
Sydney, 11.00 pm
"Kapan dia akan datang?" tanya Sergio pada Crist di ruang kerjanya.
"Tuan Muda mengambil penerbangan pada jam setengah sebelas malam waktu Jakarta, Tuan. Perkiraan sampai Sydney jam setengah sepuluh esok hari," jawab Crist.
"Apa dia akan pulang dengan menantuku?"
"Saya tidak tahu soal itu, Tuan, yang saya tahu dari orang suruhan kita, jika Nona Sabrina belum bisa menerima Tuan Muda kembali," ujar Crist sedikit menyesal karena harus memberi tahu fakta tentang hubungan Fabian dan Sabrina pada Sergio yang sedang dalam kondisi belum pulih benar.
Sergio menarik napas panjang. Memikirkan tentang putra dan menantunya. "Biarkan saja anak itu berjuang untuk membawa kembali istrinya. Aku tahu benar bagaimana putraku, dia pasti akan menyadari betapa pentingnya Sabrina bagi hidupnya dan akan berusaha membawanya kembali, bukan demi diriku, tapi demi masa depannya."
Crist mengangguk setuju dengan apa yang dipikirkan oleh Tuannya—Sergio. Sementara itu dari balik pintu ruang kerja Sergio, ada Esme yang mendengar semuanya. Ada rasa sedikit tidak rela jika Fabian kembali sementara Lucas masih belum diijinkan untuk menginjakkan kakinya di rumah ini. Bagaimanapun, Esme sangat merindukan putranya itu. Ia sendiri tidak tahu ke mana Lucas pergi sejak Sergio mengusirnya kala itu.
"Lucas, kau di mana? Ibu merindukanmu," ujar batin Esme yang masih bersembunyi di balik pintu. "Ibu janji akan membuatmu kembali ke rumah ini lagi."
____________________
Kediaman Keluarga White, Jakarta.
Pertanyaan Sharon membuat Sabrina menghentikan gerakannya. Memasang telinganya lebar-lebar tentang ke mana tujuan pria yang belakangan ini mengusik hidupnya.
Fabian melihat keseriusan Sabrina yang ingin tahu. "Sebenarnya aku akan kembali ke Sydney. Ayahku sakit, dan kemarin aku belum bisa pulang karena aku punya tanggung jawab kerja di Surabaya. Hari ini aku mulai mengambil cuti jadi aku ingin mengunjungi ayahku."
Sharon dan Matt sama-sama menatap Sabrina yang masih berdiri di samping Fabian.
"Apa sakit ayahmu serius?" tanya Sharon kemudian.
__ADS_1
"Entahlah, aku belum mencari tahu lebih lanjut yang kudengar hanya sedikit gangguan pada tekanan darahnya."
"Kapan kau akan berangkat?" tanya Matt.
Fabian kembali mendongak melihat Sabrina. "Nanti malam."
"Mendadak?" Sharon nampak terkejut.
"Tidak juga, aku sudah merencanakan ini sekitar seminggu yang lalu sejak aku tahu ayahku sakit." Fabian melirik Sabrina di sampingnya.
"Kau pulang sendiri?" tanya Matt lagi.
Fabian mengulas senyum tipis di bibirnya. "Sejujurnya aku ingin mengajak seseorang karena syarat dari ayahku aku tidak diijinkan pulang jika aku tidak membawanya kembali. Tapi kurasa syarat ayahku terlalu berat, karena itu aku akan mencoba pulang sendiri. Semoga saja ayahku masih bersedia membuka pintu untukku," jawab Fabian dengan bercanda.
"Kau tidak mau ikut Sabrina?" todong Matt tiba-tiba.
"Kau tidak ingin mengunjungi ayah mertuamu yang sedang sakit?" tanya Matt.
Sabrina terdiam sekejap. Tak bisa menjawab pertanyaan Matt. "Makanlah sarapanmu," ujar Sabrina pada Fabian, lalu pergi menghindari mereka semua.
Fabian hanya bisa menatap kepergian Sabrina ke dapur. Begitu pun juga Sharon dan Matt. Mereka semua tahu pasti saat ini Sabrina tengah bimbang dengan pertanyaan Matt. Entah apa yang dilakukan wanita itu di dapur karena sejak meninggalkan meja makan, ia tidak lagi kembali bahkan sampai Fabian berpamitan.
Sabrina baru keluar dan kembali ke kamarnya setelah semua orang meninggalkan meja makan. Ia dirundung gundah. Dalam hatinya ia bimbang, haruskah ia ikut ke Sydney untuk menjenguk ayah mertuanya.
Ia tidak mungkin berpura-pura tidak tahu sementara saat itu ia ikut mendengar kabar tentang Sergio yang sedang dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, jika ia ikut Fabian sekarang apakah akan baik untuk dirinya. Sejujurnya ia masih ingin melihat usaha Fabian untuk mengajaknya kembali bersama. Ia ingin Fabian tahu bagaimana rasanya mencintai dalam kesendirian.
"Sabrina," panggil Sharon sembari mengetuk pintu kamar Sabrina. Sekaligus membuyarkan semua kegundahan hatinya.
__ADS_1
"Masuklah."
Sharon melihat Sabrina tengah duduk di tepi ranjang sembari melipat tangan di dadanya.
"Ada apa?" tanya Sabrina.
"Kau pasti sedang bimbang," tebak Sharon. Wanita itu berjalan mendekati Sabrina dan duduk di sisi wanita yang sudah ia anggap sebagai adik itu.
"Aku tidak tahu seberapa terlukanya kau karena Fabian. Tapi aku sudah mendengar semua cerita dari mu juga dari Fabian langsung," ujar Sharon tiba-tiba.
Sontak Sabrina menoleh mengetahui hal itu. Fabian bercerita pada Sharon tentang hubungan mereka.
"Aku tahu Fabian pantas mendapatkan hukuman atas apa yang ia lakukan padamu dulu. Dan dia sudah menjalaninya selama dua tahun ini."
Sabrina semakin fokus menatap Sharon.
"Kau tahu kenapa aku dan ayahku tidak memberitahumu jika gugatan ceraimu gagal karena Fabian tidak pernah menandatangani surat itu? itu semua kami lakukan karena kami hanya ingin kau memulai kehidupan barumu tanpa Fabian. Kami tak ingin mengusikmu dengan pernikahanmu yang menyedihkan. Tapi setelah dua tahun aku mengamati, aku perhatikan kau tetap tak bisa berpaling dari pria yang kau anggap telah menyakitimu itu. Kau bahkan tidak pernah bisa membuka hatimu untuk pria lain. Aku masih sering melihatmu sendiri terpaku menatap cincin pernikahan yang kau sembunyikan itu. Dari situ aku berpikir jika kau masih punya perasaan pada suamimu itu," ujar Sharon mengatakan apa yang selama ini diam-diam ia lihat.
"Aku memberitahu semuanya pada Ayah, dan ayah bilang untuk membiarkanmu menemukan ketenangan hidup yang kau inginkan. Menata hatimu kembali dengan atau tanpa Fabian. Jikalau nanti kau sudah menemukan pengganti Fabian, barulah ayah akan tegas mengurus surat perceraianmu. Nyatanya dua tahun sudah berlalu dan kau tidak menemukan pengganti Fabian, karena jauh di lubuk hatimu, kau masih menginginkan suamimu itu, bukan?"
Sabrina mendengarkan apa yang selama ini Sharon tidak ungkapkan kepadanya.
"Aku lihat Fabian pria yang baik. Dia benar-benar ingin berubah dan kembali bersamamu. Aku pun tahu apa yang kau rasakan padanya tak pernah berubah. Jika kalian masih saling menginginkan satu sama lain, kenapa tidak kau buka lagi kesempatan untuk Fabian."
Sabrina tak ingin menjawab tidak juga ingin membantah. Ia hanya memikirkan apa yang Sharon ucapakan.
"Semua keputusan ada di tanganmu. Fabian menitipkan ini untukmu sebelum ia pergi tadi." Sharon memberikan sebuah amplop di pangkuan Sabrina. "Kau boleh mempertimbangkan apa yang aku katakan tadi. Sejujurnya apa pun pilihanmu asal itu membuatmu bahagia aku akan mendukungmu. Bagiku kau sudah seperti adikku sendiri." Sharon pun keluar dari kamar Sabrina setelah menepuk bahu wanita itu.
__ADS_1
Sabrina menatap amplop di pangkuannya. Ia mengambil dan memandangi amplop itu dengan serius. Dalam hati ia bertanya apa yang ada dalam amplop yang Fabian berikan untuknya.