Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.8 Masa Lalu


__ADS_3

Sergio terbangun dengan napas terengah-engah. Mimpi itu kembali menghantuinya dan mengusik tidurnya.


"Berikan pertanggung jawabanmu!" Kalimat yang diucapkan oleh William Alandro—sahabatnya—dalam mimpinya begitu jelas dalam ingatannya. Kenapa William selalu hadir dalam mimpinya dan meminta pertanggung jawabannya. Bukankah ia sudah menjalankan tugasnya sebagai teman. Ia mengambil tanggung jawab Sabrina dengan menjadikannya sebagai menantu.


Berusaha menjaga putri sahabatnya itu dengan baik meski belum bisa memberikan kebahagiaan sepenuhnya untuk Sabrina.


Esme ikut terbangun dan segera menyalakan lampu kamar. "Apa kau baik-baik saja?"


Sergio mengangguk, ia mencoba mengatur napas saat Esme memberikan air untuknya. Setelah meneguk setengah dari isi gelas, Sergio kembali merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar, sembari memikirkan ucapan William.


"Kurasa kau butuh seorang ahli jiwa untuk menangani ini. Kualitas tidurmu menjadi berkurang sejak kau sering mimpi buruk. Kau bahkan tak mau berbagi denganku tentang mimpimu itu." Esme menatap Sergio yang terbaring di sampingnya.


"Kita sudah lama bersama, aku membantumu menjalankan perusahaan, aku juga mengasuh Fabian sejak kecil, apakah kau masih tidak percaya padaku?" tanya Esme.


Sergio mendelik pada istrinya. "Tidak semua hal bisa kubagi denganmu," jawab Sergio.


Mendengar jawaban Sergio, membuat Esme yang tadinya sedikit kesal menjadi benar-benar kesal. Tak peduli dengan Sergio yang tak bisa tidur, ia justru kembali berbaring dan mencoba untuk terlelap. Sergio yang tak lagi bisa memejamkan mata memilih untuk bangun dan mengambil jubah tidurnya. Ia pergi menuju ruang kerjanya.


Di sana, ia mengeluarkan sebuah potret dari laci meja. Ada gambar dirinya dan William, senyum dari dua sahabat yang berjanji akan selalu menjaga satu sama lain terlukis indah di bibir kedua pria itu. Ingatannya menampilkan kembali kenangan tentang dirinya dan William sebelum kecelakaan itu terjadi.


Sergio mendatangi kantor William dengan amarah yang tergambar jelas di wajahnya. Tanpa permisi, ia menerobos pintu ruang kerja William, ia bahkan mendorong sekertaris William dengan kasar.


Sergio melempar foto-foto pertemuan antara William dengan George, kolega bisnisnya. Sergio menuduh jika William dan George sedang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan bisnisnya. Semua semakin buruk saat William marah dengan tuduhan Sergio yang tak berdasar, dan mulai mengungkit tentang masa lalu Sergio yang menyedihkan.


Sergio yang sejak awal datang dengan amarah yang menyala, seolah tersulut minyak dengan setiap perkataan William yang tak enak di dengar, hingga tanpa sadar Sergio meneriakkan ancamannya pada William.


Setelah kejadian itu, terjadi persaingan bisnis yang tidak sehat antara keduanya, mereka berubah menjadi musuh dalam sekejap. Saling menjatuhkan demi menjadi yang terkuat.


Hingga pagi kelabu itu tiba, Sergio gemetar menyaksikan kecelakaan yang dialami sahabatnya. Ia ketakutan melihat William bersimbah darah di dalam mobilnya.

__ADS_1


Dengan panik ia segera menelpon orang-orangnya. "Cepat bereskan semuanya, aku tidak ingin ada berita yang menyeret nama keluargaku!" titahnya pada orang di seberang telpon. Benar saja, dalam sekejab semua bukti kecelakaan itu hilang, tak ada yang menyinggung nama Ramos dalam kecelakaan yang terjadi pada William Alandro.


Sejak itulah mimpi buruknya dimulai, ia dihantui rasa bersalah pada William. Sepuluh tahun berlalu sejak kecelakaan itu terjadi, semakin hari rasa bersalah semakin menyiksanya. Hingga ia putuskan untuk mencari tahu keberadaan putri semata wayang dari sahabatnya. Dengan uang dan kekuasaan yang ia miliki, mudah sekali bagi Sergio Ramos untuk menemukan Sabrina. Demi menebus kesalahannya, ia mengambil Sabrina menjadi menantu.


Namun, setelah semua itu William belum juga melepaskannya. Sahabatnya itu masih kerap datang menghantuinya lewat mimpi. Mungkinkah semua berkaitan dengan kebahagiaan Sabrina?


Sergio menatap lekat foto di tangannya. "Maaf," lirihnya dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Gurat penyesalan dan kesedihan ia tampakkan kala air bening tanpa sadar mengalir dari sudut matanya. Ia benar-benar menyesal dengan kejadian itu, ia juga sudah berusaha menebusnya.


Semua kenangan buruk itu membuat kepalanya mulai berdenyut, terasa menyiksa kala perasaannya tertekan oleh kejadian masa lalu. Segio memijit pelipisnya untuk mengurangi sakit yang mendera. Ia keluar dari ruang kerjanya untuk mengambil obat pereda sakit kepala. Tak disangka, jika subuh sudah tiba saat ia keluar dari ruang kerjanya. Pekerja di rumahnya sudah mulai sibuk melakukan tugasnya masing-masing.


"Rosita," panggil Sergio saat melihat pelayan itu sedang berkutat di dapur.


"Ya, Tuan," sahut Rosita cepat, lalu menghampiri Sergio.


"Ambilkan aku obat sakit kepala dan air hangat," titahnya pada Rosita.


"Baik, Tuan." Rosita segera melaksanakan tugas.


"Jam berapa anak itu pulang?" tanya Sergio sebelum naik ke tangga.


"Tuan Muda tidak pulang malam ini, Tuan," jawab Rosita langsung tahu siapa yang di maksud Tuan Besarnya.


Sergio menghela napasnya. "Ku rasa aku harus segera bertindak," ucapnya dalam hati.


________________


Di apartemen Fabian, pria itu terburu-buru bangun dari tidurnya saat melihat jam menunjuk angka sebelas. Ia teringat dengan temu janji yang ia buat dengan calon investor. Secepat kilat ia mandi, dan merapikan diri. Langkahnya bak dikejar hantu saat keluar dari gedung apartemen mewah itu.


Ia kerahkan semua kemampuan mengemudinya agar sampai di tempat meeting tepat waktu, meski itu mustahil. Sebab jadwal pertemuannya sudah lewat dua jam yang lalu, tapi ia masih berharap bisa bertemu walau sebentar dengan calon investor itu.

__ADS_1


Fabian berlari ke lounge, yang sudah ia pesan sebelumnya. Napasnya terengah saat ia sampai pada tiga orang yang sedang bersalaman. "Maaf," ucap Fabian pada ketiganya.


Sergio menatap marah pada Fabian, karena ulahnya hampir saja mereka kehilangan calon investor dalam proyek baru mereka. "Perkenalkan, ini adalah putra saya, adiknya Lucas. Dia yang akan menjadi penanggung jawab proyek yang akan kita kerjakan bersama," Sergio mencoba menjelaskan pada calon investor bernama Greek itu.


"Dia terlambat karena tadi sedang meninjau lahan yang akan kita bangun," imbuhnya dengan berbohong untuk menutupi kesalahan Fabian.


Greek nampak memaklumi, sementara Fabian merasa dipermainkan dengan ucapan ayahnya. Penanggung jawab proyek, bukankah itu sejenis dengan mandor?


"Baiklah, senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda, Tuan Ramos. Semoga ini adalah awal yang baik untuk kerja sama kita." Greek berpamitan setelahnya.


"Apa maksud Ayah tadi?" tanya Fabian setelah Greek menjauh dari mereka.


"Maksudku, kau tidak lagi menjabat sebagai GM di perusahaanku, tapi aku menurunkan jabatanmu menjadi mandor di proyek yang baru," jawab Sergio tegas.


"Ayah, aku tidak suka becanda di saat seperti ini," protes Fabian.


"Aku tidak pernah bercanda dengan orang yang bekerja padaku!"


Fabian mendelik marah, terlebih melihat Lucas di samping ayahnya. "Berikan aku alasan untuk menerimanya," ucap Fabian.


Sergio hendak menjawab, tapi suara ponsel milik Fabian membuatnya urung bersuara.


Fabian dengan cepat mengeluarkan ponsel dari jasnya, dan mengangkat panggilan itu.


"Halo," sapa Fabian.


"Aku akan menelponmu nanti, Sayang. Aku sedang sibuk," sela Fabian sebelum orang di seberang sana menjawab salam darinya.


Sergio yang menyadari siapa yang sedang menelpon putranya segara pergi dari tempat itu tanpa pamit. Lucas pun dengan setia mengikuti langkah Sergio.

__ADS_1


Fabian bertambah marah saat ayah dan saudara tirinya mendadak meninggalkannya.


__ADS_2