
Di karenakan waktu mereka yang terbatas untuk berada di Sydney, Sabrina dan Fabian hanya pergi ke Araluen dua hari. Ia menginap di tempat Bibi May satu malam saja. Meski begitu rasanya sudah cukup untuk mengobati rasa rindu Sabrina yang sudah dua tahun tidak bertemu dengan pengasuhnya itu.
Tidak terasa juga jika sudah satu minggu mereka berada di Sydney. Hari-hari berlalu dengan monoton, karena setiap harinya Sabrina hanya menghabiskan waktunya di rumah seperti dulu. Pernah sekali ia pergi ke florits miliknya yang ternyata dikelola dengan baik oleh Paul dan Caty. Sabrina senang, setidaknya usahanya dulu masih terus berjalan meski orang lain yang menjalankannya. Ternyata setiap bulannya Caty memberikan laporan pada orang yang disuruh oleh Sergio Ramos untuk mengawasi toko tersebut.
Dua hari lagi, Sabrina dan Fabian akan kembali ke Indonesia walaupun Sergio mencegahnya. Ayah mertua Sabrina itu ingin putranya memimpin kembali perusahaannya sebagai CEO di Dream Land. Namun, Fabian masih punya tanggung jawab serta kontrak kerja dengan perusahaan tempatnya bekerja di sana. Setidaknya ia harus menyelesaikan tanggung jawabnya barulah ia resign dan kembali menetap di Sydney.
Jujur saja, Fabian sangat berharap bisa memulai pernikahannya dari awal lagi. Sabrina, adalah wanita yang tepat untuk mendampinginya. Sejak penolakan Sabrina malam itu, Fabian tak lantas putus asa. Ia terus berusaha mengambil hati wanita yang ia rasa sangat pantas untuk ia pertahankan.
Meski belum secara terang-terangan menerima, tapi Fabian bisa merasakan jika Sabrina kembali membuka hati untuknya. Mereka tidur bersama dalam satu ranjang, walaupun tak terjadi apa pun di atas ranjang itu dan Fabian memaklumi hal tersebut.
Mereka sudah terbiasa mengobrol layaknya pasangan pada umumnya. Satu minggu bersama membuat hubungan mereka mengalami perubahan yang signifikan. Hal yang membuat Fabian serasa mendapatkan angin segar. Perlahan ia akan mendapatkan kembali Sabrina sebagai istri seutuhnya.
Malam ini, Fabian mengajak Sabrina jalan-jalan. Menikmati indahnya kota Sidney di malam hari. Hal yang belum pernah Fabian lakukan sebelumnya. Ia ingin membahagiakan Sabrina sebelum kembali ke Indonesia.
Makan malam romantis di restoran fine dining sengaja Fabian pilih karena ini adalah acara makan malam pertamanya dengan Sabrina. Ia memang menginginkan kesan formal pada acara makan malam ini. Restoran dengan menu western, dirasa Fabian cocok untuk makan malam perdananya dengan sang istri.
"Kau serius mengajakku kemari?" Sabrina cukup terkejut ketika mereka turun dari mobil dan melihat restoran mewah yang terkenal di kotanya. Pantas saja Fabian sampai menyiapkan gaun untuknya dan meminta Sabrina untuk mengenakannya. Rupanya mereka akan menikmati makan malam secara formal.
Fabian mengangguk. "Aku ingin mempersembahkan yang terbaik untukmu." Fabian tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya pada Sabrina.
Demi membalas senyum Fabian, Sabrina pun mengulas bibirnya dengan senyum manisnya dan menyambut uluran tangan pria itu. Mereka berjalan beriringan memasuki restoran. Sebuah kemewahan langsung tersaji di depan mata Sabrina. Mulai dari dekorasi restoran hingga pelayanan, semua nampak berkelas.
__ADS_1
Fabian membimbing Sabrina untuk duduk, kemudian memesan menu yang mereka inginkan. Sembari menunggu pesanan mereka datang Sabrina bertanya, "Apa ini tidak terlalu berlebihan. Aku bisa menikmati makan malam di restoran cepat saji. Tidak harus yang seperti ini."
"Karena aku punya tujuan." Senyum Fabian menyiratkan sesuatu yang tak bisa Sabrina tebak hingga dahi wanita itu mengernyit.
Fabian mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Sebuah kotak beludru berwarna biru. Ia menyodorkan kotak kecil itu dengan perlahan ke hadapan Sabrina.
Sabrina dengan wajah seriusnya menatap kotak tersebut. Dari bentuk kotaknya Sabrina bisa menebak jika itu sebuah cincin. "Jangan bilang kau ingin melamarku?"
Fabian tertawa. "Aku tidak melamarmu. Aku hanya memberimu hadiah. Aku ingin memberikanmu sesuatu dari hasil kerjaku sendiri, dan ini adalah hasil kerjaku."
Karena Sabrina tak kunjung mengambil kotak itu, Fabian kembali meraihnya. Membuka kotak tersebut dan mengambil isinya. Ia meraih tangan Sabrina dan menyematkan cincin bertahta berlian itu di jari lentik sang istri.
"Aku tidak yakin kau tidak meminta imbalan untuk cincin semahal ini," ujar Sabrina sembari melihat kilau berlian di jari manisnya.
"Apa kau benar-benar menginginkanku?"
Fabian menjadi serius. "Sangat, aku sangat menginginkanmu kembali. Aku akan terus memperjuangkanmu sampai kita bisa kembali bersama."
Sabrina terus menatap mata suaminya. Menelisik jauh tentang kebenaran kata-kata yang pria itu ungkapkan.
"Excuse me," ujar pelayan yang datang untuk menyiapkan pesanan mereka.
__ADS_1
Sabrina dan Fabian pun menghentikan pembicaraan serius mereka sebelumnya dan memberikan ruang untuk pelayan tersebut menghidangkan makanan mereka. Setelahnya mereka menikmati hidangan mulai dari hidangan pembuka, menu utama hingga hidangan penutup. Mereka berdua makan dengan tenang dan tak membahas apa pun yang serius, hanya komentar tentang rasa makanan yang mereka pesan.
Sebelum pulang, Fabian ijin ke toilet sementara Sabrina masih menunggu di meja mereka. Sabrina sibuk memainkan ponselnya sembari menunggu Fabian kembali.
"Fabian," sapa seseorang yang sangat Fabian kenal ketika ia baru saja keluar dari toilet. "Apa kabar?" tanya pria itu dengan gaya yang tak pernah berubah sejak dulu. Angkuh.
"Lucas."
"Ternyata adikku masih ingat juga pada kakaknya," cibirnya pada Fabian.
Melihat gaya Lucas yang tak berubah membuat Fabian malas meladeni pria itu. Ia memilih pergi meninggalkan kakak tiri yang sudah diusir dua tahun lalu oleh ayahnya.
"Hei, kenapa kau buru-buru. Kau bahkan belum menyapa kakakmu ini."
Fabian tak peduli, tapi Lucas berusaha mengejarnya. "Aku ingin memberitahumu sebuah rahasia yang disembunyikan ayahmu selama bertahun-tahun dari mu, dan ini tentang istrimu."
Mendengarnya Fabian seketika berhenti. Lucas mendekatinya dan membisikkan sesuatu pada Fabian. Mata Fabian membulat sempurna, kakinya mendadak lemas mendengar pengakuan Lucas tentang ayahnya. Ia menatap Lucas marah dan berpikir pria itu membohonginya.
"Aku tidak bohong, kalau kau tidak percaya tanyakan saja pada ayahmu itu. Dia yang menyembunyikan kebenaran itu darimu hingga kau terjebak dalam pernikahan dengan gadis gagu itu."
Fabian yang sejak tadi menahan amarahnya, tak dapat lagi menahan ketika Lucas menyebut Sabrina gadis gagu. Spontan, ia luapkan kemarahan atas apa yang Lucas katakan dengan memukul telak rahang pria yang lebih tua darinya tersebut.
__ADS_1
Lucas yang tak siap hanya mampu menahan panas dan sakit di rahangnya akibat pukulan Fabian. Meski begitu ia tak membalas sedikit pun. Lucas justru bergeming menatap kepergian Fabian yang langsung menarik Sabrina dari restoran itu.
Ia tertawa menang. Kali ini ia yakin akan terjadi perpecahan antara ayah dan anak yang membuat hidupnya berantakan.