Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.22 Kode Kunci Apartemen


__ADS_3

Tangannya masih membekap mulutnya agar tidak memekik. Rasa kaget melihat sosok yang terbaring di sofa ruang tamunya, membuat genggaman pada gagang sapu melemah. Sapu ditangannya terjatuh begitu saja menimpa sosok itu. Pria itu berjingkat kaget, saat sapu itu jatuh mengenai kakinya.


Segara ia bangun dan terduduk. Melihat Sabrina yang berdiri memandanginya membuat ia marah seketika, terlebih saat pandangannya beralih pada benda yang membuatnya terbangun. Ekspresi kaget di wajah Sabrina membuat ia menyadari situasinya sekarang. Istrinya itu ingin memukulnya dengan sapu, tapi karena tahu jika dirinyalah yang ada di sana, akhirnya urung dilakukan.


"Kau ingin membunuhku?" teriaknya berlebihan, apa benar gagang sapu ini bisa membunuhnya?


Sabrina masih tak percaya jika sosok itu adalah Fabian, suaminya sendiri, tapi bagaimana bisa pira ini masuk. Hal itu masih menjadi tanya dalam otaknya.


"Ma-maafkan aku, aku pikir kau orang jahat yang tiba-tiba masuk ke apartemenku," jawab Sabrina takut dan merasa bersalah sekaligus.


"Mana ada orang lain bisa masuk ke apartemenmu kalau tidak mengetahui kode kunci apartemen ini!" Fabian masih saja mengeraskan suaranya, saking jengkelnya dengan Sabrina yang membangunkan dengan cara yang tidak wajar.


"Itulah yang menjadi pertanyaanku, bagaimana kau bisa masuk dan tidur di sini?"


Fabian segera menyingkirkan sapu itu dan membuangnya asal. Ia berusaha meredam amarahnya karena kelakuan istrinya di pagi buta ini. "Aku masuk lewat pintu," jawab Fabian lugas.


"Tapi bagaimana bisa?" Sabrina masih penasaran.


"Kau terlalu mudah ditebak untuk memberikan kode pintu apartemenmu," ujar Fabian selanjutnya.


Dahi Sabrina berkerut, bagaimana mungkin pria ini tahu kode apartemennya, sementara ia tidak memberi tahu seorang pun tentang hal itu.

__ADS_1


"Tanggal pernikahan kita yang kau gunakan itu, membuatku bisa masuk ke apartemen ini. Kau terlalu naif dengan memakai tanggal pernikahan sebagai kode kunci apartemenmu," terang Fabian.


Wajah sabrina bersemu merah, ia malu sekali ketahuan menggunakan tanggal pernikahan mereka sebagi kode kunci untuk pintu apartemennya. Terlihat sekali jika ia tidak akan bisa move on dengan mudah dari Fabian. Sekarang banyak celah yang diketahui Fabian untuk membuatnya kembali pada pria itu.


Oh ... Sabrina, begitu bodoh dan naifnya dirimu. Mulai sekarang jangan lagi menunjukkan jika kau masih mengharapkan pria itu. Kau harus kuat untuk bisa membuat Fabian memohon cintamu. Lupakan sejenak hal-hal tentang pria ini dan tunjukkan tekadmu yang tak mudah diluluhkan.


"Apa yang kau lakukan di apartemenku, dengan masuk secara diam-diam. Apa kau punya niat jahat padaku?" Sabrina menyilangkan dua tangganya di dada.


Fabian mendelik ke arah wanita yang masih berstatus istrinya itu. "Kalau aku mau berbuat jahat, aku tidak perlu tidur di sini menunggumu, harusnya aku masuk ke kamarmu dan menerkammu!" balas Fanian.


Otak Sabrina bekerja, mencari logika yang dikatakan Fabian. Benar juga kata Fabian. Untuk sesaat mereka saling terdiam, hingga Fabian memandangi sabrina dengan tatapan anehnya. Ia melihat Sabrina dari atas hinga bawah. Ini kedua kalinya ia melihat cara berpakain istrinya yang tak biasa. Hotpant yang tertutup hoodie kebesaran membuat Sabrina nampak seperti tidak memakai celana, kaki jenjang wanita itu begitu mulus terekspos.


"Apa yang kau cari," suara Fabian benar-benar mengagetkannya. Spontan Sabrina berbalik untuk melihat pria itu. Fabian sudah berdiri sangat dekat dengannya, wajah mereka bahkan hanya berjak beberapa centi saja. Sabrina meneguk salivanya seraya menyeret langkahnya mundur hingga punggungnya membentur pintu lemari pendingin.


"Apa kau akan selalu mengagetkanku?" seru Sabrina demi mengalihkan kegugupannya. Degup jantungnya sudah tidak beraturan sejak pria itu membuka suaranya di dekat daun telinganya.


"Apanya yang mengagetkan, aku hanya bertanya saja," elak Fabian.


Sabrina menahan geram dengan sikap Fabian yang seolah tidak membuatnya resah, dengan cepat ia mendorong tubuh Fabian agar menyingkir dari jalannya. Sabrina kembali masuk ke dalam kamar. Di balik pintu bercat putih, ia menetralkan kembali frekuensi napasnya yang tidak wajar.


Butuh waktu sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya Sabrina keluar kamar dengan membawa pouch wallet berwana toska di tangannya. Ia melewati Fabian yang berdiri menunggunya di depan kamar begitu saja.

__ADS_1


"Kau mau ke mana?" tanya Fabian yang melihat istrinya membuka pintu.


"Apa aku harus selalu melapor ke mana aku pergi," jawab Sabrina saat memalingkan tubuhnya sekejab pada pria itu.


Fabian mendesah kasar melihat sikap sabrina sekarang ini. Wanitanya itu banyak sekali berubah sejak keluar dari kediaman keluarga Ramos. Sabrina yang dulu patuh, lugu, bahkan gagu, sekarang berani menjawab setiap kata yang ia ucapkan dengan menjengkelkan.


Tidak ingin sendirian ditinggal di apartemen Fabian pun mengekori istrinya. Melihat penampilan Sabrina, membuatnya takut jika ada pria iseng yang menggoda istrinya. Ditambah lagi, saat ini hari masih begitu pagi.


Sabrina berjalan kaki menyusuri jalanan yang lengang ke sebuah mini market dengan jam buka selama dua puluh empat jam.


"Selamat datang," sapa seorang penjaga mini market yang terlihat sudah tidak bersemangat, mungkin karena letih berjaga semalaman.


Sabrina menyunggingkan senyum ramah membalas sapaan penjaga mini market itu. Ia langsung menuju station di mana banyak roti berjejer menunggu untuk diambil. Sabrina mengambil satu bungkus roti gandum, dan juga keju, tak lupa ia mengambil susu dan juga saus sambal. Fabian yang masih setia mengekorinya hanya diam melihat Sabrina memilih barang belanjaan yang dibutuhkan.


Selesai dengan belanjanya, Sabrina keluar dengan menenteng tas belanja yang telah penuh dengan bahan untuk menu sarapannya. Ia memilih kembali berjalan kaki untuk menikmati udara pagi Sydney. Ia sama sekali tidak mengajak Fabian berinteraksi, tapi pria itu masih saja betah mengikutinya.


Sabrina terus berjalan dengan belanjaan di tangan kirinya, hingga tiba-tiba Fabian merebut tas belanja itu dan mengambil alih untuk membawakannya. Sabrina sempat melongo kaget dengan apa yang Fabian lakukan, tapi senyum tipis terukir di bibir manisnya melihat perlakuan Fabian. Ia masih terus memandangi punggung suaminya yang berjalan mendahuluinya, sampai seseorang memanggilnya.


"Sabrina?"


Sabrina menoleh demi melihat pria yang berdiri tidak jauh darinya sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2