
Rupanya Fabian tak sanggup melepaskan Sabrina. Sudah dua hari berlalu sejak permintaan istrinya itu. Sejak itu pula Fabian terus mengurung Sabrina dalam kamarnya dan ia terus berjaga di luar kamar. Keberangkatannya ke Indonesia terpaksa ditunda tapi ia sudah menghubungi Jovan dan meminta cuti lebih lama karena urusan pribadinya yang semakin pelik.
Sejak hari itu juga, Sabrina berhenti makan. Setiap makanan yang diantarkan oleh pelayan tak pernah disentuhnya. Tubuhnya semakin lemah. Wajahnya pucat tak terurus. Ini adalah bentuk aksi protes Sabrina sejak kebenaran itu terungkap. Ia tak bisa lari, ponselnya pun tak lagi ada bersamanya. Saluran telepon ke kamar juga diputus. Fabian benar-benar gila dalam mempertahankan istrinya.
"Bagaimana Rosita, apa dia mau makan?" tanya Fabian ketika Rosita yang baru masuk mengantarkan makanan keluar dengan membawa nampan.
"Maaf, Tuan. Nona Sabrina tetap tidak mau makan." Rosita menunjukkan makan siang Sabrina yang masih utuh dan ia bawa kembali lagi ke dapur. Rosita menggantikan nampan makanan itu dengan makan malam dengan menu kesukaan Sabrina berharap nona mudanya itu tergoda dan mau makan.
Fabian mengembuskan napas kasar. Berbagai cara ia coba untuk membujuk istrinya itu tapi selalu berakhir dengan kegagalan. Sabrina seolah tak ingin peduli dengan setiap usaha Fabian.
Setelah Rosita pamit, giliran Fabian yang masuk. Tubuh lemah Sabrina tergolek di atas ranjang. Terlihat menyedihkan ketika Fabian mendekatinya. "Makanlah, tubuhmu semakin lemah kalau tidak ada asupan yang masuk," ujar Fabian yang duduk di tepi ranjang.
Sabrina tetap menutup matanya tak menanggapi meski ia mendengar.
Lama Fabian terdiam menatap istrinya yang nampak menyedihkan. Ia menimbang apa yang Sabrina minta. Jujur ia tidak rela dan tidak akan sanggup melepaskan Sabrina begitu saja. Namun, hati kecilnya tak mampu melihat penderitaan Sabrina yang memilih menyiksa dirinya sendiri dari pada hidup dengan suami sepertinya. Bukan hanya Sabrina yang sakit, tapi juga Fabian. Pria itu semakin menanggung beban berat kesalahan ketika melihat kondisi Sabrina.
"Makanlah, setelah kau sehat kau boleh pergi dari rumah ini. Aku akan melepaskanmu." Pada akhirnya Fabian memutuskan untuk mengalah. Menekan semua egonya, dan mengabulkan keinginan Sabrina. Hatinya tercabik pilu kala kata-kata itu meluncur dari bibirnya.
Perlahan Sabrina membuka mata. "Kau bohong!"
Fabian menggeleng. "Aku janji, aku tidak akan mengingkari ucapanku hari ini dengan syarat kau harus kembali sehat. Sekarang makanlah."
Fabian membantu Sabrina untuk bangun dan duduk bersandar pada headboard. Dengan sabar pria itu menyuapi Sabrina.
__ADS_1
______________
Butuh waktu satu minggu untuk Sabrina benar-benar pulih. Selama itu juga, Fabian dengan telaten dan sabar merawatnya. Pikirnya ini adalah saatnya ia menjalankan tugas sebagai suami, merawat istrinya yang sakit. Hal yang dulu tidak pernah ia lakukan, sekarang ia benar-benar menikmatinya. Terlebih ketika Fabian harus mengingat jika ini adalah kesempatan terakhirnya untuk melakukan hal itu sebelum mereka benar-benar berpisah.
Rasa bahagia selalu tercipta kala ia bisa menyuapi Sabrina, menatap wajah cantik wanita itu. Meski setelahnya, ia harus berusaha menguatkan hati dengan perpisahan yang akan ia hadapi. Seperti saat ini, ketika ia membawa segelas susu untuk Sabrina. Sudah jadi kebiasaan baginya menyiapkan susu sebelum Sabrina tidur.
Fabian berdiri mematung di depan pintu. Menarik napasnya panjang. Mengatur mimik wajahnya agar terlihat biasa-biasa saja kendati perasaannya berkecamuk. Hatinya sungguh rapuh, tak setegar raga yang terlihat. Ini adalah malam terakhirnya dengan sang istri. Esok pagi Sabrina akan pergi sesuai janjinya, meninggalkan rumah juga kehidupannya.
"Kau harus bisa Fabian, Sabrina adalah kebahagiaanmu. Dan kebahagiaan Sabrina adalah meninggalkanmu. Kau kuat," ujar Fabian pada diri sendiri.
Ia pun mulai masuk dengan segelas susu di tangannya. Terlihat Sabrina berdiri di samping jendela dengan bersedekap.
"Sedang apa?" tanya Fabian menghampiri.
Sabrina menoleh sekilas kemudian kembali menatap keluar jendela. Fabian mengulurkan gelas susu ditangannya dan melihat Sabrina meneguk habis susu itu. Pria itu mengambil gelas kosong dari istrinya dan meletakkannya di meja, kemudian kembali berdiri menemani Sabrina di dekat jendela.
"Sabrina," panggil Fabian.
Wanita itu menoleh.
"Bolehkah aku memelukmu?" Pertanyaan yang sangat ironi bagi seorang suami.
Sabrina terdiam.
__ADS_1
Beberapa detik berlalu dan Sabrina masih diam. Hal itu Fabian artikan jika istrinya itu mengijinkan. Cukup lama Fabian memeluk sang istri. Berharap waktu tak bergerak.
"Aku mencintaimu dan akan terus mencintaimu. Seberapa keras pun kau melarang, kau tak akan bisa menghapus cinta di hatiku," ujar Fabian lirih di telinga Sabrina.
"Aku akan melepaskanmu sekarang tapi kau tidak akan bisa mencegahku untuk berjuang. Aku masih ingin kita bersama, entah itu kapan. Aku akan menunggu dan tidak akan menyerah untuk kembali bersamamu sekalipun itu butuh waktu seumur hidup," sambung Fabian.
Sontak Sabrina mendorong tubuh Fabian. Tidak kasar tapi cukup membuat Fabian terperanjat.
"Itu artinya kau tidak ikhlas melepasku?"
"Aku ikhlas, karena itu adalah kebahagianmu."
"Lalu untuk apa kau menunggu jika aku tak ingin lagi bersamamu!"
"Aku tidak pernah memaksamu kembali bersamaku. Kau tidak perlu cemaskan itu, biarkan Tuhan yang mengatur."
Sabrina mengernyit. Jujur ia tidak paham arti ucapan Fabian.
"Tidurlah, besok aku akan mengantarmu ke rumah paman Andrew." Fabian menuntun Sabrina ke ranjang. Seperti malam-malam sebelumnya, Fabian selalu menunggu Sabrina tertidur baru ia pindah ke sofa.
Namun, malam ini terasa berat baginya untuk beranjak. Ia ingin tetap dekat dengan Sabrina. Ia membelai lembut kepala sang istri. Menyusuri panjangnya rambut wanita itu sembari terus merapal doa dalam hatinya. Berharap sebuah keajaiban. Berharap Tuhan merubah keinginan hati Sabrina.
Sabrina sendiri sebenarnya belum tertidur. Ia yang tengah membelakangi Fabian merasakan kesedihan pria itu dari sentuhannya. Fabian yang dulu kasar, Fabian yang dulu sering menyakitinya lewat sentuhan dan kata-kata yang menusuknya seolah telah tiada. Seminggu berada dalam perawatan pria itu, membuat Sabrina melihat sosok lain dari Fabian.
__ADS_1
Bukan tidak tahu, Sabrina hanya berpura-pura buta. Sangat jelas tergambar dari sorot mata Fabian tentang kesedihan pria pria itu setiap kali mereka saling menatap. Sabrina hanya tidak ingin kembali terluka. Ia hanya sedang membentengi dirinya dengan kepura-puraan yang ia bangun. Ia takut. Sangat takut jika hatinya menjadi goyah.
"Aku mencintaimu," ujar Fabian tanpa ia tahu jika Sabrina mendengarnya.