
Seorang pria berjalan mendekati Sabrina. "Ternyata benar kau," ucap pria itu sembari terus memandangi wajah Sabrina. "Aku sempat ragu tadi, karena penampilanmu yang sangat berbeda," sambungnya dengan tersenyum.
"Mark?" lirih Sabrina.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu.
"Membeli bahan untuk sarapan," jawab Sabrina.
Pria itu menoleh pada Fabian, tadi ia sempat melihat Fabian merebut belanjaan dari tangan Sabrina. "Apa dia kekasihmu?"
Sabrina mengikuti arah pandang Mark, dan berkata, "Bukan, dia bukan kekasihku."
Terlihat raut lega di wajah Mark.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kekasihmu Cassandra tidak tinggal di sini?" tanya Sabrina.
"Aku sudah tidak lagi bersama dia." Raut wajah Mark seketika berubah geram saat nama kekasihnya disebut.
"Maaf, aku tidak tahu," sesal Sabrina, telah menyebut nama kekasih Mark. "Kau belum menjawab dari mana kau?" tanya Sabrina lagi untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku dari kelab, dan mampir ke mini market ini untuk membeli obat sakit kepala. Tidak disangka jika bisa bertemu denganmu di sini. Di mana kau tinggal?"
"Di sana." Sabrina menunjuk gedung apartemennya.
Mark tersenyum senang karena Sabrina memberitahu tempat tinggalnya.
"Apa sudah selesai berbincangnya?" sela Fabian yang mendadak ikut dalam pembicaraan antara Sabrina dan Mark.
"Kalau sudah, ayo pergi." Fabian menarik paksa tangan Sabrina.
"Hei ... apa yang kau lakukan, kau bisa menyakitinya," sergah Mark saat Fabian akan membawa pergi Sabrina.
Fabian menoleh dan menatap Mark dengan tatapan menghujam tajam. "Itu bukan urusanmu!"
Fabian tetap bersikeras membawa Sabrina paksa. Namun, langkah mereka tak kunjung bergerak, di saat itulah Fabian tersadar jika satu tangan Sabrina di pegang kuat oleh Mark.
__ADS_1
"Sekarang apa yang kau lakukan, lepaskan!" sentak Fabian pada Mark.
"Aku tidak akan melepaskannya kalau kau ingin menyakitinya, lagi pula siapa kau berani membawa dia pergi dengan paksa."
Sudah cukup Fabian menahan amarahnya, ia melepaskan tangan istrinya dan tiba-tiba memukul rahang Mark, hingga pria itu terhuyung dan jatuh.
"Mark," pekik Sabrina.
"Kau ingin tahu siapa dia bukan? dia istriku!" Setelah menegaskan miliknya, Fabian dengan arogan menarik kembali Sabrina.
"Mark," lirih Sabrina sebelum ia mengikuti langkah Fabian.
Mark tersenyum miring dan mengusap rahangnya yang terasa sakit akibat satu pukulan dari Fabian. "Kau yang memulai, jadi jangan salahkan aku jika membuatmu menyesal nantinya!" lirihnya pada diri sendiri.
Fabian terus menyeret Sabrina yang tidak bisa mengimbangi langkah lebar pria itu. "Fabian, lepaskan!" Sabrina meronta, tapi Fabian seakan tuli dan tidak mau menuruti kemauan istrinya.
"Fabian," pekik Sabrina. "Kau tidak seharusnya melakukan itu pada Mark," protes Sabrina.
"Dia hanya menyapaku, di mana salahnya?"
"Fabian!"
Fabian lalu pergi meninggalkan Sabrina begitu saja.
Sabrina sempat terperangah tidak mengerti arti ucapan suaminya, tapi ia ikuti juga langkah Fabian hingga sampai ke flat miliknya. Fabian membanting belanjaan yang tadi dibawanya ke atas meja ruang tamu dan mendudukkan dirinya di sofa dengan marah.
Sabrina hanya bisa menatap aneh pada sikap Fabian.
Tak ingin menanggapi Fabian yang merajuk, Sabrina lebih memilih untuk mengambil belanjaannya dan membawanya ke dapur. Ia mulai mengeluarkan setiap barang yang tadi ia ambil dari mini market, lalu mulai membuat sarapannya. Tidak butuh waktu lama untuk membuat sandwich isi telur, Sabrina sengaja memilih menu sandwich untuk sarapannya. Selain mudah dibuat, perutnya sudah tidak tahan kalau harus menunggu lebih lama lagi.
Ia menyiapkan dua porsi sarapan di atas meja bar. Sabrina baru akan duduk dan menikmati sarapannya, saat ia teringat akan suaminya yang masih tak bergerak dari ruang tamu. Ia pun membawa langkahnya malas menemui pria yang mudah marah itu.
"Kau mau sarapan?" tanya Sabrina.
Fabian mendongak pada Sabrina yang berdiri di depannya. Sorot matanya belum berubah, masih terlihat kemarahan di dalamnya.
__ADS_1
"Aku membuatkanmu kopi dan sandwich," sambung Sabrina, yang masih tidak ditanggapi oleh pria itu.
Fabian justru pergi begitu saja meninggalkan apartemen Sabrina, dan hal itu membuat Sabrina mendesah kesal. "Huh ... apa-apaan dia, masih untung aku bersikap baik menawarinya sarapan."
Sabrina jadi ikut kesal dengan Fabian. Ia berjalan sambil mencibir mengingat kelakuan suaminya.
Sandwich yang harusnya ia siapkan untuk Fabian ia lahap habis, sampai mulutnya penuh. "Lihat saja nanti, aku tidak akan sebaik ini lagi padamu," gumamnya dengan mulut penuh.
Agar cepat tertelan, Sabrina mendorong sandwich di mulutnya dengan susu. Kini ia benar-benar kenyang karena makan dua porsi sarapan.
__________________
Fabian mengemudikan mobilnya untuk pulang ke mansion Ramos. Di sana, Fabian datang di waktu keluarganya itu sedang sarapan. Sergio dan Lucas bahkan sedang membicarakan proyek baru mereka yang akan di mulai sebentar lagi.
Fabian terus melangkah melewati mereka tanpa sapa, hingga Sergio memanggilnya, " Fabian."
Fabian yang sedang tidak ingin berdebat dengan ayahnya, memilih mengabaikan panggilan itu. Ia terus membawa langkahnya naik ke kamarnya.
Sergio hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap putra kandungnya ini. Gurat kesedihan langsung tercipta di wajah tuanya, saat ia menyesali caranya memanjakan Fabian. Anak itu tumbuh menjadi anak yang arogan dan bergantung pada kekayaannya.
Esme yang menyadari kegusaran suaminya, berusaha meredamnya. "Sudahlah, mungkin suasana hatinya sedang tidak baik. Mulailah makan sarapanmu dan lupakan sejenak urusan bisnis di meja makan."
Sergio mengangguk setuju, ia pun meminta Lucas untuk membereskan berkas yang tadi sempat dikeluarkan oleh putra tirinya itu. Sergio memulai dengan menyendok zoupa toscana sebagai sarapannya. Sajian sup ala italia itu sengaja dipilih Esme sebagai menu sarapan untuk suaminya kali ini. Kuah sup kental dan creamy berpadu dengan pastry ala croissant ini adalah salah satu menu kesukaan Sergio.
Di sela-sela Sergio menyendok zoupa-nya, tiba-tiba ia terpikirkan oleh sesuatu.
"Lucas," panggil Sergio tiba-tiba.
Lucas langsung memfokuskan pandangannya pada Sergio. "Ya."
"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," ucap Sergio.
Lucas masih belum paham ke mana arah pembicaraan ini.
"Lakukan hal ini, tanpa diketahui oleh Fabian."
__ADS_1
Seketika Lucas bahkan Esme membuka matanya lebar. Dalam hati mereka bertanya, apa yang harus Lucas lakukan dan tidak boleh diketahui oleh Fabian. Apakah perintah Sergio kali ini akan menguntungkannya, ataukah justru hanya untuk mengembalikan Fabian pada posisinya semula, yang artinya Lucas harus tersingkir dari jabatannya saat ini.
Tidak, Lucas tidak akan membiarkannya. Setelah kerja kerasnya selama ini, ia pantas berada di posisinya. Bukan Fabian, anak yang hanya tahu tentang bersenang-senang.