
"Tidak jangan hukum aku, aku tidak sengaja melakukannya. Tolong ampuni aku," mohon seorang pemuda pada sosok mengerikan yang akan membawanya pada tempat eksekusi.
"Aku tidak bersalah, aku tidak sengaja melakukannya." Ia berusaha menjelaskan.
Namun, dua sosok yang membawanya tak peduli, tugasnya hanyalah menghukum yang bersalah. Pemuda itu ditempatkan disebuah tempat yang gelap untuk menerima hukumannya.
"Tidak, kumohon jangan lakukan. Ayah ... tolong aku," seru pemuda itu meminta bantuan.
Namun, tak ada satu pun yang datang menolongnya. Dua sosok itu sudah siap menghukumnya, dan pemuda itu hanya bisa meraung memohon ampun agar dilepaskan. "Kumohon ampuni aku, tolong ... lepaskan aku," rintihnya memohon dalam ketakutan.
Dua sosok mengerikan itu seolah tuli dengan permohonan pemuda itu. Hingga seorang gadis kecil datang dan menyita perhatian ketiga orang di ruang gelap itu. "Berhenti," teriaknya.
"Tolong aku ... aku mohon bawa aku pergi dari sini," teriak pemuda itu saat melihat sosok gadis kecil berbaju putih. Pemuda itu terus berteriak meminta pertolongan pada gadis kecil itu agar menjauhkannya dari dua sosok mengerikan yang bertindak seperti algojo.
"Fabian ... Fabian ...," panggil Sabrina. Wanita itu terus mengguncang lembut tubuh suaminya agar tersadar.
Perlahan Fabian membuka matanya, peluh sudah membanjiri kening hingga pelipisnya. Tubuhnya terasa dingin seolah diterpa angin malam, napasnya tersengal tak beraturan. Pria itu menatap Sabrina yang terduduk di sisinya.
"Mimpi buruk?" tanya Sabrina lirih.
Fabian hanya bisa mengedipkan matanya. Ia masih berusaha menata ritme jantungnya, dan mengembalikan kesadarannya dengan penuh. Mimpi itu kembali muncul menghantuinya, mimpi yang sama ketika dulu ia terbaring koma. Bayangan dua algojo seolah tak bisa lepas dari ingatannya. Membuatnya merasa ketakutan tentang akhir hidupnya.
"Tidak apa, itu hanya mimpi." Sabrina mengusap lembut punggung tangan suaminya. "Kembalilah tidur," ucapnya sebelum berdiri untuk beranjak.
"Jangan pergi," sergah Fabian.
"Ya." Sabrina yang sudah berdiri menoleh.
"Temani aku."
Sabrina semakin membelalakkan matanya, "permintaan apa itu?" batinnya berucap.
"Temani aku di sini," pintanya menegaskan.
__ADS_1
Sabrina bergeming menatap Fabian yang masih terbaring di atas ranjang.
Seolah tahu apa yang Sabrina pikirkan, Fabian pun menjawab tanya istrinya. "Aku tidak akan melakukan apa pun."
Sabrina menjadi malu, karena apa yang ada dalam otaknya bisa Fabian baca. Pandangannya terus tertuju pada pria itu, hingga ia melihat Fabian menyibak selimutnya untuk memberi akses pada Sabrina agar bisa berbaring di sisinya.
"Aku janji," sambung Fabian.
Melihat keseriusan di wajah suaminya dan perasaan kasihan akan apa yang baru saja terjadi, Sabrina memberanikan diri untuk menelusup masuk ke dalam selimut yang sama dengan Fabian. Ia mengambil jarak agar tidak terlalu dekat dengan pria itu.
"Kemarilah," pinta Fabian yang menyadari jika Sabrina berusaha menjaga jarak.
Sabrina semakin tak percaya dengan permintaan suaminya ini, baru saja dia berjanji tidak akan melakukan apa pun padanya lalu kenapa sekarang ia meminta Sabrina mendekat padanya.
"Percayalah, aku hanya ingin berada lebih dekat denganmu," ucap Fabian meyakinkan.
Perasaan ragu bergelayut di hatinya saat Sabrina menggeser tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Fabian. Belum sampai tubuh Sabrina pada tubuh Fabian, pria itu sudah tidak sabar untuk menarik tubuh Sabrina dengan cepat dan membawanya dalam dekapannya. Sabrina yang sempat kaget berusaha meronta, tapi Fabian meyakinkannya, "Tenanglah, tidak akan terjadi apa pun, kita hanya akan seperti ini."
Sabrina berusaha mendongak agar bisa melihat kejujuran di manik mata suaminya. Namun, tidak berhasil ia lakukan karena Fabian menenggelamkannya ke dalam dada pria itu. "Temani aku, dan jangan pergi," lirih Fabian yang merunduk, hingga wajahnya menempel pada puncak kepala Sabrina.
Aroma khas pria itu menelusup masuk ke indera penciumannya, membuat darah Sabrina berdesir merasakan sensasi harum yang selama ini hanya bisa ia hirup sesaat saja. Jantungnya bertaluh seiring nafas Fabian yang memanas menerpa kulit wajahnya. Tubuh pria itu begitu hangat memeluknya. Semua bagai mimpi bagi Sabrina, hal yang sejak dulu ia impikan bersama Fabian kini sedang terjadi dan membuat respon tubuhnya di luar kendali.
Tidak ... ia tidak boleh terlena. Ia melakukan semua ini hanya karena ingin membantu Fabian yang sedang berada dalam ketakutan akan mimpi buruknya. Ia tak boleh menyerah secepat ini, Fabian bahkan belum melakukan usaha terbaiknya untuk membawa pernikahan mereka kembali terjalin.
Sabrina menepis semua hal yang dirasakan oleh tubuhnya yang berkhianat. Pria yang tengah memeluknya ini membuat ia berjuang keras untuk mengendalikan keinginannya yang mulai menggila. Hati Sabrina gelisah, ia ingin pergi saja dari kamar ini.
"Apa kau tak bisa tidur?" suara Fabian menarik Sabrina untuk kembali pada kenyataan.
"Ah ... ya, ma-maksudku tidak. Bukan begitu, a-aku ____" Sabrina menjadi salah tingkah sendiri.
"Apa kau tidak nyaman?" potong Fabian.
"Bukan, aku hanya ____" Belum selesai Sabrina berucap, Fabian sudah melonggarkan pelukannya, hingga Sabrina bisa mendongak menatap wajah suaminya.
__ADS_1
"Aku akan melepaskanmu, tapi jangan pergi dari sisiku," ujar Fabian.
Sabrina belum paham maksud dari Fabian saat pria itu mengurai rengkuhannya. "Tidurlah," ucap Fabian yang kini menautkan jari jemarinya ke tangan tangan Sabrina, benar-benar tak ingin ditinggal.
Sabrina terus menatap jari-jarinya yang tertaut kuat pada suaminya. Sesekali ia menatap wajah Fabian yang terbaring di sampingnya, pria itu sudah memejamkan mata, tapi tidak dengan dirinya. Banyak tanya bergelayut dalam hatinya tentang ke mana ia akan membawa bahtera rumah tangganya berlabuh. Ia tidak akan mau kembali jika Fabian tidak menjadikan dirinya satu-satunya.
Ah ... di saat seperti ini kenapa juga harus teringat wanita itu. Wanita yang membuat hatinya teriris saat bayangan potret tawanya dengan suaminya melintas di otaknya. Sabrina memukul kepalanya sendiri untuk menghalau pergi wajah wanita itu—Vannesa. Ia ingin memiringkan tubuhnya membelakangi Fabian agar bisa tertidur, tapi tangannya yang masih dalam genggaman pria itu membuatnya urung. Terpaksa ia harus berusaha tidur dengan terus menatap langit-langit kamar. Detik jam menjadi suara pengisi sunyi dalam sulitnya Sabrina memejamkan mata.
Ia terus gelisah, dan akhirnya memilih untuk menghadapkan tubuhnya pada Fabian. Ia terus menatap lekat pria yang masih setia menggenggam jemarinya. Semakin lama, semakin membuat matanya berat dan jatuh ke dalam mimpi.
Silaunya cahaya mentari membuat Sabrina terganggu. Entah siapa yang sudah menyibak tirai jendela kamarnya dan membuatnya terusik, tapi mau tidak mau ia pun membuka matanya. Hari sudah siang rupanya, hal itu Sabrina sadari dari panasnya sinar mentari yang masuk ke kamarnya.
"Sudah bangun?" Suara seseorang yang tak asing membuat Sabrina mencari sumber itu. Fabian tengah berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang dan rambut basah yang membuat mata Sabrina tercekat.
Oh ... Ya Tuhan, apa yang ia pikirkan saat ini saat melihat Fabian dalam mode yang menggoda. Ia bahkan bukan lagi gadis yang mendamba kekasihnya. Ia sering melihat Fabian dalam tampilan seperti saat ini, tapi kenapa kali ini berbeda. Ayo Sabrina, sadarkan dirimu jika apa yang kamu pikirkan tidak seharusnya ada dalam otakmu. Kamu harus membuat pria ini mengejarmu, dan bukan sebaliknya.
"Tadi ada telpon dari rumah sakit," ucap Fabian selanjutnya sembari mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil di tangan kirinya.
Sabrina yang masih belum memahami situasi langsung tersentak dengan ucapan Fabian. Kini ia ingat, jika kemarin dirinya pulang ke rumah Bibi May setelah pengasuhnya itu memintanya beristirahat. Ia juga ingat jika sebelumnya ia tertidur di kamar terpisah dengan Fabian, lalu kenapa pagi ini ia berada di kamarnya sendiri. Sabrina mencoba mengingat lagi kejadian semalam, hingga ia menemukan memori tentang Fabian yang bermimpi buruk.
"Mandilah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit."
"Apa?"
Fabian mengernyit heran.
"Ah ... ya, aku akan mandi," jawab Sabrina salah tingkah setelah menyadari keheranan suaminya.
Sabrina turun setelah merapikan dirinya, ia harus segera ke rumah sakit untuk menjenguk Bibi May, tapi sebelum itu ia ingin memasak sesuatu yang bisa Bibi May nikmati.
"Ya, Sayang, aku akan segera ke sana," jawab Fabian di telpon.
Langkah Sabrina tertahan di atas tangga saat mendengar kalimat yang Fabian ucapkan di ponselnya. Ia masih saja menguping pembicaraan suaminya dengan seseorang yang tidak ia ketahui.
__ADS_1
"Tenanglah, jangan panik. Aku akan segera ke tempatmu."