Menaklukkan Suami

Menaklukkan Suami
Bab.67 Stuck With You (The End)


__ADS_3

Sabrina berdiri di depan makam sang ayah setelah tadi pagi ia meninggalkan rumah mertuanya. Entah mengapa bukan kebahagiaan yang ia bawa ketika keluar dari sana, melainkan rasa bersalah yang kini bergelayut di hatinya. Di depannya, sebelum ia pergi, Sergio benar-benar memohon untuk dimaafkan atas perbuatannya di masa lalu. Ayah mertuanya itu dengan segala kerendahan hati meminta maaf pada Sabrina. Namun, dengan angkuhnya Sabrina justru tak menanggapi pria tua itu. Hatinya mengeras. Kesalahan di masa lalu menutup semua pandangan Sabrina akan kebaikan pria tua yang sudah seperti ayahnya sendiri itu.


Mungkin itulah yang menjadikan hatinya justru gelisah dan tak merasa bahagia ketika ia mendapatkan kebebasannya. Sebelum Fabian mengantarkannya ke rumah Paman Andrew, ia meminta untuk diantarkan ke makam sang ayah. Mendadak ia merindukannya. Bahkan semalam, ia memimpikan sang ayah dalam tidurnya.


Sabrina berdiri mematung menatap nisan bertuliskan nama William Alandro. Sendiri, karena ia tak mengijinkan Fabian menemaninya. Pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu hanya menunggu dari jarak yang tidak jauh dari tempat Sabrina berdiri saat ini. Ia hanya ingin berdua dengan ayahnya, seolah ingin mengadu akan perjalanan hidupnya yang berliku.


Dalam diamnya, hanya air mata yang berbicara. Menceritakan betapa pilu dan sesaknya rasa dalam dadanya. Seakan ia tak sanggup menanggungnya sendiri.


Gerimis mendadak turun di pagi itu karena memang sejak subuh tadi langit Sydney tak menampakkan cahaya sedikit pun. Fabian segera berlari menghampiri Sabrina yang masih berdiri di depan makam sang ayah. Pria itu dengan sigap melepas jaketnya untuk melindungi kepala Sabrina dari rintik air yang turun. "Ayo," ajak Fabian untuk segera meninggalkan makam. Mencari tempat berteduh.


Sabrina sedikit mendongak melihat Fabian yang tengah melindunginya agar tidak basah.


"Kita berteduh di sana," ajak Fabian menunjuk dengan sorot matanya karena kedua tangannya ia gunakan untuk memegang jaket di atas kepala istrinya.


Sabrina menurut, ia mengikuti Fabian berlari ke sebuah bangunan beratap yang lebih mirip dengan gazebo. "Tunggu di sini, aku ambil payung dulu." Fabian kembali berlari setelah mengantar Sabrina ke tempat yang di rasa tak akan membuat istrinya itu kebasahan. Sementara dirinya pergi untuk mengambil payung, sebab jarak antara makam dan pintu masuk cukup jauh. Fabian tidak ingin membuat istrinya sakit karena hujan.


"Sungguh, suami yang sangat baik," ujar seorang wanita yang lebih dulu berteduh di tempat itu.


Sabrina yang tadi memperhatikan langkah Fabian terpaksa menoleh pada orang yang berbicara.


"Kau beruntung sekali memiliki suami yang begitu perhatian dan mencintaimu," sambung wanita itu.


"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya wanita itu, mungkin untuk mengusir sepi sembari menunggu hujan reda.


Sabrina sebenarnya enggan menjawab, tapi akan tidak sopan jika ia mengabaikan pertanyaan dari orang yang lebih tua darinya. "Hampir lima tahun."


Wanita itu tersenyum. "Lumayan lama juga, dan kau beruntung suamimu masih menunjukkan cinta yang begitu besar di usia lima tahun pernikahan kalian. Kau pasti sangat bahagia."


Sabrina terdiam. Ia tak ingin berbagi cerita kehidupan rumah tangganya pada orang asing. Melihat sikap Sabrina yang seolah tertutup wanita itu memilih tak lagi bertanya. Kini ia justru bercerita tentang kehidupannya.


"Aku juga sudah menikah. Aku menjalani kehidupan yang bahagia dan penuh cinta dengan suamiku. Tapi kebahagiaan itu harus berakhir di usia pernikahan kami yang kelima belas." Raut sendu mendadak terlihat di wajah wanita yang lebih tua dari Sabrina itu.


Sabrina yang tadinya tak acuh, kini memilih untuk mendengarkan dengan fokus.


"Aku ke sini untuk mengunjunginya, hari ini adalah hari di mana ia meninggalkan aku seorang diri." Air mata wanita itu menetes, mengingat tragisnya akhir dari pernikahannya.


"Di mana keluargamu yang lain, anak kalian mungkin?" tanya Sabrina.


Wanita yang terlihat sedih itu menyusut air matanya. Menatap Sabrina dan berkata, "Aku tidak memiliki anak. Aku juga tidak memiliki keluarga, aku hanya memiliki Sebastian—nama suaminya—seorang."


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud me____"


"Tidak apa, aku tidak merasa tersinggung atau apa pun. Aku baik-baik saja," potong wanita itu cepat.


"Maaf," ujar Sabrina penuh sesal.


Wanita itu tersenyum.


"Kalau boleh tahu, kenapa suamimu meninggal?"


Wanita itu menarik napas panjang, seakan menyiapkan diri untuk menceritakan kisah yang berat. "Dibunuh."


Sabrina kaget. Ia sampai menutup mulutnya yang telah salah bertanya. Ia semakin menyesal telah melempar pertanyaan yang akan membangkitkan luka lama di hati wanita itu.


"Maafkan aku, aku tidak ada maksud ___"


"Tidak apa." Kembali wanita itu segera menyela ucapan bersalah Sabrina.


"Aku sudah menerima semuanya, aku bahkan sudah memaafkan pembunuh suamiku," jawab wanita itu tanpa beban.


Sabrina sedikit bingung dengan ucapan yang baru ia dengar. Suaminya dibunuh dan ia memaafkan pembunuh suaminya?

__ADS_1


"Kau pasti heran kenapa aku bersikap demikian?"


Sabrina mengangguk.


"Semua karena aku ingin tenang dalam melanjutkan hidupku, bukan terkurung dalam dendam masa lalu."


Sabrina semakin tidak mengerti.


"Awalnya sulit menerima kenyataan bahwa suamiku telah tiada, terlebih hanya dia lah satu-satunya keluarga yang aku miliki." Wanita itu mulai bercerita.


"Aku marah, aku mengutuk si pembunuh karena telah membuatku kehilangan suamiku. Aku menyalahkan Tuhan atas takdir yang menimpaku. Aku bahkan sempat membenci dan tak ingin kenal dengan Nya. Di pengadilan aku mengeluarkan sumpah serapan pada pembunuh suamiku yang masih berusia belasan tahun itu."


Sabrina semakin tercengang dengan kisah wanita itu. Namun ia tak berani lagi bertanya, takut salah bicara.


"Suamiku, dibunuh oleh seorang pemuda berusia lima belas tahun lantaran dia sedang mabuk. Saat itu, suamiku dihadangnya. Pemuda itu berniat merampok suamiku, tapi karena suamiku tidak membawa apa pun malam itu, pemuda itu melampiaskan kemarahannya dengan membunuh suamiku. Aku syok mendengar berita kematian suamiku. Aku marah pada semua orang. Aku tak ingin lagi mengenal siapa pun. Hingga ibu dari pemuda itu datang dan memohon ampun atas kesalahan putranya. Aku masih tak peduli. Bahkan ketika ibu pemuda itu menawarkan ku kebaikan untuk menjamin hidupku setelah suamiku meninggal sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatan putranya. Dia tidak meminta imbalan apa pun. Dia juga tidak memintaku untuk mencabut gugatan atas kasus pembunuhan tersebut. Tapi aku terus mengabaikan."


Sabrina mulai berpikir tentang kasus suami wanita itu. Persis seperti kisah kematian ayahnya.


"Satu tahun pertama aku lewati dalam kedukaan. Setiap hari hidupku hanya dipenuhi dengan ratapan. Aku tak melakukan apa pun, bahkan untuk keluar rumah saja aku enggan. Dan setiap hari itu juga, ibu dari pemuda itu datang ke rumahku dengan mengantarkan makanan. Aku selalu marah dan berteriak membencinya. Namun, lama kelamaan aku melihat ketulusan di hati ibu pemuda itu." Wanita itu menatap Sabrina lekat, berbagi cerita kelam dalam hidupnya.


"Aku pun mulai membuka pintu untuknya dan membiarkannya masuk. Lalu kami mulai bicara bukan tentang luka yang aku alami karena kehilangan suami, tapi dia bercerita tentang sebuah tempat yang penuh kasih. Dia membawaku ke sebuah panti asuhan. Di sana aku bertemu dan mengenal banyak anak, hingga ku putuskan untuk tinggal dan mengabdi di panti itu. Perlahan tawa anak-anak itu membuat luka di hatiku memudar. Tapi ada hal yang tak bisa kulupakan, dendamku pada pemuda yang telah membunuh suamiku."


Sabrina masih setia mendengarkan cerita wanita itu.


"Dendam itu membuatku merasa terbebani, membuatku terkurung dalam masa lalu. Membuatku tak bisa maju untuk melangkah. Suatu malam aku kembali pada Tuhan, aku memohon ampun dan petunjuk atas jalan hidupku. Dan ku dapati jalan untuk memaafkan."


Sabrina menatap heran.


"Ya ... aku memilih untuk memaafkan pemuda itu. Sebab aku tak mendapatkan manfaat sedikit pun dari dendam dan rasa benciku selain sakit hati yang hanya bisa ku nikmati sendiri. Aku tidak akan bisa mengubah takdir. Kemarahan dan kebencianku tidak akan bisa menghidupkan suamiku kembali. Semua sudah menjadi takdir dan jalan Tuhan yang harus aku lalui."


"Semudah itu kau memaafkan?" celetuk Sabrina.


Sabrina menatap kagum pada wanita tua itu. Wanita berhati lapang yang mampu menepis segala kesedihan dengan memaafkan. Ia pun teringat akan apa yang terjadi padanya. Haruskah ia mengobati sakit hatinya dengan memaafkan?


"Itu, suamimu sudah kembali," ujar wanita itu, membuat Sabrina menoleh ke arah datangnya Fabian.


"Maaf, kalau kau menunggu terlalu lama," ujar Fabian yang baru tiba. "Ayo," ajak Fabian.


Sabrina menoleh pada wanita tua yang sedari tadi menemaninya dengan bercerita. "Aku duluan," pamit Sabrina.


"Pergilah, aku masih ingin di sini. Aku masih merindukan suamiku," jawab wanita itu.


Melihat wanita yang telah menemani istrinya tak membawa payung, Fabian berinisiatif memberikan satu payung yang dibawanya pada wanita tersebut. "Bawalah payung ini, mungkin kau akan membutuhkannya." Fabian mengulurkan satu payung yang masih terlipat.


"Terima kasih," ujar wanita itu.


Fabian dan Sabrina pun pergi meninggalkan area makam dengan sepayung berdua. Sepanjang jalan menuju tempat mobilnya terparkir Sabrina terus menatap Fabian sembari memikirkan setiap kata dari wanita yang tak ia kenal tadi.


Sabrina duduk di kursi belakang sama seperti sebelumnya. Sedangkan Fabian berada di depan sebagai supir.


"Kita pulang ke rumah," ujar Sabrina ketika Fabian mulai menyalakan mesin mobil.


Fabian yang tidak paham menoleh. Dahinya berkerut dalam tanda ia tak mengerti maksud ucapan istrinya. "Ke rumah?"


"Iya, aku tidak jadi ke rumah paman Andrew. Kita pulang saja."


Fabian masih bingung arti sesungguhnya dari permintaan Sabrina. Ia terus menatap Sabrina seolah ingin penjelasan yang sejelas-jelasnya.


"Kenapa tidak jalan, apa kau keberatan jika aku ingin kembali ke rumahmu?"


Fabian menggeleng layaknya orang bodoh.

__ADS_1


"Ya sudah jalan," sentak Sabrina.


"Kau akan tinggal bersamaku?"


"Hmmm."


"Kau akan kembali denganku?" Fabian benar-benar penasaran. Ia harus memperjelas statusnya sekarang. Jangan sampai ia sudah bahagia tapi nyatanya Sabrina hanya bercanda.


"Anggap saja aku tidak punya pilihan karena itu aku memilih terjebak hidup bersamamu," tukas Sabrina.


"Benarkah?"


"Sudah, jalan!"


"Yes!" Fabian berteriak kencang mendengar apa yang Sabrina ucapkan. Akhirnya Tuhan mengabulkan doanya. Membolak-balik hati istrinya.


"Sampai kapan kau akan terus tersenyum. Cepat jalankan mobilnya."


"Of course, Mrs.Ramos." Fabian pun menjalankan mobilnya dengan semangat. Senyum di bibir Fabian terus terkembang.


Sabrina yang melihat hal itu tak bisa menahan diri untuk tidak ikut tersenyum meski malu-malu. Ia bisa merasakan betapa bahagianya Fabian dengan kembalinya dirinya. Setelah mendengar cerita wanita tadi dan menimbang semua hal yang terjadi. Sabrina memilih untuk mengikuti jejak wanita itu. Memaafkan.


Ia sudah memaafkan Fabian dan ia pun akan memaafkan Sergio. Bagaimanapun Sergio adalah pengganti ayah untuknya. Memberinya kehidupan baru, membuat mimpi masa kecilnya menjadi kenyataan. Menikah dengan cinta monyetnya.


Sabrina memilih untuk menerima takdir Tuhan dengan ikhlas. Tuhan telah mengambil ayahnya untuk memberinya sebuah keluarga baru. Kematian ayahnya adalah jalan untuk ia menemukan jodohnya.


"Apa kau bisa diam, suaramu membuat telingaku sakit." Sabrina menutup telinganya karena Fabian tak henti-hentinya menyanyi sepanjang jalan.


"Aku tidak bisa karena aku sangat bahagia."


"Kau bisa diam atau aku akan turun di sini," ancam Sabrina.


"Tidak ... tidak ... aku akan berhenti menyanyi." Fabian menutup mulutnya. Tentu saja ia tak mau ditinggal pergi sesaat setelah berbaikan.


"Aku mencintaimu ... aku mencintaimu ... aku mencintaimu ...." Fabian terus menggumam.


"Hei, apa yang kau lakukan. Aku ingin kau diam."


Fabian menoleh sekejap. "Maafkan aku, Sayang, aku tidak bisa. Aku sudah menurutimu untuk tidak bernyanyi, tapi kali ini kau tidak bisa menghentikan suara hatiku. Aku mencintaimu," tolak Fabian dan terus melanjutkan gumamannya.


Sabrina bukannya tidak suka. Dia hanya heran melihat sisi lain Fabian. Malahan dia sangat menyukainya. Ungkapan cinta Fabian yang selalu ia dengar setiap malam saat menemaninya tidur. Sabrina hanya tersenyum melihat tingkah konyol suaminya.


"Aku mencintaimu, Sabrina ... Aku mencintaimu," teriak Fabian dengan keras. Ia melirik senyum Sabrina yang berada di kursi belakang dari spion.


Akhirnya, kisah cintanya tak jadi berkahir di meja hijau dengan perceraian. Ia akan memulai semua dari awal. Membangun sebuah rumah tangga berdasarkan kejujuran. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mencintai dan membahagiakan Sabrina sampai maut memisahkan.


The End


________________________________________________


Terima kasih untuk semua pembaca MENAKLUKKAN SUAMI. Terima kasih telah mengikuti kisah Sabrina dari awal hingga akhir. Terima kasih atas supportnya, atas likenya, komentarnya, dan juga votenya.


Mohon maaf jika dalam novel ini masih banyak kekurangan, maaf untuk typo dan penulisan yang salah atau pun kata-kata kasar yang terkandung di dalamnya. Pokoknya, ambil sisi positifnya dan buang jauh-jauh hal buruknya.


Saya ucapkan juga selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan, semoga diberi kelancaran dan kesehatan.


Mohon maaf jika selama membalas komen ada kata-kata yang kurang berkenan. Mohon maaf, mohon ridhonya. Sampai jumpa di karya saya selanjutnya(semoga masih mau ngikutin, yak🤭). Gak sekarang kok, InsyaAllah nanti. Sekarang mau fokus ramadahan dulu.


Tengkyu❤️❤️❤️Sayang hee


😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2