
Wajah kusut, pikiran kalut, hati semrawut. Begitulah gambaran Fabian saat ini, emosi yang sedari tadi bertakhta belum juga mereda. Pria itu terus membawa mobilnya berlari, menjauh dari keinginan keji yang kini menguasai hati.
Tanpa arah tanpa tujuan. Hanya keinginan menjauh dari Sabrina yang membuatnya terus memacu kecepatan. Ada rasa marah pada dirinya, karena tindakan amoral yang ia lakukan.
Ia terus berkendara menyusuri jalanan kota Sydney hingga ia lelah dan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Fabian berteriak di dalam mobilnya, marah dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia bersikap seperti penjahat pada Sabrina.
Fabian menopang kepalanya di atas setir mobil, menunduk dan memejamkan mata. Menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menahan emosi, jika sebelumnya ia selalu bersikap kasar pada Sabrina dan itu terasa biasa saja, namun kali ini sangat berbeda. Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas perbuatan yang ia lakukan pada Sabrina, menggagahi wanita itu dengan paksa menjadikannya layak untuk disebut penjahat.
Dari tepian jalan, Fabian mengarahkan mobilnya ke sebuah apartemen. Ke mana lagi kalau bukan ke tempat Vannesa, saat ini hanya tempat itu yang terpikir olehnya. Fabian menekan bel dengan tidak sabar, hingga membuat Vannesa setengah berlari menjumpainya.
"Fabian ... Sayang, kenapa lama sekali baru kembali?" tanya Vannesa saat membuka pintu dan mendapati Fabian yang berdiri di sana.
Dengan wajah lesunya, Fabian melewati Vannesa begitu saja.
"Kau kenapa?" Vannesa terus mengikuti Fabian yang membawa langkahnya masuk ke dalam kamar.
"Sayang, kenapa diam?" desak Vannesa.
"Aku ingin sendiri, jangan ganggu aku," ujar Fabian, lalu masuk dan mengunci kamar dari dalam. Pria itu bersimpuh dilantai, punggungnya bersandar pada ujung ranjang. Ia menjambak rambutnya sendiri kuat-kuat. Bayangan tentang kebejatan yang ia lakukan pada Sabrina terus mengusik nuraninya.
Di luar kamar, Vannesa gelisah menunggu Fabian. Ia bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan pria itu. Sikapnya berubah, seolah tak terbaca oleh Vannesa.
Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu pria itu dalam cemas. Fabian benar-benar mengunci pintu itu dari dalam. Dalam kegelisahannya, Vannesa memilih untuk bertanya pada Lucas, sekaligus memberi tahu pria itu apa yang terjadi dengan Fabian.
Vannesa menceritakan semua kejadian kemarin, saat mereka bertemu dengan Sabrina, hingga kepergian Fabian tadi malam dan berakhir kembali dengan sikap yang tak biasa.
__ADS_1
"Kalau begitu, bergeraklah dengan cepat. Aku yakin, perasaan Fabian padamu tidak lagi sama. Kita harus memanfaatkan kesempatan yang masih ada sekarang ini. Aku akan atur kepergianmu dengannya. Kau bujuk Fabian untuk pergi, sisanya akan jadi urusan anak buahku," jawab Lucas di ujung telepon.
"Tapi, bagaimana Fabian akan setuju?"
"Itu tugasmu, aku tidak peduli bagaimana kau melakukannya tapi aku ingin kau cepat membawanya pergi."
Vannesa menahan kesal pada pria yang suka menyuruh-nyuruhnya itu. "Tapi, Lucas, kau juga harus mem ______"
Vannesa buru- buru mematikan panggilannya saat mendengar suara pintu terbuka dan Fabian keluar dari sana. Pastinya ia tidak ingin ketahuan apalagi tertangkap basah. "Sa-sayang, kau sudah keluar?" tanyanya dengan bodoh.
"Ka-kau mau aku buatkan apa, kau pasti ingin makan?"
Fabian hanya menatap sekilas pada Vannesa kemudian berlalu begitu saja tanpa pamit.
"Sayang, kau mau ke mana?" Vannesa mencoba menahan lengan Fabian saat pria itu sudah membuka pintu.
"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak akan melepaskanmu, pasti kau akan kembali lagi ke tempat wanita itu, bukan?" tebak Vannesa.
"Vannesa, aku bilang lepaskan, aku tidak ingin berbuat kasar padamu!"
Sorot mata Fabian yang tajam membuat Vannesa melepaskan tangannya begitu saja, dan pasrah melihat pria itu kembali pergi dari tempatnya.
Fabian kembali memacu mobilnya. Benar dugaan Vannesa, pria itu mengarahkan mobilnya ke apartemen Sabrina. Ia tidak bisa menahan rasa bersalahnya, ia ingin minta maaf dan berusaha memperbaiki semuanya.
Fabian membawa langkahnya dengan berlari menyusuri koridor untuk sampai di mana flat istrinya itu berada. Jarinya dengan cepat menekan angka yang merupakan tanggal pernikahannya dengan Sabrina untuk membuka pintu apartemen istrinya. Di dalam ruangan pun, ia masih berlari untuk menjangkau kamar, ia sungguh tidak sabar melihat kondisi Sabrina.
__ADS_1
Langkahnya terhenti, kekecewaan langsung tersirat jelas di wajahnya saat mendapati kamar itu kosong, tidak ada istrinya yang tadi ia tinggalkan dalam tangis pilu.
"Sabrina," teriaknya, berusaha menemukan wanita itu. Fabian membuka pintu kamar mandi berharap istrinya ada di dalam sana, tapi ia kecewa.
Fabian keluar, mencarinya di dapur. Namun, sama saja, sepi. "Sabrina!" teriaknya sekali lagi.
Tak ada sahutan, hanya suaranya yang menggema di ruangan. Ia kembali ke kamar dengan langkah gontai, beban di hatinya semakin terasa berat saat ia berhenti di ambang pintu dan menatap hampa pada ranjang yang berantakan. Baju Sabrina yang tadi ia buka paksa pun masih teronggok asal di atas lantai. Terlihat koyak, mengenaskan. Pun, dengan sarapan yang tadi pagi ia buat untuk Sabrina, masih bercecer dengan serak serpihan kaca dari piring dan juga gelas. Hatinya semakin mencelos melihat pemandangan kamar Sabrina.
Ada hal yang ia sadari, koper Sabrina tidak ada. Ia pun membuka lemari dan kosong. Semua baju istrinya sudah raib dari sana. Hanya satu yang ia pikirkan, ayahnya. Pasti Sabrina pulang ke tempat ayahnya, bukankah hanya ayahnya orang yang palin dekat dengan Sabrina di kota ini. Tak ingin membuang waktu, Fabian kembali turun dari gedung itu dan bergegas menuju mansion Ramos.
_________________
Sabrina terus menangis, ia belum bisa menghentikan air mata yang menjadi bukti kemarahan dan kekecewaannya pada Fabian.
"Menangislah, kalau kau mau, kau bisa habiskan tangismu hari ini, tapi setelah ini kau tidak boleh lagi terpuruk. Kau harus menatap masa depan, kau harus berjuang untuk bahagia," ujar pria yang kini mendekap Sabrina di dalam mobil.
Dibantu supir dari pria itu, Sabrina pergi dari apartemennya, meninggalkan semua luka yang ditorehkan oleh suaminya sendiri.
"Mungkin kau begitu terluka, tapi kau harus ingat, lukamu tidak boleh membunuh masa depanmu," ujar pria itu lagi.
Sabrina hanya bisa terdiam mendengar setiap nasehat dari orang kepercayaan ayahnya itu. Paman Andrew, pria yang masih setia menjaganya meski mereka tidak ada ikatan darah. Bersama Bibi May, pria itu terus peduli dengan anak majikannya, meski tak ada lagi gaji seperti saat—William Alandro—ayahnya masih ada.
"Kau juga putriku, dan aku adalah ayahmu juga. Kau harus ingat itu."
"Mulai sekarang kau akan tinggal di rumahku."
__ADS_1
Sabrina masih terdiam. Menatap buram jalanan yang ia lalui menuju rumah paman Andrew.
"Aku punya tawaran bagus untukmu, tapi tidak perlu terburu-buru. Yang terpenting sekarang, kau harus sembuh dari racun yang menyiksamu."