Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.21Sosok Di Atas Sofa


__ADS_3

Satu minggu sudah Sabrina berada di Araluen, merawat Bibi May yang sedang sakit. Sejak itu juga ia tak berkirim kabar dengan Fabian. Suaminya itu mendadak hilang ditelan bumi, setelah pengusiran yang ia lakukan. Sabrina pun kembali harus menerima kenyataan, jika seperti inilah hidupnya dengan suaminya, bak orang asing yang terikat tali tak kasat mata.


Sabrina mulai kembali ke Sydney, setelah pengasuhnya itu meyakinkan jika dirinya sudah baik-baik saja. Ia tak menghubungi siapa pun untuk menjemputnya. Janji Fabian kala itu yang akan mengirim Robert pun tinggallah janji semata, sebab pria itu mungkin sudah lupa akan kata-katanya sendiri atau mungkin juga sudah melupakan dirinya yang masih berstatus istri.


"Jaga diri Bibi baik-baik, kalau ada sesuatu segera hubungi aku. Mintalah Carmen untuk selalu mengecek kesehatan Bibi secara rutin ke rumah sakit," pesan Sabrina saat akan meninggalkan rumah pengasuhnya.


Bibi May mengangguk patuh dengan pesan Sabrina. "Aku akan sangat merindukanmu, Sayangku," jawab Bibi May, yang kemudian menciumi pipi wanita muda yang selalu ia anggap sebagai putrinya sendiri.


Mereka berpelukan sebagai salam perpisahan. Sabrina pun pergi meninggalkan rumah tua itu dengan tanya di hatinya tentang apa yang dulu Bibi May sampaikan di rumah sakit mengenai kecelakaan yang menimpa ayahnya. Siapa orang yang telah menyembunyikan bukti kecelakaan itu, dan menggiring opini publik tentang keburukan seorang William Alandro. Adakah urusan dalam persaingan bisnis, yang menjebak ayahnya dalam skandal diakhir hidupnya, seperti dugaan Bibi May dan Paman Andrew. Sabrina hanya bisa menunggu kabar lagi dari orang kepercayaan ayahnya itu untuk membuktikan jika ayahnya benar-benar bersih dari alkohol dan skandal dengan wanita bayaran.


Senja mulai menghilang menyusul mentari yang lebih dulu menyembunyikan dirinya di ujung langit barat. Mobil yang membawanya sudah mengantarkannya ke apartemen, yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. Ia segera naik menuju flatnya berada, menekan kode angka untuk membuka pintu berwarna coklat keemasan itu. Segera ia menuju kamarnya, dan menghempaskan diri di kasur empuk itu. Fisiknya lelah dengan perjalanan ini, pun dengan pikirannya. Ia ingin melupakan sesaat semua beban di otaknya dengan menjemput mimpi.


_________________


Di kantor Presiden Direktur, wajah Sergio Ramos nampak panik. Terselip rasa takut di raut wajahnya yang masih tampan di usia yang tak lagi muda. Ketakutan tentang kebenaran yang selama ini ia sembunyikan menyeruak mengusik pikirannya. Bagaimana jika semua terungkap dan membuatnya kehilangan segalanya.


Laporan dari Crist—orang terpercaya bagi Sergio—membuatnya memikirkan ulang rencananya waktu itu. Ia pikir semua sudah selesai saat ia mengatur skenario kejadian di pagi buta itu.


"Cari orang yang kompeten dan terpercaya untuk menghancurkan bukti itu," titah Sergio pada Crist. "Buatlah asisten William atau siapa pun juga agar tidak bisa menemukan petunjuk apa pun," sambungnya.

__ADS_1


Crist mengangguk paham. "Saya akan segera melaksanakannya, Tuan. Maafkan saya jika berita ini begitu membuat Anda resah," sesal Crist kemudian.


Sergio memejamkan matanya, tidak sanggup jika menantunya sampai tahu semua ini. Ia sudah terlanjur menyayangi putri sahabatnya itu layaknya putri sendiri. Sikap Sabrina yang begitu patuh dan ramah kepadanya, membuat Sergio begitu sayang dengan istri dari putranya.


"Tapi, Tuan ... seharusnya Anda tidak perlu sekhawatir ini, bukankah Anda sudah mengambil tanggung jawab atas Nona Sabrina, menggantikan peran Tuan William untuk menjaga Nona Sabrina. Tidakkah semua itu cukup untuk membuat Nona Sabrina memaklumi tindakan Anda kala itu," ujar Crist, berusaha menenangkan Tuannya.


"Tidak Crist, semua tidak akan semudah itu. Terlebih, aku telah membawa Sabrina pada pernikahan yang tidak membahagiakannya. Mungkin aku salah telah menikahkan Sabrina dengan Fabian. Putraku sendiri yang justru menyakitinya." Sergio menelungkupkan dua telapak tangannya untuk menopang kepalanya di depan wajah.


"Tadinya aku pikir, dengan menjadikan Sabrina menantuku aku bisa menebus kesalahanku pada William, nyatanya aku justru membuat putrinya menderita." Terlihat sesal di raut wajah tua itu.


"Anda tidak boleh merasa bersalah seperti itu Tuan, saya yakin Tuan Muda akan berubah seiring rencana kita yang berjalan lancar." Crist berusaha menghibur Tuannya yang terlihat tenggelam dalam kesedihan.


Raut menyesal tergambar jelas di wajah Crist, dengan berat hati ia berucap, "Ya Tuan, bahkan seminggu yang lalu Tuan Muda baru saja menemuinya, tapi kali ini tidaklah lama. Tuan Muda hanya membantu Vanessa yang mengalami kecelakaan ringan."


Sergio menghela napas berat, ternyata memisahkan putranya dari wanita yang ia benci itu tidak mudah.


"Aku ingin kau menyingkirkan wanita ja lang itu dengan cara apa pun tanpa diketahui oleh Fabian," ucap Sergio yang membuat Crist terbelalak.


__________________________

__ADS_1


Sabrina terbangun di tengah malam karena lapar. Sejak tiba tadi sore ia langsung tidur dan melewatkan jam makan malamnya. Ia meraba jam analog yang ada di atas meja, masih dengan mata tertutup. Matanya sangat berat untuk membuka, tapi perutnya sudah tidak tahan untuk diisi. Sabrina mencoba menilik jam yang sudah ada di tangannya, jam empat dini hari. Lama sekali ia sudah tertidur, batinnya.


Ia pun bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci muka sebelum mencari makanan ke dapur. Sebelum itu ia sempatkan untuk mengganti baju terlebih dulu, Hoodie over size berwarna pastel ia padukan dengan hot pants hitam berbahan cutton. Ia menggerai rambut panjangnya begitu saja.


Rasa lapar yang sedari tadi menyerangnya mengharuskan ia untuk bergegas ke dapur. Langkahnya terhenti saat ia melihat sosok yang tertidur di atas sofa ruang tamunya.


Siapa yang ada di sana. Apakah sejak kemarin ia lupa mengunci pintunya kembali. Rasanya tidak, ia ingat betul telah mengunci pintu setelah masuk karena memang berniat untuk langsung tidur.


Ragu-ragu Sabrina mendekat, ia memutar arah yang seharusnya menuju dapur kini berbelok ke ruang tamu. Sabrina memegangi dadanya untuk menenangkan diri. Langkahnya hampir sampai pada sofa saat ia teringat tentang orang jahat. Bagaimana jika yang sedang tidur di atas sofa miliknya adalah orang jahat, begitu batinnya berucap.


Sabrina kembali masuk ke dalam kamar, mencari sesuatu untuk perlindungan. Nyatanya ia tidak menemukan apa pun. Sabrina keluar lagi dan pergi ke dapur, di sana, di ruangan kecil tempat laundry tersimpan alat kebersihan. pilihan Sabrina jatuh pada sapu yang memiliki gagang panjang.


Sekarang ia lebih berani karena sudah membawa alat pelindung diri, perlahan langkahnya mendekati sofa di ruang tamu. Ia seperti seorang penjaga keamanan yang mengendap-endap untuk menangkap penjahat.


Sabrina terus mengatur napasnya untuk menghilangkan rasa takutnya, sembari memegang kuat gagang sapu di tangannya. Ia harus berani menghadapi apa pun sendiri, sebab ini resiko yang harus ia tanggung saat meninggalkan rumah keluarga Ramos.


Sabrina menarik napas dalam, saat berdiri di samping sofa. ia sudah siap mengayunkan sapu ditangannya dengan mengangkatnya tinggi-tinggi, memukul sosok itu bertubi-tubi akan membuat orang itu tak sempat melawan, begitu rencananya. Namun, gerakan tangannya berhenti saat sosok yang sedari tadi menghadap punggung sofa itu merubah posisinya menjadi menengadah.


Sabrina kaget bukan kepalang melihat sosok di sofa ruang tamunya. Wanita itu menutup mulutnya sendiri, tak percaya jika orang ini bisa masuk tanpa ia yang membukakan pintu. Apakah pintu apartemen ini sudah rusak, bagaimana bisa ada orang yang tiba-tiba bisa masuk setelah ia yakin kalau dirinya tak lupa mengunci pintu.

__ADS_1


"Oh ... Ya Tuhan," lirih Sabrina tertahan, masih membekap mulutnya sendiri.


__ADS_2