Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.18 Mau atau Tidak


__ADS_3

Seketika tawa Fabian terhenti, ia menatap penuh tanya pada Sabrina yang masih duduk bersila di depannya. Ia tidak pernah berpikir jika istri bodohnya ini berani mengajukan syarat.


"Apa syarat yang kau inginkan?" tanya Fabian.


Sabrina terlihat berpikir untuk sejenak. Ia sedang menimang keputusannya kali ini. "Aku akan memberimu waktu tiga bulan masa percobaan," jawab Sabrina pada akhirnya.


"Apa maksudmu, kau pikir aku tahanan?" Fabian memutar bola matanya malas setelah mendengar persyaratan Sabrina.


"Terserah, kalau kau tidak mau dengan masa percobaan ini bersiaplah menerima surat dari pengadilan, dan itu artinya kau tidak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kau inginkan," ucap Sabrina menantang.


"Kau bilang apa ... kau mengancam ku?"


"Bagaimana mungkin aku mengancam mu, aku tidak seberani itu." Sabrina berdiri ia hendak pergi meninggalkan Fabian lagi. Namun, saat ia melewati sisi Fabian, pria itu menarik tangannya.


"Aku setuju," lirih Fabian.


Sabrina tersenyum menang, ia menoleh pada pria yang masih terduduk itu. "Kalau begitu, ikuti aturan mainku," imbuh Sabrina.


"Aturan main?" Fabian terlihat bingung.


Sabrina mengangguk. "Hemm ... selama tiga bulan masa percobaan kau harus mengikuti apa yang aku inginkan. Jika kau berhasil melewati masa itu, aku akan bersedia memulai pernikahan kita dari awal dan tentu saja aku mau pulang bersamamu dan membantumu mendapatkan keinginanmu dari Ayah."


"Lama sekali!" protes Fabian.


"Kau masih bisa memikirkannya."


Fabian mempertimbangkan tawaran Sabrina, dia sudah menjalani pernikahan ini dua tahun, ditambah tiga bulan lagi tidak akan jadi soal untuknya. Lagi pula, Sabrina tipe wanita yang mudah diluluhkan, ia pasti akan berhasil membawanya pulang pada Ayahnya sebelum waktu tiga bulannya berakhir.


Fabian melepaskan tangannya dan menggeser tubuhnya agar Sabrina bisa duduk di sampingnya. "Katakan aturan mainnya," ucap Fabian.


Sabrina menatap Fabian lebih dulu, senyum tipis ia sunggingkan di bibir merah mudanya. "Pertama, aku tetap akan tinggal di sini, aku ___"


"Bagaimana bisa kau tetap tinggal di sini, bagaimana aku akan meyakinkan Ayah jika kau tidak bersamaku," potong Fabian cepat.


"Aku akan bicara sendiri pada Ayah. Kau tidak perlu khawatir soal itu."


"Kedua, aku ingin kau menjaga jarak dariku, maksudku ... kau tidak lagi kuijinkan menyentuhku tanpa persetujuanku," lanjut Sabrina.


"Kau gila, ya. Kau pikir aku akan tahan dengan semua itu!" teriaknya marah tapi jujur.


"Jangan berlebihan, bukankah kau punya wanita yang bisa menggantikan ku," sindir Sabrina.


Fabian membuang muka malas, ia memang bisa memilih wanita, tapi ia tak pernah melakukannya. Hal yang tak diketahui banyak orang, sejujurnya Fabian begitu takut menyentuh wanita sembarangan yang tidak jelas kebersihannya. Sebab itu Sabrina, wanita yang ia yakini benar-benar bersih itulah penolongnya dalam memenuhi kebutuhannya sebagai pria dewasa, jadi kalau dia harus berpuasa, mungkin ia harus mempertimbangkannya lagi.

__ADS_1


"Dan ketiga, kau harus selalu sedia saat aku membutuhkanmu!"


"Apa kau pikir aku pelayanmu! Lagi pula siapa yang akan setuju dengan semua syaratmu itu. Dari semua yang kau ajukan tidak ada satu pun keuntungan untukku!"


"Mau atau tidak?" tegas Sabrina.


Sabrina menunggu Fabian yang masih saja berpikir. Ia tersenyum tipis memperhatikan raut kesal yang tergambar jelas di wajah Fabian. Rasanya ia berhasil membuat suami arogannya itu berbalik mengikutinya. Sabrina harus bisa memanfaatkan waktu tiga bulannya dengan sangat baik, dia harus membuat Fabian menjauhi wanita itu, dia adalah istri sah Fabian, dia yang harus tetap ada di sisinya, bukan wanita itu.


"Ok, tapi aku juga punya syarat untukmu," ujar Fabian meski masih ragu.


"Aku tidak menerima syarat apa pun yang kau ajukan, di sini hanya aku yang berhak membuat aturan, tidak ada, KAU!" Sengaja Sabrina mempertegas kata 'kau' agar suaminya tahu ia yang berkuasa sekarang.


"Bagaiman bisa kau ber _____"


"Sebentar," potong Sabrina saat telepon apartemennya berbunyi.


Sabrina berdiri, menghampiri telepon yang tak jauh dari sofa ruang tamu. "Halo," sapa Sabrina, kemudian rautnya berubah sendu saat mendengar berita dari orang yang meneleponnya. Air matanya tiba-tiba mengalir deras .


"A-aku akan segera ke sana," jawab Sabrina buru-buru menutup ponselnya..


Sabrina segera berlari ke kamar. Ia tak peduli lagi ada Fabian yang masih menunggunya. Sabrina segera mengemasi bajunya dalam koper. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya, ia bahkan lupa jika Fabian sedari tadi mengikutinya dan berdiri di ambang pintu.


Selesai berganti baju, Sabrina menyeret kopernya keluar tanpa menghiraukan suaminya. "Hei, kau mau ke mana?" tanya Fabian yang menyusul langkah Sabrina keluar dari apartemen.


Wanita itu sangat terburu-buru. Ia tak menggubris sama sekali jika ada Fabian bersamanya.


"Dasar gadis gagu!" umpat Fabian, dan berhasil membuat Sabrina menghentikan langkahnya. "Selain bodoh, aku juga tidak suka dengan sebutan gadis gagu!" ucapnya dengan mendelik saat menoleh pada Fabian.


"Maaf, aku hanya ingin tahu kau mau ke mana?" tanya Fabian lembut.


"Araluen," jawab Sabrina lugas lalu pergi.


Sampai di loby apartemen Sabrina mencoba mencari taksi, dan ia tak peduli ke mana pria itu tadi meninggalkannya. Suara klakson membuatnya menatap pada orang yang berada di dalam mobil. "Masuklah, aku akan mengantarmu!"


Tanpa pikir panjang, Sabrina memasukkan kopernya ke bagasi lalu naik bersama Fabian. "Apa yang terjadi?" tanya Fabian. Setelah Sabrina mengatakan tujuannya, Fabian tau jika istrinya itu akan menemui pengasuhnya, meski belum pernah ke sana, tapi Fabian pernah mendengar tempat tinggal pengasuh istrinya itu.


"Bibi May sakit, jadi aku harus ke sana. Ia sudah seperti Ibu bagiku, aku tidak bisa membiarakannnya sendiri."


Fabian mengangguk mengerti.


"Apa bisa lebih cepat?" pinta Sabrina.


Sesuai permintaan Sabrina, Fabian mengemudikan mobil dengan kecepatan lebih dibandingkan tadi. Ia harus segera sampai di rumah sakit demi pengasuh istrinya itu. Kurang lebih tiga jam perjalanan yang mereka tempuh hingga sampai ke rumah sakit di mana Bibi May dirawat.

__ADS_1


Sampai di sana, Bibi pengasuh Sabrina itu tergolek lemah di atas ranjang perawatan. Ada seorang tetangga Bibi May yang menemani.


"Halo Carmen, apa yang terjadi dengan Bibi May?" sapa Sabrina begitu sampai di kamar perawatan.


"Hai Sabrina, kata dokter asam lambung Bibimu meningkat, itu yang menyebabkannya mengeluh sakit," jawab Carmen. "Akhir-akhir ini dia sering bercerita kalau dia memikirkan mu, dia takut jika dia pergi tidak ada lagi yang akan menjagamu. Mungkin itulah penyebab sakitnya, karena setelahnya ia jadi sulit makan," imbuhnya.


Sabrina terlihat sedih mendengar cerita Carmen. Bibi May masih saja memikirkannya meski ia sudah menikah. "Apa dia baru saja tidur?" tanya Sabrina lagi.


"Iya, dia baru saja tidur."


"Baiklah, terima kasih Carmen. Kau sudah banyak membantu Bibi May." Sabrina menepuk bahu Carmen.


Carmen melirik Fabian yang berdiri di samping Sabrina. "Apa dia suamimu?" tanya Carmen sedikit berbisik.


Sabrina menoleh, melihat Fabian sekilas. Ia hampir melupakan pria itu, yang sudah berusaha mengantarnya sampai ke tempat Bibi May. "Ah ... ya, perkenalkan, ini Fabian, suamiku," jawab Sabrina.


Carmen mengulurkan tangannya, yang disambut oleh Fabian.


"Aku akan keluar sebentar," pamit Carmen.


"Baiklah, terima kasih untuk bantuan mu."


Sepeninggal Carmen, Sabrina mengambil bangku untuk bisa duduk di samping Bibi May. Ia menggenggam tangan tua pengasuhnya itu, lalu menciuminya.


"Kau harus segera bangun, aku membawa seseorang untukmu. Kau ingin melihatnya bukan?" lirih Sabrina, air matanya tak lagi terbendung. Ia begitu mengasihi pengasuhnya yang setia itu.


"Kau harus melihat aku bahagia, seperti doamu selama ini," sambungnya. Sekali lagi, Sabrina mengecup tangan keriput itu.


Perlahan, mata sayu itu membuka. Ia melihat gadis yang ia besarkan menangis di sampingnya. Bibi May berusaha mengusap pipi Sabrina.


"Kau sudah bangun?" tanya Sabrina. Dengan bahagia ia menciumi kening wanita tua itu.


Bibi May tak menjawab, ia justru melihat sosok pria tampan yang berdiri memperhatikan mereka berdua. Sabrina mengikuti arah pandang Bibi May, ia menghapus air matanya.


"Bibi, dia adalah Fabian, suamiku," ucap Sabrina memperkenalkan.


Bibi May tersenyum, ini pertama kalinya ia melihat suami dari gadis yang ia asuh. Pria yang selalu Sabrina ceritakan dengan antusias sejak kecil. Bibi May mengulurkan tangan, agar Fabian mendekat padanya.


Fabian yang canggung bingung, harus berbuat apa hingga Sabrina menariknya mendekat.


"Ha-halo," sapa Fabian kaku.


Sabrina yang menyadari sikap kaku Fabian, akhirnya menyelamatkan pria itu. "Boleh aku minta tolong, belikan untukku minum," pinta Sabrina.

__ADS_1


Fabian pun pamit dan meninggalkan istrinya untuk bisa bercengkerama dengan pengasuhnya itu.


"Apa dia sudah berubah?" tanya Bibi May yang membuat Sabrina bingung harus berkata apa. Selama ini, hanya Bibi May tempatnya berbagi. Soal apa pun, termasuk soal Fabian. Namun kali ini, ia tak ingin membebani pikiran Bibi May dengan segala cerita rumitnya dengan Fabian.


__ADS_2