Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.50 Sepuluh Detik


__ADS_3

Akhirnya sampai juga Sabrina di depan gedung apartemen Fabian, setelah tadi pria itu menariknya paksa ke dalam taksi. Meski Sabrina terus meronta dan meminta supir taksi untuk berhenti, tapi Fabian terus mengatakan untuk jalan dan jangan berhenti.


Mereka pun bertengkar di dalam taksi, Sabrina yang tak pernah bicara pada Fabian mendadak jadi sangat bersemangat untuk memarahi Fabian dengan berbagai kata yang ia keluarkan. Pria itu tak marah sama sekali, ia justru bahagia melihat Sabrina yang mulai banyak mengeluarkan kosa kata. Ini yang ia inginkan, istrinya itu marah dan mengungkapkan kekesalannya dari pada diam tak menggubrisnya.


Supir taksi yang tak paham dengan apa yang Sabrina ucapkan hanya bisa menilai dari raut wajah penumpangnya. Supir itu melihat Sabrina yang begitu menggebu-gebu saat marah dan Fabian yang terlihat santai bahkan menikmati omelan sang wanita jadi berpikir kalau mereka adalah pasangan yang sedang merajuk. Alhasil supir taksi itu lebih memilih menuruti Fabian yang terlihat kalem.


Taksi sudah berhenti tapi Sabrina tetap bergeming.


"Kau tidak mau keluar?" Fabian menatap Sabrina.


"Tidak!" jawab Sabrina ketus. Ia langsung melengos.


Fabian tersenyum tipis melihat tingkah Sabrina yang sedang marah. "Kau boleh lanjutkan marahmu nanti setelah kau mengantarku masuk ke apartemenku," ujar Fabian.


"Kau turun saja sendiri, aku mau langsung pulang!"


"Kau tidak kasihan padaku dan membiarkan aku jalan sendiri dengan kaki pincang begini?"


"Kau bisa memanggil security!"


Fabian menarik napas dalam. Ia mengalah. "Kalau begitu panggilkan security kemari."


Sabrina mendelik tapi ia turun juga untuk memanggil petugas keamanan apartemen itu dari pada harus berlama-lama dengan pria yang ia benci ini. Pria berseragam hitam yang tengah berdiri di depan loby langsung berlari menghampiri.


Fabian mengeluarkan lembar rupiah untuk membayar supir taksi sebelum ia meminta Sabrina membantunya keluar. "Bantu aku."


Mau tak mau Sabrina membantu pria itu keluar dari taksi, setelah ini ia berpikir untuk pergi. Tetapi belum juga ia membantu Fabian keluar petugas keamanan lebih dulu datang.


"Ya, Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya security yang baru datang.


"Tolong bantu dia keluar," ujar Sabrina.


Fabian menatap Sabrina kesal karena wanita itu tak membantunya dan justru meminta petugas keamanan untuk mengambil alih.


"Tuan Fabian?"


"Bantu aku," ujar Fabian.


Fabian keluar dari taksi dengan perlahan. Ia pun tak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja dan membiarkan Sabrina pergi. Dengan sedikit akting, ia meminta Sabrina untuk memapahnya keluar di sisi yang lainnya.


Sejujurnya Sabrina sangat malas tapi melihat kondisi Fabian, ia pun ikut membantu Fabian agar bisa berdiri tegak. Setelah bisa beridiri tegak Fabian melepaskan tangan petugas keamanan dan berkata, "Terima kasih Jono, kau boleh pergi. Istriku yang akan membantuku," ujar Fabian pada petugas keamanan bernama Jono, kemudian mengeratkan rangkulannya pada Sabrina.


"Apa?" Sabrina tak terima dengan sikap Fabian, bisa-bisanya pria itu mengakalinya. Sabrina ingin pergi dengan melepaskan Fabian, tapi pria itu menahannya dengan erat.


"Kau tidak lihat aku sedang sakit, bantu aku naik ke apartemenku. Setelah itu kau boleh pergi."


"Kenapa kau tidak meminta bantuan security tadi, hah!"

__ADS_1


"Sttt, jangan keras-keras." Fabian mendekatkan kepalanya pada Sabrina. "Aku risih jika harus dirangkul oleh laki-laki," bisik Fabian dengan bercanda.


Sabrina berdecak kesal.


"Sudahlah, sebaiknya kau segera membawaku ke atas dari pada kau marah-marah di sini, kita tidak akan sampai ke apartemenku."


"Ish ... dasar menyebalkan!" Sabrina terus cemberut selama memapah Fabian tapi pria itu justru menikmati semua ekspresi sang istri. Saking kesal dan tidak sabar untuk segera pergi dari pria ini, Sabrina membawa Fabian dengan kasar. Hal itu menimbulkan perhatian dari orang yang melihat mereka. Namun, Sabrina tidak peduli.


"Lantai berapa?" tanya Sabrina ketus.


"Dua puluh."


Sabrina menekan angka 20 pada panel di dalam lift.


"Sabrina," panggil Fabian saat tak ada kata di antara mereka.


Sabrina tak acuh. Ia biarkan saja Fabian dengan kebisuan.


Lift terbuka, ada satu orang yang masuk. Wanita itu terus menatap Fabian. "Hai, Nyonya Lidya," sapa Fabian pada tetangganya. Meski tidak akrab tapi ia tahu bahwa wanita itu adalah tetangganya.


"Mr. Fabian, who is she?"


"Istriku," tegas Fabian.


Sabrina langsung mendelik ke arah Fabian.


"Ya, dia adalah istriku," jawab Fabian mempertegas.


"No ... no ... no ... no ... ini tidak seperti yang dia katakan, aku dan dia bukan _____" Sabrina belum selesai memberikan penjelasan pada wanita yang mengenal Fabian itu, tapi pria itu justru semakin erat memeluk Sabrina dan tiba-tiba mengecup pipi sang istri. Sontak Sabrina melepaskan Fabian dengan sedikit mendorongnya hingga pria itu terjatuh.


Fabian mengaduh.


"Ups ... sorry, aku tidak sengaja," ujar Sabrina. tanganku mendadak gatal jadi aku tidak bisa menahan tubuhmu lagi. "Baiklah, sini aku bantu lagi." Sabrina pura-pura.


Nyonya Lidya yang menyaksikan Fabian terjatuh hanya bisa menahan tawa hingga pintu lift terbuka. "Aku duluan, Tuan Fabian.


Sabrina kembali membantu Fabian dan memapah pria itu hingga ke depan apartemennya. Fabian meletakkan jarinya smart key untuk membuka pintu apartemennya.


Sabrina mendudukkan Fabian di sofa ruang tamu pria itu. Sebelum wanita itu berniat pergi, Fabian berkata, "Boleh aku minta tolong sekali lagi? tolong ambilkan kotak obat di dekat meja bar."


Sabrina yang akan segera pergi, urung karena ia harus mengambilkan kotak obat dan membantu pria itu merawat luka di tangannya yang lecet.


Sabrina seolah tak betah berlama-lama dengan pria ini, ia ingin sekali segera pergi dari tempat ini.


"Selesai, aku mau pergi." Sabrina meletakkan obat dalam kotaknya kembali.


"Kakiku mungkin terkilir, tolong ambilkan kompres air es di sana." Fabian menunjuk kabinet di atas pantry.

__ADS_1


Sabrina mendelik tajam. "Tadi kau bilang sa____"


"Aku mohon," pinta Fabian mengiba.


Tak ingin banyak tanya Sabrina segera melakukan apa yang Fabian minta. Ia menghentakkan kakinya dengan keras agar pria itu tahu ia kesal.


Fabian tersenyum-senyum melihat kekesalan sang istri.


"Ini." Ia menyodorkan kompres air dingin itu dengan bibir mencibir dan raut wajah yang sebenarnya tak enak sama sekali untuk dilihat.


"To ______"


"Jangan lagi meminta bantuanku!" potong Sabrina cepat. "Kau bisa menelpon perawat jika kau mau, jadi jangan merepotkan aku!"


Saat Sabrina akan melangkah pergi Fabian menarik tangan Sabrina.


"Tolong dengarkan aku sebentar saja," ujar Fabian menahan tangan Sabrina.


"Lepaskan!"


"Aku mohon," Fabian memelas.


Sabrina bergeming.


"Lima menit," pinta Fabian dengan tatapan memohon.


"tiga menit," jawab Sabrina karena tak tega.


Fabian tersenyum. Ia menggeser tubuhnya dan menepuk sisi kosong di sampingnya.


"Di sini saja!" tolak Sabrina.


"Aku tidak akan bicara kalau kau tidak duduk di sini."


"Ish ... dasar merepotkan!" Meski menggerutu Sabrina ikuti juga mau pria itu. Ia duduk di samping Fabian tapi di ujung sofa untuk membuat jarak.


Fabian mengulum senyum. Tak apa jika Sabrina tak ingin berdekatan dengannya, yang penting wanita itu sudah berkenan untuk mendengarkannya.


Sabrina sudah menunggu, tapi Fabian hanya terdiam menatap wanita itu. Waktu satu menitnya bahkan sudah hilang dan Fabian tak kunjung bicara.


Sabrina menarik napas dalam, ia berusaha sabar menghadapi pria ini. Ia tahu jika dirinya sedang diperhatikan tapi ia memilih pura-pura tidak tahu.


Waktu terus berjalan, namun Fabian tak jua mengeluarkan suara. Sabrina terus menatap jam di tangannya. Hingga waktu pria itu tinggal sepuluh detik lagi.


Sabrina mulai menghitung. "Sepuluh ... sembilan ... delapan ... tujuh ... enam ... empat ... tiga ... dua ... sa ...."


"Aku mencintaimu," ujar Fabian bersamaan dengan Sabrina yang mengakhiri waktu mereka.

__ADS_1


Seketika wanita yang masih berstatus istri sah dari Fabian Ramos itu menoleh tak percaya. Ia pikir pria itu akan meminta maaf, tapi nyatanya Fabian justru mengungkapkan perasaannya.


__ADS_2