperti ini. Sabrina tidak akan mungkin keluar karena dia sudah tidur," ujar Sharon kala itu.


"Tolong bantu aku, katakan pada Sabrina kalau aku ingin bicara. Sebentar saja. Tolong," pinta Fabian dengan memelas. Bibirnya sudah membiru karena kedinginan.


"Maafkan aku, aku tidak bisa banyak membantumu tapi aku akan sampaikan pesanmu pada Sabrina," jawab Sharon. "Sekarang pulanglah!" ucap Sharon dengan nada rendah.


Fabian pun memutuskan untuk pulang sesuai yang Sharon katakan. Namun setelah itu, Fabian justru melihat ada peluang untuknya bisa berbicara dengan Sabrina walau hanya sekejap saja.


Setelah hari ketiga puluh itu, Sharon membantunya untuk bisa masuk ke kantor bertemu dengan Sabrina dengan harapan mereka akan saling bicara tentang masalah mereka dan mencari solusinya. Tetapi, baru juga Sabrina melihat Fabian melangkah masuk, wanita itu langsung memanggil staf keamanan, dan diusirlah Fabian dari sana.


Fabian tak putus asa, ia pun merencanakan sesuatu lagi dengan Sharon. Ia sudah membooking restoran di sebuah hotel berbintang dan meminta Sabrina datang ke sana. Sabrina memang datang karena tidak tahu rencana Sharon dan Fabian. Kembali, setelah melihat ada Fabian di sana, Sabrina langsung balik kanan. Tanpa sepatah kata pun ia kembali meninggalkan Fabian seorang diri.


Fabian hampir frustasi, tapi jika mengingat istrinya itu patut untuk diperjuangkan, semangatnya pun kembali berkobar. Setelah semua usaha yang di coba gagal, Fabian memutuskan untuk kembali ke cara semula. Mengikuti Sabrina kemana pun, berharap ada kesempatan untuknya bisa bicara walau hanya lima menit saja.


Kali ini ia total mengambil cuti, bahkan tak peduli jika harus dipecat karena fokusnya sekarang adalah mendapatkan maaf Sabrina. Fabian mengikuti ke mana pun Sabrina pergi, mulai dari Sabrina keluar rumah hingga kembali lagi ke rumah. Benar-benar tidak punya pekerjaan.


Sore itu Sabrina pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Fabian mengikutinya sejak wanita itu turun dari mobil.


"Sabrina aku ingin bicara sebentar saja," ujar Fabian yang mengikuti Sabrina di belakang.


Tak ada tanggapan karena Sabrina terus saja melangkah. Fabian pun tak bisa berbuat banyak, karena tidak ingin hal yang tidak ia inginkan seperti waktu itu terulang, saat Fabian berusaha menghentikan Sabrina paksa, istrinya itu justru berteriak memanggil keamanan. Sejak itu, Fabian tak ingin lagi memaksa Sabrina. Fabian masih sangat waras untuk tidak membuat masalah hukum di negara orang.


"Sabrina, aku mohon," ujarnya lagi.


Sabrina tak peduli, ia bahkan tak melirik sedikit pun untuk melihat wajah memelas Fabian. Wanita itu benar-benar menguatkan hatinya untuk menganggap Fabian tidak ada, dan tidak terlihat. Ia lebih memilih sibuk dengan barang yang akan ia beli.


Sabrina berjalan menyusuri rak susu, hingga ia menemukan susu yang akan ia pilih. Sayangnya, susu itu berada di rak paling atas, tangan Sabrina tak mampu menggapainya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Fabian dengan sigap mengambil susu yang di maksud untuk istrinya itu.


"Ini," ujar Fabian menyerahkan susu yang baru ia ambil.


Sabrina melirik susu di tangan Fabian, lalu melongok pada pegawai supermarket yang berdiri dibelakang Fabian.


"Permisi, bolehkan aku minta tolong untuk mengambilkan susu di atas," seru Sabrina.


Fabian menoleh pada pegawai supermarket yang mendekat.

__ADS_1


"Yang mana, Mbak ... eh, Miss?" Pegawai pria itu jadi bingung sendiri untuk menyebut apa pada Sabrina.


"Yang itu." Tunjuk Sabrina pada susu low fat rasa cokelat.


"Terima kasih," ujar Sabrina setelah menerima susu dari pegawai supermarket. Tanpa menggubris Fabian, Sabrina segera berlalu dari deretan rak susu menuju rak yang menjejerkan bermacam perlengkapan mandi.


Fabian membuang napas kasar dengan sikap istrinya itu. "Sabar," ujarnya sembari mengelus dada.


Setelah asik di lorong dengan memilih produk perlengkapan mandi untuknya, Sabrina langsung ke kasir. Fabian langsung menyodorkan kartu miliknya untuk membayar belanjaan Sabrina, tapi dengan kasar Sabrina menyingkirkan kartu itu dan menyodorkan uang cash untuk membayar belanjaannya sendiri.


Drama belum usai, saat Fabian berniat membawakan tas belanjaan Sabrina, wanita itu justru dengan lantang memanggil staf keamanan.


"Security!"


Sontak saja, Fabian melepaskan tas belanjaan milik Sabrina. Untung Fabian sudah banyak berubah, jadi sebelum mulai berjuang ia sudah menyiapkan banyak stok sabar.


"Sabrina tolong beri aku kesempatan sebentar saja," pinta Fabian yang terus mengikuti langkah Sabrina yang keluar dari pusat perbelanjaan.


"Sabrina, aku mohon!" seru Fabian lagi. Tetapi wanita itu terus saja melangkah tanpa peduli dengan Fabian yang ada di belakangnya.


Fabian memicingkan mata dan menjambak rambutnya sendiri. Ia sudah seperti pengemis yang memohon belas kasih Sabrina tapi tetap saja diabaikan.


"Aarghh!" pekiknya tertahan.


Fabian berniat kembali mengejar Sabrina yang berjalan menuju parkiran. Namun, secara mendadak ia melihat mobil yang melaju dari arah pintu masuk dan di sisi lain, seorang anak kecil berlari akan menyeberang.


"Awas!" teriak Fabian sambil berlari. Meski harus terjatuh dan terserempet mobil tapi Fabian berhasil menyelamatkan anak laki-laki itu.


Seketika kejadian itu menimbulkan kerumunan. Sabrina yang tadi sudah cukup jauh, jadi menoleh karena mendengar teriakan Fabian. Dengan panik, Sabrina menyibak kerumunan itu dan melihat Fabian yang masih mendekap seorang anak di atas paving.


Seorang ibu langsung mengambil anak dalam dekapan Fabian. "Terima kasih, terima kasih banyak," ujar sang ibu.


Ada petugas keamanan yang akan membantu Fabian tapi di tolak oleh pria itu. Fabian justru melirik ke arah Sabrina. Petugas keamanan meminta semua yang berkerumun untuk bubar dan mengarahkan pemilik mobil yang sempat turun meminta maaf dan melihat kondisi Fabian untuk segera menjalankan mobilnya agar tak menimbulkan kemacetan.


Ada dua petugas keamanan yang menawari Fabian perawatan medis tapi ditolak oleh Fabian.


"Tidak, terima kasih, istriku akan membawaku pulang," jawab Fabian.


"Di mana istri Anda?"


Fabian menunjuk pada Sabrina masih berdiri di antara mereka.

__ADS_1


"Oh ... maaf, silakan, Nyonya," ujar petugas keamanan.


Sabrina yang bingung karena sudah disebut Fabian sebagai istrinya tak mungkin lagi menolak. Dia pun dengan canggung mendekat pada Fabian dan membantu pria itu berdiri.


"Aku akan bawa kau ke rumah sakit," ujar Sabrina dengan berbisik. Tidak mau jika petugas keamanan di sana mendengarnya.


"Tidak perlu, bawa aku ke apartemenku saja," tolak Fabian.


Sabrina memutar bola matanya malas sembari mencebik kesal dengan permintaan Fabian.


"Ini pasti akal-akalan pria ini," batin Sabrina.


"Baiklah, katakan di mana alamatmu!"


Fabian menyebutkan satu nama apartemen mewah di Jakarta pusat.


"Tunggu di sini." Sabrina melepaskan tangannya dari Fabian.


Ia kemudian mencari taksi. "Kau pikir kau mau menjebakku, enak saja. Kau pulang saja sendiri!" gumam Sabrina dengan seringai di bibirnya.


Tak lama Sabrina kembali dengan taksi. Ia menyebutkan alamat Fabian pada supir taksi, persis seperti yang Fabian katakan tadi.


"Taksi?" Fabian mengernyit heran. Padahal ia ingin di antar oleh Sabrina ke apartemennya bukan taksi.


"Ya, tentu saja dengan taksi. Kau tidak mungin mengemudi dengan tanganmu yang cedera itu," jawab Sabrina asal. Wanita itu kembali memapah Fabian untuk masuk ke dalam taksi.


Saat Fabian sudah masuk, pria itu langsung menarik Sabrina untuk ikut masuk juga dan segera menutup pintunya. "Jalan, Pak!" titahnya pada supir taksi.


"Hei ... apa yang kau lakukan?" pekik Sabrina saat taksi itu melaju.


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


Assalamualaikum ... apa kabar semua pembaca MENAKLUKKAN SUAMI.


Terima kasih saya ucapkan karena sudah bersedia menunggu cerita ini. Maafkan saya jika belum bisa rajin update karena jujur saya sedang mengejar target TAMAT untuk novel yang sedang mengikuti Misi Kepenulisan di Noveltoon.


Saya punya target tamat bulan ini, jadi gak bisa bolong(Meski kenyataannya udah bolong 2kali, maksimal bolong 3kali)


Sebab itu saya harus kerja keras agar novel itu cepat tamat. Setelah itu saya akn berusaha untuk menyelesaikan kisah Sabrina dan Fabian juga. InsyaAllah tidak akan terbengkalai(mudah2n saya dikasih umur untuk bisa menyelesaikannya) karena novel ini udah kontrak jadi saya punya tanggung jawab untuk membuat ending dari cerita ini.


Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih dan mohon maaf untuk yang selalu setia menunggu nupel ini.

__ADS_1


Tengkyu❤️❤️❤️Sayang hee


__ADS_2