
Fabian terpaku menatap gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di hadapannya. Ia mendongak ke atas, di mana flat Sabrina berada. Ia sedang menimang dalam hatinya untuk menemui wanita itu atau tidak. Sejak semalam, setelah diberitahu oleh orang suruhannya tentang informasi keberadaan Sabrina, Fabian langsung membawa mobilnya menuju apartemen ini.
Namun, ia tak lantas keluar karena ia ragu jika tiba-tiba muncul dan membuat Sabrina kabur kembali. Alhasil, dari semalam ia hanya bisa menunggu di dalam mobil.
Di dalam apertemennya, Sabrina baru saja bangun saat terdengar bel pintu berbunyi. Ia segera mengambil jubah untuk menutup tubuhnya yang berbalut baju tidur. Sabrina masih menguap saat membuka pintu untuk seorang kurir yang membawakan pesanannya pagi ini.
"Selamat pagi, ini pesanan Anda, Nona," sapa kurir itu ramah saat Sabrina membuka pintu.
Sabrina pun membalasnya dengan senyum yang sama ramahnya. "Terima kasih, tunggu sebentar ya, aku ambil uangnya dulu," ucap Sabrina kemudian kembali menutup pintu.
Kurir itu masih setia berdiri di depan pintu apartemen Sabrina, hingga Nona Muda itu kembali membuka pintunya. Sabrina tercekat melihat orang berbeda yang berdiri di depan pintu apartemennya. Buru-buru Sabrina menutup pintunya kembali, tapi sayang tenaganya tak cukup kuat untuk menahan pria itu untuk tidak masuk ke dalam apartemennya. Dengan satu saja tenaga dari tangannya, pria itu mampu menahan Sabrina untuk tidak menutup pintunya kembali.
Sabrina menatap lekat mata pria yang lebih tinggi darinya itu, kemudian mengembuskan napas pelan. Ia menyerah, sekuat apa pun ia mencoba menghindar, ia tak akan bisa menolak untuk tidak membiarkannya masuk. Sekarang pilihannya hanyalah berkata, "Masuklah!"
Fabian melewati Sabrina begitu saja lalu duduk di sofa ruang tamu. Ia meletakkan pesanan Sabrina tadi di atas meja. Gayanya yang angkuh terlihat jelas dari caranya duduk dan menatap Sabrina.
Beberapa saat pria itu hanya terdiam menatap Sabrina, begitu pun dengan Sabrina yang hanya menunggu apa yang diinginkan pria ini.
"Kemasi barangmu, kita pulang sekarang!" titahnya bak seorang raja.
Sabrina yang duduk di seberang Fabian memutar bola matanya malas menanggapi sikap suaminya yang arogan. Ia pun melipat dua tangannya di dada sama seperti Fabian saat ini, entah apa maksudnya, tapi Sabrina ingin menunjukkan kalau dia bukan lagi Sabrina yang hanya bisa menunduk patuh.
"Apa hakmu memerintahku?" tanya Sabrina yang membuat emosi Fabian meninggi.
"Apa kau bilang? apa kau sedang belajar jadi pembangkang?"
__ADS_1
"Aku bukan pembangkang, aku hanya ingin mengingatkanmu tentang perceraian yang aku ajukan," jawab Sabrina sama tegasnya.
"Tidak akan ada perceraian jika bukan aku yang menginginkannya!" sahut Fabian cepat.
Sabrina mendengkus kesal. "Bukankah dulu kau menyetujuinya dengan senang hati, lalu kenapa? apa kau mendadak jatuh cinta padaku dan tak ingin melepaskanku, begitu!"
"Kau tidak punya hak bicara, kau hanya harus menurut apa yang kukatakan," jawab Fabian.
Sabrina berdiri, ia berjalan beberapa langkah mendekati pintu. "Kalau begitu keluarlah sekarang, karena aku tidak ingin lagi bersama dengan orang sepertimu!" Sabrina menunjuk pintu keluar sebagai tanda pengusiran.
Fabian melihat sorot keberanian di mata Sabrina, tapi itu tak membuatnya goyah. Baginya Sabrina tetaplah gadis bodoh yang ada di ujung telunjuknya. Fabian berjalan mendekati Sabrina, hal yang membuat Sabrina reflek memundurkan langkahnya. Ia semakin gugup saat Fabian terus saja melangkah memangkas jarak. Keberanian yang tadi berusaha ia tampilkan lenyap sudah, Sabrina terus membawa langkahnya mundur.
Seringai di bibir Fabian semakin membuat Sabrina gugup, ia tak tahu apa yang akan suaminya ini lakukan padanya. "A-apa yang akan kau lakukan?" tanya Sabrina.
"Aku ingin mengajakmu bersenang-senang sebelum kita pulang," jawab Fabian dengan seringai menyeramkan. Sedikit mengancam akan membuat wanita ini sadar di mana posisinya. Agar ia tidak berani bicara lancang seperti yang baru dikatakannya.
"Apa aku pernah membutuhkan persetujuanmu?" Fabian menang, kali ini Sabrina sudah tersudut. Wanita itu tidak akan bisa kabur dari kungkungannya.
Fabian tahu apa yang harus ia lakukan pada Sabrina, dua tahun bersama wanita itu membuatnya sedikit memahami sikap Sabrina, dia bukan pria bodoh yang tidak mengetahui jika istrinya itu menaruh hati padanya. Fabian sudah membuktikan itu, Sabrina akan selalu menuruti keinginannya, apa pun itu. Kali ini, ia akan membuat hal yang sama kembali terulang.
"Fa-fabian, kau tidak akan bisa memaksaku," ucap Sabrina gugup.
Fabian terus menatap lekat mata Sabrina yang kini memancarkan ketakutan. Di sinilah Fabian merasa senang, ternyata menaklukkan wanita ini begitu mudah. Tatapannya turun pada bibir Sabrina yang menggoda, lalu turun hingga leher dan jubah tidur yang sudah lama tak ia lihat. Sial!!!
Otaknya mulai tak waras saat ancamannya berubah menjadi keinginan yang harus dipuaskan. Sabrina, si gadis bodoh ini selalu membuatnya ketagihan. Fabian kembali menatap bibir merah muda, Sabrina. Haruskah ia menuntaskan keinginannya sekarang, atau tunggu nanti saja setelah pulang.
__ADS_1
Ah ... Fabian terlalu banyak berpikir, hingga bunyi telpon di saku jubah Sabrina berbunyi. Memanfaatkan Fabian yang tidak fokus, Sabrina segera mengambil ponsel miliknya dan mengangkat panggilan itu.
"Halo ... Ayah!" sapa Sabrina dengan keras.
Mendengar nama ayah disebut, kali ini Fabian tersadar dan panik.
"Ayah tolong aku, Fabian datang ke apartemenku, dan dia berusaha memaksaku, Ayah," seru Sabrina dengan menangis.
"Tolong aku, Ayah ... selamatkan aku." Sabrina terus berteriak di telpon seolah dirinya sedang didatangi penjahat.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Fabian berusaha merebut ponsel Sabrina.
"Ayah tolong aku, Fabian sudah gila. Dia memaksaku Ayah." Sabrina masih berbicara di ponsel yang ia pertahankan dari Fabian.
Fabian terus berusaha merebut ponsel itu hingga akhirnya terjatuh. Mereka berdua menatap ponsel yang telah berserakan di lantai itu. Sabrina semakin menangis melihat ponselnya hancur. Ia memungut pecahan ponsel yang berserak dengan air mata yang terus meleleh. Fabian yang menyaksikan hal itu sedikit merasa bersalah. Ia ikut berjongkok di depan Sabrina.
"Maafkan aku ... aku tidak sengaja," ucap Fabian.
Sabrina tak peduli, ia terus memungut ponselnya yang rusak dan terus menangis.
"Hei ... berhentilah menangis, itu hanya sebuah ponsel," ucap Fabian ingin menenangkan.
Sabrina melirik Fabian sekilas, lalu tangisnya semakin tak terbendung. Fabian jadi bingung sendiri dengan tingkah Sabrina yang menangisi sebuah ponsel.
"Aku akan menggantikan sepuluh dengan yang baru," ucap Fabian arogan.
__ADS_1
Sabrina berdiri, yang diikuti oleh Fabian. Ia menatap Fabian tajam. "Kau bisa memberikanku ponsel baru, tapi apa kau bisa memberikan kenangannya juga padaku!" sentak Sabrina yang kembali mendapatkan keberaniannya. Ia menyerahkan ponsel rusaknya pada Fabian. Lalu pergi ke kamar dan membanting pintu dengan keras.
"Aku ingin bercerai!!!" teriak Sabrina dari dalam kamar.