Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.38 Surat Gugatan Cerai


__ADS_3

Sabrina menyeret kopernya di atas lantai Sydney Kingsford Smith Airport. Sebentar lagi pesawat yang akan membawanya pergi dari negara ini akan berangkat. Ditemani Paman Andrew dan Bibi Marlyn, Sabrina berniat menata hidup barunya. Mengawali semua cerita yang akan ia tulis dalam buku baru takdirnya.


"Jangan lupa mengabari kami kalau sudah sampai," pesan Marlyn. Wanita paruh baya itu memeluk Sabrina erat sebagai salam perpisahan.


"Kau harus tetap bahagia, kau berhak bahagia. Semua urusanmu di sini akan aku urus. Kau tidak perlu khawatir lagi." Paman Andrew pun memeluk Sabrina.


"Terima kasih untuk semuanya, Paman," ujar Sabrina.


Sebelum Sabrina benar-benar pergi, Marlyn kembali memeluk tubuh wanita muda itu. Sabrina melambaikan tangannya sebelum masuk ke boarding room. Tak lama terdengar suara panggilan jika pesawat tujuan Jakarta—Indonesia—akan segera berangkat.


"Permisi, aku akan duduk di sebelah sana," ucap Sabrina pada seorang pria yang akan menjadi teman duduknya.


Pria itu berdiri terlebih dulu agar Sabrina bisa duduk di bangku samping jendela. Sabrina duduk dengan tenang, ini adalah perjalanan pertamanya meninggalkan negeri kanguru itu. Tujuannya adalah menyusul Sharon—anak perempuan paman Andrew. Ternyata ini lah rencana yang dulu paman Andrew katakan, ia akan mengirim Sabrina ke luar negeri agar bisa menjalani hidup baru dengan tenang.


Perlahan, Sabrina merasakan jika pesawat yang ia tumpangi akan lepas landas. Dalam hatinya ia merapal doa agar diberikan keselamatan, dan diberikan kemudahan untuk menjalani hidup yang baru, serta yang paling penting adalah melupakan Fabian—sang suami—yang sebentar lagi akan berstatus mantan suami.


Mendadak mata Sabrina kembali berkaca-kaca, mengingat pria itu masih membuatnya menjadi cengeng. Ah ... biarlah, ini yang terakhir, ia tidak akan lagi menangis untuk pria itu setelah hari ini. Toh, setelah hari ini statusnya akan berubah, ia bukan lagi Sabrina Ramos, tapi ia akan kembali menyandang nama ayahnya di belakang namanya—Sabrina Alandro.


Pesawat pun mulai naik, tinggi, semakin tinggi hingga Sabrina seolah berada di atas awan. Sabrina mengalihkan perhatiannya, ia memilih untuk menghadap jendela, menatap langit kota Sydney untuk terakhir kalinya, karena ia belum ada rencana kapan akan kembali lagi ke negara ini. Langit Sydney yang nampak begitu cerah hari ini mengiringi kepergiaannya, masa depannya yang baru, dan status yang baru.


Bayangan hancurnya mahligai pernikahan yang coba ia pertahankan membuat Sabrina menjadi sentimental hingga menitikkan air mata. Semakin berusaha menahan tangis, semakin bulir bening itu mengalir deras. Sabrina mengusap air matanya dengan punggung tangan.


Tiba-tiba ada yang menyenggol lengannya. Masih dengan pipinya yang basah, Sabrina menoleh ke arah orang di sampingnya. Sabrina menatap bingung karena tidak kenal dengan orang di sampingnya, dan bertambah heran saat pria itu mengulurkan sapu tangan padanya.


Alis Sabrina terangkat, menyiratkan tanya tujuan dari pria ini.


"Wipe your tears," ucap pria itu menjulungkan sapu tangannya.

__ADS_1


Sabrina menatap canggung pria itu. "Thank you," ucapnya kemudian mengambil tisu dari dalam sling bag-nya. Menunjukkan pada pria itu jika ia sudah memiliki alat untuk menghapus air matanya. Bukan apa-apa, Sabrina hanya harus berusaha menjaga diri dari pria asing.


"Ok." Pria itu menarik kembali sapu tangannya dan tersenyum ramah pada Sabrina.


Sabrina kembali menghadap ke jendela, menghindari pembicaraan atau apa pun dengan orang asing. Ia memilih untuk memejamkan mata, membunuh waktu agar tidak terasa.


_______________________


Kediaman Ramos


Seseorang dengan tampilan parlente, yang mengaku sebagai pengacara sedang duduk di ruang tamu mansion Ramos. Dia menunggu pemilik rumah itu.


"Selamat pagi, Tuan." Pria itu berdiri menyambut sang pemilik rumah.


"Selamat pagi." Sergio membalas uluran tangan pengacara itu. "Silakan duduk," ujar Sergio selanjutnya


Mendengar statusnya yang seorang pengacara, Sergio menaruh curiga, tapi ia tetap diam mendengarkan.


"Tujuan saya datang ke sini untuk menyerahkan surat ini." Steven mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya pada Sergio. Sebelum Sergio membuka dan membaca berkas itu, Steven sudah lebih dulu menjelaskan.


"Itu adalah surat gugatan cerai yang dilayangkan Nona Sabrina untuk Tuan Fabian Ramos. Saya sengaja datang ke sini secara khusus karena saya harus memastikan langsung jika Tuan Fabian bersedia menceraikan Nona Sabrina."


Seperti yang Sergio duga, meski ia tidak ingin ini terjadi, tapi ia tidak bisa lagi menghalangi menantunya itu untuk pergi, sebab kelakuan putranya sendiri yang membuatnya kehilangan menantu.


"Sebelumnya aku ingin tahu, siapa yang menyuruhmu?"


Steven membuka matanya lebar. "Maaf, apa maksud Anda, Tuan?"

__ADS_1


"Aku tahu kau paham maksudku, pasti bukan Sabrina yang menyuruhmu datang kemari, bukan?"


Steven tidak bisa mengelak, berurusan dengan orang seperti Sergio cukup berbahaya, dia lebih memilih jujur dari pada hidupnya jadi rumit. "Saya bekerja untuk Tuan Andrew, Tuan."


Sergio paham sekarang, pasti Sabrina ada di bawah perlindungan asisten dari sahabatnya itu.


"Kalau begitu tinggalkan saja surat ini, nanti aku akan memberitahu Fabian, dia sedang tidak ada di rumah," ujar Sergio.


"Tapi, saya harap setelah Tuan Fabian mengetahui surat ini tolong hubungi saya di nomor ini secepatnya." Steve mengeluarkan satu kartu nama yang langsung ia serahkan pada Sergio.


"Baiklah, aku akan memberi tahu Fabian nanti."


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan." Steve meninggalkan mansion Ramos setelah berjabat tangan dengan pria yang memiliki kerajaan bisnis terbesar di Sydney itu.


Sergio menatap surat yang diberikan oleh steve itu dengan raut yang sulit diartikan, ada rasa sesal sekaligus marah. "Maafkan aku Sabrina, aku ingin kau bahagia tapi aku juga tidak bisa melepaskanmu begitu saja, karena rasa bersalahku akan semakin besar. Aku ingin hanya Fabian yang membahagiakanmu, aku yakin suatu hari nanti Fabian akan mengerti maksudku, dan saat itu kau adalah satu-satunya wanita yang ingin Fabian bahagiakan," ucap batin sergio.


Pria paruh baya itu berjalan meninggalkan ruang tamu, tapi sebelumnya ia membuang surat yang tadi diberikan oleh steve ke tempat sampah. Ia biarkan saja berkas itu teronggok menjadi barang tak berguna.


Setelah Sergio naik ke lantai atas dan tak terlihat, Rosita yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Tuan dan tamunya, segera bergegas mengambil surat yang ada di tempat sampah. Rosita membuka surat itu, dan membacanya perlahan.


Pelayan itu terkejut ketika membaca surat gugatan cerai dari Nona mudanya. Ia tahu persis apa yang dialami Sabrina selama menjadi Nona Muda keluarga Ramos. Raut kesedian langsung tercetak mengingat nasib wanita muda nan baik hati itu. Rosita menyusut air mata yang mendadak mengalir di pipinya.


"Kenapa kau menangis?"


Sontak Rosita menoleh dan mendapati Lucas di di dekatnya.


"Surat apa itu?" tanya Lucas kemudian, yang sukses membuat Rosita gugup harus menjawab apa.

__ADS_1


__ADS_2