Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.15 Halusinasi


__ADS_3

"Halo," sapa Sabrina lembut di telepon.


"Halo," jawab Fabian. "Katakan di mana kau saat ini, aku akan menjemputmu sekarang juga," sambung Fabian cepat.


Sabrina justru terkekeh-kekeh, menanggapi pertanyaan Fabian. "Kau begitu bersemangat ingin segera menjemputku, apa kau begitu merindukanku?" goda Sabrina.


Meski tak melihat tapi ucapan Sabrina sukses membuat Fabian salah tingkah. "Apa kau bilang, apa kau bercanda, hah!" sentak Fabian di telpon.


Sengaja Sabrina kembali terkekeh agar terdengar Fabian. "Tentu saja aku bercanda, memangnya siapa aku bagimu hingga kau mau merindukanku," jawab Sabrina sengaja.


Fabian mendengkus kesal. "Jangan banyak bicara, katakan saja di mana kau sekarang!"


"Aku menelponmu bukan karena minta dijemput, aku hanya ingin tahu apakah kau masih menginginkan aku atau tidak, ternyata ... kau masih begitu berhasrat untuk membawaku pulang."


"Hentikan omong kosong mu dan katakan saja di mana kau saat ini!" desak Fabian.


Di seberang sana Sabrina tersenyum tipis. "Aku tidak berniat memberitahumu. Kalau kau mau, kau bisa berusaha lebih keras lagi untuk menemukanku." Sabrina memutus saluran telponnya.


Fabian memelototi ponsel di tangannya. Sikap Sabrina yang memutuskan panggilan secara sepihak membuatnya marah. Ia kembali membuka ponselnya, mencari nomor Sabrina dan memanggilnya. Namun sayang, nomor Sabrina kembali tidak aktif. Hal itu semakin membuat Fabian marah pada wanita itu.


Di tempat yang lain, Sabrina justru menikmati apa yang baru saja ia lakukan pada Fabian. Ternyata begitu menyenangkan memainkan perannya sebagai istri yang kabur. Ia merasa ada sedikit ruh dalam hubungannya dengan Fabian, bukan sekedar status tanpa jiwa.


Ayah mertuanya benar, Sabrina hanya belum mencoba. Selama ini ia hanya berperan menjadi gadis yang patuh dan istri yang menyedihkan. Ia tak pernah mencoba berkata tidak, hal itulah yang membuat Fabian justru bersikap menindasnya. Kini, sesuai saran dari ayah mertuanya, ia harus membuat Fabian merasa membutuhkannya. Walau awalnya hanya keterpaksaan, ia akan membuat Fabian menyadari arti kehadirannya.


_____________


Fabian menelpon asisten Sergio agar menyampaikan pada Sergio kalau ia akan kembali saja ke Sidney. Ia tidak bisa menemukan Sabrina di Sunshine Coats, dan waktunya banyak terbuang hanya untuk mengurusi istrinya yang kabur itu. Fabian juga meminta Cristhoper atau Crist—asisten Sergio— untuk memesan tiket untuknya kembali ke Sidney.

__ADS_1


________________


Fabian kembali tanpa hasil. Namun begitu Sergio menghargai usaha putranya itu. Saat Fabian menghadap ayahnya, Sergio sudah mulai melunak. Ia yang awalnya tak ingin bicara dengan Fabian, kini sudah mau berbicara meski tak banyak.


"Aku belum bisa menemukannya, Ayah. Kurasa Sabrina masih ingin berlibur," ujar Fabian di ruang kerja Sergio.


"Itu adalah urusanmu, aku hanya ingin menantuku kembali tanpa luka tanpa air mata!" jawab Sergio penuh penekanan, yang artinya Fabian tak boleh memaksa Sabrina dengan kekerasan.


"Aku akan mencarinya lagi sesuai perintah Ayah." Fabian langsung pamit dan keluar dari ruangan Sergio.


Ia merasa lelah, ia akan istirahat dulu di kamarnya. Saat menaiki tangga, Fabian berpapasan dengan Lucas yang turun membawa beberapa dokumen di tangannya. Melihat Fabian yang nampak kacau, timbul niat untuk mengejek adik tirinya itu. "Apa kau belum menemukan istri gagumu itu?" tanya Lucas bukan karena peduli, tapi hanya ingin mencemooh.


Fabian tak ingin menanggapi, dari pada ia tak bisa mengendalikan emosi, sebab saat ini posisinya tak menguntungkan untuk melawan Lucas. "Aku tidak menyangka jika Sabrina, si gadis bodoh dan gagu itu bisa mempermainkan adikku hingga seperti ini," imbuhnya untuk memancing amarah Fabian, agar semakin terlihat buruk di depan Sergio.


Diam-diam Fabian mengepalkan tangannya, menahan setiap ucapan Lucas.


Fabian sudah berusaha tapi memang ia belum punya pengendalian emosi yang baik, tangannya yang semula mengepal kini meraih kerah kemeja Lucas dan mencengkeramnya kuat. "Tertawalah sekarang, karena waktumu sudah tidak lama lagi untuk berada di rumah ini!"


Fabian melepaskan Lucas dan mendorongnya begitu saja, lalu kembali menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya.


Lucas sendiri hanya menyeringai menanggapi sikap Fabian. Ia merapikan kemejanya yang sempat berantakan karena ulah Fabian, dan kembali ke tujuan awalnya menemui Sergio.


Fabian masuk dan menyalakan lampu kamarnya. Ia melepas jas casual-nya dan melemparnya asal. Tujuan pertamanya adalah kamar mandi, berendam air hangat akan membuat tubuhnya merasa relaks.


Benar saja, Fabian merasa nyaman di dalam Jacuzzi. Matanya terpejam saat ia merasakan ada seseorang memijit bahunya lembut yang membuatnya semakin nyaman. Fabian terus menikmati setiap sentuhan orang itu, hingga ia tidak tahan untuk tidak menariknya dalam pangkuan seperti biasanya.


Fabian tersentak, ia membuka mata tiba-tiba. Tak ada siapa pun di kamar mandinya selain dirinya seorang. Ia baru sadar jika semua yang tadi ia rasakan hanyalah halusinasi. Ia merasakan seolah Sabrina ada di sana bersamanya seperti sebelumnya.

__ADS_1


Ia mengingat kejadian pertama kali dengan Sabrina di Jacuzzi ini. Sabrina menunduk takut di samping Jacuzzi setelah menyiapkan semua untuk Fabian berendam. Wanita itu terlihat lebih seperti pelayan dari pada seorang istri. Sabrina ingin keluar saja saat Fabian memintanya untuk tetap tinggal.


Fabian mulai masuk ke dalam kolam air hangat itu, sementara Sabrina tetap menunduk tak berani menatap walau sedikit pun. Melihat istrinya yang begitu takut justru menarik perhatian Fabian.


"Kemarilah!" titah Fabian kala itu.


Sabrina bergeming tak mengerti maksud dari suaminya.


"Aku bilang, kemari dan masuklah!"


Sabrina mendongak, ia takut melihat Fabian, hingga reflek menggeleng.


Fabian mendengkus kesal. "Apa kau ingin aku menyeretmu!"


Sabrina kembali menggeleng.


"Lalu apa yang kau tunggu!" teriak Fabian.


Sabrina mulai melangkah perlahan, ia masuk ke dalam kolam yang sama dengan suaminya. Fabian memerintahkannya untuk duduk di kepala Jacuzzi.


"Pijat aku," titah Fabian menepuk bahunya, perintah yang tak mungkin Sabrina tolak.


Sabrina belum pernah memijit seseorang sebelumnya, ini adalah yang pertama. Meski begitu, Fabian terlihat menikmati sentuhan tangan Sabrina.


Namun nyatanya, apa yang tadi ia rasakan saat matanya terpejam tidak ada sama sekali. Fabian tak menyangka, jika gadis gagu nan bodoh itu bisa membuatnya merasakan halusinasi.


Fabian menenggelamkan dirinya dalam air untuk mengembalikan kewarasan dirinya. Sabrina bukanlah wanita yang akan membuatnya sampai seperti ini. Ia berusaha menyangkal apa yang baru saja ia rasakan.

__ADS_1


__ADS_2