
Fabian selalu menoleh kebelakang, berharap bisa seseorang yang ia inginkan datang. Sayangnya, sampai ia menaiki tangga pesawat tak ada seseorang yang ia harapkan terlihat. Wajahnya tertunduk lemas, kekecewaan mendadak merasuki jiwanya.
Sudahlah, dia memang pantas mendapatkannya. Mungkin tak akan ada kata maaf untuknya. Ia sudah sangat keterlaluan untuk disebut sebagai suami. Dulu. Setiap perlakuannya tak ada yang yang tak menyakiti Sabrina ketika mereka masih bersama dalam ikatan pernikahan. Sekarang kalau pun Sabrina ingin tetap berpisah itu sangatlah wajar. Lagi pula siapa yang mau kembali dengan suami berengsek sepertinya.
Ia berjalan memasuki kabin pesawat dan mencari nomor tempat duduknya. Sampai pada nomor yang sesuai dengan yang tertera pada tiket, Fabian justru bergeming. Ia terpaku menatap seseorang yang duduk di sisi bangku tempatnya akan duduk. Antara senang dan tak percaya. Orang yang sejak tadi ia tunggu rupanya sudah lebih dulu menunggunya.
Fabian menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk lengkungan indah. Ekspresi kebahagiaan.
"Excuse me," ujar seorang penumpang yang akan lewat.
"Oh, sorry." Fabian pun segera duduk. Ia terus menatap wanita di sampingnya. Meski sedari tadi wanita itu menghadap keluar pesawat ia tahu benar siapa yang tengah duduk bersamanya saat ini. Sabrina. Wanita yang ia harapkan akan menemani perjalanannya kembali ke Sydney.
"Apa kau sudah lama?" tanya Fabian dengan logat gagap saking gugupnya melihat Sabrina akhirnya mau pulang bersamanya.
Sabrina tak acuh ia tetap saja menikmati luasnya bandara dari balik jendela. Meski begitu, Fabian tetap tersenyum. Ia sudah sangat bahagia melihat keberadaan istrinya yang satu pesawat dengannya. Itu sudah cukup.
"Baiklah, aku tidak akan banyak bicara. Nikmatilah penerbangan kita saat ini. Aku akan menghabiskan waktu tujuh jam ku untuk tidur. Aku tidak akan mengganggumu," ujar Fabian.
__ADS_1
Ia pun menepati janjinya. Sejak pesawat mulai tinggal landas, Fabian langsung menutup matanya. Ia tak lagi mengajak Sabrina berinteraksi.
Merasa jika pria di sampingnya sudah tenang, Sabrina mulai menoleh. Ia melihat Fabian yang terpejam dengan tangan dilipat di dadanya. Sabrina mengingat kembali saat ia memutuskan untuk ikut penerbangan bersama Fabian kali ini.
Tadi pagi setelah Sharon memberikan sebuah amplop yang ditinggalkan Fabian untuknya. Sabrina pun membuka apa isinya. Rupanya sebuah tiket ke Sydney dan sebuah surat yang Fabian tulis.
Teruntuk Istriku, Sabrina.
Aku tahu, akan sangat sulit mendapatkan maaf darimu. Sebab aku sadar betapa buruknya aku menjadi seorang suami untukmu.
Waktu tidak akan bisa diulang. Aku pun tak akan sanggup merubah apa yang dulu aku lakukan padamu hingga menimbulkan luka di hatimu. Namun, aku ingin mengukir masa depan yang lebih baik bersamamu.
Hari ini aku ingin menjawabnya, "Ya, aku bersedia menikahimu gadis kecil."
Membaca surat itu membuat hati Sabrina semakin bimbang. Perasaannya pada Fabian memang tak bisa hilang begitu saja. Pria itu tetap menjadi penguasa hatinya meski sudah dua tahun ia berusaha menepiskannya.
Cintanya begitu bodoh, karena setelah mencoba lari hingga menyeberangi lautan dan berpindah benua tetap saja hatinya tertaut pada pria yang sama. Seperti kata Sharon, ia akan memberikan Fabian satu kesempatan untuk merajut mahligai yang pernah terkoyak. Sebab itulah, ia berada di dalam pesawat ini bersama pria itu.
__ADS_1
Hampir tujuh jam pesawat mereka terbang melintasi benua. Hari sudah terang saat pesawat dari Jakarta itu mendarat di bandara Kingsford Smith Airport, New South Wales.
Senyum tak pernah lekang dari bibir Fabian kala ia berjalan bersisian dengan Sabrina ketika keluar dari bandara. Mereka berdua berdiri menunggu Robert yang menjemput mereka mengambil mobil.
"Terima kasih," lirih Fabian.
Sabrina menoleh. "Untuk apa?"
"Terima kasih sudah mau kembali ke Sydney bersamaku."
"Aku ke sini demi ayah, bukan kau!" jawab Sabrina bertepatan dengan Robert yang sudah tiba dengan mobilnya. Tanpa menunggu lagi, Sabrina langsung masuk ke mobil orang suruhan ayah mertuanya itu.
Apa pun alasan Sabrina tak menyurutkan kebahagiaan Fabian. Ia tetap bahagia. Baginya, Sabrina bersedia ikut dengannya itu sudah menjadi pintu pembuka untuknya memulai sebuah hubungan baru dengan Sabrina. Ia tak peduli apa pun alasannya.
"Biar aku saja," ujar Fabian pada Robert yang akan menaikkan kopernya dan koper Sabrina ke bagasi.
Robert merasa heran dengan sikap Fabian yang tak seperti Tuan Muda dua tahun yang lalu. Fabian bahkan dengan sopan meminta Robert untuk menjalankan mobilnya setelah pria itu masuk dan duduk di sebelah Sabrina.
__ADS_1
Ia terus menatap Sabrina dengan senyumnya bak orang gila. "Kita mulai semuanya dari sini," ujar Fabian dalam hati.