Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab. 58 Buaya Kelaparan


__ADS_3

Tepat di jam makan siang, Fabian dan Sabrina tiba di mansion keluarga Ramos. Esme yang menyambut mereka meski tidak ada raut suka di wajahnya.


"Apa kabar, Bu?" sapa Sabrina saat tiba di rumah ayah mertuanya.


"Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja," jawab Esme ketus.


Fabian yang mendengarnya tidak suka dengan nada bicara Esme pada Sabrina. "Di mana Ayahku?" sela Fabian.


"Ada di kamarnya, dia sedang is____"


Tanpa menunggu Esme menyelesaikan kalimatnya Fabian langsung menarik tangan Sabrina. "Ayo!"


Sabrina seakan terseret mengikuti langkah Fabian menuju kamar Sergio. Fabian mengetuk pintu kamar ayahnya pelan kemudian masuk tanpa menunggu sang pemilik kamar mempersilakan.


"Ayah," sapa Fabian melihat pria tua yang tengah duduk bersandar pada head board dengan memegang buku. Sergio menurunkan bukunya, mendengar suara putra semata wayangnya. Senyumnya terkembang kala melihat putranya berdiri di hadapannya dan lebih bahagia ketika melihat wanita yang ada di samping Fabian.


Ia melepaskan kaca mata bacanya dan menaruhnya di atas nakas. Ia kembali melihat putra dan menantunya yang masih berdiri menatapnya.


"Kemarilah," ujar Sergio.


Fabian dan Sabrina mendekat. Fabian lebih dulu memeluk ayahnya kemudian Sabrina. Setelahnya Sergio meminta bantuan untuk bisa berdiri dan duduk di sofa. Mereka bertiga duduk berhadapan, dengan posisi Sabrina dan Fabian duduk berdampingan di depan Sergio. Senyum Sergio terus terkembang.


"Aku yakin kalian pasti akan kembali bersama," ujarnya lirih di depan Fabian dan Sabrina.


Fabian dan Sabrina saling tatap mendengar apa yang Sergio ucapkan.


Demi menghilangkan kecanggungan karena ucapan Sergio, Fabian pun bertanya, "Bagaimana kabar, Ayah?"


Sergio menarik napas panjang. "Sudah lebih baik, dan akan semakin baik karena kalian sudah kembali. Aku tidak sabar untuk bisa melihat anak-anak kalian." Sergio tersenyum di akhir kalimatnya. Senyum penuh harapan.


Sabrina kembali menatap Fabian. Ia belum memutuskan apa pun tentang kelanjutan pernikahannya dengan Fabian, tapi ayah mertuanya sudah berharap banyak darinya.


"Ayah, sebenarnya kedatanganku ke sini tidaklah lama, aku hanya ingin mengunjungi ayah karena tahu ayah sakit. Aku harus kembali ke Indonesia karena aku punya pekerjaan di sana," jelas Sabrina agar tak menimbulkan salah paham.


Apa yang Sabrina ucapakan sedikit banyak merubah ekspresi Sergio, yang tadinya terlihat bahagia dengan senyum yang terus terkembang mendadak muncul gurat kesedihan di matanya.


Fabian yang menyadari perubahan ekspresi sang ayah langsung menimpali, "Tapi Ayah tidak usah khawatir, kami masih punya waktu setidaknya satu sampai dua minggu untuk tinggal di sini. Benar, 'kan, Sayang?" Fabian langsung merangkul Sabrina dan menariknya mendekat.

__ADS_1


Sabrina mendelik dengan apa yang Fabian lakukan tapi ia tak bisa menolak pria itu.


"Kita akan tinggal setidaknya satu minggu untuk mengobati rasa rindu Ayah, aku yakin pekerjaan kita di Indonesia bisa menunggu," sambung Fabian.


Sergio kembali tersenyum. "Aku senang melihat hubungan kalian semakin baik. Terkadang memang dibutuhkan perpisahan untuk saling menyadarkan arti kehadiran dari pasangan. Fabian, jangan lagi sia-siakan istrimu. Jaga dia dengan baik, karena aku tidak ingin menantu yang lain selain Sabrina."


"Te-tentu saja, Ayah. Aku sudah menyadari semua kesalahanku dan tidak ingin lagi menyia-nyiakan istriku karena aku sangat mencintainya," ujar Fabian semakin merangkul erat Sabrina.


Sabrina sedikit kesal dengan sikap Fabian ini. Bisa-bisanya dia membohongi ayahnya sendiri. Mata Sabrina tak berhenti mendelik menatap pria itu.


"Terima kasih, Sabrina," ujar Sergio.


"Ya?" Sabrina yang masih fokus pada Fabian sedikit tersentak saat namanya disebut oleh sang ayah mertua.


"Terima kasih telah memaafkan Fabian. Aku doakan semoga pernikahan kalian selalu diliputi kebahagiaan. Aku juga berdoa semoga Tuhan segera memperkenankan kalian untuk memiliki keturunan." Doa yang tulus itu terucap dari bibir Sergio Ramos. Doa yang tak mungkin Sabrina tolak.


Ia pun mengaminkan doa tersebut diiringi senyum keraguan. Ia takut sekali akan membuat ayah mertuanya kecewa. Berbeda dengan Sabrina, Fabian justru menerima doa itu dengan yakin dan penuh harap semoga menjadi kenyataan.


Setelah perbincangan itu, Sergio mengajak mereka makan siang dan dilanjutkan lagi dengan mengobrol seputar kepergian mereka selama lebih dari dua tahun. Di saat ini lah, Sabrina lebih banyak diam karena takut salah bicara terlebih jika harus berbohong tentang hubungannya dengan Fabian. Seharian berbincang setelah melakukan perjalanan hampir tujuh jam di dalam pesawat membuat Sabrina merasa lelah dan ingin istirahat. Setelah berpamitan pada ayah mertuanya, ia memasuki kamar yang dulu ia tempati bersama Fabian. Kamar yang pernah ia tinggalkan saat ingin mengambil hati Fabian dengan niat menaklukkan pria itu.


"Apa yang kau pikirkan?"


Sabrina menoleh demi melihat sumber suara yang begitu dekat di telinganya. Fabian sedang menundukkan wajahnya, hampir bersandar pada pundaknya.


"Aku harap kita bisa menikmati malam-malam kita di kamar ini seperti dulu," bisik Fabian tepat di telinga Sabrina.


Mendengarnya membuat Sabrina langsung menginjak kaki pria itu. Seketika Fabian mengaduh. "Awww ...."


"Bermimpilah!" ujar Sabrina lalu pergi untuk membuka kopernya yang sudah dibawa oleh pelayan ke kamar ini. Ia harus segera mandi karena merasa tubuhnya sudah sangat lengket. Ia juga butuh merebahkan diri untuk beristirahat.


Fabian melihat Sabrina yang masuk ke kamar mandi dengan tersenyum. "Kau membuatku kembali hidup dengan segala sikapmu," gumam Fabian.


Menunggu Sabrina yang sedang mandi, Fabian memilih untuk rebahan di atas ranjang sembari membuka ponselnya dan menghubungi Jovan. Ia memberitahu rekan kerjanya itu jika ia akan berada di Sydney lebih lama. Setelah menghubungi Jovan, ia juga menghubungi Hiro, bagaimanapun Hiro adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, dan ia sudah menganggap Hiro dan Jovan layaknya teman.


Tak terasa Sabrina sudah keluar dari kamar mandi, melihat istrinya yang nampak segar setelah mandi membuat pikiran Fabian mulai berkelana. Ia bahkan sampai menelan ludahnya dengan kasar. Sudah lama sekali ia tak melihat istrinya itu dalam tampilan seperti sekarang ini. Meski bukan pakaian yang terbuka apalagi menggoda, tetap saja Sabrina punya daya tarik untuk membangunkan hasratnya yang sudah lama tertidur.


"Apa yang kau lihat?" sentak Sabrina yang langsung menyeret Fabian pada kenyataan.

__ADS_1


"A-apa?" tanyanya seperti orang bodoh.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Seperti apa maksudmu?"


"Seperti buaya yang kelaparan?" tuduh Sabrina.


"Apa?"


"Iya, aku tidak salah bukan?"


"Kau tidak salah, tapi aku juga tidak bersalah jika bersikap seperti buaya kelaparan karena itu adalah fakta tentang diriku." Fabian mengakuinya.


"Kalau begitu menyingkirlah, aku tidak ingin tidur satu ranjang dengan buaya!"


"Ini kamarku, jadi tidak ada yang bisa mengusirku dari ranjangku."


"Oh ... begitu, baiklah. Aku akan tidur di sofa."


Melihat Sabrina mengambil bantal Fabian langsung mencegah. "Tunggu, kau tidur saja di sini. Aku yang tidur di sofa." Fabian otomatis menggeser tubuhnya dan memberi tempat untuk Sabrina.


Wanita itu langsung duduk di sisi Fabian dan merebahkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Fabian. Ia mengambil ponselnya dan berpura-pura tak acuh pada Fabian yang terus menatap punggungnya.


Fabian jadi tak berdaya. Apa yang ada dalam bayangannya seketika ambyar saat Sabrina tak menggubrisnya. Ia hanya bisa menyugar rambutnya kasar sembari menatap istrinya yang tengah asyik bermain ponsel.


Melihat dirinya yang tak digubris, Fabian berencana membalas apa yang Sabrina lakukan.


"Lihat apa yang bisa aku lakukan padamu!" ujarnya dalam hati.


________________________________________________


Terima kasih masih berkenan membersamai kisah Sabrina dan Fabian. Terima kasih juga untuk semua supportnya.


Terus dukung karya ini, yak.


Tengkyu❤️❤️❤️Sayang hee

__ADS_1


__ADS_2