
Setelah kejadian semalam Sabrina merasa canggung berada satu kamar dengan Fabian meski status mereka masih sah sebagai suami istri. Ia bahkan menghindari pria itu dengan lama berdiam di kamar mandi untuk menunggu pria itu pergi. Biasanya kalau keinginannya tidak dituruti, Fabian akan marah dan meninggalkannya. Sedikit banyak Sabrina masih ingat dengan kebiasaan suaminya tersebut. Namun sayangnya, ketika Sabrina keluar, pria itu masih menunggunya di atas ranjang. Tak ingin bicara apa pun saat kembali naik ke ranjang, bahkan ia abaikan Fabian yang berusaha mengajaknya bicara, Sabrina memilih untuk menutupi tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki hingga ujung kepala, persis seperti mayat.
Fabian yang menyadari sikap istrinya tahu benar jika wanita itu tak ingin diganggu. Ia pun dengan sabar memilih untuk kembali tidur di sofa, tentu saja dengan menahan sakit kepala yang mendadak mendera.
Pagi ini pun Sabrina terburu-buru keluar dari kamar saat Fabian selesai mandi. Ia belum siap jika harus kembali berhadapan dengan pria itu apa lagi harus menatap matanya. Baru saja Sabrina mencoba menekan handle pintu ia dikejutkan dengan suara Fabian.
"Kau mau ke mana?" Suara Fabian sontak membuat Sabrina berbalik menatap Fabian.
"A-aku mau keluar," jawab Sabrina gugup.
Fabian berjalan mendekati Sabrina. "Aku ingin bicara." Fabian meraih tangan Sabrina dan menuntunnya ke sofa. "Duduklah." Setelah meminta Sabrina duduk, pria itu duduk di samping Sabrina dengan tubuh yang menghadap istrinya.
"Fabian, Ayah menunggu kita untuk sarapan," ujar Sabrina untuk lari dari pria itu.
"Kau tidak perlu khawatir, nanti kita bisa sarapan sendiri."
Sabrina langsung terdiam. Ia menunduk demi menghindari matanya dan mata suaminya bersirobok.
Fabian tak kunjung bicara, ia hanya diam memperhatikan Sabrina yang tertunduk. Sangat jelas memperlihatkan jika istrinya itu tak ingin beradu pandang dengannya.
"Maafkan, aku," ujar Fabian. Nada bicaranya terdengar lembut dan tulus.
Sabrina bergeming. Ia tetap menunduk dan tak bergerak sedikit pun.
__ADS_1
"Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku minta maaf jika pernah membuatmu terluka. Aku minta maaf jika pernah menjadi suami berengsek untukmu, tapi sekarang aku menyadari semuanya dan aku ingin kembali padamu," sambung Fabian.
Mendengarnya, Sabrina langsung mendongak.
"Ayo kita mulai semua dari awal. Kita mulai pernikahan kita kembali."
Sabrina menatap penuh keraguan pada Fabian, ada sesuatu yang masih mengganjal di otaknya.
"Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya, tapi setelah itu kita sudahi segala kebencian dan kita mulai semua dari awal."
"Bagaimana dengan kekasihmu?" tanya Sabrina, meski ragu akhirnya tanya itu bisa keluar dari mulutnya.
"Dia sudah tidak ada, dia meninggal."
Mata Sabrina membulat sempurna
Sabrina tersenyum sinis. Ia seolah mendapatkan kembali kekuatannya untuk bersikap berani di depan Fabian. "Jika saja kekasihmu itu tidak meninggal, kau pasti sudah bahagia dengannya sekarang. Itu artinya aku hanyalah cadangan setelah kau ditinggal mati oleh wanita simpananmu itu."
"Kau salah, bukan seperti itu ceritanya." Fabian pun menceritakan semua perasaan yang ia rasakan diam-diam untuk Sabrina selama ia berusaha membawa wanita itu kembali ke rumah. Sampai cerita tentang bagaimana Vannesa bisa meninggal di tangan Lucas. Diusirnya Lucas hingga perasannya yang kalut setelah kepergian Sabrina kala itu. Fabian seperti tak punya arah sampai ia memulai hidupnya lagi dengan bekerja di Indonesia. Berharap bisa menemukan Sabrina dengan uang hasil kerjanya sendiri. Tak ada satu pun yang Fabian tutupi. Semua ia buka secara gamblang dihadapan istrinya.
Sabrina lebih tak percaya dengan cerita ini, tapi Fabian terlihat begitu serius dan seolah tak ada kebohongan dalam ucapannya.
"Kau boleh bertanya pada Ayah, juga Esme. Mereka tahu semuanya." Fabian meraih dua tangan Sabrina dan mengangkatnya. "Aku tak bisa menjanjikan apa pun, selain aku akan berusaha membahagiakanmu."
__ADS_1
Buru-buru Sabrina menarik tangan yang digenggam Fabian, serta menghindari tatapan pria itu. Takut terhipnotis oleh keindahan yang ada dalam manik mata Fabian.
"Sebaiknya kita sarapan dulu, aku lapar." Sabrina berdiri.
"Sampai kapan kau akan menghindariku? aku ingin menyelesaikannya sekarang," sergah Fabian.
Sabrina menoleh. "Aku tidak menghindar, tapi aku butuh waktu untuk menerimamu kembali setelah semua yang kau lakukan padaku selama dua tahun aku menjadi istrimu."
Fabian tahu benar apa yang ia lakukan dulu. Memang sangatlah menyakitkan apa yang ia lakukan dulu pada Sabrina. Perlakuan yang tak pantas yang dilakukan oleh seorang suami pada istrinya. Antara malu dan menyesal, itulah yang tergambar pada raut wajah Fabian.
"Biarkan waktu yang menjawab semuanya," ujar Sabrina kemudian pergi.
Tatapan Esme masih sama saja seperti saat pertama kali Sabrina menginjakkan kakinya di rumah ini. Tidak suka. Itulah yang tercetak jelas di wajahnya. Terlebih ketika tahu Sabrina kembali dengan Fabian. Ia lebih tidak suka lagi.
"Selamat pagi, Ayah, Bu," sapa Sabrina begitu sampai di meja makan.
"Apa Fabian belum bangun?" tanya Sergio.
"Sudah, dia sedang bersiap," jawab Sabrina. Tak lema setelahnya Fabian muncul dan bergabung untuk sarapan.
Awalnya mereka makan dengan santai dan tenang hingga perkataan Sergio membuat mereka mendadak menghentikan aktifitas menyendoknya. "Kalian sudah ada di sini, apa kau tidak ingin mengunjungi Bibimu, Sabrina. Fabian akan mengantarmu. Kalian bisa menikmati honeymoon kalian di Araluen."
Sabrina sampai tersedak mendengar perkataan Sergio. Fabian dengan cepat mengambilkan air untuk istrinya. Hal itu membuat Esme merasa muak. Fabian sudah jauh berubah, tidak lagi jadi anak pembangkang dan abai pada si gagu—Sabrina.
__ADS_1
"Aku ingin kalian secepatnya memberikan aku cucu," sambung Sergio melihat Sabrina baik-baik saja setelah minum air dari Fabian.
Sabrina dan Fabian saling melempar pandang. Masih bingung harus menjawab apa dengan permintaan Sergio.