
Keesokan harinya Fabian terbangun dengan raut bingung, yang ia lihat pertama kali saat bangun tidur bukanlah istrinya melainkan orang asing. Seorang pria yang baru saja keluar dari kamar Sabrina. Kaget melihatnya, Fabian bergegas bangkit, dan menghampiri pria yang membawa keranjang.
"Apa yang kau lakukan di dalam?" tanya Fabian.
"Saya membersihkan kamar ini, Tuan," jawab pria itu.
"Lalu, di mana wanita yang ada di dalam?" tanya Fabian lagi.
"Tidak ada siapa pun, Tuan."
"Tidak mungkin!" Fabian menerobos masuk dan memeriksanya sendiri. Semua bersih tak ada jejak Sabrina sama sekali. Bahkan perlengkapan dandan yang semalam ada di atas meja rias sudah raib tak bersisa. Fabian memeriksa lemari, sama. Tak ada satu pun baju istrinya yang tertinggal.
Ia pun kembali menghampiri pria yang masih berdiri di luar kamar. "Ke mana wanita yang menyewa tempat ini?" tanya Fabian panik.
"Saya tidak tahu, Tuan. Saya hanya pegawai di sini, saya diperintahkan untuk membersikan Vila ini supaya sewaktu-waktu jika ada yang menyewa tempat ini sudah siap."
Fabian berlari ke sofa, meraih ponsel dan segera menghubungi Sabrina. Sayang sekali, ponsel istrinya itu tidak aktif. "Aarggh!" teriak Fabian kesal. Sabrina pergi tanpa pamit padanya, pasti wanita itu sengaja melakukannya.
"Maaf, Tuan, jika Anda sudah tidak ada kepentingan lagi saya akan segera mengunci pintunya, sebab tadi saya di perintahkan untuk menunggu sampai Anda bangun," ucap pegawai vila.
__ADS_1
Fabian mendelik, tapi tidak sampai marah meski ucapan pegawai itu seolah mengusirnya. "Apa ada pesan atau apa pun dari wanita yang menyewa tempat ini?" tanya Fabian.
"Maaf saya tidak tahu apa pun, Tuan."
"Sial!" Sekarang ia kehilangan jejak Sabrina lagi.
"Maaf, Tuan, saya harus segera mengunci tempat ini," ucap pegawai vila mengingatkan.
Akhirnya Fabian keluar dari vila dengan terpaksa. Ia kembali memikirkan ke mana lagi istrinya itu kabur. Ia pun mencoba menghubungi ayahnya, siapa tahu kalau ayahnya mengetahui keberadaan Sabrina.
Tidak terhubung!
Di sebuah restoran, ia membuka aplikasi pencarian informasi sambil menunggu sarapannya datang. Fabian mencari tahu lokasi tempat wisata di Sunshine Coast ini. Ia membuat catatan di ponselnya tujuan yang akan ia datangi untuk menemukan Sabrina.
"Pesanan Anda, Tuan." Seorang pelayan meletakkan sandwich dan kopi pesanan Fabian ke atas meja.
"Terima kasih," ucap Fabian tanpa melihat si pelayan.
Masih sibuk dengan ponselnya, Fabian meraih cangkir kopi yang masih mengepulkan asap, dan langsung menyesapnya. Fabian menyelesaikan sarapannya dengan cepat karena ia harus segera pergi ke Noosa National Park.
__ADS_1
Sebelum ia sampai ke Noosa National Park, ia menghubungi asisten ayahnya terlebih dulu dan meminta tolong untuk memintakan nomor pegawai di toko bunga milik Sabrina. Seolah tak kenal lelah, Fabian terus mencari istrinya di sepanjang pantai. Ini adalah hal tergila yang pernah ia lakukan dalam hidupnya demi seorang wanita. Tak ada hasil di Noosa National Park, ia tak menemukan istrinya.
Setelah mendapatkan nomor Caty, Fabian langsung menghubungi nomor pegawai toko bunga itu.
"Maaf Tuan, saya sungguh tidak tahu di mana Nona Sabrina berada saat ini. Dia tidak memberi kabar sama sekali, ponselnya pun tidak aktif," jawab Caty takut.
Kalau sudah begini, ia harus mencari istrinya dengan cara manual tanpa bantuan dari siapa pun. Ayahnya tak memberinya akses untuk menggunakan anak buahnya. Fabian benar-benar merasa sedang dihukum oleh ayahnya.
Dulu saat usianya enam belas tahun, saat pertama kali ia belajar minum alkohol, ia pernah mabuk dan mengalami kecelakaan hingga mobil milik ayahnya rusak parah. Namun, ayahnya tak menghukumnya seperti ini.
Hari berikutnya, Fabian mencari di lokasi Sea Life Sunshine Coast Aquarium. Hasilnya sama, nihil.
Seolah belum menyerah, Fabian pergi ke tempat wisata yang lain yang ada di Sunshine Coast. Sekarang, dirinya yang benar-benar berpetualang. Mencari istrinya di setiap penjuru Sunshine Coast.
Tak terasa sudah lima hari berlalu, ia merasa putus asa. Ia bahkan meminta bantuan temannya yang ada di Sydney, untuk mencari tahu keberadaan Sabrina, siapa tahu ia sudah kembali ke sana. Selain itu, ia berkali-kali menelpon Bibi May untuk menanyakan apakah Sabrina datang ke tempatnya atau tidak.
Fabian sudah merasa lelah, ia mencoba menghubungi ayahnya kembali tapi sepertinya sang ayah belum mau bicara dengannya kalau ia belum berhasil membawa Sabrina pulang. Saat rasa putus asa menderanya dan membuatnya ingin menyerah, sebuah panggilan mengejutkannya.
Fabian menatap layar ponsel dengan mata berbinar, dengan senang hati ia mengangkat panggilan itu. "Halo."
__ADS_1