Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.28 Tidak Punya Pekerjaan


__ADS_3

Sabrina berjalan mengendap-endap mendekati sofa ruang tamunya. Ada yang menggunakan bantal dan selimut yang semalam ia siapkan untuk Fabian, tapi pria itu lebih dulu pergi tanpa pamit. Perlahan, Sabrina menyingkap selimut yang menutupi wajah orang yang tengah pulas tertidur di sofa miliknya. Sabrina menghela napas lega saat mendapati wajah suaminya yang terbaring di sana.


"Sejak kapan dia pulang, aku kira marah," gumam Sabrina. Tidak ingin mengganggu tidur suaminya, Sabrina membetulkan kembali selimut yang sempat ia singkap, dan meninggalkannya ke dapur.


Sabrina mengerjakan tugas bersih-bersih terlebih dahulu sebelum ia memasak untuk sarapan, setelahnya ia segera mandi untuk pergi ke florist. Semua sudah tertata di meja makan, tadi saat keluar kamar Sabrina sempat melongok melihat Fabian yang masih tertidur, karenanya Sabrina pikir untuk membuatkan kopi kesukaan suaminya sebelum ia berangkat ke florist.


Ia baru saja menakar kopi dan gula, saat hembusan angin terasa menerpa kulit pipinya. Sabrina tak menghiraukan, ia terus menuangkan air panas ke dalam cangkir dan mengaduk kopi itu perlahan. Saat ia akan membawanya ke meja makan, sebuah suara mengagetkannya.


"Apa itu untukku?"


Sabrina yang membawa kopi di tangannya sempat bergetar karena kaget.


"Aku suka aroma kopi yang kau buat."


Sabrina membawa tubuhnya memutar untuk bisa berhadapan dengan pemilik suara yang sangat ia hafal. Entah sejak kapan pria ini sudah berdiri di belakangnya, tapi ia sukses membuat Sabrina terperanjat.


"Biar aku yang bawa." Fabian mengambil alih cangkir di tangan Sabrina. "Terima kasih," ucapnya sebelum mengecup pipi Sabrina dan berlalu ke meja makan.


"Hei ... sampai kapan kau akan berdiri di situ?" seru Fabian yang melihat Sabrina bergeming tak beranjak dari tempatnya.


Sabrina masih berusaha sadar, apakah yang baru saja terjadi adalah mimpi. Fabian, bersikap manis padanya?


Ada apa lagi, ini?


"Kau tidak mau makan sarapanmu?" seru Fabian lagi sembari menggigit sandwich buatan istrinya.


"Sandwich buatanmu lumayan juga, meski tidak seenak buatan Rosita tapi masih bisa lah untuk dimakan," ucap Fabian. Kali ini Sabrina langsung tersadar, ini lah Fabian yang sebenarnya.


Ya, pasti tadi itu hanya khayalannya saja. Dengan bibir yang mencibir, Sabrina berjalan ke meja makan. Ia segera meminum susu yang sejak tadi ia siapkan untuknya sendiri. Mengambil satu sandwich dan menggigitnya dengan kasar, matanya pun terus mendelik tak lepas dari Fabian.


"Kau kenapa, apa kau marah hanya karena aku bilang sandwich buatan mu tidak seenak buatan Rosita?" cibir Fabian.


Sabrina tak menghiraukan Fabian yang kini tengah tersenyum mengejeknya, ia terus saja makan, meski mulutnya sudah penuh. Sabrina tetap berusaha menjejalkan sandwich itu agar bisa masuk semua ke dalam mulutnya.


"Aku bicara jujur, apa kau mau aku berbohong dan mengatakan jika sandwich buatan mu adalah yang paling enak, tapi aku tidak bisa melakukannya. Kau tahu kenapa, kalau aku berbohong sekarang, nanti saat kau tahu kebenarannya pasti kau lebih terluka," ujar Fabian. Pria itu tertawa melihat cara makan Sabrina yang kasar.


"Aku tidak percaya kau punya sisi barbar dalam dirimu," ejek Fabian.


Seolah diingatkan, Sabrina dengan sengaja meminum susu untuk mendorong sandwich yang masih ada dalam mulutnya. Lalu menghentakkan gelas kosongnya di meja, dan hal itu membuat Fabian terperanjat.


"Hei ... kau mau ke mana, aku belum selesai sarapan. Kau harus menemaniku dulu," seru Fabian.


Tak peduli dengan suaminya itu, Sabrina berlalu ke kamarnya dan mengambil tas, kemudian pergi meninggalkan Fabian sendiri.

__ADS_1


"Hei, tunggu aku," teriak Fabian tapi tak digubris Sabrina.


Dengan taksi, Sabrina pergi ke florist. Sampai di sana sudah ada Paul dan Caty yang sedang merapikan bunga yang baru datang dini hari tadi.


"Kau kenapa?" tanya Caty yang langsung mengikuti Sabrina ke ruangannya dan melihat wajah cemberut Sabrina.


Sabrina baru saja melempar tasnya ke atas meja, dan dengan malas meletakkan kepalanya di atas tas tersebut.


"Kau sakit?" tanya Caty lagi.


Sabrina menoleh, tanpa mengangkat kepalanya. "Aku sedang kesal," jawab Sabrina.


"Iya, tapi kenapa?"


"Aku juga tidak tahu."


Caty langsung memutar bola matanya malas. Lebih baik ia pergi melayani pelanggan yang baru saja datang dari pada harus mengurusi bosnya. Ia segera keluar saat mendengar Paul lebih dulu menyambutnya.


"Selamat datang di toko kami, kami menyediakan bunga apa pun yang Anda inginkan," sapa Caty ramah pada pelanggan yang baru saja membuka pintu masuk. Kemudian ia menghampiri tamu itu untuk melayani.


"Biar aku saja, kau lanjutkan menatap bunga yang ada di luar," pinta Caty pada Paul, dan Paul menyetujuinya.


Tak lama kemudian ada tamu lagi yang membuka pintu. "Selamat datang di toko kami, kami_____" sapa Caty lagi, namun kalimatnya terpotong saat melihat siapa yang masuk.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Caty.


Caty mengangguk paham, tapi matanya terus mengekori Fabian yang berjalan menuju ruangan Sabrina.


Tanpa ijin Fabian langsung masuk dan duduk di sofa yang tersedia di sana. Ia menatap istrinya yang sedang meletakkan kepalanya di atas meja, seperti siswa yang tidur karena bosan mendengarkan pelajaran.


"Apa kau datang ke tempat kerja hanya untuk tidur?" tanya Fabian.


Mendengar suara Fabian, sontak Sabrina bangun.


"Sejak kapan kau ada di situ?" tanya Sabrina.


Fabian melihat jam di tangan kirinya. "Sekitar tiga menit, dua puluh dua detik yang lalu," jawab Fabian


Sabrina mendengkus. "Untuk apa kau ke mari?"


"Hanya ingin melihat cara kerja di toko kecil seperti ini," jawab Fabian meremehkan.


"Oh ... Ya Tuhan." Sabrina bangkit dari duduknya dan memegangi kepalanya melihat tingkah suaminya.

__ADS_1


"Ku rasa, desain tokomu kurang menarik. Terlalu tua dan monoton, gaya yang tidak bisa menarik anak muda untuk sekedar mampir." Fabian berjalan mendekati jendela ruangan Sabrina, ia memegang gorden itu dan berkata, "Ini selera orang tua, persis seperti dirimu yang sebelumnya."


Sabrina terperangah dengan ucapan Fabian yang tidak disaring.


"Terlalu kampungan," imbuh Fabian.


"Apa kau mau aku membantumu mendesain ulang semuanya, aku yakin tokomu akan berkembang dengan cepat. Bukankan toko ini selalu seperti ini sejak ayahku memberikannya padamu?"


"Keluar, kau!" usir Sabrina yang sudah tidak tahan dengan Fabian.


"Kenapa, kau marah aku mengkritikmu?"


"Aku bilang keluar!" seru Sabrina.


"Aku tidak mau, aku akan tetap di sini sampai kapan pun aku mau," tolak Fabian.


"Apa kau tidak punya pekerjaan, untuk apa kau mau tetap di sini?" cibir Sabrina.


Fabian berjalan mendekati Sabrina. "Kau yang telah membuatku kehilangan pekerjaan, karena itu kau harus segera mengembalikannya."


"Apa maksudmu?" protes Sabrina.


Fabian kembali melangkah mendekat, hingga ia berdiri tepat di depan Sabrina. "Pulang ke rumah dan katakan pada ayahku kalau kita akan memulai semuanya dari awal. Dengan begitu kau akan mengembalikan pekerjaanku."


"Enak saja." Sabrina mendorong pelan tubuh Fabian agar menjauh darinya.


Namun, dengan cepat Fabian menarik tangan Sabrina dan membawa tubuh istrinya semakin dekat dengannya. Tangan pria itu merengkuh pinggang istrinya, untuk membuatnya lebih dekat, sangat dekat karena tidak ada lagi jarak di antara mereka. "Kalau begitu kenapa tidak kau buat mudah, kau hanya perlu mengatakan itu pada ayahku agar aku mendapatkan posisiku kembali."


Sabrina berusaha lepas dari Fabian ia terus meronta karena tidak tahan jika harus berada sedekat ini dengan suaminya.


"Fabian, lepaskan aku."


"Aku bisa saja melepaskanmu, jika kau mau mengikuti kata-kataku tadi."


"Jangan mimpi!" tolak Sabrina.


"Kau membuatku semakin tertarik saat memberontak." Fabian mendekatkan wajahnya ke telinga Sabrina. "Apa kau tahu, aku sudah lama merin____"


"Nona, ada tamu." Suara Caty yang tiba-tiba masuk membuat ucapan Fabian terpotong. Segera ia melepaskan rengkuhannya pada Sabrina.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu, tapi Tuan Ramos ada di luar menunggumu," ucap Caty sedikit takut.


Sabrina dan Fabian saling tatap. "Ayah?" ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


"Untuk apa Ayah ke sini?" tanya Fabian.


Sabrina hanya bisa menggedikkan bahu. Ia benar-benar tidak tahu jika Sergio akan datang, karena ia tidak ada janji dengan ayah mertuanya itu.


__ADS_2